NovelToon NovelToon
Enam Tahun Berlalu,Kau Masih Di Sana

Enam Tahun Berlalu,Kau Masih Di Sana

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime / Ketos / Teen Angst
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: byyyycaaaa

Sinopsis:

Enam tahun lalu, Azzalia sengaja mendorong Danendra pergi karena merasa dirinya terlalu dingin untuk cinta setulus itu. Ia menghilang tanpa jejak, berharap luka laki-laki itu sembuh.

Namun di kota ini, semesta mempertemukan mereka kembali. Saat Azzalia masih membeku dalam rasa bersalah, Danendra justru masih berdiri di titik yang sama.

"Azzalia, kalau kamu sudah capek berkelana, tolong menoleh ke belakang. Aku masih di sini, menunggu kamu."

Masihkah ada ruang untuk cinta yang pernah dibuang, atau pertemuan ini hanya untuk membuka luka lama yang belum benar-benar kering?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22:Hilang dari jangkauan (POV Danendra Aditama)

Malam tadi, aku tertidur dengan ponsel yang masih tergenggam erat di telapak tangan. Setiap kali aku terjaga di sela malam, hal pertama yang kulakukan adalah memeriksa layar berharap ada tanda centang biru atau balasan singkat dari Azzalia. Namun hingga fajar menyingsing, pesanku tetap tak tersentuh. Sepi.

Aku merasa ada yang tidak beres.

Pukul delapan pagi, aku sudah memacu mobil menuju kost Azzalia. Rasa cemas ini bukan lagi sekadar rindu, tapi firasat buruk yang mulai menggerogoti logika. Begitu sampai di depan gerbang besi yang kaku itu, aku mencoba menghubungi nomornya sekali lagi.

"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan..."

Suara operator itu seperti hantaman telak di dadaku. Aktifkan mode pelarian lagi, Zal?

Aku turun dari mobil dengan langkah terburu-buru. Baru saja aku hendak menghampiri pos satpam di sudut gerbang, sosok Danesha muncul dari balik pintu lobi sambil menenteng kantong belanjaan. Ia tampak terkejut melihatku berdiri di sana dengan wajah yang pastinya berantakan.

"Pak Danendra? Cari Azzalia ya?" tanya Nesha, dahinya berkerut heran.

"Pagi, Nesha. Iya, Azzalia ada di dalam? Pesan saya nggak dibalas dan nomornya nggak aktif," suaraku terdengar sedikit serak, mencoba menahan kepanikan.

Nesha tampak menimbang sejenak. "Bukannya dia bareng Bapak? Tadi pagi-pagi banget, pas gue masih tidur, gue denger suara motor dia keluar. Gue pikir dia mau cari sarapan atau ada urusan sama Bapak."

Jantungku berdegup kencang. "Motornya keluar? Jam berapa?"

"Sekitar jam empat atau setengah lima pagi kalau nggak salah. Bentar, Pak, biar gue cek ke kamarnya dulu. Siapa tahu dia udah balik tapi gue nggak denger," ucap Nesha sambil berbalik masuk ke dalam.

Aku menunggu di depan gerbang, mondar-mandir dengan perasaan yang tidak karuan. Menit-menit yang berlalu terasa seperti berjam-jam. Pikiranku mulai melantur ke arah yang gelap. Apakah dia pergi dari kota ini? Apakah permohonanku kemarin justru membuatnya semakin takut?

Beberapa menit kemudian, Nesha keluar lagi dengan wajah yang jauh lebih bingung dari sebelumnya.

"Kosong, Pak. Kamarnya rapi banget, tapi motornya nggak ada di parkiran," ucap Nesha sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Mungkin... mungkin dia ke taman kota buat lari pagi kali, Pak? Azzalia kalau lagi pusing emang suka cari tempat sepi."

Aku terdiam, menatap jalanan aspal di depanku. Ke taman? Di jam segini? Logikaku menolak percaya, tapi aku butuh harapan.

"Terima kasih, Nesha. Kalau dia balik atau hubungi kamu, tolong kabari saya segera," pesanku singkat sebelum setengah berlari kembali ke mobil.

Aku memacu mesin dengan kasar. Taman kota adalah tujuan pertamaku, meski jauh di lubuk hatiku, aku tahu ini bukan sekadar lari pagi biasa. Azzalia tidak pernah pergi sepagi itu hanya untuk berolahraga. Ada sesuatu yang dia tuju, sesuatu yang tidak ia izinkan aku untuk tahu.

"Jangan lari lagi, Zal. Tolong jangan bikin aku gila buat kedua kalinya," gumamku sambil terus mencoba menekan tombol panggil di ponsel, berharap keajaiban datang dan suara datarnya menyapa di ujung sana.

