Gisel (23 tahun) adalah definisi "matahari" berjalan: ceria, blak-blakan, dan punya selera humor yang terkadang sedikit ‘nakal’. Hidupnya jungkir balik saat ia dipaksa menikah dengan Dewa, CEO dingin yang aura intimidasi-nya bisa membekukan ruangan. Dewa bukan cuma sekadar duda kaya, ia adalah pria yang menutup rapat hatinya demi mendiang istrinya dan ketiga anaknya yang super nakal.
Mampukah ocehan ceplas-ceplos Gisel mencairkan gunung es di hati Dewa? Dan bagaimana jadinya jika si gisel positive vibes ini harus menghadapi tiga anak tiri yang siap mengujinya, sementara sang suami masih bayang-bayang masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nia nuraeni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Sarapan yang "Terlalu Bersemangat"
Sinar matahari pagi masuk menembus celah gorden, tapi yang lebih menyengat adalah semangat Gisel. Setelah semalam sukses membuat Dewa kabur ke ruang kerja, pagi ini Gisel bangun dengan misi baru:
Menaklukkan Pasukan Atala lewat perut.
Gisel keluar dari kamar mandi dengan wangi white tea yang sangat segar, membuat lorong rumah yang dingin itu mendadak terasa seperti taman bunga. Ia memakai kaus putih santai dan celana gemas, lalu turun ke dapur.
Di meja makan, suasananya persis seperti di perpustakaan. Hening.
Dewa (35 thn) sudah duduk di kepala meja dengan kemeja hitam yang rapi, kacamata bacanya bertengger saat ia mengecek tablet. Di sisi kiri, Raka (17 thn) sedang memakai earphone, wajah tampannya sangat dingin, persis salinan ayahnya. Di sisi kanan, Alya (16 thn) sibuk memulas lip tint sambil menatap cermin kecil, wajah cantiknya terlihat sangat jutek.
Hanya Digo (4 thn) yang duduk tenang sambil memainkan sendoknya.
"Pagi, Keluarga Es Batu!" sapa Gisel dengan nada ceria yang sangat kontras dengan suasana ruangan.
Raka hanya melirik sekilas tanpa melepas earphone. Alya mendengus, sementara Dewa bahkan tidak mendongak, meski hidungnya tanpa sadar kembang kempis menghirup aroma segar yang dibawa Gisel.
"Mas Dewa, tidurnya nyenyak semalam di sofa? Nggak ada yang kaku-kaku kan? Maksudnya... lehernya?" goda Gisel sambil menaruh piring berisi nasi goreng spesial di depan Dewa.
Dewa akhirnya mendongak. Matanya bertemu dengan mata bulat Gisel yang berponi. "Saya baik-baik saja. Jangan mulai lagi, Gisel."
Gisel beralih ke Raka. Ia dengan berani mencabut salah satu earphone cowok SMA itu. "Woi, Ganteng. Masih SMA kelas 3 jangan sering bolos ya. Nanti kalau nggak lulus, mau jadi apa? Jadi tukang ojek payung buat aku?"
Raka menatap Gisel dengan mata tajam yang dingin. "Bukan urusan lo, Kak. Jangan sok asik."
"Lho, panggil 'Kak'? Manis banget sih anak sambungku ini," Gisel malah mencubit pipi Raka dengan gemas, membuat cowok itu tersentak kaget. Belum pernah ada yang berani menyentuh wajah Raka sesantai itu, bahkan ayahnya pun tidak.
"Gisel, duduk dan makan," suara Dewa mulai mengintimidasi.
"Sabar, Mas CEO. Aku belum sapa si cantik Alya," Gisel beralih ke Alya yang masih jutek. "Alya, SMP kelas 3 itu masa-masanya puber. Kalau kamu jutek terus, nanti jerawatnya nambah lho. Sini, pulang sekolah nanti kita maskeran bareng, aku punya masker rahasia yang bikin muka glowing kayak ubin masjid."
Alya tertegun sejenak, menatap Gisel yang tampak sangat tulus dan penuh energi positif. "Nggak butuh," jawabnya singkat, meski matanya sempat melirik botol parfum kecil yang dibawa Gisel.
"Tante Gisel! Digo mau disuapin!" si manis Digo menarik-narik ujung baju Gisel.
Gisel langsung luluh. Ia menggendong Digo dan mendudukkannya di pangkuan. "Siap, Pangeran Kecil! Kita makan biar nanti kuat bantuin Kak Gisel caikan Papa kamu yang kayak es ini ya?
Dewa memijat pelipisnya. Rumahnya yang biasanya tenang kini penuh dengan ocehan Gisel yang ceplas-ceplos. Namun, jauh di dalam lubuk hatinya, ada rasa hangat yang aneh saat melihat Digo tertawa lepas dan anak-anak remajanya tidak bisa berkata-kata menghadapi energi Gisel.
Tepat saat Dewa hendak berdiri untuk berangkat, Gisel menahannya. Ia merapikan kerah kemeja Dewa dengan gerakan pelan, membuat jarak mereka sangat dekat.
"Mas Dewa... jangan lupa senyum di kantor. Nanti kalau karyawan Mas liat muka Mas yang kaku begini, mereka pikir Mas lagi sembelit," bisik Gisel nakal.
Dewa menatap Gisel dari balik kacamatanya. Kontras tinggi badan mereka yang 28 cm membuat Dewa harus menunduk dalam. "Kamu benar-benar tidak bisa diam, ya?"
"Bisa kok, Mas. Kalau lagi dicium," jawab Gisel tanpa dosa.
Raka yang melihat itu langsung berdiri dan pergi keluar dengan membanting pintu, sementara Alya hanya bisa melongo. Dewa? Dia langsung berbalik dan berjalan cepat menuju mobilnya dengan jantung yang berdegup dua kali lipat lebih cepat