Kensington Valerio (22th) adalah seorang "Raja Pesta" yang sinis terhadap cinta, namun terobsesi mengoleksi ribuan novel romansa.
Baginya, cinta hanyalah delusi dengan alur membosankan yang selalu bisa ia tebak ending-nya.
Di tengah kejenuhannya akan kepalsuan dunia, hadir Audrey Hepburn (19th)—mahasiswi hukum tingkat satu yang kaku, ambisius, dan membawa prinsip kesucian yang keras kepala.
Audrey bukan sekadar junior di fakultasnya, ia adalah variabel acak yang mengacaukan prediksi Kensington.
Saat rahasia pengkhianatan mulai mengikis pertahanan Audrey, Kensington justru merasa tertantang untuk menuliskan naskah hidupnya sendiri.
Apakah Audrey akan berakhir menjadi sekadar koleksi di rak bukunya, ataukah ia adalah satu-satunya wanita yang mampu memberikan Kensington sebuah akhir yang tak terduga?
Di arena balap liar dan koridor kampus yang dingin, Kensington mulai mempertanyakan: apakah cintanya juga akan menjadi klise, atau sebuah tragedi yang tak terlukiskan ?
🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#25
Tiga Tahun Kemudian.
Suara dentum bas dari lagu techno yang gelap menggema di seluruh ruangan bar eksklusif di pusat Los Angeles.
Ruangan itu hanya diterangi lampu neon merah dan biru yang berpendar, menciptakan atmosfer yang dekaden dan liar. Botol-botol Louis XIII dan Macallan berjejer di meja marmer, dikelilingi oleh asap cerutu yang mahal.
Di tengah sofa kulit melingkar, Kensington Valerio duduk dengan angkuh. Seorang model berambut pirang duduk di pangkuannya, jemarinya membelai rahang tegas Kensington, namun pria itu bahkan tidak meliriknya. Matanya yang perak tampak berkilat oleh alkohol, menatap kosong ke arah gelas kristal di tangannya.
Di sekelilingnya, wajah-wajah lama masih ada. Marco bersandar pada meja sambil memegang botol whiskey, sementara Vivian duduk di ujung sofa dengan gaun hitam yang elegan, menatap Kensington dengan tatapan yang sulit diartikan—antara iba dan muak.
"Tidak ada hari esok! Cheers!!!!" teriak Kensington tiba-tiba, mengangkat gelasnya tinggi-tinggi. Suaranya serak, penuh dengan kepahitan yang dipaksakan menjadi kegembiraan.
"Whiskey untuk pria yang patah hati!" sahut Marco sambil tertawa keras, menuangkan alkohol ke gelas teman-temannya.
Vivian menyesap minumannya, lalu berteriak melampaui suara musik, "Untuk sampah!!!!"
Kensington menoleh, tertawa terbahak-bahak hingga bahunya berguncang. "Brengsek! Kau mengejekku, Vi?"
"Aku mengatakan kebenaran, Ken! Kau adalah sampah mewah yang paling berkilau di kota ini!" tawa Vivian menggema, namun matanya tetap dingin.
Salah satu teman mereka, Aston, yang baru saja kembali dari luar negeri, mencondongkan tubuh ke arah Vivian. "Hei, aku baru dengar kabarnya seminggu lalu. Apa benar... dia benar-benar sudah menikah dengan si berondong SMA itu? Sander?"
Suasana di meja itu mendadak mendingin sejenak, meski musik masih berdentum. Vivian meletakkan gelasnya, mengangguk pelan. "Ya. Dia sudah menikah dengan Sander enam bulan yang lalu. Mereka tinggal di kota asalnya." Vivian terdiam sebentar, lalu menambahkan dengan nada tulus yang langka, "Semoga dia bahagia."
Kensington tertegun sejenak. Gelas di tangannya berhenti di depan bibirnya. Namun, sedetik kemudian, ia meneguk habis isinya dan berteriak ke arah langit-langit bar, "Persetan dengan cinta!!!!"
Tawa mereka pecah kembali, mencoba menutupi lubang besar yang menganga di tengah-tengah persahabatan mereka. Namun, di balik tawa liar itu, pikiran Kensington terseret paksa kembali ke masa lalu.
Masa di mana segalanya hancur, namun sempat ada secercah cahaya yang ia matikan sendiri.
Tiga Tahun yang Lalu.
Malam itu, tiga puluh menit setelah meninggalkan rumah Audrey dengan penuh kemarahan, mobil sport hitam yang dikemudikan Vivian melaju kencang di jalanan sunyi. Kensington terdiam, namun dadanya terasa sesak seolah-olah paru-parunya dipenuhi air raksa.
"Putar balik, Vivian," ucap Kensington tiba-tiba.
Vivian menginjak rem mendadak. "Apa? Ke mana?"
"Kembali ke rumah Audrey. Sekarang!" bentak Kensington.
Saat mereka kembali, Kensington tidak lagi menendang pintu. Ia masuk dan menemukan Audrey masih meringkuk di lantai kamar mandi, menangis hingga suaranya habis.
Kensington berdiri di hadapannya, menatap gadis itu dengan sisa-sisa harga diri yang terluka.
"Besarkan anak itu," ucap Kensington dingin. "Aku akan bertanggung jawab secara finansial. Aku akan mengakui dia sebagai darah Valerio. Tapi jangan harap aku akan menikahimu. Kita selesai sebagai manusia, tapi kita terikat sebagai orang tua."
Audrey mendongak, matanya yang sembab menatap tidak percaya. Pria monster ini kembali, bukan untuk cinta, tapi untuk sebuah kewajiban yang dingin.
