NovelToon NovelToon
KAF FA RO

KAF FA RO

Status: sedang berlangsung
Genre:Iblis / Kutukan / Balas Dendam
Popularitas:542
Nilai: 5
Nama Author: Bp. Juenk

Rafiq Al-Farizi adalah pria agamis yang kehilangan segalanya dalam waktu singkat. Ujian itu membuat imannya runtuh.

Ia bertemu dengan Mbah Jaya, seorang dukun yang menawarkan "keadilan" melalui ilmu hitam. Langkah demi langkah, hingga akhirnya Ia mengucapkan sumpah setia kepada makhluk gaib.

Sebagai tanda perjanjian, muncul tulisan KAF FA RO di jidatnya—stempel bahwa jiwanya telah menjadi milik kegelapan. Dengan kekuatan barunya, ia memburu balas dendam kepada semua yang menghancurkannya.

Namun semakin dalam ia melangkah, semakin ia sadar: bukan ia yang mengendalikan kegelapan, tapi kegelapan yang mengendalikannya. Dan harga dari perjanjian ini lebih mahal dari nyawanya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kepergian

Malam tiba tanpa Rafiq sadari

Lampu-lampu rumah sakit kembali menyala terang, menggantikan cahaya matahari yang telah tenggelam di ufuk barat. Lorong-lorong mulai sepi. Hanya sesekali terdengar langkah perawat yang berjaga malam, atau suara tangis dari keluarga pasien di ruang lain.

Rafiq masih di kursi yang sama. Sepanjang hari, ia hanya keluar masuk UGD beberapa kali ketika dokter memanggilnya untuk memberikan perkembangan.

Dan perkembangan itu tidak pernah berubah: Fatih masih dalam kondisi koma. Tidak sadarkan diri. Tubuh mungilnya dipenuhi selang dan kabel yang terhubung ke berbagai alat medis.

"Otak anak Bapak mengalami benturan keras," kata dokter spesialis saraf, dr. Surya, dengan suara hati-hati.

"Ada pendarahan di beberapa titik. Kami sudah melakukan tindakan untuk mengurangi tekanan di dalam tengkorak. Sekarang kami hanya bisa menunggu. Menunggu respons dari tubuh anak Bapak."

Menunggu.

Itu yang bisa Rafiq lakukan. Menunggu.

Dan menunggu adalah siksaan paling kejam bagi seorang ayah yang hanya bisa duduk, menatap pintu yang memisahkannya dari anak satu-satunya.

Sekitar pukul 22.00, Rafiq akhirnya diizinkan masuk ke ruang perawatan. Ia melangkah pelan, kakinya terasa berat seperti terbuat dari timah. Tirai hijau di sekitar ranjang Fatih dibuka, dan Rafiq melihat anaknya.

Muhammad Al Fatih.

Berbaring di ranjang putih rumah sakit yang terlalu besar untuk tubuh mungilnya. Selang infus menjuntai dari lengan kecilnya. Plester putih menutupi pelipis kanannya yang terluka. Ada selang oksigen di hidung mungilnya.

Matanya terpejam rapat. Dadanya naik turun pelan, diatur oleh ventilator yang berbunyi pelan di samping ranjang.

Monitor detak jantung berbunyi dengan ritme yang teratur, tapi terasa terlalu pelan untuk anak seusianya.

Tit... tit... tit...

Rafiq duduk di kursi di samping ranjang. Tangannya yang masih berlumuran darah kering meraih tangan kecil Fatih. Tangan itu dingin. Sangat dingin.

"Fatih... Abi di sini, Nak..." bisik Rafiq. Suaranya pecah. Air mata yang sejak pagi ia tahan akhirnya jatuh.

"Abi janji nggak akan pergi lagi. Abi janji. Bangun, Nak. Abi mau dengar suara kamu. Abi mau kamu tertawa. Abi mau kamu minta digendong. Abi mau..."

Ia tidak bisa melanjutkan. Tangisnya membuncah. Ia menunduk, mencium punggung tangan Fatih yang dingin, dan membiarkan air matanya jatuh membasahi jari-jari mungil anaknya.

