NovelToon NovelToon
Jagoan Sengklek Tahta Di Balik Debu Jakarta

Jagoan Sengklek Tahta Di Balik Debu Jakarta

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Faris Arjunanurhidayat

Guntur, pemuda Sidoarjo dengan rambut gondrong dan jurus silat warisan kakek, harus menerima kenyataan pahit saat cintanya dikandas oleh Amanda. Dengan bekal uang saku hasil menjual mesin pompa air dan sekeranjang perbekalan sederhana, Guntur berangkat ke Jakarta untuk mengubah nasib.
​Di hari pertamanya, Guntur hampir ditabrak oleh Vaneshaseorang CEO galak yang ia juluki "Mak Lampir"yang ternyata adalah sepupu mantan kekasihnya! Takdir kemudian membawanya menyelamatkan Bang Soni, bos penguasa dunia malam yang anti-narkoba namun gemar minum keras, dari serangan preman.
​Kini, Guntur terjebak di antara tugas menjaga Sekar putri Bang Soni yang tak kalah galak dan intrik keluarga kaya yang dulu meremehkannya. Dengan sifatnya yang sulit ditebak dan jurus silat yang mematikan, Guntur siap menggoncang Jakarta dan membuktikan bahwa jagoan sejati tidak butuh jas mewah untuk berkuasa!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5: Pesona Jagoan yang Terbuang

Guntur melangkah masuk ke sebuah area apartemen merangkap kos-kosan elit di daerah Jakarta Pusat yang per bulannya saja setara dengan hasil narik ojek selama tiga bulan di Sidoarjo.

​Dengan kemeja hitam yang rapi dan rambut yang disisir klimis, aura Guntur benar-benar berubah; ia tidak lagi terlihat seperti gembel, melainkan seperti pengusaha muda yang sedang menyamar.

​"Bismillah... Bismillah... Bismillah..." gumam Guntur pelan untuk meredam kekuatannya agar tidak menarik perhatian berlebih saat ia sedang menghitung uang di depan pengelola kos.

​Setelah membayar uang muka dan mendapatkan kunci kamar di lantai dua, Guntur memutuskan untuk turun ke kafe yang ada di bawah apartemen karena perutnya sudah mulai keroncongan minta diisi.

​Namun, baru saja ia hendak memesan kopi, suara tawa melengking yang sangat ia kenal terdengar dari arah meja pojok yang menghadap ke kolam renang.

​Itu adalah Amanda dan Rian, mereka sedang duduk bersama beberapa teman sosialita mereka sambil memamerkan kunci mobil mewah yang baru saja dibeli Rian dari hasil mengkhianati proyek Bang Soni.

​"Eh, kalian tahu nggak? Gembel ojek yang kemarin sempat numpang di rumah Om Soni itu sekarang sudah jadi gelandangan di jalanan, paling juga sekarang lagi makan sisa sampah di pinggir terminal!"

​Ucap Amanda sambil tertawa puas, membuat teman-temannya ikut terpingkal-pingkal menertawakan kemalangan Guntur yang sebenarnya sedang berdiri tepat di belakang mereka.

​Guntur hanya tersenyum dingin, ia menarik napas dalam-dalam lalu membisikkan kalimat sakti dari sang Resi dengan penuh keyakinan.

​"Ya Qowiyyu Ya Matiin..."

​Seketika, sebuah tekanan udara yang sangat berat seolah menghantam meja mereka, membuat gelas-gelas kaca di depan Amanda bergetar hebat dan suasana kafe mendadak menjadi sangat mencekam.

​Guntur melangkah maju dan menarik kursi tepat di samping Rian, ia duduk dengan sangat tenang namun sorot matanya yang tajam membuat Rian mendadak sesak napas dan badannya gemetaran.

​"Waduh, lagi seru ya omongannya? Sampai-sampai bau mulutnya kecium ke mana-mana, kayak bau bangkai pengkhianat yang belum dikubur," celetuk Guntur sambil mengambil sepotong roti dari piring Rian dan memakannya tanpa rasa berdosa.

​Amanda tersentak kaget sampai hampir jatuh dari kursinya, ia menatap Guntur dengan mata melotot karena tidak percaya melihat pria yang ia hina barusan kini tampil sangat gagah dan penuh wibawa.

​"Guntur?! Kenapa kamu bisa ada di sini?! Ini tempat elit, bukan tempat penampungan gelandangan! Security! Usir orang ini!" teriak Amanda yang mulai panik melihat aura Guntur yang sangat mengintimidasi.

​Rian mencoba berdiri dan hendak mencengkeram kerah baju Guntur untuk menunjukkan kekuatannya di depan teman-temannya. "Berani sekali kamu muncul di depanku, Dasar Pembunuh! Pergi sebelum aku buat kakimu patah!"

