"Papa, posisi kakimu salah. Satu inci lagi, dan sensor laser akan membelah jas mahalmu."
Damian Xavier, sang Raja Mafia 'Vipera' yang tak kenal ampun, tidak pernah menyangka bahwa hidupnya akan dikendalikan oleh sepasang kembar berusia 8 tahun. Ia mengira telah menemukan anak rahasianya, namun kenyataannya, ia menemukan dua penguasa bayangan yang sedang mencari 'pion' untuk melindungi ibu mereka.
Leo adalah reinkarnasi sang Marsekal Perang Legendaris yang tewas dikhianati, sementara Lea adalah mantan Profiler Kriminal FBI yang ahli dalam bedah jiwa manusia. Bagi mereka, Damian hanyalah aset strategis yang perlu dijinakkan, dan Qinanti—ibu mereka yang lembut—adalah satu-satunya harta yang harus dilindungi.
Selamat datang di papan catur keluarga Xavier, di mana sang Raja Mafia hanyalah salah satu pion dalam strategi besar anak-anaknya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8: MAHKOTA YANG BERPINDAH TANGAN
POV: DAMIAN XAVIER
Bau garam laut yang tajam bercampur dengan aroma amis solar menyapa indra penciumanku saat aku melompat turun dari SUV hitam di area pinggiran Dermaga 09. Suasana sangat sunyi—sunyi yang tidak alami untuk sebuah pelabuhan kargo yang biasanya sibuk dengan suara alat berat. Namun, malam ini, keheningan ini adalah bukti dari efisiensi yang mengerikan.
Aku melirik jam tangan Hublot-ku. Pukul 03.15 pagi.
Di telingaku, earpiece taktis berdesis pelan sebelum suara jernih seorang anak laki-laki berusia delapan tahun terdengar, memotong keheningan malam dengan otoritas yang mutlak.
"Papa, jangan lewat jalur utama. Ada sisa tumpahan oli di koordinat B-12 yang bisa membuat manuver kendaraan Papa tergelincir. Ambil jalur kiri, melewati tumpukan kontainer biru. Aku sudah mematikan sistem CCTV di sana," ucap Leo.
Aku mendengus pelan, namun tetap mengarahkan anak buahku sesuai instruksinya. Marco, yang berada di sampingku dengan senapan serbu tersampir di bahu, hanya bisa menggelengkan kepala.
"Tuan, ini benar-benar gila," bisik Marco. "Kita baru saja mendapatkan laporan bahwa tim Black Crow milik Baron hancur total di kamp militer. Mereka dikira kelompok teroris pemberontak oleh angkatan udara. Baron pasti sedang menangis darah sekarang."
Aku tidak membalas. Mataku tertuju pada gudang raksasa di depan kami. Strategi Leo benar-benar di luar nalar. Alih-alih melakukan baku tembak yang akan menarik perhatian polisi dan otoritas pelabuhan, dia justru "meminjam" tangan negara untuk menghancurkan kekuatan tempur utama musuh. Sekarang, Dermaga 09 ini seperti buah matang yang tinggal dipetik.
"Target terdeteksi di dalam gudang. Sisa penjaga hanya lima orang. Mereka sedang panik mencoba menghubungi atasan mereka yang sudah menjadi abu di kamp militer," suara Leo kembali terdengar. "Papa, gunakan granat gas saraf tipe VX-2 yang aku modifikasi di laboratorium bawah tanah tadi sore. Efeknya instan, non-letal, tapi akan membuat mereka tertidur selama enam jam. Aku tidak ingin ada noda darah di kargo senjata yang akan kita ambil alih."
Aku memberikan isyarat pada tim Bravo. Dua pengawalku maju, melemparkan kaleng kecil ke dalam ventilasi gudang. Tak sampai satu menit, suara debum tubuh jatuh terdengar dari dalam.
"Masuk," peritahku pendek.
Saat pintu gudang terbuka, pemandangan di dalamnya membuatku tertegun. Ratusan peti kayu bertumpuk rapi, berisi persenjataan ilegal yang seharusnya menjadi modal Baron untuk mengudeta posisiku di Jakarta. Namun kini, semuanya milik klan Vipera. Tanpa satu peluru pun yang ditembakkan dari pihak kami.