Ia tidak tahu kapan ia tertidur. Mungkin karena kelelahan yang menumpuk selama 24 jam terakhir. Mungkin karena tubuhnya sudah tidak mampu lagi menahan beban yang terus menerus dijatuhkan padanya.

Yang ia tahu, tiba-tiba ia berada di suatu tempat.

Tempat itu terasa familiar. Rumahnya. Tapi berbeda. Semua terlihat kabur, seperti difoto dengan lensa yang tidak fokus. Lampu teras menyala kuning, sama seperti malam-malam biasa.

Halaman depan bersih, tanaman-tanaman hiasnya rapi, berbeda dengan kenyataan semalam yang terasa asing. Dan di tengah halaman itu, berdiri seorang anak kecil.

Fatih tersenyum. Senyum lebar dengan dua lesung pipit di pipinya yang selalu membuat Rafiq meleleh. Anak itu mengenakan baju tidur bergambar mobil-mobilan kesayangannya—baju yang sama yang ia kenakan ketika Rafiq pamit berangkat ke Bandung dua hari lalu.

"Abi!"

Fatih berlari kecil menghampiri. Lengannya terbuka lebar, seperti biasa ketika ia ingin digendong.

Rafiq berlutut, membuka tangannya lebar-lebar. Fatih menghantam tubuhnya dengan pelukan erat. Rafiq merasakan hangatnya tubuh kecil itu. Merasakan tangan mungilnya yang melingkar di lehernya. Merasakan napasnya yang lembut di telinganya.

"Abi pulang!" suara Fatih riang. "Abi bawain mainan?"

Rafiq memeluk anaknya erat-erat. Air mata mengalir di pipinya. Ia tidak ingin melepaskan pelukan ini. Tidak pernah.

"Iya, Nak. Abi pulang. Abi bawain mainan. Mainan apa yang Fatih mau?"

Fatih tertawa. "Fatih nggak mau mainan. Fatih cuma mau Abi. Abi jangan pergi lagi ya? Abi janji?"

Rafiq mengangguk, meskipun tenggorokannya terasa tersumbat. "Abi janji, Nak. Abi nggak akan pergi lagi. Abi akan selalu di sini. Abi akan jaga Fatih."

Fatih melepaskan pelukannya. Matanya yang bulat menatap Rafiq dengan serius. Senyum di wajahnya perlahan memudar.

"Abi... Fatih harus pergi," kata anak itu pelan.

Rafiq membeku. "Pergi ke mana, Nak?"

Fatih tidak menjawab. Ia hanya tersenyum lagi, tapi kali ini senyum yang berbeda. Senyum yang terlalu dewasa untuk anak seusianya. Senyum yang membuat hati Rafiq terasa diremas.

"Fatih sayang Abi," bisik Fatih. "Fatih sayang Abi sekali. Fatih nggak mau Abi sedih. Tapi Fatih harus pergi. Abi jangan sedih ya?"

"Fatih—" Rafiq mencoba meraih anaknya, tapi tangannya menembus tubuh Fatih seperti menembus kabut.

Fatih melambai. Lambaian tangan mungilnya yang ia kenal begitu baik. Lambaian yang biasa ia lihat setiap pagi ketika ia berangkat kerja.

"Dadah, Abi..."

"FATIH!"

Rafiq membuka matanya dengan napas tersengal-sengal. Ia masih di kursi samping ranjang. Lampu ruangan masih menyala terang. Monitor detak jantung masih berbunyi. Tapi bunyinya berbeda.

Tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit.

Bunyi panjang. Konstan. Tidak berirama.

Rafiq menoleh ke monitor. Garis hijau di layar itu sudah lurus. Tidak naik turun. Hanya garis lurus yang membentang dari kiri ke kanan.

"Tidak..."

Ia menoleh ke ranjang. Ke tubuh mungil di atasnya. Mata Fatih masih terpejam. Dadanya tidak bergerak. Tangan kecilnya—yang sedetik tadi ia pegang—kini tergeletak lemas di samping tubuhnya, dengan selang infus yang masih menancap di lengan mungilnya.

"TIDAK! FATIH!"