​Namun, sebelum tangan Rian menyentuh baju Guntur, Guntur hanya menatap mata Rian dengan kilatan cahaya aneh, yang membuat nyali Rian ciut seketika dan tangannya mendadak lemas tak bertenaga.

​"Rian, Rian... tanganmu gemeteran gitu, habis liat hantu Bang Soni ya? Atau takut karena tahu kalau pengkhianatanmu sebentar lagi bakal terbongkar?" bisik Guntur tepat di telinga Rian dengan suara yang sangat berat.

​Guntur kemudian menoleh ke arah Amanda, ia memberikan tatapan yang sangat dalam yang membuat jantung Amanda mendadak berdebar kencang; ada rasa takut sekaligus rasa kagum yang aneh muncul di benak wanita matre itu.

​"Mbak Amel, simpan saja tawa Mbak buat nanti, karena sebentar lagi Mbak bakal nangis darah saat tahu pria yang Mbak buang ini adalah orang yang akan menghancurkan kesombongan kalian!"

​Setelah berkata begitu, Guntur berdiri dan melangkah pergi dengan sangat tenang, meninggalkan meja itu dalam keheningan yang mencekam, sementara teman-teman Amanda hanya bisa melongo menatap punggung Guntur yang penuh kharisma.

​Rian jatuh terduduk dengan keringat dingin bercucuran, ia merasa baru saja berhadapan dengan seekor harimau yang sedang lapar, padahal Guntur sama sekali tidak melayangkan satu pukulan pun.

​Guntur tersenyum puas di dalam lift, ia merasakan kekuatan Ya Qowiyyu Ya Matiin benar-benar luar biasa; bukan hanya soal otot, tapi soal mental lawan yang bisa ia hancurkan hanya dengan tatapan mata.

Guntur melangkah keluar dari kafe dengan perasaan yang jauh lebih lega, namun ia tetap waspada karena ia tahu Rian bukan tipe orang yang akan tinggal diam setelah dipermalukan.

​Saat ia sedang berjalan menuju lift, tiba-tiba sebuah mobil sport putih berhenti mendadak di depan lobi, dan keluarlah sosok wanita cantik dengan wajah yang terlihat sangat kuyu dan mata yang sembab.

​Wanita itu adalah Sekar Ayu Kencana, putri Bang Soni yang kini terlihat kehilangan semangat hidupnya sejak kematian ayahnya dan terusir dari mansion karena intrik para pengkhianat.

​Guntur tertegun melihat kondisi Sekar yang berantakan, ia segera merapalkan Bismillahirrahmanirrahim tiga kali agar aura jagoannya meredup dan ia bisa mendekati Sekar tanpa membuatnya takut.

​"Mbak Sekar? Kenapa Mbak bisa ada di sini dengan kondisi seperti ini?" tanya Guntur dengan suara yang sangat lembut, membuat Sekar yang sedang melamun tersentak kaget.

​Sekar menoleh dan saat melihat wajah Guntur, kemarahannya kembali meledak, ia memukul dada Guntur dengan tangannya yang kecil sambil terisak tangis.

​"Ini semua gara-gara kamu, Guntur! Kenapa kamu meninggalkan ayahku?! Kenapa kamu pergi saat aku benar-benar membutuhkan perlindungan?!"

​Guntur hanya diam membiarkan Sekar meluapkan emosinya, ia tahu Sekar hanya sedang bingung karena semua orang yang ia percayai di mansion ternyata adalah penjilat yang berpihak pada Rian.

​"Mbak, saya tidak pernah membunuh Bang Soni, dan saya tidak akan pernah meninggalkan Mbak sendirian. Saya pergi hanya untuk menyiapkan pedang yang lebih tajam buat mereka."

​Ucap Guntur sambil memegang pundak Sekar, dan secara tidak sadar ia membisikkan Ya Nur... dalam hati agar wajahnya memancarkan ketenangan yang bisa meredakan badai di hati Sekar.

​Ajaibnya, Sekar mendadak tenang, ia menatap mata Guntur yang jernih dan merasakan sebuah keamanan yang tidak ia dapatkan dari siapapun sejak ayahnya tiada.

​"Mereka sudah menguasai perusahaan Ayah, Guntur. Rian dan orang-orangnya mengusirku dari rumah dengan alasan surat wasiat palsu, aku tidak tahu harus ke mana lagi selain ke unit apartemen kecil milik almarhum Ibu ini."

​Keluh Sekar sambil menyandarkan kepalanya di bahu Guntur, membuat Guntur mengepalkan tangannya kuat-kuat menahan amarah yang membara di dadanya.

