NovelToon NovelToon
Amore E Caos: Tertukar Di Sarang Singa

Amore E Caos: Tertukar Di Sarang Singa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mafia
Popularitas:242
Nilai: 5
Nama Author: Ry_chan04

Bianca, seorang gadis asal Indonesia yang hidup dengan prinsip "hidup santai, otak agak miring," tidak pernah menyangka liburan murahannya ke Italia akan berakhir dengan bencana kosmik. Saat sedang asyik memakan gelato di depan gereja kuno, Bianca tersandung kaki sendiri dan menabrak Lorenzo De Luca, sulung dari tiga raja mafia kembar yang paling ditakuti di Eropa.
​Sebuah kutukan kuno dari artefak yang mereka bawa aktif, mengakibatkan jiwa Bianca tertukar ke dalam tubuh Lorenzo yang kekar dan bertato. Bianca yang "semprul" kini harus memimpin organisasi kriminal kelas kakap, sementara Lorenzo yang dingin harus belajar memakai skincare dan menghadapi drama teman-teman kos Bianca.
​Kekacauan semakin memuncak ketika dua kembar lainnya—Valerio yang gila senjata dan Dante yang manipulatif—mulai mencurigai "kakak" mereka yang tiba-tiba suka joget TikTok di tengah rapat strategi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rapat Strategi atau Lomba Stand-up Comedy?

Ruang kendali utama di Palazzo De Luca lebih mirip dengan pusat komando militer daripada kantor bisnis. Dinding-dindingnya dipenuhi dengan layar monitor yang menampilkan grafik pergerakan saham, rute pengiriman kapal kargo di Laut Tengah, hingga rekaman CCTV dari berbagai sudut kota Roma. Suhu di ruangan ini selalu diatur sangat dingin, setidaknya cukup dingin untuk menjaga kepala para petinggi De Luca tetap jernih saat merencanakan dominasi dunia bawah tanah.

​Dante sudah duduk di sana, jemarinya yang panjang menari di atas keyboard laptop. Valerio berdiri di dekat jendela, sedang membersihkan laras senapan runduk kesayangannya dengan kain beledu. Suasana begitu khidmat sampai pintu otomatis terbuka dan menampakkan sang Capo—Lorenzo De Luca—yang masuk dengan langkah yang sedikit terlalu santai, bahkan hampir terlihat seperti sedang berjoget kecil mengikuti irama musik di kepalanya.

​Bianca (dalam tubuh Lorenzo) merasa sangat percaya diri pagi ini. Setelah sesi skincare tadi, ia merasa tubuh "barunya" sangat segar. Ia mengenakan kemeja hitam yang kancing atasnya dibuka, memperlihatkan sedikit tato di tulang selangkanya, dan celana bahan yang pas di kaki jenjangnya.

​Di belakangnya, Lorenzo (dalam tubuh Bianca) masuk dengan penampilan yang sudah dirombak total oleh Bianca. Ia mengenakan blazer hitam slim-fit, celana kulit senada, dan sepatu bot militer dengan hak setinggi lima sentimeter. Rambut panjangnya diikat kuda dengan sangat kencang, memberikan kesan wajah yang tirus dan galak. Meski tubuhnya mungil, tatapan mata Lorenzo sanggup membuat penjaga pintu tadi hampir menjatuhkan senjatanya.

​"Selamat pagi, rakyatku!" seru Bianca dengan suara berat Lorenzo yang menggelegar.

​Dante berhenti mengetik. Valerio menoleh perlahan.

​"Rakyatku?" Dante mengulang kata itu dengan nada datar. "Sejak kapan kau menganggap kami warga sipil, Lorenzo? Duduklah. Kita punya masalah serius dengan klan Moretti. Mereka mulai mengusik pelabuhan Civitavecchia."

​Bianca menghempaskan tubuhnya ke kursi pimpinan. Ia melihat peta digital yang terpampang di layar besar. "Moretti? Itu yang logonya gambar singa ompong itu ya?"

​"Itu klan singa emas, Lorenzo. Dan mereka tidak ompong. Mereka baru saja menenggelamkan satu kapal logistik kita," sahut Valerio dengan nada gusar.