Rafiq berdiri dengan tubuh gemetar. Ia meraih bahu kecil anaknya, mengguncangnya pelan.

"Fatih! Nak! Bangun! Abi di sini! ABI DI SINI!"

Dokter dan perawat berhamburan masuk. Mereka mendorong Rafiq ke samping, memeriksa nadi, memeriksa pupil mata, memeriksa semua yang perlu diperiksa.

Rafiq hanya bisa berdiri di sudut ruangan, menyaksikan semuanya seperti orang yang sedang menonton film tentang kehidupannya sendiri—terpisah, tidak nyata, seperti mimpi buruk yang tidak kunjung berakhir.

Dokter Surya menoleh ke arahnya. Wajah dokter itu menunjukkan ekspresi yang sudah Rafiq tahu artinya sebelum mulut dokter itu terbuka.

"Pak Rafiq... kami turut berduka cita. Anak Bapak sudah tidak dapat kami selamatkan. Waktu kematian... pukul 23.47 WIB."

Rafiq tidak mendengar sisa kalimat dokter itu.

Kakinya lemas. Ia jatuh berlutut di lantai ruang perawatan yang dingin. Matanya tidak lepas dari tubuh mungil yang kini ditutupi kain putih oleh perawat.

Pukul 23.47.

Sama seperti malam kemarin. Ketika ia memarkir mobil di tepi jalan dekat rumahnya. Ketika ia mendengar desahan dari kamar utama. Ketika dunianya pertama kali runtuh.

Tepat 24 jam.

Dari kehancuran pertama hingga kehancuran terakhir.

Ia tidak menangis. Air matanya habis. Yang tersisa hanya rasa hampa yang begitu dalam, begitu luas, begitu pekat hingga ia tidak bisa lagi membedakan mana yang nyata dan mana yang mimpi.

Ia merangkak. Merangkak di lantai rumah sakit menuju ranjang tempat anaknya terbaring. Tangannya meraih tangan kecil Fatih yang sudah tidak bernyawa.

"Fatih... Abi minta maaf... Abi minta maaf... Abi minta maaf..." ulangnya terus menerus, seperti mantra yang tidak akan pernah didengar oleh siapa pun.

Dokter Surya mendekat, meletakkan tangan di pundak Rafiq. "Pak Rafiq... saya turut berduka cita yang sedalam-dalamnya. Tapi Bapak harus kuat—"

"Jangan bilang saya harus kuat," potong Rafiq dengan suara serak, tanpa mengalihkan pandangan dari wajah anaknya.

"Jangan bilang itu adalah takdir. Jangan bilang anak saya sudah tenang di sisi-Nya. Saya tidak ingin mendengar semua itu."

Dokter itu terdiam. Ia hanya menghela napas dan meninggalkan Rafiq sendirian di ruangan itu bersama anaknya.

Jam menunjukkan pukul 01.00 dini hari ketika Rafiq akhirnya keluar dari ruang perawatan.

Ia berjalan keluar rumah sakit. Udara malam menyambutnya dengan dingin yang menusuk tulang. Langit gelap tanpa bulan, tanpa bintang. Seperti alam semesta pun ikut berkabung.

Ia berjalan ke area parkir, membuka pintu Fortunernya, dan duduk di kursi pengemudi. Ia tidak menyalakan mesin. Ia hanya duduk di sana, menatap kosong ke arah gedung rumah sakit yang diterangi lampu-lampu neon.

Dan di dalam kesunyian itu, semuanya datang menghantamnya sekaligus.

Aisyah. Tono. Perselingkuhan. Pengkhianatan. Perusahaan yang dicuri. Mertua yang kritis. Dan Fatih.

Fatih yang tidak akan pernah lagi memanggilnya "Abi". Fatih yang tidak akan pernah lagi berlari kecil dengan tangan terbuka meminta digendong. Fatih yang tidak akan pernah lagi tertawa renyah ketika Rafiq menggelitik perutnya.

Fatih yang tidak akan pernah lagi berdoa sebelum tidur, "Ya Allah, lindungi Abi di perjalanan. Lindungi Umi di rumah. Jadikan kami keluarga yang sakinah."

Fatih yang kini sudah tidak ada.