Aku memarkirkan mobil secara sembarang di bahu jalan, tak peduli jika ban mobilku sedikit naik ke atas trotoar. Dengan langkah terburu-buru, aku turun dan langsung menerjang keramaian taman. Mataku bergerak liar, menyisir setiap sudut, setiap bangku, hingga ke balik pohon-pohon besar, berharap menemukan siluet gadis yang sangat kuhafal itu. Aku berjalan cepat hingga ke area danau, memutari lintasan lari dengan napas yang mulai memburu, namun hasilnya nihil. Tidak ada tanda-tanda keberadaan Azzalia di sini.

Rasa sesak yang sejak tadi kupendam kini memuncak, membuat kakiku terasa lemas tak bertulang. Aku akhirnya tertunduk, menjatuhkan tubuhku di sebuah bangku taman yang kosong. Dengan kepala tertumpu pada kedua tangan yang gemetar, aku hanya bisa menatap aspal di bawah kakiku. Taman yang biasanya terasa damai bagi orang lain, kini justru terasa begitu luas dan hampa bagiku, menyisakan ketakutan besar bahwa aku telah benar-benar kehilangan jejaknya lagi.

"Apa aku nggak cukup nyaman buat kamu, Zal? Nggak cukup aman buat jadi tempat kamu berbagi segala hal yang kamu rasain, sampai kamu harus milih buat pergi lagi?" bisikku lirih pada angin yang berembus di antara pepohonan taman.

Suaraku tercekat. Rasa sakitnya jauh lebih tajam daripada enam tahun lalu. Dulu, aku kehilangan dia karena ketidaktahuanku. Tapi sekarang, saat aku merasa sudah meruntuhkan sedikit demi sedikit dindingnya, saat aku pikir dia sudah mulai bersandar... dia justru kembali menghilang dalam sunyi.

Aku menatap kosong ke arah sepasang lansia yang berjalan pelan sambil bergandengan tangan di seberang danau. Pemandangan itu seolah mengejekku. Aku punya segalanya—posisi, kemapanan, masa depan—tapi aku gagal memiliki kepercayaan dari wanita yang paling kucintai. Aku merasa seperti pecundang yang hanya pandai memaksa, tanpa sadar bahwa mungkin kehadiranku justru menjadi beban baru yang membuatnya sesak.

"Harusnya aku nggak seegois itu semalam," sesalku sambil memukul pelan bangku kayu di bawahku.

Aku takut jika kali ini Azzalia pergi bukan karena rasa malu soal ayahnya, tapi karena dia benar-benar lelah dengan kehadiranku yang terus-menerus mengusik dunianya. Ketidakhadirannya di taman ini seolah menjadi jawaban telak bahwa dia sedang menjauh dariku, dari Kota J, dan dari semua harapan yang baru saja aku bangun.

Dalam kekalutan itu, aku teringat kartu nama kusam di dompetku. Nomor telepon seseorang yang memiliki hubungan dengan masa lalu Azzalia di Kota K. Jika dia benar-benar melarikan diri, dia tidak akan pergi ke tempat asing. Dia pasti akan pulang ke satu-satunya tempat yang paling ia benci sekaligus ia rindukan.

Aku berdiri dengan sentakan kasar, menghapus sisa air mata yang nyaris jatuh dengan punggung tangan. Aku tidak bisa hanya duduk diam dan meratapi nasib di bangku taman ini. Jika dia memilih untuk pulang ke masa lalunya, maka aku akan menunggunya di sana—bukan sebagai atasan yang memerintah, tapi sebagai pria yang rela berdiri di bawah badai asalkan dia tidak sendirian.

Aku melangkah cepat kembali ke mobil. Jari-jariku dengan gemetar mencari nomor Valerie. Aku harus memastikan satu hal sebelum aku memacu mobil ini melintasi batas kota.

1
kokita
ihhb kok jahat banget yang nyebarin🥺 nanti azzalia ngilang lagi thorr😭
kokita
semangat ngejar azzalia🤭
kokita
jangan kaku-kaku zal,
kokita
pepet terus nen🤣
kokita
makan siang bareng mantan🤭
kokita
keren torrr
kokita
kalau saling cinta kenapa pergi zal🤭
kokita
aku malah yang deg-degan thor😄
kokita
balikan zal
langit buku
si Danendra setia banget
Kembang Lombok
kenapa ak yg dek dekan yaaa🤭
falea sezi
zalia ini aneh di. tolak tp kepikiran ywda napa dlu g di. trima jalanin aneh bgt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!