Rania, seorang dokter spesialis bedah yang logis dan tenang, merasa hidupnya adalah definisi kebahagiaan. Suaminya, Damar, adalah kontraktor sukses yang penyayang. Namun, kesempurnaan itu runtuh saat Damar hilang tanpa jejak. Polisi menyerah, namun insting Rania sebagai istri dan dokter mengatakan ada yang tidak beres.
Penyelidikan mandiri membawanya ke sebuah ruang bawah tanah di kantor lama Damar. Di sana, ia menemukan koleksi gaun, wig, dan alat rias.
Apa yang terjadi pada Damar ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Suara itu.......
Pagi di desa Kendal dimulai dengan keriuhan yang tidak biasa. Di dalam rumah joglo yang biasanya tenang, suara tawa dan perdebatan kecil mengenai warna pakaian memenuhi udara. Ibu Lastri, yang sejak fajar sudah mandi dan merias diri tipis-tipis, tampak sangat bersemangat. Kehadiran Rania di rumah itu benar-benar menjadi katalisator perubahan bagi sang ibu mertua. Jika dulu Ibu Lastri lebih banyak menghabiskan waktu dengan merajut atau melamun, kini ia tampak memiliki misi baru: memastikan Rania dan calon cucunya mendapatkan kebahagiaan terbaik.
"Ran, coba pakai yang ini. Ibu sudah sengaja pesan batik sarimbitan motif Wahyu Tumurun. Katanya biar kita sekeluarga selalu mendapatkan petunjuk dan berkah dari Gusti Allah," ujar Ibu Lastri sambil menyodorkan setelan batik sutra berwarna cokelat keemasan yang tampak sangat elegan.
Rania tersenyum melihat antusiasme mertuanya. Sebenarnya, bagi Rania yang terbiasa dengan gaya hidup Jakarta, ia lebih suka pakaian yang simpel, namun melihat binar di mata Ibu Lastri, ia tak tega menolak. Belakangan ini, Ibu Lastri memang luar biasa aktif. Setiap pagi, wanita tua itu bahkan rajin mengikuti senam jantung sehat dari tayangan televisi.
"Ibu harus kuat, Ran. Nanti kalau cucu Ibu lahir, Ibu yang akan paling semangat mengajaknya jalan-jalan ke sawah," begitu alasan Ibu Lastri setiap kali Bapak Suprapto menggodanya saat sedang melakukan gerakan senam yang terkadang lucu.
Bapak Suprapto sendiri hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala sambil menyeruput kopi pahitnya di teras. Baginya, rumah itu kini terasa memiliki "nyawa" lagi. Kehadiran Rania membawa kehangatan dan kenyamanan yang sempat hilang saat Damar pergi merantau. Bapak merasa sangat bersyukur; meski mereka kehilangan anak laki-laki yang tak tahu rimbanya, Tuhan menggantinya dengan menantu yang luar biasa berbakti.
Kemegahan Kota yang Terasa Biasa
Perjalanan menuju Semarang kota memakan waktu sekitar satu jam. Sepanjang jalan, Ibu Lastri tak henti-hentinya bercerita tentang betapa bangganya dia pada Danang, keponakannya yang sukses bekerja di perusahaan sepatu besar. Sesampainya di hotel bintang lima kawasan Kota Lama, rombongan keluarga desa itu disambut oleh kemegahan lobi yang menjulang tinggi dengan lampu gantung kristal yang berkilauan.
Bagi kerabat Danang yang lain, kemewahan ini sangat mengintimidasi. Mereka berjalan dengan langkah ragu-ragu di atas karpet tebal yang empuk. Namun bagi Rania, suasana hotel seperti ini adalah makanan sehari-harinya di Jakarta. Ia tetap berjalan dengan tenang dan anggun, menjaga wibawa keluarga Suprapto.
Prosesi pertunangan berjalan lancar dan penuh khidmat. Danang tampak gagah, dan calon istrinya sangat cantik. Namun, di tengah acara yang meriah itu, Rania merasakan dorongan biologis yang tak tertahankan. Efek kehamilan membuatnya lebih sering ingin buang air kecil.
"Bu, Rania ke belakang sebentar ya, mau ke WC," bisik Rania pada Ibu Lastri yang sedang asyik mengobrol dengan Bude Sumi.
"Eh, mau Ibu antar, Nduk?" tanya Ibu Lastri khawatir.
"Tidak usah, Bu. Ibu di sini saja, acara intinya kan sedang berlangsung. Rania tahu jalan keluar kok," cegah Rania dengan lembut.
Ia berjalan perlahan meninggalkan keramaian ruangan pesta, menuju area lobi. Setelah bertanya pada resepsionis dengan sopan, ia diarahkan menuju lorong belakang yang lebih sunyi, tempat fasilitas toilet berada.
Gema Suara dari Masa Lalu
Suasana di area toilet sangat sepi. Dindingnya dilapisi porselen marmer yang dingin dengan aroma pengharum ruangan yang elegan. Saat Rania sedang berada di dalam bilik, tiba-tiba terdengar suara pintu utama toilet terbuka. Suara langkah kaki sepatu hak tinggi yang beradu dengan lantai marmer terdengar mendekat ke arah wastafel.
Lalu, sebuah suara terdengar. Suara seorang wanita yang sedang melakukan panggilan telepon.
