NovelToon NovelToon
Kaisar Pedang Penelan Surga

Kaisar Pedang Penelan Surga

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Sistem / Balas Dendam
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Di Sekte Langit Biru, Xiao Fan hanyalah murid sampah yang terdampar di Alam Kondensasi Qi lapis pertama. Dicemooh, dihina, dan nyaris diusir ke dapur luar—ia dianggap sebagai aib terbesar sekte. Namun, tak seorang pun tahu bahwa di balik tubuh lemahnya, tersimpan jiwa Kaisar Pedang yang pernah mengguncang sembilan langit. Selama tiga tahun, pedang kuno bernama Penelan Surga menggerogoti seluruh kultivasinya. Kini, pedang itu telah terbangun. Dengan teknik terlarang yang membalikkan hukum Surga dan Bumi, Xiao Fan memulai jalan sunyinya sebagai Kaisar Pedang Iblis. Misi pertamanya: menghancurkan sekte yang merendahkannya... hanya dalam seratus hari. Namun bagi Xiao Fan, tiga hari sudah lebih dari cukup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10: Jalan Darah Menuju Aula Pusaka

Puncak Utama malam itu bukanlah tempat yang dikenali Xiao Fan.

Obor-obor menyala di setiap sudut. Lampion merah bergelantungan di antara pepohonan. Musik dari kecapi dan seruling bambu mengalun dari Aula Pusaka, bercampur dengan suara tawa dan denting cangkir anggur. Sebuah perayaan. Seolah-olah tidak ada yang terjadi dua malam sebelumnya. Seolah-olah tiga penyusup tidak pernah membakar Paviliun Kitab Suci. Seolah-olah mayat-mayat masih belum dibersihkan dari lapangan latihan.

Mereka merayakan sesuatu, pikir Xiao Fan sambil berjalan menyusuri jalan setapak yang diterangi obor. Atau seseorang.

Ia memilih jalur memutar, menghindari jalan utama yang ramai. Bayangan pepohonan dan bangunan tua menjadi tempat persembunyian alami. Teknik Langkah Bayangan Senyap masih aktif, membuat auranya hampir tidak terdeteksi.

Tapi ia tidak bisa bersembunyi selamanya.

Di persimpangan menuju Aula Pusaka, tiga sosok berdiri menghalangi jalan. Dua pria dan satu wanita. Seragam mereka menunjukkan status sebagai murid elit Puncak Pedang. Masing-masing memegang pedang yang sudah terhunus.

"Berhenti di situ."

Suara itu berasal dari yang tertinggi di antara mereka—seorang pemuda berwajah keras dengan bekas luka di pipi kiri. Wei Chen, murid terkuat ketiga di Sekte Langit Biru. Alam Fondasi Inti Awal.

Xiao Fan berhenti. Wajahnya setengah tersembunyi di balik bayangan.

"Aku tidak punya urusan dengan kalian," katanya datar. "Minggir."

Wei Chen mendengus. "Kau pikir kau bisa masuk ke Puncak Utama setelah membunuh dua penjaga di gerbang? Kami melihat semuanya, Xiao Fan. Atau siapapun kau sekarang."

Wanita di sebelahnya—Mei Ling, murid elit peringkat kelima—menambahkan dengan suara bergetar, "Kau membunuh mereka tanpa alasan! Mereka hanya menjalankan tugas!"

"Tanpa alasan?" Xiao Fan mengulangi kata itu pelan. "Tiga tahun. Tiga tahun mereka berdua berdiri di gerbang itu setiap hari. Setiap kali aku lewat, mereka meludahiku. Melempariku dengan batu. Menertawakanku. Apa itu cukup menjadi alasan?"

Mei Ling membuka mulut, tapi tidak ada kata yang keluar.

Pria ketiga—Hou Jun, yang paling pendiam—mengangkat pedangnya lebih tinggi. "Tidak perlu berdebat. Tetua Tertinggi sudah memerintahkan: siapapun yang melihat Xiao Fan mendekati Aula Pusaka harus membunuhnya di tempat."

Xiao Fan menghela napas. "Kalian bertiga. Fondasi Inti Awal, dua Kondensasi Qi Puncak. Apakah kalian benar-benar ingin mati malam ini?"

Wei Chen menyeringai. "Kau hanya sampah Kondensasi Qi Lapis Pertama. Apapun yang terjadi dua malam lalu pasti karena keberuntungan atau bantuan orang lain. Sekarang kau sendirian."

Ia memberi isyarat. Ketiganya menyerbu bersamaan.

Wei Chen dari depan, pedangnya berkilat dengan Qi angin. Mei Ling dari kiri, pedangnya mengeluarkan percikan api. Hou Jun dari kanan, gerakannya paling tenang tapi paling mematikan—Jalur Bayangan.

Formasi segitiga. Cukup rapi untuk ukuran murid sekte kecil.

Tapi bagi Xiao Fan, itu seperti anak-anak yang bermain pedang kayu.

"Teknik Pedang Bayangan Maut."

Tubuhnya menghilang. Bukan menghilang secara harfiah, tapi bergerak begitu cepat sehingga mata ketiga murid itu tidak bisa mengikuti.

Wei Chen menebas ke depan. Pedangnya mengenai udara kosong.

"Di mana—"

Jawabannya datang dari samping. Pedang Bintang Jatuh muncul dari kegelapan, bukan menusuk, tapi menepuk. Sisi datar pedang itu menghantam pelipis Wei Chen dengan kekuatan yang terukur. Pemuda itu terpental, menabrak dinding batu, dan jatuh pingsan seketika.

