NovelToon NovelToon
Cinta Zaenab

Cinta Zaenab

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Romantis / Cintamanis / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:487
Nilai: 5
Nama Author: ANGWARUL MUJAHADAH

Sebuah kisah wanita cantik yang rela di ajak sang suami hidup di negeri perantauan, yaitu ke negeri Arab Saudi di Makkah dan ingin meninggal dunia disana

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANGWARUL MUJAHADAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

17 Agustus 1945

Jepara menyambut kedatangan Sidik dan Maryam dengan pelukan angin laut yang membawa aroma garam dan kayu jati yang baru dipahat. Kota ini bukan sekadar tempat persembunyian, melainkan sebuah kanvas di mana matahari terbenam dengan warna emas yang meluruh di cakrawala, sementara deburan ombak di Pantai Kartini seolah berbisik menenangkan jiwa yang letih dari peperangan.

Jepara, tempat di mana kayu-kayu bisu mulai bicara,

Di bawah jemari perajin yang menari penuh karsa.

Engkau adalah pesisir yang menyimpan rahasia para pahlawan,

Pelabuhan bagi hati yang sempat hilang arah dan tujuan.

Pasirnya putih bak ketulusan doa di sepertiga malam,

Lautnya biru sedalam rindu yang lama terpendam.

Di sini, angin menceritakan kisah Ratu Kalinyamat yang perkasa,

Memberi perlindungan bagi mereka yang lelah memikul dosa dan rasa.

*

Di sebuah sudut pinggiran Jepara yang asri, Sidik mulai menata hidup baru. Ia ingin benar-benar menghapus jejak militernya. Takdir kemudian mempertemukannya dengan seorang lelaki tua yang sangat dihormati di desa itu, dikenal sebagai Mbah Gito, sang dukun sunat legendaris.

Mbah Gito sudah sangat sepuh. Penglihatannya mulai kabur, namun tangannya masih memiliki ketenangan yang luar biasa.

Suatu sore, saat Sidik sedang membantu memperbaiki pagar rumah Mbah Gito, lelaki tua itu menatapnya dengan pandangan yang dalam.

"Nak Rosyid," panggil Mbah Gito. "Aku melihat ketenangan dalam tanganmu, namun aku juga melihat keberanian yang besar. Ragaku sudah rapuh, sementara banyak anak-anak di desa ini yang membutuhkan seseorang untuk 'menyucikan' mereka."

Sidik tertegun. Ia yang biasanya memegang parang untuk menebas musuh, kini diminta memegang pisau kecil untuk melakukan khitan.

Mbah Gito mulai menurunkan ilmunya. Bukan hanya soal teknik memotong, melainkan soal keberanian, kebersihan, dan doa-doa khusus agar sang anak tidak merasa sakit.

"Menyunat itu bukan soal membuang sebagian kecil dari raga, Nak. Tapi soal menanamkan sifat ksatria pertama kali pada seorang laki-laki," bisik Mbah Gito sambil membimbing tangan Sidik.

Sidik belajar dengan tekun. Ia menyadari bahwa ilmu ini adalah cara terbaik untuk tetap "berperang"—bukan melawan tentara, tapi melawan rasa takut dalam diri anak-anak. Dengan ilmu yang ia pelajari dari Mbah Pupus tentang ketenangan batin, Sidik ternyata sangat cepat menguasai ilmu khitan ini.

Tangannya sangat ringan, dan suaranya yang humoris namun tegas membuat anak-anak yang tadinya menangis ketakutan menjadi tenang dan berani. Inilah awal mula Sidik dikenal bukan sebagai veteran perang, melainkan sebagai seorang juru khitan yang sakti dan jenaka.

Dulu tanganku menggenggam senapan yang dingin,

Kini memegang pisau di bawah restu angin.

Mbah Gito mewariskan bakti yang tulus,

Agar setiap anak tumbuh menjadi lelaki yang lurus.

Bukan lagi darah di medan pertempuran yang kulihat,

Melainkan air mata keberanian di saat yang tepat.

Aku belajar menyucikan tubuh dan jiwa,

Menjadi saksi awal bagi mereka yang akan dewasa.

