Kania (20 tahun) mengira hidupnya tamat saat dijodohkan dengan dr. Devan (30 tahun), dokter bedah saraf jenius yang lebih mirip robot daripada manusia. Baginya, Devan adalah "kulkas dua pintu" yang hanya bicara soal logika dan efisiensi.
Namun, di balik tembok es itu, Devan menyimpan lelah yang tak tersentuh. Kania yang ceroboh dan berisik datang sebagai anomali yang mulai merusak ritme jantungnya yang selalu stabil. Kini, Kania punya satu misi gila: Mencairkan hati sang Dokter Es.
Di antara aroma antiseptik, ancaman dr. Sarah yang ambisius, dan taruhan nyawa di meja operasi, Kania harus memilih: Terus mengejar pria yang dunianya tak tersentuh, atau menyerah pada dingin yang mematikan?
Satu janji kelingking, dua kutub yang berbeda. Siapkah kamu melihat sang Dokter Es berlutut karena cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
OPERASI HATI DAN GANGGUAN SISTEM
Perjalanan pulang malam itu diiringi oleh sisa-sisa hujan yang membasahi kaca mobil. Di dalam kabin SUV hitam milik Devan, hanya terdengar suara napas Kania yang sedikit berat karena flu. Devan menyalakan penghangat ruangan ke suhu yang paling optimal, memastikan gadis di sampingnya tidak semakin menggigil.
Kania menyandarkan kepalanya di jok kulit, matanya terpejam, namun sudut bibirnya terangkat sedikit. "Dok..."
"Tidur, Kania. Jangan bicara dulu," sahut Devan tanpa menoleh, tangannya lincah mengendalikan kemudi.
"Aku cuma mau tanya. Dokter kenapa sih mau dijodohin sama aku? Maksudku, Dokter kan bule, ganteng, pinter banget lagi. Pasti banyak dokter cantik kayak Dokter Sarah yang mau ngantre."
Mobil berhenti di lampu merah. Devan terdiam cukup lama, memandangi pantulan lampu jalanan di aspal yang basah. "Karena saya tidak punya waktu untuk mencari, Kania. Hidup saya sudah cukup rumit di rumah sakit. Saat orang tua saya mengusulkan nama kamu, saya pikir... setidaknya keluarga kita sudah saling mengenal."
"Hih, jawabannya medis banget. Nggak ada romantis-romantisnya," gumam Kania sambil membalikkan badannya membelakangi Devan.
"Romantisme adalah konstruksi sosial yang sering kali melebih-lebihkan realitas," balas Devan datar, namun ia melirik Kania dari sudut matanya. Ada perasaan aneh yang mencubit dadanya melihat gadis itu tampak lesu.
Sesampainya di depan rumah Kania, Devan tidak langsung membiarkan Kania turun. Ia mematikan mesin mobil dan menatap Kania yang masih tampak pusing.
"Tunggu sebentar." Devan keluar, memutar mobil, dan membukakan pintu untuk Kania. Ia membantu gadis itu turun dengan memegang lengannya dengan sangat hati-hati.
"Aku bisa jalan sendiri, Dok. Aku cuma flu, bukan lumpuh," protes Kania, meskipun sebenarnya kepalanya terasa berputar.
"Diam," perintah Devan singkat.
Saat mereka sampai di teras, pintu rumah langsung terbuka lebar. Mama Kania muncul dengan wajah cemas yang seketika berubah menjadi binar bahagia saat melihat siapa yang mengantar putrinya.
"Ya ampun, Kania! Kamu kenapa? Kok lemes begini?" Mama Kania beralih menatap Devan dengan senyum lebar. "Duh, Dokter Devan... makasih ya sudah repot-repot nganterin anak nakal ini pulang."
"Kania demam, Tante. Tolong pastikan dia minum obatnya dan kompres kepalanya jika suhunya naik lagi," lapor Devan seperti sedang memberikan instruksi pada perawat senior.
"Panggil Mama saja, Devan! Kan sebentar lagi jadi menantu. Ayo masuk dulu, minum kopi atau makan malam?"
"Terima kasih, Ma. Tapi saya masih ada laporan yang harus diselesaikan di rumah sakit besok pagi. Saya pamit dulu." Devan menatap Kania sebentar. "Jangan berani-berani masuk kuliah kalau besok masih pusing. Saya akan telepon dosen kamu kalau perlu."
