NovelToon NovelToon
Sumpah! Arwah

Sumpah! Arwah

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Horor / Kutukan
Popularitas:21.9k
Nilai: 5
Nama Author: Maple_Latte

Kematian Tragis Aning membuat desa Kalung Ganu di teror. satu persatu pemuda di temukan mati mengenaskan. ketakutan mulai menyelubungi penduduk desa..

Namun, yang menjadi anda tanya besar siapa pemerkosa dan pembunuh Aning?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kematian Seno

"Seno....!" Teriak Bu Ranti ketika melihat Seno sudah tak bernyawa.

Pak Sugeng hanya bisa diam melihat anak semata wayangnya itu telah meninggal.

Jaka, Udin dan dua orang lainnya hanya bisa menyaksikan semua itu dalam diam. Lagi-lagi, satu pemuda di kampung itu meninggal dengan mengerikan.

"Le, Bagun.. jangan tinggalkan ibu Le!" Jerit tangis Bu Ranti memecah sunyi malam yang dingin. Tubuh Seno terbaring kaku, lehernya terpelintir tak wajar seperti dua korban sebelumnya.

Pak Sugeng masih berdiri mematung. Tangannya gemetar, namun tak satu kata pun keluar dari bibirnya. Matanya menatap kosong ke arah tubuh anaknya, seakan belum bisa menerima kenyataan yang baru saja terjadi.

Udin menelan ludah. Ia melirik ke arah Jaka, wajah keduanya pucat.

"Ini… ini sama seperti Sapri dan Herman," bisik Udin kepada Jaka.

Jaka mengangguk pelan. Tiga pemuda sudah mati dengan cara yang sama. Leher terpelintir, wajah membeku dalam ketakutan.

Jaka menarik napas panjang, mencoba menenangkan dirinya yang masih bergetar. Ia melangkah perlahan mendekati Pak Sugeng yang masih berdiri kaku di samping tubuh Seno.

"Pak..." suara Jaka pelan.

"Sebaiknya, Seno kita angkat dulu ke dalam. Kita bawa ke ruang tamu."

Pak Sugeng tidak langsung menjawab. Ia masih menatap wajah anaknya yang pucat, seolah berharap Seno tiba-tiba membuka mata. Namun harapan itu tak pernah datang.

Akhirnya ia mengangguk lemah.

"Iya… Le… angkat saja," ucapnya lirih.

Jaka lalu menoleh ke arah Udin, dan dua pemuda lain yang sejak tadi berdiri tak jauh dari mereka.

"Ayo… kita angkat pelan-pelan."

Mereka mendekat dengan langkah ragu. Jaka memegang bahu Seno dan kepala Seno yang patah sementara kedua pemuda yang lain membantu di bagian kaki. Udin menopang bagian punggungnya. Tubuh Seno terasa berat dan dingin.

Dengan hati-hati mereka mengangkatnya, lalu membawanya keruang tamu. Bu Ranti kembali menangis ketika tubuh anaknya dibaringkan di atas tikar di ruang tamu.

“Le… bangun Le… jangan tinggalin ibu…” isaknya tak berhenti.

Suasana rumah dipenuhi oleh tangis Bu Ranti.

Jaka berdiri di dekat pintu, lalu menoleh kembali pada Pak Sugeng.

"Pak.., apa perlu saya laporkan ke polisi?" tanyanya hati-hati.

Pak Sugeng mengangkat wajahnya perlahan. Matanya merah dan sembab. Ia menggeleng pelan.

"Tidak usah, Le," suaranya berat. "

Tidak perlu dilaporkan." Jaka terdiam sejenak, lalu mengangguk mengerti.

"Kalau begitu… biar Udin sama Daud ke rumah Ustadz," katanya.

"Biar Ustadz umumkan di masjid. Supaya warga tahu."

Daud mengangguk pelan. Wajahnya masih tegang.

"Iya… ayo Din."

Udin dan Daud melangkah cepat meninggalkan rumah Pak Sugeng.

"Din… kamu juga kepikiran hal yang sama?" bisik Daud pelan.

Udin tidak langsung menjawab. Ia menatap lurus ke depan, wajahnya tegang, dia jadi ingat kematian Herman yang begitu tragis, sama seperti Seno.

"Tiga orang, Dud, dan semuanya sama," katanya akhirnya.

"Sapri, Herman, sekarang Seno."

Daud mengusap tengkuknya yang meremang.

"Semoga saja ini bukan seperti yang orang-orang bicarakan." Kata Daud.

"Memangnya apa yang di bicarakan orang-orang?" Tanya Udin heran. Dia memang jarang bergaul dan kumpul dengan yang lainnya, setiap hari dia hanya ke sawah, jika waktunya sholat dia akan ke masjid bersama dengan Jaka. Sama seperti Jaka yang juga tidak bergaul dengan yang lain.

"Kematian Sapri, Herman itu ada kaitannya dengan kematian Aning." Kata Daud.

"Hush, jangan ngaco Dud." Ucap Udin yang tak ingin sembarangan.

"Itu yang di curiga orang-orang Din, mereka percaya jika yang membunuh Sapri, Herman itu orang yang sama." Kata Daud lagi.

"Sudah, kita jangan bahas kematian mereka lagi, bulu kudukku jadi berdiri." Kata Udin.

Mereka mempercepat langkah hingga sampai di rumah Ustadz Sakari.

Tok… tok… tok…

"Assalamu’alaikum…" panggil Udin.