Ahmad, lihatlah tangan Bapak yang kasar ini,

Telah menyentuh ribuan doa di pagi yang sunyi.

Sebab ksatria sejati tak hanya lahir di kancah laga,

Tapi lahir dari keberanian kecil yang dijaga dengan doa.

Mbah Sidik tersenyum lebar pada Ahmad. "Itulah rahasianya, Ahmad. Kenapa Bapak begitu sabar saat menyunatmu dulu. Karena Bapak belajar langsung dari ahlinya di tanah Jepara. Menyunat itu butuh hati, bukan cuma nyali."

Ahmad tertawa, membayangkan Bapaknya yang garang ternyata punya sisi lembut sebagai pewaris ilmu dukun sunat. "Jadi, itulah alasan Bapak selalu punya banyak permen dan cerita lucu setiap ada anak yang mau disunat?"

"Tentu," sahut Mbah Sidik. "Karena bagi anak-anak, Bapak bukan musuh, tapi pahlawan yang membawa mereka menuju kedewasaan."

"Lalu gimana cerita akhirnya Indonesia merdeka Mbah?" tanya Ahmad polos

Kabar itu datang seperti ledakan yang jauh lebih dahsyat daripada rudal mercon di Purwodadi, namun kali ini getarannya tidak menghancurkan, melainkan menyembuhkan luka yang telah menganga selama ratusan tahun.

Pagi itu, 17 Agustus 1945, udara Jepara terasa berbeda. Langit di atas Laut Jawa begitu bersih, seolah alam pun sedang menahan napas menanti sebuah keajaiban.

Sidik sedang berada di dapur, membantu Maryam yang perutnya semakin membesar, saat tiba-tiba anak buahnya yang menyamar menjadi nelayan berlari masuk tanpa mengetuk pintu. Wajahnya basah oleh keringat dan air mata.

"Komandan... Rosyid... Cepat ke balai desa! Radio..! Radio bicara!" teriaknya terbata-bata.

Sidik meletakkan kayu bakarnya. Ia merasakan firasat yang sangat kuat, sebuah getaran di dadanya yang pernah ia rasakan saat Mbah Pupus menepuk pundaknya. Ia merangkul Maryam, dan bersama-sama mereka berjalan menuju kerumunan warga yang sudah berkumpul di depan sebuah radio tua milik seorang saudagar kayu.

Suara itu kresek-kresek, tertutup statis yang tajam, namun di sela-sela bunyi itu, terdengar suara berat dan mantap yang membacakan sebuah teks singkat.

"Proklamasi... Kami bangsa Indonesia, dengan ini menyataken kemerdekaan Indonesia..."

Detik itu, waktu seolah berhenti di Jepara. Warga terdiam. Angin laut mendadak sunyi. Sidik memejamkan mata, kepalanya tertunduk dalam. Ingatannya melesat cepat ke masa lalu: bayangan kawan-kawannya yang gugur di pedalaman Kalimantan, pengkhianatan sang Jenderal di Jakarta, pelariannya di Sayung, hingga malam-malam penuh doa di Purwodadi.

Semua pengorbanan itu, semua darah yang tumpah, kini menemukan muaranya.

Seketika, sunyi itu pecah menjadi gemuruh tangis dan tawa. Warga berpelukan tanpa peduli siapa mereka. Sidik melihat air mata jatuh di pipi Maryam yang tenang. Ia menarik napas panjang, menghirup udara yang kini rasanya berbeda—udara yang tidak lagi berbau penjajahan.

Tanpa perintah, Sidik langsung mengambil inisiatif. Jiwa veteran yang ia sembunyikan selama berbulan-bulan bangkit kembali. Ia menyuruh anak buahnya mencari kain merah dan putih. Karena keterbatasan kain, mereka mengambil kain kafan putih dan mewarnai separuhnya dengan pewarna alami dari kayu secang yang ada di gudang ukir.

Dengan tangan yang gemetar namun kuat, Sidik mengikatkan kain itu pada sebilah bambu runcing yang dulu ia siapkan untuk berperang. Di tengah alun-alun Jepara, di bawah tatapan haru warga, Sidik menancapkan bambu itu ke tanah.

