Rain dan Ayyara adalah definisi manusia modern yang mandiri. Di usia kepala tiga, keduanya telah mencapai titik nyaman: karier yang stabil, gaya hidup childfree, dan prinsip teguh anti-pernikahan. Bagi mereka, cinta hanyalah distraksi yang mengancam kebebasan yang telah mereka bangun dengan susah payah.
Namun, semesta memiliki rencana lain.
Dalam perjalanan bisnis menggunakan kereta cepat, sebuah cahaya putih seterang kilat menghantam dan melemparkan kesadaran mereka ke masa tujuh belas tahun yang lalu.
Di tengah pencarian cara untuk kembali ke masa depan, sebuah pertanyaan mulai menghantui: Jika mereka berhasil memperbaiki masa lalu, apakah "kebebasan" di masa depan masih menjadi hal yang mereka inginkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaRo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di tubuh yang lebih matang
Langkah kakiku terasa lebih mantap saat menapak di pasir putih pantai depan vila. Aku membiarkan angin laut menerpa wajah, mencoba menyinkronkan memori jiwa 34 tahunku dengan raga 24 tahun yang sedang kuhuni.
Ada sensasi aneh yang menggelitik benakku. Di kehidupan sebelumnya, aku baru menginjakkan kaki di perusahaan Natural & Balance pada usia 25 tahun. Namun, berkat "panduan" yang kutulis untuk diriku sendiri, aku berhasil melompat satu tahun lebih awal.
Aku menyapu pandangan ke arah kerumunan rekan kerja yang sedang tertawa di dekat api unggun kecil. Wajah-wajah itu familiar, namun terasa seperti hantu dari masa lalu. Aku mengenali Mbak Ratna dari bagian keuangan dan Pak Budi, sang manajer operasional, orang-orang yang di tahun 2029 nanti masih akan tetap bersamaku. Sementara yang lain? Mereka hanya sekadar figuran dalam fragmen ingatanku yang mulai memudar.
Sebagai karyawan baru, aku mengikuti semua instruksi panitia dengan patuh. Namun, pikiranku tidak di sini. Fokusku hanya tertuju pada satu orang: Rain.
Di belahan kota yang berbeda, pendaratan Rain terasa lebih sunyi, namun tak kalah mengejutkan. Ia tersentak bangun dari posisi tertelungkup di atas meja kerjanya. Aroma kopi dingin dan deru bising keyboard dari kubikel sebelah menyambutnya.
Rain terdiam sejenak, menatap layar monitor yang menampilkan grafik penjualan tahun 2019. Tangannya meraba permukaan meja, memastikan ini bukan mimpi.
Sinkronisasi jiwanya berjalan sangat mulus; tidak ada pingsan, demam, mual, ataupun vertigo. Tubuh pria dewasanya di tahun 2019 ini seolah menyerap kembali kesadarannya dengan haus.
Ia tahu apa yang harus dilakukan. Tanpa memedulikan tumpukan berkas di sampingnya, Rain meraih ponsel.
Dahulu, di sebuah malam sunyi saat bertukar pesan ketika mereka masih berada di "tahun 2013", Ayyara dan Rain pernah berandai-andai: Jika sistem ini gagal, jika kita terlempar ke masa yang salah, bagaimana kita saling menemukan?
Kodenya sederhana, namun tak terpikirkan oleh orang lain: Gambar Kereta Cepat. Sebuah simbol dari kegagalan perjalanan mereka menuju 2029, sebuah pesan rahasia yang terkubur dalam hiruk-pikuk media sosial.
Saling Menemukan
Di tepi pantai, di bawah semburat jingga matahari terbenam, jemariku gemetar saat mencari ilustrasi kereta api futuristik di internet. Aku membuka akun media sosialku. Tanpa takarir, tanpa lokasi.
Hanya sebuah gambar kereta yang melaju cepat menembus batas. Klik. Terunggah.
Hanya berselang tiga menit, layar ponselku bergetar. Sebuah notifikasi like muncul.