"Kargo diamankan, Leo," ucapku ke arah mikrofon kecil di kerah bajuku.
"Bagus, Papa. Marco, instruksikan tim logistik untuk memindahkan semuanya dalam waktu tiga puluh menit. Aku sudah mengatur rute truk pengangkut agar tidak melewati satu pun titik razia polisi malam ini," balas Leo datar, seolah-olah dia baru saja menyelesaikan tugas matematika tingkat dasar. "Dan Papa... jangan lupa janji Papa. Sekarang sudah pukul 03.45. Papa punya waktu dua jam lima belas menit untuk sampai di rumah sebelum Mama bangun."
Aku menatap tumpukan senjata bernilai jutaan dolar itu, lalu beralih menatap kegelapan malam. Aku adalah seorang pria yang dibesarkan untuk memuja kekuasaan melalui rasa takut. Tapi malam ini, aku menyadari bahwa kekuasaan yang sebenarnya bukanlah tentang siapa yang memiliki senjata paling banyak.
Kekuasaan yang sebenarnya adalah tentang siapa yang memegang papan catur. Dan papan itu... sekarang ada di tangan kecil putraku.
"Kita pulang," ucapku pada Marco. "Tinggalkan tim pembersihan di sini. Aku punya janji sarapan yang tidak bisa kubatalkan."
POV: LEA (Jiwa Sang Profiler)
Mansion Xavier di jam empat pagi adalah tempat yang paling damai sekaligus paling penuh rahasia di dunia. Aku duduk di teras sayap utara, menyesap cokelat hangat yang disiapkan oleh Ratna—kepala pelayan yang kini menjadi informan pribadiku.
Ratna berdiri di belakangku dengan bahu membungkuk, wajahnya masih memancarkan sisa-sisa ketakutan setiap kali matanya bertemu dengan mataku. Bagus. Ketakutan adalah bentuk penghormatan yang paling jujur dari orang seperti dia.
"Nona Muda Lea... apa Anda yakin Nyonya Qinanti tidak akan terbangun?" tanya Ratna lirih.
Aku menoleh perlahan, memberikan senyum yang paling 'imut' sekaligus paling dingin. "Mama sedang tidur dalam fase REM yang sangat dalam, Bi. Aku sudah memastikan aroma terapi lavender di kamarnya dicampur dengan sedikit ekstrak akar valerian. Dia tidak akan bangun sampai aroma kopi Papa tercium di pagi hari."
Ratna menelan ludah. "Anda... Anda sangat teliti."
"Dunia ini tidak memberikan ruang untuk kesalahan, Bi," balasku, lalu kembali menatap ke arah gerbang depan.
“Kak, Papa sudah melewati checkpoint terakhir. Dia membawa 'hadiah' yang kau minta?” tanyaku melalui Shadow Talk.
“Tentu saja. Lima ratus unit senapan serbu terbaru dan tiga unit sistem enkripsi militer. Baron benar-benar bangkrut malam ini,” suara Leo terdengar puas di pikiranku. “Tapi Lea, detak jantung Papa sedikit tidak stabil. Dia sedang mengalami pergulatan batin antara egonya sebagai bos mafia dan pengakuannya terhadap kejeniusan kita.”
“Wajar. Dia sedang mengalami 'Ego Dissolution'. Biarkan saja. Begitu dia mencium aroma pancakes yang kita buat nanti, egonya akan meleleh sepenuhnya,” jawabku sambil tertawa kecil.
Aku bangkit berdiri dan merapikan gaun tidur sutraku. "Bi Ratna, siapkan bahan untuk pancakes. Pastikan sirup maplenya adalah kualitas terbaik. Dan oh... jangan lupa bersihkan sisa tanah di taman samping yang kita gunakan kemarin. Aku tidak ingin Mama curiga kalau kita sedang melakukan 'terapi tanah' secara paksa padanya."
"Baik, Nona Muda."
