"Katanya, sebelum semua ilmu nya lepas.. nenek nggak akan bisa mati."
"Jadi sekarang nenek dimana?"
"Nenekmu sedang menjalani semua hukuman sebelum akhir nya dia mati. Selama 40 hari, dia akan dalam pengaruh Iblis."
"Tapi kan nenek udah meninggal!?"
Sebuah ilmu tua membuat seorang nenek mengalami hal di luar nalar ketika akan mendapatkan ajalnya.
Elma, gadis biasa yang baru saja datang dari Jakarta itu harus menelan bulat - bulat atas semua rentetan kejadian tak masuk akal yang dia alami selama mencari jasad nenek nya, dalam waktu 40 hari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Jumillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPS.22. Ruangan apa sebenar nya.
Elma sedang melihat pak Ustad sedang sedikit mengobati mang Udin yang kelihatan linglung, setelah memastikan mang Udin masuk ke dalam dan ada pak Ustad yang bisa menolong, warga kembali pergi dari sana dan melanjutkan pencarian nenek.
Aneh nya mang Udin terus bergumam sambil ketakutan dan terus mengucap kata takut, Elma tidak tau apa yang mang Udin takutkan.
"Mang Udin di sasarke, iki mesti ada yang jail." Ucap pak Ustad.
"Pantesan mang Udin ndak nyampe - nyampe, ternyata dia kesasar." Ucap bude nya Elma.
"Aneh banget, kan dia pake maps. Udah gitu ini juga bukan pertama kalinya dia ke sini, masa bisa nyasar." Ucap Elma.
"Itu karena ada yang sudah menutup pandangan bapak iki, di buat bingung atau di silap masuk ke alam sana." Ucap pak Ustad, Elma pun tertegun.
"Alam.. sana?" Gumam Elma, dia sedikit mengerti alam mana yang pak Ustad maksud.
Mang Udin masih kelihatan syok dan pandangan nya bahkan sedikit kosong dengan mulut yang terus meracau minta ampun. Bahkan saat Elma menyentuh pundak nya pun mang Udin masih meracau minta ampun.
"Ampun, ampuni saya." Ucap nya, entah sebenarnya mang Udin meminta ampun pada siapa.
"Mang, mamang dari mana?" Tanya Elma, mang Udin menatap Elma.
Sempat ada jeda beberapa detik setelah Elma bertanya, mang Udin tidak langsung menjawab pertanyaan Elma. Tapi.. dia menatap wajah Elma dengan tatapan kosong dan linglung nya.
Di tatap sedemikian oleh mang Udin tentu Elma juga makin menunggu dengan serius, Elma yakin Mang Udin telah mengalami sesuatu supra natural yang tidak biasa. Dengan wajah serius Elma menunggu jawaban mang Udin, dan lalu mang Udin pun menjawab..
"Sudah, tadi sudah makan." Jawab mang Udin, seketika Elma menghela nafas.
"Yee.. Nanya apa jawab nya apa." Ucap Elma, dia lalu bangun dan berdiri.
"Mamang masih linglung kak, biar mamang istirahat dulu." Ucap ibunya Elma.
Elma tidak sengaja menatap ke arah Salsa adiknya, Salsa terlihat diam tapi tatapan nya terus menatap padanya. Elma tidak berpikir aneh - aneh, dia pun tersenyum pada adik nya yang sedang sakit tapi adiknya hanya terus menatap nya dengan tatapan datar.
'Kenapa nih anak.' Batin Elma.
Elma berinisiatif berjalan ke kanan, dan ternyata tatapan Salsa mengikuti gerak - gerik Elma.
"Dek, kamu kenapa sih? Dari tadi ngeliatin kakak gitu, aneh banget." Tegur Elma, yang tidak di sangka adalah.. ibunya memberi tahu Elma untuk jangan berisik.
"Sssh, adek lagi bobo jangan di ganggu, adek baru bobok kak." Ucap ibunya, sontak Elma pun terkejut.
Jelas - jelas adiknya itu menatap nya dengan tatapan datar, tapi ibunya bilang Salsa sedang tidur. Tapi yang aneh adalah, saat Elma kembali menatap adik nya.. Ternyata adiknya itu memang sedang tidur.
'Eh, gue halu?' Batin Elma.
'Enggak, gue nggak halu. Gue liat adek tadi ngeliatin gue, kayak waktu gue ngeliat nenek lagi ngeliatin gue.' Batin Elma, dia sedikit merinding sekarang.
Elma lalu berjalan mendekati pak Ustad dan sedikit berbisik di sebelah pak Ustad tanpa menempel sedikitpun, pak Ustad tampak sedikit terkejut dan langsung menoleh ke arah Salsa.
"Kamu yakin, nduk?" Tanya pak Ustad.
"Iya, sama kayak waktu aku liat nenek waktu itu, pak Ustad." Ucap Elma.
"Nanti bapak liat, sekarang bapak antar dulu pak Udin untuk istirahat." Ucap pak Ustad, Elma mengangguk.
Mbak Er dan mbak Lis mengantar pak Ustad dan mang Udin ke kamar belakang untuk istirahat, bahkan setelah di beri air doa pun mang Udin masih tampak linglung.