"Emang Dokter punya nomornya?" tantang Kania dengan suara serak.
"Saya kenal dekan fakultas kamu. Jangan main-main," ancam Devan dengan nada yang sangat serius, membuat Kania langsung bungkam dan masuk ke dalam rumah dengan cemberut.
Keesokan harinya, Kania benar-benar "dikurung" di rumah atas perintah Devan (yang entah bagaimana caranya berhasil meyakinkan Mama Kania bahwa Kania sedang dalam kondisi kritis padahal hanya flu biasa).
Kania berbaring bosan di tempat tidurnya. Ia meraih ponselnya dan melihat sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak ia kenal.
Unknown: Suhu tubuhmu sudah turun?
Kania mengerutkan kening. Siapa nih? batinnya. Namun, gaya bicaranya yang kaku langsung memberikan jawaban.
Kania: Cieee... Dokter Devan ya? Cieee kepo! Cieee dapet nomor aku dari Mama ya?
Devan: Saya hanya melakukan follow-up medis. Jawab pertanyaannya.
Kania: Udah mendingan kok. Tapi aku laper banget, pengen makan seblak tapi dilarang Mama.
Devan: Seblak itu iritan untuk lambung dan tenggorokanmu yang sedang radang. Makan bubur.
Kania: Bosen! Dokter ke sini dong bawain sesuatu yang enak. Kalau nggak, aku nekat kabur ke kampus!
Tidak ada balasan selama satu jam. Kania mendengus, melempar ponselnya ke bantal. "Dasar es batu. Gitu aja kabur."
Namun, sore harinya, sebuah mobil yang sangat familiar berhenti di depan rumahnya. Devan datang tidak dengan tangan kosong. Ia membawa sebuah bungkusan tas kertas dari sebuah restoran sup premium.
"Ini sup ayam ginseng. Bagus untuk imunitas," ucap Devan saat masuk ke kamar Kania, didampingi Mamanya yang terus-menerus memuji betapa perhatiannya sang calon menantu.
Begitu Mama keluar untuk mengambil minum, Kania langsung duduk tegak. "Dokter beneran ke sini? Padahal aku cuma bercanda tadi."
Devan duduk di kursi belajar Kania, matanya menyapu tumpukan kertas skripsi yang berserakan. "Saya tidak suka ancaman. Kamu bilang mau nekat ke kampus, jadi saya pastikan kamu tetap di sini."
Kania memperhatikan Devan yang mulai membuka wadah sup tersebut. "Dok... makasih ya."
Devan terhenti sejenak, lalu menatap Kania. "Untuk apa?"
"Semuanya. Dokter kelihatannya cuek, tapi ternyata peduli banget. Kenapa Dokter nggak tunjukin sisi ini ke orang lain? Ke dr. Sarah misalnya?"
Wajah Devan kembali mengeras mendengar nama itu. "Sarah tidak butuh dipedulikan seperti ini. Dia wanita yang mandiri. Sedangkan kamu... kamu itu seperti pasien darurat yang selalu butuh pengawasan 24 jam."
Kania tertawa kecil. "Jadi aku ini pasien spesial Dokter?"
Devan memberikan sendok sup itu ke arah Kania. "Makan. Sebelum saya berubah pikiran dan membawa kamu ke rumah sakit untuk diinfus."
Kania menerima suapan itu dengan perasaan membuncah. Di tengah aroma sup yang hangat, Kania menyadari satu hal. Devan mungkin kaku, mungkin irit bicara, dan mungkin terlalu logis. Tapi di balik semua itu, ada kehangatan yang hanya diberikan khusus untuknya.
"Dok..." panggil Kania lagi.
"Apa lagi?"
"Kalau nanti aku udah sembuh, dan skripsiku selesai... Dokter mau nggak kencan beneran sama aku? Bukan kencan medis, bukan kencan karena dijodohin. Tapi kencan karena Dokter... pengen?"
Devan terdiam. Ia menatap Kania, lalu menatap ke arah jendela yang menampilkan langit senja. Untuk pertama kalinya, dr. Devan tidak memiliki jawaban medis atau logis.
"Kita lihat nanti," jawab Devan pelan, namun tangannya secara tidak sadar merapikan helai rambut Kania yang berantakan dengan sangat lembut.
Detik itu, Kania tahu. Benteng es itu sudah benar-benar mencair.