​Bianca mengangguk-angguk, mencoba terlihat berpikir keras. Padahal, di dalam kepalanya, ia sedang memikirkan apakah ada penjual seblak di sekitar Roma yang bisa dipesan melalui aplikasi. Ia melirik Lorenzo yang berdiri kaku di pojok ruangan. Lorenzo memberikan isyarat dengan matanya: Fokus, bodoh!

​"Oke, oke. Jadi strateginya begini," Bianca berdehem, mencoba meniru gaya bicara detektif di film-film. "Kita tidak boleh langsung menyerang. Itu kuno. Itu tidak estetik. Kita butuh pendekatan yang lebih... psikologis."

​Dante melipat tangannya di dada. "Aku mendengarkan. Apa rencana psikologismu?"

​"Kita kirimkan mereka hadiah!" seru Bianca semangat.

​"Bom buku?" tanya Valerio dengan seringai tipis.

​"Bukan! Kita kirimkan mereka... paket paket komedi!" Bianca tertawa sendiri. "Bayangkan, kita sewa badut, tapi di dalam hidung merah badut itu kita pasang alat penyadap. Atau, kita kirimkan mereka pizza, tapi atasnya bukan pepperoni, melainkan foto-foto mereka yang lagi tidur mangap. Biar mereka tahu kalau kita bisa masuk ke kamar mereka kapan saja."

​Hening.

​Dante menatap Bianca seolah-olah kakaknya itu baru saja mengaku bahwa dia adalah alien. "Foto mereka... sedang tidur mangap? Lorenzo, apakah kau sedang mabuk grappa pagi-pagi begini?"

​"Lho, ini namanya intimidasi kreatif, Mas Dante!" Bianca membela diri. "Daripada tembak-tembakan, buang-buang peluru, mahal tahu! Mending kita serang mentalnya. Bayangkan pimpinan Moretti bangun pagi, mau sarapan, eh di kotak serealnya ada foto dia lagi ngiler. Pasti dia langsung kena mental, trauma mau makan sereal seumur hidup!"

​Lorenzo (dalam tubuh Bianca) merasa jiwanya ingin keluar dari raga mungil itu dan mencekik tubuh aslinya sendiri. Ia melangkah maju, mencoba menyelamatkan situasi.

​"Maksud... maksud Capo Lorenzo," suara Lorenzo yang melengking mengejutkan semua orang, "adalah kita harus menunjukkan dominasi tanpa harus terlihat terburu-buru. Strategi 'tidur mangap' itu adalah metafora bahwa pertahanan mereka sekeropos orang yang tidur tanpa penjagaan. Namun, saya menyarankan kita tetap pada rencana awal: blokade jalur distribusi mereka di Utara."

​Dante menatap "asisten" baru itu dengan heran. "Kau... asisten, suaramu sangat berwibawa untuk seseorang yang kemarin memakai daster bunga matahari."

​"Dia memang berbakat, Dante! Jangan meremehkan Mbak Bianca ini," potong Bianca cepat sebelum rahasia mereka terbongkar. "Dia ini... konsultan strategi dari Timur Jauh. Di negaranya, perang itu dilakukan dengan perasaan dan kata-kata sindiran di media sosial sampai lawan kena depresi."

​Valerio meletakkan senjatanya. "Aku tidak peduli soal perasaan. Aku ingin Moretti hancur. Lorenzo, berikan perintah yang jelas. Apakah kita menyerang gudang mereka malam ini atau tidak?"

​Bianca menatap Lorenzo. Lorenzo menggelengkan kepala sedikit. Terlalu berisiko.

​"Malam ini kita... stand by dulu," jawab Bianca. "Kita adakan acara internal. Bakar jagung atau apa gitu. Kita perlu bonding tim. Kalian berdua ini terlalu tegang, mukanya sudah seperti cucian yang tidak kering tiga hari, lecek banget."

​Valerio hampir meledak, tapi Dante menahannya. "Baiklah. Jika kau bilang stand by, kita stand by. Tapi jika Moretti bergerak lagi, aku tidak akan menunggu perintahmu untuk membalas."

​Dante dan Valerio keluar dari ruangan dengan wajah penuh tanda tanya. Begitu pintu tertutup, Lorenzo langsung melesat ke arah Bianca.