Mei Ling menjerit dan menusukkan pedangnya ke arah Xiao Fan. Pedang Bintang Jatuh berputar ringan di tangan Xiao Fan, menangkis serangan itu dengan mudah. Percikan api beterbangan. Lalu dalam satu gerakan fluid, Xiao Fan mengunci pedang Mei Ling dengan bilahnya sendiri dan memutarnya. Pedang wanita itu terlepas dari genggaman, berputar di udara, dan menancap di tanah tiga meter jauhnya.

"Menyerahlah," kata Xiao Fan.

Mei Ling mundur dengan wajah pucat. "Kau... kau monster!"

Hou Jun muncul dari bayangan di belakang Xiao Fan. Gerakannya sunyi, pedangnya sudah siap menembus punggung.

Tapi Xiao Fan sudah mendengarnya sejak awal.

Tanpa menoleh, ia menggerakkan tangan kirinya ke belakang. Dua jarinya menjepit bilah pedang Hou Jun tepat sebelum menyentuh jubahnya. Pria itu membelalak.

"Jalur Bayangan," kata Xiao Fan, masih tanpa menoleh. "Lumayan. Tapi langkah kakimu terlalu berat. Kau menginjak kerikil tiga kali sejak tadi."

Ia memutar jarinya. Pedang Hou Jun patah menjadi dua.

Lalu siku kirinya menghantam dada pria itu. Hou Jun terpental, jatuh berlutut, napasnya terengah.

Tiga murid elit. Tiga gerakan. Semua tumbang dalam hitungan detik.

Xiao Fan menyarungkan Pedang Bintang Jatuh—atau lebih tepatnya, mengikatkannya kembali ke pinggang karena tidak ada sarung. Ia menatap Mei Ling yang masih berdiri gemetar.

"Aku tidak membunuh kalian," katanya. "Bukan karena aku baik. Tapi karena Tetua Leng Yue memintaku menyelamatkan murid yang tidak bersalah. Anggap ini keberuntungan kalian."

Ia melangkah melewati mereka, menuju Aula Pusaka yang cahayanya semakin terang di depan.

"Tapi..." suara Mei Ling memanggilnya. "Kenapa kau melakukan ini? Kenapa kau ingin menghancurkan sekte yang sudah memberimu tempat tinggal?"

Xiao Fan berhenti. Ia menoleh sedikit, cukup untuk memperlihatkan profil wajahnya yang setengah diterangi cahaya obor.

"Sekte ini tidak memberiku tempat tinggal. Sekte ini mengurungku. Tetua Tertinggi tahu siapa aku sebenarnya. Dia takut. Dan alih-alih menghormatiku, dia mencoba membunuhku pelan-pelan dengan isolasi dan penghinaan."

Ia berbalik sepenuhnya. Kedua matanya—emas dan hitam—bersinar terang.

"Tanyakan pada Tetua Tertinggimu. Tanyakan siapa yang dikuburnya di Puncak Pelana Kayu tiga tahun lalu. Tanyakan kenapa dia tidak berani membunuhku langsung."

Mei Ling terdiam.

Xiao Fan melanjutkan langkahnya.

---

Aula Pusaka berdiri megah di puncak tertinggi. Bangunan itu adalah yang terbesar di seluruh Sekte Langit Biru. Atapnya menjulang dengan ukiran naga dan phoenix. Pintu utamanya terbuat dari kayu cendana merah, diukir dengan kisah pendirian sekte.

Xiao Fan berdiri di depan pintu itu. Musik dari dalam masih mengalun. Tawa masih terdengar. Mereka belum tahu apa yang terjadi di luar.

[Mendeteksi 23 entitas di dalam aula.]

[Tingkat kultivasi: 1 Alam Transformasi Dewa, 1 Alam Inti Emas Puncak, 3 Alam Inti Emas Menengah, 18 Alam Fondasi Inti.]

Transformasi Dewa. Itu pasti Ning Yao.

Inti Emas Puncak. Tetua Tertinggi.

Sisanya adalah para Tetua dan tamu undangan.

Xiao Fan menarik napas dalam. Tangannya menyentuh gagang Pedang Bintang Jatuh.

[Peringatan. Pertarungan langsung dengan entitas Transformasi Dewa memiliki tingkat keberhasilan 3%.]

"Tiga persen," bisik Xiao Fan. "Lebih dari cukup."

Dulu, ia pernah memenangkan pertarungan dengan peluang 0,1%. Tiga persen adalah kemewahan.

Ia mendorong pintu.

Kayu cendana merah itu terbuka lebar, mengeluarkan suara berderit yang menghentikan semua musik dan tawa di dalam.

Dua puluh tiga pasang mata menoleh ke arah pintu.

Di ujung aula, di atas kursi kehormatan berlapis emas, duduk Tetua Tertinggi—Xuan Qingzi—dengan jubah putih bersih dan janggut panjang. Matanya menyipit saat mengenali sosok di pintu.

Di sebelahnya, di kursi yang setara, duduk seorang wanita.

Rambut hitamnya panjang, tergerai hingga pinggang. Wajahnya cantik—terlalu cantik untuk seseorang yang sudah hidup sepuluh ribu tahun. Matanya berwarna ungu gelap, seperti langit senja sebelum badai. Bibirnya melengkung dalam senyum tipis yang tidak mencapai mata.

Ning Yao.

Xiao Fan melangkah masuk. Suara langkahnya menggema di aula yang tiba-tiba sunyi.

"Maaf mengganggu pesta kalian," katanya. Suaranya tenang, tapi membawa bobot ribuan tahun. "Aku hanya ingin menagih hutang."

Ning Yao mencondongkan tubuhnya ke depan. Senyumnya melebar.

"Kakak Senior," katanya dengan suara lembut yang dulu pernah membuat Xiao Fan jatuh cinta. "Kau akhirnya datang juga."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!