Saat bendera itu berkibar tertiup angin laut, Sidik melakukan satu hal yang membuat semua orang terdiam: ia bersujud syukur, mencium tanah Jepara yang harum.

"Ya Allah," bisik Sidik dalam sujudnya, "Terima kasih telah membiarkan hamba melihat hari ini. Terima kasih telah menjadikan darah kawan-kawan hamba sebagai pupuk bagi kemerdekaan ini."

Ia berdiri kembali, menatap bendera itu dengan posisi hormat yang sempurna. Anak buahnya yang menyamar menjadi kuli panggul dan nelayan, secara serentak ikut berdiri tegak di belakangnya. Tanpa seragam, tanpa tanda pangkat, namun aura mereka adalah aura ksatria sejati. Saat itu, warga menyadari bahwa "Rosyid si tukang dukun sunat" bukanlah orang sembarangan.

Malam harinya, Jepara merayakan kemerdekaan dengan cara yang sederhana namun sangat khidmat. Obor-obor dinyalakan di sepanjang pantai. Sidik duduk di samping Maryam, menatap ke arah laut lepas.

"Maryam," ucap Sidik pelan. "Sekarang anak kita tidak perlu lagi lahir sebagai hamba di tanah sendiri. Ia akan lahir sebagai manusia merdeka."

Maryam menggenggam tangan Sidik. "Dan Akang tidak perlu lagi lari sembunyi. Fitnah itu akan kalah oleh cahaya kemerdekaan ini."

Sidik tersenyum, namun matanya tetap waspada. Ia tahu, kemerdekaan ini baru awal. Masih banyak yang harus dijaga. Namun malam itu, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, sang veteran tidur dengan sangat lelap, tanpa harus memegang pisau di bawah bantalnya.

Tujuh belas Agustus, langit Jepara tak lagi kelabu,

Suara Proklamasi menggetarkan setiap relung kalbu.

Rantai yang ratusan tahun mengikat, kini telah patah,

Dibasuh oleh air mata syukur yang meluap ruah.

Ku kibarkan kain suci di ujung bambu yang tajam,

Membayar lunas setiap malam yang dulu begitu kejam.

Bukan lagi rudal mercon yang kusiapkan untuk musuh,

Tapi doa kedamaian agar negeri ini kembali utuh.

Ahmad, dengarlah gemuruh sorak yang membahana,

Kemerdekaan ini adalah harta yang paling berharga.

Bapak telah memberikan masa muda di medan laga,

Agar kau bisa tersenyum di bawah naungan bendera pusaka.

Mbah Sidik menatap Ahmad dengan mata yang berkaca-kaca, seolah ia kembali ke hari legendaris itu. "Itulah hari paling dramatis dalam hidup Bapak, Ahmad. Lebih hebat dari menang perang apa pun. Karena di hari itu, kita bukan lagi 'pemberontak' atau 'buronan', kita adalah pemilik sah tanah ini."

Ahmad mengangguk, ia bisa merasakan semangat yang membara dari cerita bapaknya. "Lalu setelah merdeka, apakah Jenderal pengkhianat itu masih mengejar Bapak?"

"Dunia sudah berubah, Ahmad," jawab Mbah Sidik bijak. "Saat merdeka, kebenaran mulai menemukan jalannya sendiri. Tapi perjuangan Bapak belum selesai, karena setelah merdeka, Bapak harus berjuang melawan musuh yang lebih besar."

1
Ariasa Sinta
q yakin ini cerita asli, begitupun mbah sidik, iya kan thor ?
SANTRI MBELING: makasih kak
total 1 replies
Ariasa Sinta
ya Allah ...
thor q merinding sekaligus ke inget sama mbah mansyur (Kh.Tubagus Mansyur) yg d ceritain sama guru aku
Ariasa Sinta
loh loh loh ....
q berasa kaya lagi ngaji thor

siapa kah sebenarnya kang sidik ?
SANTRI MBELING: hehe he. makasih mampir disini juga
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!