Tak lama kemudian pintu terbuka. Ustadz Sakari muncul dengan wajah heran.

"Wa’alaikum salam. Ada apa malam-malam begini, Din?"

Udin menelan ludah sebelum menjawab.

"Ustadz… Seno… anaknya Pak Sugeng, meninggal."

Wajah Ustadz Sakari langsung berubah kaget.

"Innalillahi…" gumamnya pelan.

"Baik, kita umumkan di masjid."

Beberapa menit kemudian. Ustadz Sakari berdiri di depan pengeras suara.

Tak lama, suara beliau menggema ke seluruh penjuru desa.

"Innalillahi wa inna ilaihi raji’un… telah meninggal dunia Seno, putra dari Bapak Sugeng."

Suara pengumuman itu menembus ke rumah-rumah warga yang mulai terlelap.

Satu per satu pintu rumah terbuka. Warga saling berpandangan dengan wajah tak percaya.

"Apa? Seno?"

Bisik-bisik cemas segera menyebar. Tanpa banyak kata, warga desa mulai berjalan menuju rumah Pak Sugeng.

Orang-orang desa mulai memenuhi halaman rumah Pak Sugeng. Beberapa membawa senter, Wajah-wajah mereka terlihat tegang, dipenuhi rasa tidak percaya.

Pak Warsito, selaku ketua RT, berdiri di dekat pintu rumah. Tangannya terlipat di dada, wajahnya serius menatap ke arah ruang tamu tempat jenazah Seno dibaringkan.

"Ini sudah yang ketiga." gumamnya pelan.

Di sampingnya berdiri Pak Yuda dan beberapa warga lain. Mereka saling berbisik, mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi di desa mereka.

"Kalau begini terus, siapa lagi setelah ini?" Ujar salah satu warga dengan suara gemetar.

Tak ada yang menjawab.

Suasana terasa semakin mencekam.

Tak lama kemudian terdengar langkah kaki mendekat dari arah jalan desa. Udin dan Daud terlihat berjalan bersama Ustadz Sakari menuju rumah Pak Sugeng. Warga yang melihat mereka langsung memberi jalan.

"Ustadz sudah datang." ujar seseorang pelan.

Ustadz Sakari mengangguk pada warga yang menyapanya, lalu melangkah masuk ke dalam rumah. Udin mengikuti di belakangnya.

Di ruang tamu, tangis Bu Ranti masih terdengar lirih di samping jenazah anaknya.

Ustadz Sakari berhenti sejenak, menatap tubuh Seno dengan wajah berat.

"Innalillahi wa inna ilaihi raji’un." ucapnya pelan.

1
Aisyah Ashik
kenapa aning balas dendamnya lambat bgt😄, keburu keluarga jaka dan undin jadi korban
Gadis misterius
kepala desa tdk adil.pilih kasih mentang2 budarsia miskin dan karmin kaya jd condong ke yg kaya pkoknya jngn kasih ampun semua aning
Maple latte
🤗🤗🤗
Gadis misterius
Apa sih yg ditunggu aning knp gk langsng dibunuh karmin cs
Gadis misterius
Jngn smpai jaka udin knp2 cukup budarsia aza
Gadis misterius
Ya Allah sungguh pilu dan sedih tk terasa air mata menetes,Selamatkan budarsis dan jaka udin semoga mereka tdk knp2....blas ning jngn kasih ampun apa lg yg kau tunggu bunuh mereka yg menyiksa ibumu bak hewan
Santi mutia Rahayu
lanjut thor🤭cerita nya sungguh menarik👍
月亮星星 ( yueliang xingxing )🌟🌙
untung BPK nya Seno gk ikutan .. mngkin msh bsa selamat ..
Yati Susilawati
sampai ngeri bacanya.
tega kalian!!
Srikandi_putri
It's a good story 👍👍👍👍
Delisa
Keren sih ini. dari awal menengangkan banget. suka aku sama cerita ini
Gadis misterius
Jngn kasih ampun aning bikin mereka mati berbarengan ,melebihi iblis dngn alasan balas dendam tp sesungguhnya mreka hnya mencari pelampiasan krn sejatinya mereka bertiga adalah iblis berwujud manusia,,,siksa mereka aning sebelum mati tarik tubuhnya dijalan yg berbatu menyesalpun tiada guna
Gadis misterius
pak warsito udin dan jaka yg paling waras dan yg baik tnpa pamrih dan yg paling sibuk mengurus orang2 mati walaupun takut masih aza'membntu smpai selesai
Gadis misterius
Karmin cs jngn lma2 ning sdh cukup mereka memfitnah dan menyiksa ibumu
Mega Arum
terasa ikut nyesek
Mega Arum
semakin menegangkan... Lanjuut thor
Gadis misterius
lanjuttt
Gadis misterius
Tampakkan dirimu didepan warga aning biar mereka sadar kau ingin menuntutt blas dan blom tenang klu orang yg sdh menyakitimu blom mati ....emmak2 rempong hobinya gosib klu lg disawah biar mereka takuttt yg sdh mengosipi ibumu
Gadis misterius
Gitu aning gk usah basa basi cari smua yg menyakiti ibu habisi smua blas klu bisa smalam bkn hny 1 orang yg dibikin mati ....mereka smua jahat beraninya main kroyokan apalagi si karmin cs
Gadis misterius
Apakah marzuki kali ini akan metong dngn mulut busuknya itu ?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!