Demi menyelamatkan nyawa ibunya yang sekarat, Aluna terpaksa menerima tawaran yang tak masuk akal yaitu menjadi rahim bayaran bagi seorang pria yang dikenal sebagai mafia paling kejam dan tak tersentuh.
Pria itu, Arka Mahendra, bukan hanya dingin dan berbahaya, tapi juga menyimpan rahasia kelam di balik keinginannya memiliki seorang anak. Tidak ada cinta dalam perjanjian mereka. Hanya kontrak, batasan, dan harga yang harus dibayar.
Namun semuanya berubah ketika kehidupan Aluna perlahan terjerat dalam dunia gelap Arka. Ancaman datang dari musuh-musuh yang mengintai, sementara perasaan yang seharusnya tidak pernah ada mulai tumbuh di antara mereka.
Di tengah bahaya, pengkhianatan, dan rahasia masa lalu yang terkuak, Aluna dihadapkan pada pilihan yang menghancurkan, tetap menjadi “rahim bayaran”… atau mempertaruhkan segalanya untuk cint
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon I'ts Roomie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26
Hujan deras yang turun sejak sore seakan tidak ingin berhenti menyiram bumi. Suasana di dalam kontrakan kecil mereka terasa hangat dan nyaman, meski di luar sana angin bertiup cukup kencang.
Arka dan Aluna baru saja selesai membersihkan diri dan bersiap untuk beristirahat, tiba-tiba ponsel Arka berdering keras. Nomor yang tertera adalah nomor telepon rumah orang tuanya.
Dengan rasa penasaran, Arka segera mengangkat sambungan telepon itu.
"Halo, Assalamu’alaikum..."
"Wa’alaikumsalam, Arka... Ini Ayah," suara Tuan Mahendra terdengar serius dan sedikit mendesak di seberang sana.
"Kau segera pulang ke rumah sekarang juga. Ada tamu penting yang ingin bertemu denganmu secara khusus."
"Tamu penting siapa Yah? Kenapa harus sekarang, hujan deras begini?" tanya Arka bingung.
"Ini Pak Herman, kau pasti ingat dia. Dulu perusahaannya hampir bangkrut dan kau yang pernah bantu dia dengan suntikan modal dan koneksi bisnis. Sekarang dia sudah sukses besar dan dia bilang dia mau melunasi hutang budinya sama kau," jelas Ayah panjang lebar.
"Dia datang jauh-jauh kemari khusus cari kau. Ayah mohon, usahakan datang ya. Ini mungkin kesempatan baik buat kalian."
Mendengar nama Pak Herman dan cerita tentang hutang budi itu, mata Arka langsung berbinar. Ingatannya kembali teringat pada masa lalu, betapa ia pernah menolong seorang pengusaha yang sedang terpuruk.
"Baiklah Yah, sebentar lagi kami sampai," jawab Arka lalu menutup telepon.
Aluna yang melihat perubahan wajah suaminya langsung bertanya, "Ada apa Tuan? Ada masalah?"
"Tidak sayang, justru ini kabar baik," Arka tersenyum lebar.
"Ayah bilang ada teman bisnis Ayah yang datang. Namanya Pak Herman. Dulu aku pernah bantu selamatkan perusahaannya dari kebangkrutan. Sekarang dia datang mau bayar hutang budi," jelas Arka.
"Kita harus pergi ke rumah Ayah sekarang juga sayang. Ayo siap-siap."
"Tapi Tuan... di luar hujan deras sekali dan petirnya juga besar," Aluna tampak ragu dan sedikit gemetar mengingat fobianya.
"Lagipula kan keputusan kita sudah final, tidak akan ke sana lagi," tambah Aluna.
"Aku tahu sayang, tapi ini penting. Dan karena cuaca begini dan Arfan juga masih kecil, aku tidak mungkin meninggalkan kalian sendirian di sini. Ayo kita pergi bersama," bujuk Arka lembut.
Akhirnya dengan berat hati, Aluna menurut. Mereka pun berangkat menembus hujan badai menuju rumah besar keluarga Mahendra.
Sesampainya di sana, rumah itu tampak ramai dan terang benderang. Di ruang tamu utama, terlihat seorang pria paruh baya yang tampak gagah dan berwibawa sedang duduk berbincang dengan Tuan Mahendra. Itulah Pak Herman, pria berkepala tiga yang sukses itu.
Begitu melihat Arka masuk, pria itu langsung berdiri dan menyambutnya dengan tangan terbuka dan wajah penuh senyum.
"Wah... Tuan Muda Arka! Akhirnya kita bertemu lagi!" seru Pak Herman hangat lalu memeluk Arka dengan penuh hormat.
"Terima kasih Tuhan, kau masih baik-baik saja. Aku dengar kabar kau sedang mengalami kesulitan ekonomi belakangan ini, makanya aku bergegas datang kemari," ungkap Pak Herman.