Rafiq membanting kepalanya ke setir mobil. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Sampai dahinya memar dan berdarah. Ia tidak peduli.

"YA ALLAH!" teriaknya di dalam mobil.

"APA SALAHKU?! APA DOSAKU?! KENAPA ENGKAU AMBIL SEMUANYA?! ISTRI! PERUSAHAAN! ANAK! ANAK YANG PALING AKU CINTAI! KENAPA, YA ALLAH?! KENAPA?!"

Suaranya pecah. Tangisnya keluar dengan keras, tidak lagi ditahan. Ia menangis seperti anak kecil yang kehilangan segalanya. Ia menangis untuk Fatih. Ia menangis untuk dirinya sendiri. Ia menangis untuk semua mimpi yang hancur berkeping-keping.

"Tuhan tidak adil," bisiknya di antara isak tangis. "Tuhan TIDAK ADIL!"

Ia mengangkat wajahnya. Matanya merah, basah oleh air mata dan darah dari dahinya yang memar. Ia menatap langit-langit mobil, seolah menatap langit di atasnya.

"Aku sudah berusaha menjadi orang baik. Aku menjalankan perintah-Mu. Aku menunaikan ibadah. Aku bersedekah. Aku berbuat baik pada istriku. Aku berbuat baik pada sahabatku."

"DAN INI BALASAN-MU?! INI YANG ENGKAU BERIKAN PADAKU?!"

Ia tertawa. Tertawa pahit. Tertawa seorang pria yang imannya sedang diuji hingga batas paling ekstrem.

"Kau ambil istriku. Kau biarkan dia berselingkuh dengan orang yang aku percaya. Kau biarkan sahabatku mencuri perusahaanku. Kau biarkan mertuaku kecelakaan."

"DAN KAU AMBIL ANAKKU! ANAKKU, YA ALLAH! ANAK SATU-SATUNYA! KENAPA?! KENAPA ENGKAU AMBIL FATIH?!"

Teriakannya menggema di dalam mobil, tapi tidak ada yang mendengar. Hanya ada keheningan malam yang dingin dan langit tanpa bintang.

Rafiq membanting kedua telapak tangannya ke setir. Darah dari lukanya menempel di setir. Ia tidak merasakan sakit.

"Kau tidak adil," bisiknya sekali lagi, kali ini dengan suara yang lebih tenang, tapi lebih dalam, lebih gelap. "Kau tidak adil, Tuhan."

Ia menunduk. Tangisnya perlahan mereda, berganti dengan keheningan yang mencekam. Keheningan yang bukan keheningan biasa. Keheningan yang mengandung sesuatu yang gelap, yang mulai merayap ke dalam celah-celah hatinya yang hancur.

Di balik jendela kaca ruang tunggu rumah sakit yang gelap, berdiri sebuah bayangan. Sosok hitam pekat, lebih hitam dari malam itu sendiri. Tinggi menjulang, dengan dua tanduk melengkung di kepalanya yang runcing.

Dan di wajahnya yang tidak berbentuk itu, ada dua titik merah menyala—dua mata yang bersinar seperti bara api di tengah kegelapan.

Sosok itu menatap Rafiq. Menatap pria yang sedang hancur di dalam mobil Fortuner hitam itu. Menatap pria yang baru saja mengucapkan kata-kata yang telah lama dinantikan untuk didengar.

"Kau tidak adil, Tuhan."

Sosok itu tersenyum. Senyum yang tidak bisa dilihat oleh mata manusia, tapi bisa dirasakan oleh jiwa yang sedang rapuh. Senyum yang mengatakan: Aku sudah menunggumu.

Tapi Rafiq tidak melihat.

Ia terlalu sibuk dengan kehancurannya sendiri.

1
La Rue
Sensasi horornya benar² terasa. Tapi aku suka,karena gaya penulisan yang khas dari Sang Penulis. Semoga banyak yang mampir karena ceritanya bagus dan jarang typo 👍
La Rue: sama-sama
total 2 replies
La Rue
Waduh makin seram tapi semakin penasaran 😱🤭
La Rue
seram tapi penasaran 😱🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!