Aku berjalan menuju dapur, langkah kakiku yang kecil tidak bersuara di atas marmer mahal ini. Aku melewati ruang kendali utama dan melihat Leo masih duduk di sana, wajahnya diterangi cahaya biru dari belasan monitor. Dia tampak seperti dewa perang kecil yang sedang mengawasi kerajaannya.
"Kak, istirahatlah sepuluh menit. Kau tidak ingin Mama melihat lingkaran hitam di matamu, kan?" ucapku sambil meletakkan tangan di bahunya.
Leo tidak menoleh, tapi bahunya yang tegang sedikit rileks. "Satu menit lagi, Lea. Aku sedang menghapus semua jejak digital komunikasi kita dengan kamp militer tadi. Tidak boleh ada satu pun variabel yang tertinggal."
Aku menatap monitornya. Data-data yang mengalir di sana begitu kompleks, namun bagi Leo, itu hanyalah simfoni yang harus diatur. Kami adalah dua orang asing yang terjebak dalam tubuh anak-anak ini, namun untuk pertama kalinya dalam dua kehidupan, aku merasa... pulang.
"Mama akan sangat senang melihat Papa pulang dengan wajah tenang," bisikku.
Leo akhirnya mematikan monitor pusat. Dia berbalik dan menatapku dengan mata abu-abunya yang dingin namun menyimpan kehangatan rahasia bagi keluarga kami. "Papa bukan lagi ancaman, Lea. Dia sudah menjadi aset. Tugas kita sekarang adalah memastikan aset ini tetap setia dan tidak rusak oleh musuh di masa depan."
"Dan tugas kita adalah membuat Mama bahagia," tambahku.
Leo mengangguk. Kami berdua melangkah menuju dapur, berubah dari penguasa bayangan menjadi sepasang kembar yang ingin membuat kejutan sarapan untuk orang tua mereka.
POV: DAMIAN XAVIER
Aku melangkah masuk ke dalam mansion dengan sisa-sisa bau mesiu dan laut yang masih menempel di mantelku. Aku merasa sangat lelah, namun ada adrenalin yang berbeda mengalir di nadiku. Bukan adrenalin setelah membunuh, tapi adrenalin setelah memenangkan sebuah permainan intelektual yang agung.
Aku menyerahkan mantelku pada Marco di lobi. "Pastikan semua peti disimpan di brankas bawah tanah. Jangan ada satu pun yang terbuka tanpa seizinku."
"Baik, Tuan."
Aku berjalan menuju ruang makan, berharap bisa mandi sebelum Qinanti bangun. Namun, langkahku terhenti saat aroma manis mentega dan sirup maple tercium dari arah dapur.
Pukul 05.30 pagi.
Aku mengintip ke dalam dapur dan pemandangan yang menyambutku membuat jantungku berhenti berdetak sesaat.
Di sana, Qinanti sudah terbangun. Dia mengenakan jubah mandi satin berwarna putih, rambutnya yang bergelombang jatuh di bahunya. Dia sedang tertawa—tertawa tulus—sambil memegang piring. Di sampingnya, Leo sedang dengan sangat serius membalik pancake di atas teflon, sementara Lea sibuk menata buah strawberry dengan presisi seorang ahli bedah.
"Papa!" Lea adalah yang pertama menyadari keberadaanku. Dia berlari ke arahku dan memeluk kakiku. "Papa tepat waktu! Lihat, Leo buat pancake berbentuk wajah Papa!"
Aku terpaku. Aku menatap Leo yang hanya melirikku sekilas dengan tatapan 'aku-sudah-bilang-kan-Papa-harus-pulang-tepat-waktu'. Lalu aku menatap Qinanti.
Wajahnya yang tadinya ceria sedikit menegang saat melihatku, namun kemudian dia melunakkan pandangannya. Dia melihat pakaianku yang sedikit berantakan, namun tidak ada darah di sana. Hanya wajah seorang pria yang merindukan rumahnya.
"Kau sudah pulang, Damian?" tanya Qinanti lembut.
"Ya," jawabku, suaraku terasa tercekat di tenggorokan. Aku melangkah mendekat, mengabaikan segala protokol bos mafia yang selama ini kujunjung tinggi. Aku berhenti tepat di depan Qinanti. "Aku pulang."