​"Mbak Sekar tenang saja, selama saya masih bernapas, tidak akan ada satu orang pun yang boleh menyentuh Mbak. Anggap saja kos-kosan saya di sebelah adalah benteng pertahanan Mbak mulai sekarang."

​Ucap Guntur dengan nada yang sangat berwibawa, membuat Sekar merasa memiliki harapan baru di tengah kegelapan yang sedang menghimpitnya.

​Namun, dari kejauhan, Amanda melihat pemandangan itu dengan hati yang panas terbakar api cemburu; ia tidak rela melihat Guntur yang kini gagah malah terlihat sangat dekat dengan musuh besarnya, Sekar.

​"Awas kamu Guntur, kalau aku tidak bisa memilikimu, maka tidak ada satu wanita pun yang boleh memilikimu, termasuk anak haram Bang Soni itu!" gumam Amanda dengan sorot mata yang penuh dendam.

Guntur tidak bisa tinggal diam setelah mendengar bahwa Ibu Ratna disekap di dalam mansion oleh anak buah senior Bang Soni yang membelot. Tanpa membuang waktu, ia segera menuju mansion Naga dengan amarah yang tertahan.

​Di depan gerbang, sepuluh anak buah Bang Soni yang dulu mengenalnya kini menghadang dengan senjata tajam. "Mau apa kamu ke sini, Gembel?! Tempatmu bukan di sini lagi!"

​Guntur hanya berdiri tenang, ia menarik napas panjang dan menghentakkan kakinya ke bumi.

"Ya Qowiyyu Ya Matiin!"

​Seketika, aura biru tipis seolah menyelimuti tubuh Guntur. Saat anak buah itu menyerbu, Guntur bergerak secepat kilat. Sekali pukul, tulang rusuk lawan terdengar retak. Sekali tendang, dua orang terpental hingga menjebol pagar besi mansion. Guntur mengacak-acak mereka seperti harimau masuk ke kandang ayam.

​Hanya dalam waktu kurang dari lima menit, sepuluh preman itu terkapar tak berdaya di aspal. Guntur mendobrak pintu utama dan menemukan Ibu Ratna yang sedang diancam oleh salah satu pengkhianat.

​"Lepaskan Ibu, atau kepalamu akan jadi hiasan di taman ini!" bentak Guntur dengan suara yang menggetarkan kaca-kaca gedung. Penjaga itu gemetar hebat melihat sorot mata Guntur yang bercahaya, ia langsung lari tunggang langgang ketakutan.

​Guntur segera menghampiri Ibu Ratna dan membantunya berdiri. "Ibu, kita tidak aman di sini. Jakarta sudah dikuasai mereka. Mbak Sekar sudah bersama saya, sekarang Ibu harus ikut juga."

​Guntur langsung membawa Ibu Ratna dan Sekar menuju stasiun. Ia memutuskan untuk membawa mereka ke satu-satunya tempat yang paling aman di dunia bagi Guntur: Desa Gedangan, Sidoarjo.

​Sesampainya di Sidoarjo, orang tua Guntur, Bapak Suryo dan Ibu Siti, menyambut mereka dengan kaget namun penuh kehangatan. "Lho, Le... kamu pulang bawa tamu?"

​"Pak, Buk, ini Ibu Ratna dan Mbak Sekar. Mereka orang baik yang sudah menolong Guntur di Jakarta. Untuk sementara, tolong jaga mereka di sini. Di sini mereka aman, tidak ada preman Jakarta yang berani macam-macam di tanah leluhur kita," ucap Guntur tegas.

​Sekar dan Ibu Ratna merasa sangat terharu. Di tengah hiruk pikuk Jakarta yang kejam, mereka justru menemukan kedamaian di rumah sederhana di pinggiran Sidoarjo. Sekar menatap Guntur dengan pandangan yang kini penuh rasa kagum dan cinta yang mulai tumbuh.

​"Terima kasih, Guntur. Kamu benar-benar pahlawan kami," bisik Sekar sambil memegang tangan Guntur di bawah cahaya lampu teras rumah desa yang temaram.

​Guntur tersenyum, ia mengusap kepala Sekar dengan lembut. "Istirahatlah, Mbak. Biarkan saya kembali ke Jakarta sendirian. Setelah kalian aman di sini, giliran saya yang akan membuat perhitungan dengan Rian dan Amanda sampai ke akar-akarnya!"

1
Mairah Cileles
guntur ini kayanya sangat mirip ceritanyany sama si Gan... di tetangga sebelah
FARIZARJUNANURHIDAYAT: Wah, ketahuan ya? Memang tipe jagoan yang 'sengklek' tapi sakti itu sudah jadi ciri khas tulisan saya. Guntur hadir dengan petualangan yang beda kok, meskipun jiwanya sama-sama nggak bisa diem. Terima kasih dukungannya ya! 🙌✨
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!