NovelToon NovelToon
Lari Atau Jadi Mereka

Lari Atau Jadi Mereka

Status: sedang berlangsung
Genre:Zombie / Action / Anak Genius
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: ariyanteekk09

Di kota yang kecil damai, sebuah pabrik mochi terkenal meluncurkan produk terbaru mereka yaitu mochi viral yang dalam sekejap menjadi sensasi di media sosial.

namun tidak ada yang tahu ,di balik manis itu tersimpan hal yang mengerikan.

shila menyaksikan sendiri bagaimana teman-teman nya yang makan mochi itu kejang-kejang dan hilang kendali. lalu berubah menjadi sesuatu yang bukan lagi manusia.

kota yang dulunya tenang berubah jadi neraka yang di penuhi oleh mereka.

terjebak di dalam sekolah dengan berapa teman nya yang selamat. shila harus mengambil keputusan :tetap sembunyi atau melarikan diri demi menemukan keluarga nya.

𝐊𝐚𝐦𝐮 𝐡𝐚𝐫𝐮𝐬 𝐭𝐞𝐫𝐮𝐬 𝐛𝐞𝐫𝐥𝐚𝐫𝐢... 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐬𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐬𝐚𝐭𝐮 𝐝𝐢 𝐚𝐧𝐭𝐚𝐫𝐚 𝐦𝐞𝐫𝐞𝐤𝐚!!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ariyanteekk09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

chapter 19

     Mereka pun sampai di rumah kakek tua itu. Rumahnya dikelilingi tembok yang tinggi dan kokoh. Bahkan, rumah-rumah di sekitar sana juga memiliki tembok serupa, seolah tempat itu memang dirancang untuk perlindungan.

“Kalian tunggu dulu, biar kakek buka gerbang,” ujar kakek tua itu.

Ia turun dari mobil dan membuka gerbang bukan dengan kunci, melainkan menggunakan sebuah sandi. Setelah beberapa saat, gerbang besar itu pun terbuka perlahan.

“Silakan masuk,” katanya.

Gibran segera mengarahkan mobil masuk ke dalam. Begitu mereka berada di dalam, gerbang tersebut tertutup kembali secara otomatis, membuat tempat itu terasa semakin aman sekaligus misterius.

Kakek tua itu kemudian mempersilakan mereka masuk ke dalam rumahnya. Suasana di dalam terasa sangat sepi, hanya terdengar langkah kaki mereka yang menggema pelan.

“Kakek tinggal sendiri?” tanya Gibran sambil melihat sekeliling.

“Iya, sejak istri kakek meninggal sepuluh tahun yang lalu,” jawabnya dengan tenang, meski ada kesedihan tersirat.

Rumah itu bergaya Eropa klasik, dengan banyak barang antik yang tertata rapi. Shila memperhatikan setiap sudut dengan rasa penasaran. Hingga akhirnya, pandangannya tertuju pada sebuah foto yang terpajang di sudut meja.

Deg.

Di foto itu, ia melihat wajah yang sangat dikenalnya—mama dan papanya.

Jantung Shila berdegup kencang. Rasa penasaran langsung memenuhi pikirannya.

“Kalau boleh tahu, siapa nama kakek?” tanya Gibran.

“Nama kakek Hasan,” jawabnya lembut.

“Oh ya… kenapa kakek bilang kalau tempat yang disiapkan pemerintah itu tidak aman

untuk kami?” tanya Shila.

“Karena… sebenarnya tempat itu tidak pernah ada,” jawab Kakek Hasan serius.

“Apa maksudnya, Kek? Kalau itu benar, lalu kenapa mereka mengatakan seperti itu?” tanya Shila semakin bingung.

“Kakek belum tahu pasti alasannya. Tapi coba kalian perhatikan di perbatasan… kenapa para petugas memeriksa setiap mobil yang masuk? Kalau ada yang terlihat lemah atau tidak dalam kondisi baik, mereka tidak diizinkan masuk,” jelas Kakek Hasan.

Ia terdiam sejenak, lalu melanjutkan dengan nada lebih pelan.

“Beberapa tetangga kakek pernah masuk ke area itu… tapi sampai sekarang tidak pernah kembali. Keluarga mereka pun tidak berani mencari tahu karena mendapat ancaman. Entah apa yang sebenarnya terjadi di dalam sana…”

Suasana menjadi hening.

Tiba-tiba, Kenan terbangun dari tidurnya dan langsung minta digendong oleh Shila. Saat itu, kalung yang dikenakan Kenan terlihat jelas.

Kakek Hasan langsung terkejut.

“Dari mana anak kecil ini dapat kalung itu?” tanyanya dengan nada berubah.

“Bukan cuma Kenan, Kek. Kami juga punya,” jawab Shila sambil memperlihatkan kalungnya. Gibran pun melakukan hal yang sama.

Deg.

Kakek Hasan terdiam, matanya menatap mereka dalam-dalam.

Apa mereka anak-anak dari tiga muridku dulu…? Satria, Tari, Ningrum… apakah ini anak-anak kalian? batinnya.

Shila dan Gibran saling berpandangan. Mereka menyadari perubahan ekspresi kakek itu.

“Kakek… kenapa? Apa kakek tahu tentang kalung ini?” tanya Shila hati-hati.

Kakek Hasan menarik napas panjang.

“Dulu… ada tiga anak muda datang ke kakek untuk belajar ilmu kedokteran. Satu laki-laki dan dua perempuan. Kakek ajarkan semua yang kakek tahu, bahkan mereka sampai bisa menciptakan obat sendiri. Mereka tinggal bersama kakek lebih dari satu tahun. Setelah itu, mereka bekerja di laboratorium besar di kota L… kota yang sekarang sudah hancur,” ceritanya panjang lebar.