Bulan-bulan berikutnya adalah neraka yang sunyi. Audrey kembali ke asrama dengan bantuan Vivian, sementara Kensington tetap menjadi bayangan yang membiayai segalanya tanpa pernah ingin bertemu. Hingga saat usia kehamilan menginjak empat bulan, segalanya berubah.
Perut Audrey membesar jauh lebih cepat dari kehamilan normal. Vivian sering bergurau, "Apa bayimu kembar? Kensington punya gen kembar, kau tahu."
Hari itu, Kensington terpaksa hadir. Di ruang tunggu klinik USG, suasana sangat kaku. Ada Vivian dan Odetta yang menemani Audrey. Saat dokter mulai menggerakkan stik ultrasonografi di atas perut Audrey yang membuncit, ruangan itu mendadak hening.
"Ada dua kantung," ucap dokter dengan nada serius. "Ya, ini kehamilan kembar."
Kensington merasakan jantungnya berhenti sejenak. Namun, raut wajah dokter tidak menunjukkan kegembiraan.
"Ada masalah. Kelainan jantung pada salah satu bayi... dan maafkan saya, bayi yang satunya lagi sudah tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Dia tidak berkembang dan sudah meninggal di dalam kandungan."
Dunia seolah runtuh seketika. Audrey menjerit histeris, menutupi wajahnya dengan tangan. Vivian dan Odetta menangis di samping ranjang. Kensington hanya bisa mematung, menatap layar hitam putih yang menunjukkan kegelapan.
"Syukur kalian cepat kemari," lanjut dokter dengan wajah pucat. "Infeksi dari bayi yang sudah meninggal ini bisa menyebar dan meracuni darah ibunya. Jika kita pertahankan, nyonya Audrey akan kehilangan nyawanya dalam hitungan hari. Kita harus melakukan prosedur aborsi demi keselamatan sang ibu."
Keputusan itu adalah pisau yang mengiris sisa-sisa kemanusiaan Kensington.
Di bawah lampu lorong rumah sakit yang dingin, dengan tangan gemetar, Kensington menandatangani prosedur pembersihan rahim. Ia membunuh satu nyawa yang tersisa demi menyelamatkan wanita yang ia benci sekaligus Hampir saja ia cintai. (Terserah Author 🙏🏻🤣)
Saat prosedur selesai, kedua bayi kembar itu—yang bahkan belum sempat memiliki nama—pergi selamanya.
Kensington berdiri di depan jendela rumah sakit, melihat fajar menyingsing, menyadari bahwa takdir telah mengambil satu-satunya cara baginya untuk tetap terhubung dengan Audrey.
Kembali ke Masa Sekarang.
Kensington tersentak dari lamunannya saat gadis pirang di pangkuannya mencium lehernya. Ia segera mendorong gadis itu dengan kasar, membuat semua orang di meja terkejut.
"Keluar. Semua keluar," desis Kensington.
"Ken, ini pestamu!" Marco mencoba menenangkan.
"AKU BILANG KELUAR!" teriak Kensington, menyapu botol-botol di meja hingga pecah berantakan di lantai.
Satu per satu teman-teman wanitanya pergi dengan wajah ketakutan, kecuali Vivian. Wanita itu berdiri di dekat pintu, menatap Kensington yang kini terduduk di lantai, persis seperti posisinya di kamar Audrey tiga tahun lalu.
"Dia sudah bahagia, Ken," ucap Vivian lembut. "Sander menjaganya saat kau tidak bisa. Sander menerima kerusakannya saat kau justru menambah kerusakannya. Ikhlaskan dia."
Kensington menutup wajahnya dengan kedua tangan. Bahunya berguncang hebat. Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, di tengah bar mewah yang ia sewa dengan harga selangit, sang pangeran Valerio menangis tersedu-sedu.
"Aku yang menandatangani surat itu, Vi... aku yang membunuh mereka," bisik Kensington di sela isaknya.
"Kau menyelamatkan ibunya, Ken. Itu satu-satunya hal benar yang pernah kau lakukan," balas Vivian sebelum akhirnya berbalik dan pergi, meninggalkan Kensington sendirian dengan hantu-hantu masa lalunya.
Di sebuah rumah kecil di pinggiran kota yang jauh, Audrey duduk di teras bersama Sander. Ia menatap bintang-bintang, tangannya mengelus sebuah kalung kecil dengan dua liontin mungil. Ia sudah memaafkan, namun ia tidak akan pernah melupakan. Ia telah memilih keikhlasan yang nyata, meninggalkan Kensington dengan segala kemewahan dan kesepiannya yang abadi.
Malam itu, di dua tempat yang berbeda, satu bab kehidupan benar-benar ditutup.
Kensington dengan botolnya, dan Audrey dengan kedamaiannya. Takdir telah bermain dengan sangat kejam, namun pada akhirnya, mereka semua hanyalah manusia yang hancur, mencoba bertahan di bawah langit yang sama.
terimakasih berkali² double up.
besuk lagi up nya kak,,,
kesehatannya di jaga
semangat 💪
nunggu kejutan dari kakak cantik 💪
dari pemilihan kata kata bagus, mudah di pahami. Alur kata tidak melibet.
Padahal novel e bagus banget tapii kenapa peminat bacanya sedikit ya
Aku doain ya kak,, semoga novel e bisa banyak yang baca, bisa masuk rank
insha Allah setiap baca, aku kasih kopii. biar nulisnya tambah semangat, dan nggak ngantuk 🤭