​"Stupida! Sereal?! Foto mangap?!" Lorenzo berteriak tepat di depan wajah Bianca. "Kau pikir ini acara reality show 'Prank Mafia'? Mereka itu Moretti! Mereka tidak takut pada foto ngiler, mereka hanya takut pada kematian!"

​"Ih, Mas Lorenzo galak banget," Bianca mencibir. "Tapi efektif kan? Mereka jadi bingung. Musuh yang bingung itu lebih mudah dikalahkan daripada musuh yang waspada. Lagian, saya tadi cuma mau mencairkan suasana. Kalian itu kalau rapat serius banget, kayak mau ngerjain soal ujian nasional."

​"Ini adalah hidup dan mati, Bianca!" Lorenzo memegang bahu Bianca, yang sekarang adalah bahunya sendiri yang kuat. "Setiap kata yang keluar dari mulutmu bisa memicu perang yang merenggut ratusan nyawa. Kau harus mulai menganggap ini serius."

​Bianca terdiam sejenak. Ia melihat gurat kecemasan di mata Lorenzo (yang berada di wajahnya sendiri). Untuk pertama kalinya, ia menyadari beban berat yang dipikul pria ini. "Oke, maaf. Saya akan coba lebih serius. Tapi... boleh ya sekali-kali saya selipkan humor sedikit? Biar anak buah kamu nggak pada stres dan kena asam lambung."

​Lorenzo menghela napas panjang. "Terserah. Tapi sebelum itu, ajari aku cara berjalan dengan sepatu ini! Aku merasa seperti sedang menyeimbangkan tubuh di atas dua tusuk sate!"

​"Nah, itu baru namanya strategi!" Bianca tertawa. "Ayo, Mas. Kita latihan catwalk. Anggap saja kamu lagi jalan di atas mayat musuh-musuhmu, tapi dengan gaya yang lebih fabulous."

​Maka, sore itu di ruang kendali yang sangat rahasia, bukannya menyusun taktik perang, sang Capo justru sibuk mengajari asistennya cara berjalan elegan dengan sepatu bot. Sementara di luar sana, mata-mata klan Moretti yang sedang mengintip melalui teropong jarak jauh merasa sangat bingung. Mereka melihat Lorenzo De Luca sedang memberikan tepuk tangan meriah setiap kali si gadis asisten berhasil berjalan lurus tanpa terjatuh.

​"Lapor, Tuan Moretti," ucap sang mata-mata melalui radio. "Lorenzo De Luca sepertinya sudah gila. Dia sedang melatih seorang wanita untuk menari di ruang strategi."

​Di ujung telepon, pimpinan Moretti mengernyit. "Gila? Ataukah itu sebuah ritual kuno yang sangat mematikan? Waspadalah. De Luca selalu punya rencana di balik kegilaannya."

​Tanpa mereka sadari, kegilaan Bianca justru menjadi tameng perlindungan terbaik bagi keluarga De Luca. Karena di dunia mafia, tidak ada yang lebih menakutkan daripada musuh yang tindakannya sama sekali tidak bisa diprediksi oleh logika manusia normal.

​"Mas Lorenzo, satu lagi kodenya!" seru Bianca saat mereka hendak mengakhiri sesi latihan.

​"Apa?"

​"Kalau nanti musuh menyerang, kamu cukup teriak 'Che palle!' (Sialan/Bikin repot saja!) sambil benerin rambut. Dijamin mereka bakal terpesona dan lupa mau nembak."

​Lorenzo menatap langit-langit ruang kendali, memohon kekuatan pada leluhurnya. "Aku sungguh berharap kutukan ini segera berakhir sebelum aku benar-benar tahu cara memakai eyeliner."

......................

​Glosarium Bahasa Italia di Bab Ini:

​Grappa: Minuman beralkohol khas Italia yang sangat kuat.

​Capo: Bos atau kepala organisasi mafia.

​Signore: Tuan.

​Che palle!: Ungkapan frustrasi (secara harfiah berarti "bola yang merepotkan", namun digunakan seperti "sialan" atau "membosankan sekali").

​Stupida: Bodoh (untuk wanita).

​Maledizione: Terkutuk/Sialan.

​Ti ammazzo: Aku akan membunuhmu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!