Teratai Di Atas Abu
Setelah Klan Teratai Suci dihancurkan oleh Menara Darah Hitam, Lian Hua menjadi satu-satunya yang selamat dari malam penuh darah itu. Dengan meridian rusak dan bakat yang dianggap rendah, ia tumbuh di tengah hinaan dunia persilatan.
Namun di balik liontin teratai peninggalan klannya, tersembunyi kekuatan kuno yang mampu mengguncang dunia kultivasi.
Di antara dendam, pengkhianatan, dan perang antar sekte, Lian Hua menapaki jalan kultivasi demi mengungkap kebenaran kehancuran klannya—dan membalas semua darah yang telah tertumpah.
Karena bahkan di atas abu kehancuran… teratai tetap bisa mekar kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 17
Teratai Di Atas Abu
Bab 17 — Hutan Kabut Roh
Beberapa hari setelah kejadian di lapangan latihan, Sekte Gunung Awan Putih mengumumkan tugas besar bagi seluruh murid luar: masuk ke dalam Hutan Kabut Roh, berburu binatang spiritual, dan membawa kembali inti roh mereka sebagai bukti keberanian serta kemampuan.
Hutan ini terletak jauh di bagian utara wilayah sekte, dikelilingi kabut tebal yang jarang pernah hilang, dan dianggap sebagai daerah berbahaya. Di sana hidup berbagai jenis binatang buas yang telah menyerap energi alam selama ratusan tahun, tubuh mereka keras seperti besi, cerdik, dan penuh racun atau kekuatan aneh. Bagi murid luar yang baru menapaki jalan kultivasi, masuk ke sana sama saja dengan mempertaruhkan nyawa. Namun aturan tetaplah aturan. Para tetua beranggapan bahwa hutan itu adalah tempat penyaringan alami — hanya yang berani dan cakap yang pantas melangkah lebih jauh.
Bagi Lian Hua, tugas ini bukan beban, melainkan kesempatan. Ia tahu, di tempat berbahaya dan terasing seperti itu, sering kali tersembunyi hal-hal yang tak ditemukan di tempat lain. Selain itu, bertarung melawan binatang buas adalah cara terbaik mengasah kemampuan bertarungnya yang masih sangat minim pengalaman.
Pagi itu, rombongan murid luar berangkat. Ada sekitar lima puluh orang, dipimpin oleh dua penguji yang berjalan di belakang, hanya mengawasi dari jauh dan takkan turun tangan kecuali nyawa murid benar-benar terancam. Di antara mereka, ada kelompok mantan pengikut Zhao Feng yang sejak diam-diam menatap Lian Hua dengan pandangan benci dan dendam, berharap pemuda itu dimangsa binatang buas dan tak kembali lagi. Ada juga Gu Qing Cheng, yang meski khawatir, tetap berjalan tenang di barisan tengah, sesekali melirik ke arah Lian Hua di ujung rombongan.
Sesampainya di tepi hutan, kabut tebal sudah menyambut mereka. Hawa dingin yang lembap menyelimuti sekujur tubuh, dan udara berbau tanah basah serta aroma liar yang tajam. Pohon-pohon besar menjulang rapat, ranting-rantingnya saling bertautan hingga cahaya matahari sulit masuk, membuat suasana di dalam terasa redup dan suram.
"Ingat baik-baik," tegur salah satu penguji. "Jangan berpisah jauh, jangan masuk ke jalan yang tak dikenal, dan segera kembali jika sudah mendapatkan satu inti roh. Bahaya di sini tak bisa dianggap remeh."
Setelah pesan itu disampaikan, para murid pun mulai menyebar masuk ke dalam hutan, berkelompok-kelompok kecil demi keamanan. Lian Hua berjalan sendirian. Ia memangjakkan langkahnya masuk semakin dalam, menjauh dari jalur yang sering dilewati, menuju bagian yang kabutnya makin pekat dan sunyi. Bagi yang lain, kesunyian itu mengerikan, tapi bagi Lian Hua, itu justru membuatnya lebih waspada dan tenang.
Sepanjang jalan, ia bertemu beberapa binatang buas tingkat rendah: serigala kabut, babi hutan berduri, dan burung pemangsa beracun. Dengan kekuatan raga yang sudah ditempa sempurna serta tenaga dalam yang padat dan murni, Lian Hua mengalahkan mereka dengan mudah, namun tetap bergerak hati-hati. Ia tak menggunakan gerakan silat rumitan, hanya pukulan sederhana, tendangan, atau hantaman telapak tangan — namun setiap gerakan dibekali kekuatan yang cukup untuk menghancurkan batu karang.
Semakin lama ia berjalan, semakin aneh suasana di sekelilingnya. Kabut di sini berwarna agak kebiruan, dan udara terasa mengandung energi spiritual yang jauh lebih pekat dibanding bagian lain. Di dalam benaknya, pola teratai di dadanya perlahan berdenyut pelan, seolah merasakan ada sesuatu yang menarik perhatiannya, sesuatu yang tua dan berharga.
Lian Hua mengikuti perasaan itu, berjalan terus menembus semak belukar dan pepohonan tua yang rimbun. Akhirnya, setelah melewati lereng berbatu yang curam, ia sampai di sebuah jurang tersembunyi yang dikelilingi tebing tinggi. Di sana, kabut justru lebih tipis, dan di dasar jurang itu, terlihat ada dinding batu besar yang tertutup lumut tebal dan tanaman merambat.
Namun yang paling menarik perhatiannya adalah celah gelap di tengah dinding itu — mulut sebuah gua yang tersembunyi rapat di balik bebatuan yang runtuh. Di sekeliling mulut gua, tumbuh bunga-bunga liar berwarna ungu yang jarang dilihat, dan dari dalam sana, tercium hawa kuno yang samar, sama persis seperti hawa yang dulu ia rasakan saat berada di ruang batin di dalam liontin gioknya.
Lian Hua melangkah mendekat perlahan. Ia melihat sekeliling dengan saksama, memastikan tak ada bahaya yang mengintai. Di tanah di depan gua, tertutup lumut tebal, samar-samar terlihat ukiran-ukiran batu yang sudah aus dimakan waktu — gambar bunga teratai hitam dan putih, motif yang sama persis dengan lambang klannya sendiri.
Jantungnya berdebar kencang. Ia yakin, gua ini bukan buatan sembarangan orang, dan bukan tempat biasa. Ini pasti peninggalan leluhur, atau setidaknya tempat yang berhubungan erat dengan sejarah Klan Teratai Suci yang telah hilang.
Ia menoleh ke belakang, ke arah hutan yang masih tertutup kabut tebal. Tak ada suara orang, tak ada jejak siapa pun. Tempat ini benar-benar tersembunyi dan terasing.
Lian Hua kembali menatap mulut gua yang gelap dan sunyi itu. Di dalam sana, mungkin tersimpan bahaya, tapi mungkin juga tersimpan jawaban yang ia cari, kekuatan yang ia butuhkan, dan petunjuk yang akan membawanya semakin dekat pada tujuannya.
Tanpa ragu lagi, Lian Hua mengencangkan ikat pinggangnya, menggenggam gagang pedang kayunya, dan melangkah masuk ke dalam kegelapan gua kuno itu. Di belakangnya, kabut perlahan bergerak menutup kembali celah yang ia lewati, seolah tempat ini telah menunggu kedatangannya selama ratusan tahun, dan kini akhirnya membuka pintunya kembali.