Di lini masaku, sebuah unggahan baru muncul dari akun Rain. Gambar yang identik. Kereta api yang sama, melaju di atas rel imajiner.
Aku menutup mulut dengan tangan. Air mata haru hampir saja lolos. Kami selamat. Kami berada di tahun yang sama, di bawah langit yang sama, meski jarak fisik masih memisahkan. Pesan itu jelas: Aku di sini. Aku juga berhasil mendarat.
Bertemu Kembali
Sore itu, lobi gedung perkantoran terasa gerah oleh sisa panas matahari dan kesibukan orang-orang yang bergegas pulang. Aku berdiri tenang di dekat pilar besar, jemariku melingkari dua cup es kopi yang mulai berembun. Kopi ini adalah janji traktiranku yang tertunda hampir tujuh tahun lalu. Mataku lurus menatap setiap karyawan yang keluar dari pintu lift.
Ketika denting lift berbunyi dan sosok yang kutunggu melangkah keluar, aku berlari kecil, mengangkat salah satu cup kopi itu tinggi-tinggi.
"Butuh kafein?" tanyaku dengan senyum tipis yang penuh arti.
Rain tertegun sejenak, lalu senyum hangat merekah di wajahnya. Ia melangkah mendekat, menyambut kopi itu seolah itu adalah benda paling berharga di dunia. "Tepat sasaran. Rasanya seperti baru saja lari maraton antar-dimensi," jawabnya lirih, hanya cukup didengar olehku.
Siapa sangka, mesin waktu mengirim kami kembali dalam satu paket takdir yang sama lagi. Kami berjalan santai keluar gedung, menyesap es kopi dalam diam yang nyaman. Aku berbisik pelan, membandingkan pengalaman "pendaratan" yang kali ini jauh lebih mulus. Tanpa pusing hebat, tanpa mimisan, seolah semesta mulai terbiasa dengan keberadaan kami yang berpindah-pindah garis waktu.
Namun, ketenangan itu pecah ketika sebuah suara cempreng memanggil kami dari ujung lorong parkiran.
"Ayyara? Rain?!"
Niko muncul dengan tas olahraga tersampir di bahu, wajahnya menunjukkan keterkejutan luar biasa. "Lho? Kok kalian bisa bareng? Sejak kapan kalian... kenal lagi?"
Rain berdeham, mencoba mencari celah untuk menghindar, tapi Niko sudah lebih dulu menyergap. "Wah, nggak bisa begini. Kalian harus cerita! Ayo, kita ngobrol di kafe depan itu. Kebetulan aku ada janji futsal sejam lagi, masih sempatlah!"
Di kafe bernuansa kayu tempatku membeli kopi tadi, kami bertiga kini duduk melingkar. Beberapa potong slice cake tersaji di depanku. Aku, yang benar-benar butuh asupan energi setelah perjalanan waktu yang melelahkan, langsung menyantap kue itu dengan lahap.
"Jadi... gimana ceritanya?" selidik Niko, matanya bergantian menatap Rain dan aku.
"Ah, itu... sebenarnya kami sesekali masih saling menyapa lewat media sosial," jawab Rain tenang, meski otaknya pasti sedang berputar cepat. "Kebetulan perusahaan kami akan ada penjajakan kerja sama, jadi tadi tidak sengaja bertemu di lobi."
Niko manggut-manggut, meski wajahnya masih penuh rasa penasaran. "Kalian itu ya, benar-benar bikin aku jantungan. Masih ingat nggak lima tahun lalu? Kalian berdua pingsan barengan, terus amnesia. Terutama kamu, Rain! Kamu itu sudah dua kali hilang ingatan. Aku sampai mikir jangan-jangan kalian kena kutukan."
Aku hampir tersedak kue. Niko tidak tahu bahwa aku juga mengalami hal yang sama. Aku sengaja memancing Niko untuk terus bercerita. "Masa sih, Ko? Aku nggak terlalu ingat detailnya. Memang separah itu ya ekspresi kami?"