"Iya, Sayang... aku sudah di hotel. Kamu di mana? Aku tunggu di lobi atau langsung ke atas? Hehe, kamu ini nakal sekali, belum apa-apa sudah minta naik ke kamar," suara itu terdengar sangat manja, centil, dan penuh nada menggoda.
Jantung Rania mendadak berhenti berdetak sejenak. Ia tertegun di dalam bilik. Suara itu... nada bicaranya... intonasinya... terasa begitu familiar di telinganya. Ada sebuah resonansi yang sangat spesifik yang selama bertahun-tahun menemaninya tidur.
Itu suara Damar, batin Rania histeris.
Namun, akal sehatnya membantah. Suara itu adalah suara wanita, melengking manis dan lembut. Tapi Rania adalah seorang istri; ia hafal bagaimana suaminya menarik napas di antara kata-kata, ia hafal bagaimana getaran suara suaminya saat sedang merayu. Suara wanita di luar sana terdengar seperti versi wanita dari suara Damar yang dipoles sedemikian rupa.
Rania segera menyelesaikan urusannya dengan tangan gemetar. Ia membasuh tangannya dengan terburu-buru dan berlari keluar dari bilik. Namun, ruangan wastafel sudah kosong. Hanya tersisa sisa aroma parfum yang sangat menyengat—parfum yang sama dengan aroma yang dibawa wanita bernama Shinta ke rumah sakit tempo hari.
"Damar? Mas Damar?" panggil Rania lirih di dalam toilet yang sunyi itu. Tidak ada jawaban.
Sepersekian Detik yang Menentukan Takdir
Rania berlari keluar menuju lobi. Matanya menyapu setiap sudut ruangan yang luas itu dengan napas tersengal. Di dekat pintu masuk, ia melihat dari kejauhan seorang wanita berambut panjang dengan gaun satin yang sangat indah sedang berjalan mesra, tangannya melingkar di lengan seorang pria bertubuh kekar.
"Mas! Mas Damar!" teriak Rania.
Ia berlari sekuat tenaga, mengabaikan rasa nyeri di perut bawahnya. Begitu sampai di belakang wanita itu, Rania langsung menarik bahunya dan memutar tubuh wanita tersebut dengan kasar.
"Mas—" Kalimat Rania terputus.
Wanita di depannya menatap Rania dengan bingung dan sedikit marah. Wajahnya sangat cantik, namun itu bukan Damar. Itu adalah seorang tamu hotel lain yang kebetulan memiliki postur tubuh yang mirip.
"Ada apa ya, Mbak? Anda salah orang!" ketus wanita itu sambil merapikan gaunnya dan berlalu pergi.
Rania terpaku. Ia merasa seperti orang gila. Air matanya luruh seketika. Ia berjongkok di tengah lobi hotel yang megah, menutupi wajahnya dengan kedua tangan, dan menangis tersedu-sedu. Ia merasa halusinasinya sudah mencapai tahap yang mengkhawatirkan. Rasa rindu dan pengkhianatan yang bercampur aduk membuatnya mulai meragukan pendengarannya sendiri.
Namun, yang tidak diketahui oleh Rania adalah kebenaran yang hanya berjarak beberapa meter darinya.
Pada saat yang hampir bersamaan ketika Rania menarik bahu wanita asing tersebut, di sisi lain pilar lobi yang besar, Dara (Damar) sedang berjalan cepat bersama Mario menuju area lift khusus tamu menginap. Dara sempat menoleh sekilas ke arah keramaian lobi, namun Mario segera menarik pinggangnya dengan posesif.
"Ayo, Dara. Katanya kamu ingin segera istirahat," bisik Mario sambil menekan tombol lift.
Mario memang datang ke hotel itu dengan niat awal menghadiri pertunangan Danang, karyawan kepercayaannya. Namun, sesampainya di sana, Dara tiba-tiba merengek manja. Ia mengaku merasa tidak nyaman berada di tengah keramaian dan mengajak Mario untuk langsung check-in di kamar Presidential Suite yang sudah dipesan Mario sebelumnya.
"Aku hanya ingin berdua denganmu, Mario. Aku tidak peduli dengan acara karyawanmu itu," goda Dara sambil menyandarkan kepalanya di bahu Mario.
Mario, yang sudah dibutakan oleh hasrat dan cinta pada sosok Dara, akhirnya menyerah. Ia mengabaikan kewajibannya sebagai atasan dan memilih untuk mengikuti keinginan kekasihnya. Pintu lift tertutup rapat, membawa mereka naik menuju lantai atas, tepat pada detik yang sama saat Rania sedang menangis di lantai bawah.
Takdir mempermainkan mereka dengan sangat kejam. Hanya terpisah oleh dinding baja sebuah lift, dua kehidupan yang dulunya menyatu kini berada di dimensi yang berbeda. Rania yang menangisi bayangan suaminya di lantai dasar, dan Damar yang sedang mematikan jati dirinya sebagai pria di lantai atas demi sebuah kehidupan baru bersama Mario.
Rania akhirnya berdiri, menghapus air matanya dengan tisu, dan mencoba menenangkan diri. Ia harus kembali ke ruangan pesta. Ia tidak boleh merusak kebahagiaan Danang dan keluarganya. Dengan langkah gontai, ia berjalan kembali ke dalam, sementara jauh di atas sana, di balik jendela kaca kamar mewah, Dara menatap ke arah Kota Lama Semarang dengan senyum kemenangan, merasa bahwa ia telah berhasil melarikan diri dari masa lalu yang kini sedang menangis di bawah kakinya.