Zaidan, seorang detektif yang tengah memburu penjahat, tak sengaja terjebak dalam situasi pelik saat pengejarannya masuk ke pemukiman warga. Gara-gara menginjak ekor anjing, ia terperosok masuk ke rumah Sulfi yang baru saja selesai mandi.
Teriakan histeris Sulfi mengundang massa yang langsung salah paham dan menuding Zaidan melakukan perbuatan asusila. Meski Zaidan telah menjelaskan tugasnya dan statusnya yang sudah beristri, warga yang telanjur emosi tetap memaksa keduanya untuk menikah demi "membersihkan" nama kampung. Di bawah tekanan massa, sang detektif terpaksa menjalani pernikahan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Pagi itu, sinar matahari masuk malu-malu melalui celah ventilasi rumah kontrakan mereka.
Seperti biasa, Sulfi sudah sibuk di dapur kecilnya. Aroma nasi goreng yang gurih mulai memenuhi ruangan, menciptakan suasana rumah tangga yang hangat meski di tengah keterbatasan.
Di sela kegiatannya memotong timun, ponsel Sulfi yang tergeletak di meja dapur bergetar.
Sebuah notifikasi pesan muncul di layar. Sulfi menyeka tangannya yang basah ke celemek, lalu meraih ponsel itu.
Yuana:
"Sulfi, bagaimana? Apakah kamu menerima tawaran kami? Kamu pengacara handal. Kantor kami sangat membutuhkanmu kembali."
Sulfi terdiam sejenak. Matanya terpaku pada kata "pengacara handal".
Sebuah rahasia kecil yang belum sempat ia ceritakan pada Zaidan.
Sebelum tragedi yang merenggut nyawa suami pertamanya dan menjadikannya seorang janda yang tertutup di kampung, Sulfi adalah seorang praktisi hukum yang cukup disegani di kota seberang.
Lamunannya begitu dalam hingga ia tak menyadari langkah kaki seseorang yang mendekat.
"Sedang melamun apa?"
"Ah!" Sulfi sedikit berjengit karena terkejut.
Ia segera mematikan layar ponselnya dan berbalik.
Di sana, Zaidan sudah berdiri dengan kaos oblong putih, wajahnya tampak jauh lebih segar meski sisa lebam masih terlihat samar.
Sulfi menggelengkan kepalanya dengan cepat, mencoba menyembunyikan kegugupan di wajahnya.
"Nggak apa-apa, Mas. Cuma kepikiran bumbu yang kurang tadi," jawabnya berbohong sambil kembali beralih ke penggorengan.
Zaidan menyipitkan mata sedikit, insting detektifnya menangkap ada yang tidak beres, namun ia memilih untuk tidak mendesak.
Ia berjalan mendekat dan menghirup aroma masakan istrinya.
"Harum sekali. Kamu selalu tahu cara membuat perut suamimu lapar," puji Zaidan sambil tersenyum tipis.
Sulfi hanya tersenyum getir di balik punggung Zaidan. Di dalam hatinya, ia bimbang.
Tawaran dari Yuana bisa menjadi jalan keluar bagi kesulitan ekonomi mereka, namun ia takut jika kembali ke dunia hukum, ia akan semakin menarik perhatian musuh-musuh Zaidan, atau bahkan membuat Maya semakin murka jika tahu bahwa "janda miskin" yang ia hina sebenarnya adalah seorang pengacara.
Sulfi mencoba menenangkan degup jantungnya yang masih tidak keruan setelah membaca pesan dari Yuana.
Ia tidak ingin Zaidan curiga, setidaknya tidak pagi ini di saat suaminya baru saja mendapatkan ketenangan.
"Mas mandi dulu saja ya, biar segar," ujar Sulfi lembut sembari mengalihkan pandangannya kembali ke wajan.
Zaidan menganggukkan kepalanya pelan. "Iya, badanku memang masih terasa agak kaku. Terima kasih ya, Sulfi."
Pria itu kemudian melangkah menuju kamar mandi, meninggalkan keheningan yang kembali menyelimuti dapur.
Begitu suara kucuran air terdengar, Sulfi bergerak dengan cekatan.
Ia tidak ingin membiarkan pikirannya larut dalam kebimbangan soal karier lamanya.
Dengan penuh ketelatenan, ia menata nasi goreng ke atas piring dan menyiapkan dua cangkir teh hangat di meja makan kecil mereka.
Setelah urusan dapur selesai, Sulfi masuk ke kamar.
Ia melihat seragam kepolisian Zaidan yang kemarin sempat ia bersihkan dari debu jalanan.
Dengan tangan yang sangat rapi, Sulfi menyiapkan seragam itu di atas tempat tidur—mulai dari kemeja cokelat yang sudah licin disetrika, celana, hingga lencana emas yang ia gosok sampai mengilap.
Ia mengusap lencana itu dengan ujung jarinya. Dalam hati, Sulfi berjanji akan menjaga martabat suaminya, sebagaimana Zaidan telah menjaga harga dirinya di depan warga kampung dan di depan Maya.
Tak lama kemudian, pintu kamar mandi terbuka. Uap hangat tipis mengikuti langkah Zaidan yang keluar dengan handuk tersampir di pundak.
Ia tertegun melihat pemandangan di depannya: sarapan yang sudah tersaji dan seragam tugas yang tertata sangat rapi.
"Semuanya sudah siap, Mas," ucap Sulfi pelan sambil tersenyum tulus.
Zaidan menatap seragamnya, lalu menatap istrinya. Ada rasa haru yang kembali menyusup di relung hatinya.
Ia merasa, meskipun kini ia tinggal di kontrakan sempit dan sudah kehilangan kemewahan rumah lamanya, ia justru mendapatkan pelayanan dan penghormatan yang jauh lebih tulus sebagai seorang suami.
