“Ibu … apa Ibu akan kembali menjemputku?”
Itu adalah kata-kata terakhir Lu Ming sebelum ibunya pergi dan tak pernah kembali.
Ditinggalkan di kota asing, ia tumbuh dengan harapan yang tak pernah padam—menunggu seseorang yang mungkin tak akan pernah datang.
Saat ia berumur 10 tahun, ia berhenti menunggu dan memilih mencari. Perjalanan itu membawanya pada satu tujuan: menemukan ibunya.
Namun ketika akhirnya ia bertemu … bukan pelukan hangat yang ia dapatkan, melainkan kenyataan pahit yang menghancurkan segalanya.
Apakah kebenaran yang begitu kejam itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Tingkatan dunia
⚫Tingkatan Kultivasi (10 Level)
Pengerasan Dasar
Melatih tubuh.
➤ Efek: Tubuh kuat & tahan sakit.
Arus Qi
Qi mulai mengalir dalam tubuh.
➤ Efek: Bisa memperkuat serangan.
Pembentukan Inti
Qi dikumpulkan jadi inti di tubuh.
➤ Efek: Energi besar & umur lebih panjang.
Manifestasi Roh
Roh bisa keluar dari tubuh.
➤ Efek: Bisa mendeteksi musuh dari jauh.
Transformasi Nascent
Inti berubah jadi “bayi energi”.
➤ Efek: Tetap hidup walau tubuh hancur.
Pemurnian Hukum
Mulai memahami elemen (api, air, dll).
➤ Efek: Bisa mengendalikan elemen.
Ranah Berdaulat
Tubuh menyatu dengan hukum alam.
➤ Efek: Aura sangat kuat, menekan orang lain.
Keabadian Semu
Tidak butuh makan & tidak menua.
➤ Efek: Penyembuhan sangat cepat.
Kesengsaraan Agung
Diuji petir besar dari langit.
➤ Efek: Kekuatan mencapai batas maksimal.
Keabadian Sejati
Jadi makhluk tertinggi.
➤ Efek: Bisa menciptakan & menghancurkan dunia.
⚔️ Tingkatan Senjata
•Fana → Senjata biasa
•Bumi → Bisa pakai sedikit elemen
•Langit → Punya roh sederhana
•Suci → Bisa berkembang
•Legenda → Sangat kuat (level dewa)
💊 Tingkatan Pil
•Pil Debu → Kualitas rendah (ada racun)
•Pil Murni → Kualitas bagus
••Pil Sempurna → Tanpa efek samping, terbaik
🔑 Hal Penting
•Akar Spiritual → Bakat lahir (wajib untuk kultivasi)
•Batu Ruh → Mata uang + sumber energi
•Penyimpangan Qi → Energi kacau (bisa mati/gila)
•Sekte & Klan → Tempat belajar & perlindungan
...----------------...
"Lari, Paman! Jangan menoleh! Ingat, jangan sampai kakimu tersangkut akar lagi!" teriak Lu Ming. Suaranya melengking di tengah lebatnya Hutan Kabut Hitam, memecah kesunyian yang mencekam.
Di belakang mereka, seekor Beruang Kerak Bumi setinggi dua meter menggeram dahsyat. Suaranya begitu berat hingga membuat pepohonan di sekitar mereka bergetar hebat.
Tanah seolah ikut melompat setiap kali kaki raksasa berbulu cokelat kusam itu menghantam bumi, meninggalkan jejak kaki sedalam telapak tangan orang dewasa.
"Diam kau, Bocah! Napasku… ukh… napasku hampir habis!" gerutu Paman Han dengan wajah yang sudah memerah padam, nyaris ungu. Keringat deras membasahi janggutnya yang kasar dan jarang-jarang.
Meski ia terus mengomel dan megap-megap seperti ikan kekurangan air, tangannya mendekap erat sebuah tas kain kumal.
Di dalamnya tersimpan Bunga Sembilan Kelopak, tanaman langka dengan kelopak sewarna perak yang mereka temukan di tebing curam tadi pagi.
"Paman terlalu lambat! Kalau bukan karena aku menarik jubahmu, Paman sudah jadi pupuk hutan sejak tadi!" Lu Ming melompat melewati batang pohon tumbang dengan kelincahan seekor kancil.
Beberapa bulan latihan pernapasan dan kuda-kuda di bawah didikan brutal Paman Han mulai membuahkan hasil nyata.
Tubuh Lu Ming yang semula ringkih kini lebih lentur, dan napasnya tidak lagi tersengal payah meski sedang dikejar maut.
"Sombong sekali kau! Tunggu sampai kita sampai di kota, aku akan menghukummu berdiri satu kaki di atas botol arak selama lima jam!" Paman Han mendengus, namun ia refleks mempercepat lari saat merasakan embusan napas panas dan bau amis dari mulut beruang itu tepat di tengkuknya.
Setelah aksi kejar-kejaran yang memacu jantung, mereka akhirnya mencapai tepi sungai beraliran deras yang menjadi batas wilayah teritorial beruang tersebut.
Dengan sisa tenaga, keduanya melompat ke seberang, mendarat di atas pasir sungai yang basah.
Beruang itu berhenti di tepian lawan, berdiri dengan dua kaki belakangnya sambil menggeram kesal. Matanya yang kecil menatap tajam ke arah mereka sebelum akhirnya berbalik, kembali masuk ke dalam kegelapan kabut hutan.
Paman Han jatuh terduduk, terlentang di atas pasir sambil terengah-engah. "Sialan… aku hampir bertemu leluhurku hari ini. Jantungku serasa mau copot."
Lu Ming terkekeh pelan, meski dadanya naik turun dengan cepat. Ia mengusap peluh di dahinya yang kotor. "Tapi kita berhasil, Paman. Bunga itu… itu bisa ditukar dengan koin perak, kan?"
Mata Paman Han seketika berbinar, rasa lelahnya menguap. Ia membuka tas kainnya dengan sangat hati-hati, seolah-olah di dalamnya ada bayi yang rapuh. "Bukan cuma perak, Bocah. Ini adalah bahan utama Pil Pemurni Tubuh. Kita kaya hari ini! Benar-benar kaya!"