Lea menarik tanganku, memaksa aku duduk di kursi meja makan dapur. "Ayo Papa makan! Leo bilang Papa butuh asupan glukosa setelah bekerja lembur di 'kantor logistik'."
Aku duduk, dan Leo menyodorkan sepiring pancake padaku. Bentuknya memang menyerupai wajah pria yang sedang cemberut—lucu, sarkastik, dan sangat mencerminkan perasaan Leo padaku.
"Terima kasih, Jagoan," ucapku.
Aku mulai makan, dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, makanan terasa begitu nikmat bukan karena harganya yang mahal, tapi karena siapa yang membuatnya. Di sela-sela sarapan itu, Leo dan Lea mulai menceritakan 'kejadian lucu' di sekolah mereka tempo hari—cerita-cerita normal anak usia delapan tahun yang aku tahu adalah cara mereka untuk menenangkan Qinanti.
Namun, di balik cerita-cerita itu, aku bisa merasakan Shadow Talk mereka yang terus aktif. Aku melihat mereka saling melirik setiap kali aku menatap Qinanti.
“Target sedang berada dalam zona nyaman, Kak. Pintu emosionalnya terbuka lebar,” aku seolah-olah bisa mendengar suara Lea di kepalaku.
“Pertahankan momentumnya, Lea. Biarkan dia merasakan apa itu keluarga sebelum kita memberinya tugas berikutnya di sektor keuangan,” suara Leo yang dingin seolah bergema di bayang-bayang.
Aku menelan suap terakhirku. Aku menatap kedua anak kembarku, lalu menatap wanita di depanku yang pernah kusembah dan kukhianati.
"Qinanti," panggilku.
Dia menatapku, matanya yang indah kini tidak lagi dipenuhi ketakutan yang murni. "Ya?"
"Mulai hari ini, aku akan merestrukturisasi seluruh bisnis Vipera. Tidak ada lagi kargo gelap di dermaga setelah ini. Leo sudah meyakinkanku bahwa investasi di sektor teknologi dan intelijen jauh lebih menguntungkan dan... lebih aman untuk masa depan anak-anak."
Qinanti tertegun. Dia meletakkan garpunya, matanya berkaca-kaca. "Kau sungguh-sungguh, Damian?"
"Ya. Dan Leo akan mengawasi transisinya," ucapku sambil melirik Leo yang hanya mengangguk kecil dengan gaya seorang CEO berpengalaman.
Qinanti tersenyum—senyuman yang paling indah yang pernah kulihat selama hidupku. Dia meraih tanganku di atas meja dan meremasnya. "Terima kasih, Damian. Terima kasih."
Di kursi samping, Lea bertepuk tangan kecil. "Checkmate, Papa! Papa akhirnya memenangkan permainan yang benar!"
Aku tertawa, merangkul Lea ke dalam pelukanku dan mengacak rambut Leo yang mencoba menghindar. Malam ini, Baron mungkin kehilangan kerajaannya. Malam ini, aku mungkin kehilangan otoritas mutlakku sebagai bos mafia.
Tapi saat aku melihat keluarga kecil ini bersatu di dapur yang hangat ini, aku menyadari satu hal yang mutlak. Aku tidak sedang kehilangan mahkotaku. Aku baru saja mendapatkan mahkota yang jauh lebih besar, yang diberikan oleh dua penguasa bayangan yang kebetulan memanggilku 'Papa'.
Permainan ini memang sudah berakhir bagi musuh-musuhku. Tapi bagiku dan keluargaku, ini hanyalah langkah pembuka dari sebuah dinasti yang baru.
"Ayo sarapan lagi," ucapku dengan hati yang penuh. "Masih banyak yang harus kita rencanakan untuk masa depan."
Leo menatapku, mata abu-abunya berkilat. “Strategi yang bagus, Papa. Selamat datang di tim kami yang sebenarnya.”
Aku tersenyum. Ya, aku sudah benar-benar terjebak dalam skakmat yang paling indah di dunia.