"Parah!" Niko mengeluarkan ponselnya, lalu menggeser layar dengan semangat. "Nih, lihat! Video ini legendaris di grup kita sampai kuarsipkan dengan aman. Wajah kalian berdua pas pingsan itu sudah kayak orang pindah alam!"
Aku dan Rain saling melirik saat melihat video diri kami yang tampak tak bernyawa lima tahun lalu. Bagiku, itu adalah bukti fisik dari perjalanan waktu pertama yang kasar.
Niko, yang merasa mendapat panggung, mulai membocorkan hal-hal yang membuat Rain salah tingkah. "Apalagi Rain ini, Ra. Dia itu sebenarnya gagal move on parah. Meskipun dia yang mutusin Naila sepihak dulu, tapi sekarang pas mereka satu kantor lagi, kelihatan banget dia masih baper."
Rain berdeham keras, wajahnya berubah serius. Ia memberi kode melalui tatapan mata agar Niko berhenti bicara. Namun, Niko justru salah tangkap. Ia mengira Rain merasa malu di depan "gebetan baru".
"Eh, tapi tenang saja, Ayyara! Rain ini laki-laki paling setia yang pernah aku kenal. Hubungan dia sama Naila itu murni profesional sekarang, kok. Nggak ada apa-apa lagi," ujar Niko dengan nada meyakinkan, seolah sedang mempromosikan Rain. "Dia cuma butuh... yah, suasana baru."
Aku hanya bisa tersenyum simpul, menahan tawa melihat wajah Rain yang sudah merah padam karena menahan kesal sekaligus malu.
Setelah Niko akhirnya pamit dengan terburu-buru, keheningan yang canggung menyelimuti meja kayu itu. Suara denting sendok yang beradu dengan piring kue menjadi satu-satunya bunyi di antara kami.
Rain menghela napas panjang, menyandarkan punggung ke kursi sembari memijat pangkal hidungnya. "Niko tidak pernah berubah. Mulutnya selalu lebih cepat daripada otaknya."
Aku terkekeh pelan, menghabiskan potongan terakhir red velvet di piringku. "Justru karena dia tidak berubah, kita jadi tahu posisi kita sekarang di mata orang lain, Rain. Di tahun 2019 ini, kita dianggap dua orang asing yang kebetulan pingsan bareng lima tahun lalu. Dan sepertinya... dia pikir kamu sedang mendekatiku."
Rain menurunkan tangannya, menatapku dengan tatapan yang jauh lebih dalam. "Konyol sekali. Padahal kita baru saja 'jatuh' dari tahun 2029."
Ekspresiku memudar, digantikan oleh keseriusan sebagai seorang wanita berusia 34 tahun. "Sistem gagal, Rain. Kita terlempar ke sini karena radiasi itu bisa membunuh penumpang lain di kereta cepat. Tapi pertanyaannya... kenapa 2019? Kenapa bukan kembali ke 2012 atau langsung ke 2029?"
"Mungkin ini titik paling stabil bagi raga kita," jawab Rain pelan, ia memajukan duduknya, merendahkan suara. "Di tahun ini, kita sudah dewasa, sudah bekerja, dan sel-sel tubuh kita sudah cukup kuat untuk menahan lonjakan kuantum. Jika kita kembali ke 2012, mungkin saraf kita tidak akan sanggup menahan pendaratan kedua."
Aku mengangguk pelan, lalu membuka aplikasi catatan di ponsel. "Aku sudah di Natural & Balance. Sesuai rencana cadangan yang kutulis di diari. Tapi aku masuk satu tahun lebih awal dari sejarah aslinya. Artinya, garis waktu sudah mulai bergeser dan masa depan kita sedikit banyak juga pasti berubah."
"Aku juga," timpal Rain pendek.
Di luar kafe, lampu-lampu jalanan mulai menyala, membiaskan cahaya di kaca jendela. Kami berdua tahu, perjalanan ini jauh lebih berat daripada sekadar mencari pekerjaan atau cicilan pinjaman kuliah. Kami sedang bertaruh melawan misteri takdir yang sedang mengintai di tikungan tahun-tahun mendatang.