Setelah pak Ustad mengantar mang Udin, dia kembali lagi ke ruang tengah dan mencari Salsa.. Tapi Salsa rupanya sudah di bawa masuk ke dalam kamar oleh ibunya.
"Bu, boleh saya lihat Salsa?" Tanya pak Ustad, Elma ikut menghampiri.
"Salsa tidur pak ustad, sejak semalam dia susah tidur, baru ini lah dia bisa tidur." Ucap ibunya Elma.
"Liat doang loh, maa.. Pak Ustad kan cuma mau mastiin adek baik - baik aja apa nggak." Ucap Elma, dia angkat bicara.
"Ya sudah, biar Salsa istirahat dulu. Elma.. Ayo kita teruskan buka pintu nya." Ucap pak Ustad, meski memang seperti ya dari tatapan pak Ustad sudah mengisyaratkan ada sesuatu.
"Nggak apa - apa, pak. Liat aja, aku yakin.."
"Biar adekmu istirahat dulu saja, nduk." Potong pak Ustad, akhir nya Elma manut saja.
Dan pada akhirnya, Elma dan pak Ustad meneruskan untuk mendobrak pintu ruangan rahasia itu. Ternyata setelah berusaha cukup keras, akhir nya pintu itu berhasil di buka.
"BRAKK!!"
"Wuushh!! uhuk! Uhuk! Uhuk! Bau debu." Gumam Elma sambil mengibas - kibaskan tangan nya di depan wajah.
Pintu sudah terbuka dan kini terlihatlah sebuah ruangan yang bernuansa merah, ada satu meja kecil di sana. Ruangan itu sama persis dengan ruangan yang Elma lihat saat dia di alam mimpi itu, tapi satu yang membuat Elma terkejut..
"Lho!! Kok dupa nya nyala?!" Ucap Elma terkejut.
"Eh, dupanya nyala." Bude yang ikut masuk ikut juga terkejut.
Mau di lihat dari sisi manapun, itu sangat - sangat tidak masuk di akal dan tidak bisa juga di cerna dengan logika. Di dalam ruangan yang tertutup dan di kunci bahkan di cengkal dengan lemari berat, ada dupa menyala. Padahal, bahkan tidak seorangpun di keluarga mereka yang tau keberadaan kamar itu jika Elma tidak di beri pengelihatan.
Bahkan, dupa itu menyala persis seperti saat Elma di berikan pengelihatan tentang apa yang nenek nya lakukan. Penasaran, Elma masuk dan ingin memastikan bahwa dupa itu memang benar - benar menyala, Elma ingin menyentuhnya tapi..
"Jangan di pegang yo, nduk." Ucap pak Ustad, akhir nya tangan Elma terhenti.
Tapi tiba - tiba Elma terkejut saat dia menoleh ke arah pintu keluar, dia terkejut melihat mang Udin.. Mang Udin yang seharusnya beristirahat di kamar belakang datang ke sana masih dengan tatapan kosong. Mang Udin lalu berjalan masuk dan dia berdiri di depan meja itu dan yang mengejutkan adalah..
"Sesuatu sing wes tak atur apik - apik, ojo di berantakno. Kabeh iki sudah tak susun supaya ndak akan ada lagi yang bangun." Ucap nya dan setelah nya mang Udin kembali pingsan.
"Aduh! Yahh.. mang! Mang!" Elma mencoba menyadarkan mang Udin tapi mang Udin sama sekali tidak terbangun.
"Kok mang Udin bisa sampe kesini, ini jangan - jangan dia kesasar di hutan ada kaitan nya sama sosok - sosok yang terlibat sama nenek, nggak?!" Ucap Elma, pak Ustad terlihat seperti melakukan gerakan menarik sesuatu dari mang Udin.
"Ya Allah, masa sampai begitu nak?" Ucap bude nya Elma sambil menutup mulut nya.
"Semoga aja nggak, bude." Ucap Elma.
"Bantu saya mindah mang Udin, nduk." Ucap pak Ustad, Elma pun mengangguk.
Elma di bantu pak Ustad dan mbak Er juga mbak Lis, menggotong tubuh mang Udin yang memang sedikit gemuk itu keluar dari ruangan itu. Mang Udin di rebahkan di atas sofa, lalu pak Ustad mencipratkan air yang sudah di doakan ke seluruh tubuh mang Udin, dan yang terakhir membasuhkan air itu juga di wajah mang Udin.
"Tadi mang Udin ngomong apa, pak Ustad?" Tanya Elma, dia penasaran.
"Kurang lebih artinya.. sesuatu yang sudah di atur baik baik jangan di rusak, semua ini sudah dia susun supaya tidak ada lagi yang bangun. Kurang lebih begitu.." Ucap pak Ustad.
"Yang bangun? siapa, siapa yang akan bangun?" Gumam Elma, saat dia sedang berpikir.. tiba - tiba ada yang menjawab tepat di telinga nya.
"AKU!!!"
"Aaakhh!!"
BERSAMBUNG!
hayooo kek mana coba
nenek idup lagi
masih kerabat kah?
dlm penglihatan Elma, waktu ditunjukin nenek masih muda, ada ayah dan pakde masih kecil... ada siapa lagi ya?
ato jangan-jangan Tian??
pasti ada yg msk tp lwt pintu lain