Pak Herman lalu duduk kembali dan menatap Arka dalam-dalam.
"Mas Arka pasti masih ingat kan? Dulu perusahaan tekstilku hampir gulung tikar, bank mau sita aset, karyawan mogok. Saat semua orang meninggalkanku, hanya kau dan perusahaan keluargamu yang berani kasih kepercayaan dan modal pinjaman."
"Karena bantuan mas Arka itulah aku bisa bangkit lagi, bahkan sekarang perusahaanku jauh lebih besar dari sebelumnya. Hutang uang mungkin sudah lunas, tapi hutang budi aku ke kau tidak akan pernah bisa aku lupa."
Arka tersenyum sambil mengangguk. "Sudah lama sekali kejadian itu Pak Herman. Anggap saja itu rezeki Bapak."
"Enggak bisa begitu Mas," potong Pak Herman tegas. "Hari ini aku datang bukan cuma main-main. Aku membawa ini..."
Pak Herman menggeser sebuah tas tebal dan sebuah amplop cokelat besar ke arah Arka.
"Ini adalah sedikit bagian dari keuntungan yang aku dapat berkat bantuan Mas dulu. Anggap saja ini bonus atau bagi hasil yang tertunda. Jumlahnya cukup besar, Insya Allah cukup buat modal awal bangkit lagi atau buat kebutuhan keluarga Mas."
"Silakan diterima, ini hak kalian sepenuhnya. Dan ingat, kalau nanti butuh apa-apa lagi, koneksi atau dukungan, pintu perusahaan saya selalu terbuka lebar buat kalian."
Semua orang di ruangan itu terdiam kaget. Termasuk Arka dan Aluna yang tidak menyangka akan mendapat kejadian seindah ini.
Ini jawaban dari doa mereka! Ini jalan keluar yang Tuhan berikan saat mereka sedang buntu mencari modal!
Namun, suasana haru itu tiba-tiba terganggu saat Nyonya Soraya melihat Aluna yang berdiri memeluk Arfan di belakang suaminya.
Wajah Nyonya Soraya langsung berubah masam dan ketus. Ia berjalan mendekat dengan langkah tegap.
"Hem... Siapa yang suruh bawa wanita ini dan anak ini kemari?" cecar Nyonya Soraya pelan, namun cukup terdengar, menatap Aluna dengan tatapan tidak suka.
"Ruang tamu ini tempat orang penting bicara bisnis. Kenapa kau bawa mereka yang bikin masalah ini masuk? Nanti mengganggu konsentrasi saja. Kenapa tidak kau tinggalkan di rumah kontrakan saja tadi?"
Aluna yang mendengarnya langsung menunduk lemas, wajahnya memerah menahan malu dan sedih. Ia ingin mundur dan pergi keluar ruangan, tapi tangannya digenggam erat oleh Arka.
Kali ini, Arka tidak diam saja. Ia tidak marah-marah, tapi suaranya sangat tegas dan dingin saat menatap ibunya.
"Ibu," panggil Arka pelan namun menggetarkan.
"Aluna adalah istriku dan Arfan adalah cucu Ibu. Dimana aku berada, di situ juga tempat mereka berada."
"Aku tidak membawa mereka sebagai orang asing atau pengganggu. Aku membawa mereka sebagai keluargaku. Jadi tolong Ibu bicara yang sopan dan hormat di depan tamu, dan jangan pernah merendahkan istriku di situasi apa pun."
"Kalau Ibu tidak terima mereka ada di sini, berarti Ibu juga tidak menerima aku ada di sini. Karena kami bertiga adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan," jelas Arka membela.
Nyonya Soraya ternganga kaget mendengar pembelaan putranya yang begitu tegas dan dingin. Ia merasa geram tapi tidak bisa berbuat apa-apa karena ada tamu penting di sana.
Pak Herman yang melihat interaksi itu hanya tersenyum bijak lalu menoleh ke Aluna.
"Jangan sedih ya, Nak. Suamimu ini orang baik dan setia. Istri yang sabar dan kuat sepertimu pasti akan membawa berkah besar buat keluarga ini."
"Ambil saja uang itu Nak. Gunakan sebaik mungkin. Aku yakin dengan bantuan ini dan kerja keras kalian, masa depan kalian pasti akan jauh lebih cerah dari sebelumnya."
Malam itu, di rumah besar yang dulu pernah menjadi tempat penuh air mata bagi Aluna, kini menjadi saksi datangnya rezeki dan keajaiban.
Mimpi memiliki butik, mimpi menjadi desainer, dan mimpi bangkit dari keterpurukan kini bukan lagi sekadar angan-angan. Itu sudah ada di depan mata mereka, nyata dan siap untuk digapai.