Zaidan pun mulai mengenakan seragamnya, tanpa tahu bahwa di luar sana, Riko dan Maya sedang menyusun rencana besar untuk merenggut seragam yang baru saja disiapkan dengan penuh kasih oleh Sulfi itu.
Pagi itu, udara kota terasa begitu berat bagi Zaidan.
Setelah menikmati sarapan nasi goreng buatan Sulfi yang hangat, ia merasa memiliki energi tambahan untuk menghadapi hari.
Zaidan berpamitan dan berangkat ke kantornya, tanpa menyadari bahwa itu adalah kali terakhir ia bisa melihat senyum tenang istrinya sebelum badai besar menghantam.
Zaidan memarkirkan mobil operasionalnya di halaman kantor Satuan Reserse.
Ia melangkah dengan tegap, merapikan seragam yang telah disiapkan Sulfi dengan penuh kasih. Namun, baru saja ia melewati pintu lobi, suasana mendadak berubah mencekam.
Beberapa anggota polisi yang biasanya
menyapanya kini membuang muka.
Belum sempat ia sampai ke ruangannya, sesampainya di kantor ia dicegat oleh Riko yang langsung memborgolnya dengan gerakan kasar dari belakang.
KLIK!
Logam dingin itu mengunci pergelangan tangan Zaidan.
"Tangkap mata-mata ini!" seru Riko dengan suara lantang, sengaja memancing perhatian seluruh penghuni kantor.
Zaidan terbelalak, ia mencoba memberontak namun ditekan oleh dua orang anak buah Riko.
"Riko! Apa yang kamu lakukan? Mata-mata apa?!" teriak Zaidan penuh amarah dan kebingungan.
"Jangan pura-pura suci, Zaidan! Kami punya bukti kamu menjual data operasional pengejaran
Guntur demi uang untuk membiayai istri simpananmu itu!" fitnah Riko dengan nada keji.
Tanpa memberikan kesempatan bagi Zaidan untuk membela diri, mereka memasukkan Zaidan ke sel tanpa persetujuan Kompol Hendrawan.
Riko sengaja memanfaatkan situasi saat sang Komandan sedang rapat di luar kantor.
Mereka menyeret Zaidan menuju lorong bawah tanah yang gelap dan lembap.
"Taruh di sel tikus dan sumpal mulutnya!" perintah Riko kejam.
Sel tikus adalah ruangan paling sempit dan kotor di blok tahanan, tempat yang biasanya hanya digunakan untuk narapidana paling berbahaya atau tidak kooperatif.
Riko memberikan kain untuk menutup mulut Zaidan, menyumpalnya dengan kasar hingga Zaidan hanya bisa mengeluarkan suara erangan yang tertahan.
"Nikmati waktu istirahatmu, Detektif. Maya mengirimkan salam untukmu," bisik Riko tepat di telinga Zaidan sebelum membanting pintu besi sel yang berat.
BRAKK!
Zaidan jatuh terduduk di lantai semen yang dingin dalam kegelapan total.
Pikirannya melayang pada Sulfi yang menantinya di rumah, tak menyadari bahwa fitnah yang direncanakan Maya kini mulai meruntuhkan karier dan hidupnya.
Di balik sumpalan kain itu, Zaidan bersumpah dalam hati: ia harus keluar hidup-hidup untuk melindungi wanita yang kini menjadi tanggung jawabnya.
"Mmmmpphh!! Mmmpphh!!"
Suara Zaidan hanya tertahan di pangkal tenggorokan, teredam rapat oleh kain kasar yang membebat mulutnya.
Ia mencoba meronta, menghentakkan bahunya ke pintu besi sel yang berkarat, namun setiap gerakannya justru membuat borgol di pergelangan tangannya semakin menggigit kulit.
Zaidan mencoba untuk meminta bantuan tetapi usahanya sia-sia.
Sel tikus itu terletak di sudut terdalam lorong bawah tanah, tempat yang jarang dilalui oleh petugas piket kecuali atas instruksi khusus.
Dinginnya lantai semen mulai merambat ke tulangnya, dan aroma pengap sisa banjir merusak pernapasannya.
Di tengah kegelapan yang pekat, jantungnya berdegup kencang.
Bukan karena takut akan gelap, melainkan karena ia tahu pengkhianatan Riko telah dirancang dengan sangat rapi.
Ia merasa sangat bodoh karena tidak menyadari bahwa Maya akan bertindak sejauh ini.
Ia berharap Kompol Hendrawan mengetahuinya. Hanya sang Komandan yang memiliki wewenang untuk membatalkan prosedur gila ini. Namun, Zaidan juga sadar bahwa Riko pasti sudah menyiapkan laporan palsu untuk menutupi jejaknya di depan atasan mereka.
“Sulfi, jangan buka pintu untuk siapa pun,” batin Zaidan putus asa.
Bayangan Sulfi yang sedang menyiapkan makan malam atau menunggunya pulang dengan teh hangat kini menjadi satu-satunya alasan baginya untuk tetap tenang.
Ia tidak boleh menyerah di sini. Jika ia membiarkan dirinya hancur dalam fitnah ini, maka tidak akan ada lagi yang melindungi Sulfi dari ancaman Guntur maupun kebencian Maya yang membabi buta.
Sementara itu, di lantai atas, Riko sedang menyesap kopinya dengan santai sambil menatap kursi kerja Zaidan yang kosong.
Ia tersenyum puas, merasa satu langkah lebih dekat dengan jabatan yang selama ini diincar Zaidan, sembari menunggu saat yang tepat untuk melaporkan "pelarian" Zaidan kepada Kompol Hendrawan.