“Kalau boleh tahu… siapa nama mereka, Kek?” tanya Gibran.

“Satria, Tari, dan Ningrum,” jawab Kakek Hasan.

Air mata Shila langsung jatuh.

“Akhirnya aku ketemu kakek… Aku anaknya Tari dan Satria, Kek. Kalung yang aku dan adikku pakai ini pemberian orang tua kami,” ucap Shila dengan suara bergetar.

“Dan aku anaknya Ningrum, Kek,” tambah Gibran.

Kakek Hasan tersenyum haru. Kini ia mengerti kenapa wajah mereka terasa begitu familiar.

“Di mana orang tua kalian? Kenapa mereka membiarkan kalian pergi sendiri?” tanya Kakek Hasan.

“Mereka sudah meninggal, Kek… mereka dibunuh oleh orang-orang di balik penelitian itu,” jawab Shila pelan, lalu menceritakan semuanya.

Kakek Hasan terdiam, menahan emosi.

“Mulai sekarang… kalian tinggal di sini bersama kakek. Kalian mau, kan?” tawarnya dengan penuh kehangatan.

Shila dan Gibran saling berpandangan, lalu mengangguk. Mereka merasa menemukan tempat yang tepat untuk bertahan.

“Satria, Tari, Ningrum… kalian tenanglah. Anak-anak kalian sekarang bersama Abah. Abah akan menjaga mereka dan mengajarkan semua yang dulu kalian pelajari. Abah yakin… mereka yang akan menghentikan semua ini,” batin Kakek Hasan penuh keyakinan.

Di rumah itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama… mereka merasa sedikit aman.

*******

Aira pun sampai di gedung bertingkat itu. Kota itu lebih maju dari kota kelahirannya, padahal mereka dibilang tidak terlalu jauh.

Security menghampiri Aira dengan wajah yang terlihat menyeramkan.

“Kamu ngapain berhenti di sini? Hanya orang-orang berpengaruh yang bisa masuk apartemen ini,” katanya dengan tegas.

Karena malas bicara panjang, Aira memperlihatkan tanda pengenal papanya kepada security itu.

“Jadi kamu anaknya Tuan Hadi?”

“Iya, Pak. Papa saya menyuruh saya ke sini sebelum rumah kami dimasuki zombie.”

“Jadi Tuan Hadi sudah jadi…?” tanya security itu menggantung.

“Iya, Pak. Bukan hanya papa saya, tapi mama saya juga.”

“Tuan Hadi pasti mengira di sini adalah kota yang aman untuk putrinya, padahal tidak… Tuan Hadi sangat baik sama saya, maka saya akan melindungi putrinya,” batin security itu.

“Apa boleh bapak bicara sebentar dengan non?”

“Panggil saja Aira, Pak.”

“Non Aira, ikut bapak sebentar. Ada hal penting yang bapak mau kasih tahu.”

Security itu mengajak Aira bicara sedikit menjauh dari apartemen.

“Mau bicara apa ya, Pak? Saya tidak punya waktu banyak,” kata Aira. Jujur, hatinya tidak tenang sejak sampai di depan apartemen itu.

“Perkenalkan, saya Heru, non. Tuan Hadi sangat baik sama saya. Non Aira tidak boleh masuk ke dalam sana karena tempat itu tidak aman.”

“Maksud Pak Heru apa? Saya tidak mengerti.”

“Apartemen itu bukan yang dulu lagi, non. Kini penghuninya orang-orang aneh. Kalau pagi sampai sore mereka tidak keluar dari unitnya, tapi kalau malam mereka pasti keluar,” cerita Heru.

“Pantas saja dari tadi perasaan aku tidak enak… Terus aku harus ke mana sekarang kalau apartemen itu juga tidak aman untukku?” Aira jadi sedih.

“Gimana kalau non tinggal di rumah bapak saja? Insyaallah non aman tinggal di sana,” tawar Heru. Ia tidak mau Aira terjebak di apartemen itu.

“Apa tidak akan merepotkan bapak dan keluarga?”

“Tidak, justru bapak senang. Bapak cuma tinggal dengan istri bapak saja,” jawab Heru. Ia memang tidak punya anak.

Heru melihat jamnya yang menunjukkan pukul 4 sore. Wajahnya langsung terlihat cemas.

“Boleh deh, Pak,” jawab Aira.

Heru tampak lega dan langsung mengajak Aira pergi dari sana.

“Ya sudah, kalau begitu ayo kita pulang ke rumah bapak,” ajak Heru.

“Bapak ke sini pakai apa?”

“Itu, pakai sepeda butut bapak… karena hanya itu yang bapak punya,” jawab Heru sambil menunjuk.

“Kalau begitu kita naik mobil aku saja, Pak.”

Heru mengangguk.

Aira dan Heru pun meninggalkan apartemen itu. Namun sebelum sampai di rumah Pak Heru, Aira mampir dulu ke supermarket untuk membeli banyak bahan makanan sebagai stok.

1
Nurr Tika
shila ketemu ga ya sama aira
Nurr Tika
shila harus kuat demi adiknya
Nurr Tika
dasar hendro
Ani Jkt
ceritanya bagus tapi banyak tiponya tor
Nurr Tika
ikutan tegang
Nurr Tika
moga ja shila,adik dan temenya selamat
Nurr Tika
selamet ih bikin tegang aja
Nurr Tika
lanjut
Nurr Tika
untung adiknya ga di lempar keluar rumah, lebih baik tiara yg di usir dari pada kalian keluar dari rumah
Nurr Tika
mona mona coba klau kmu ga jahat pasti ga kan di usir
Nurr Tika
mona di kasih zombie ja buat santapan
Nurr Tika
lanjut thor
Nurr Tika
sebenarnya apa yg terjadi ya
Nurr Tika
nyimak thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!