Aleea nama panggilannya, Putri dari seorang pemilik ma'had yang cukup ramai di kotanya, aleea dikenal ramah dan santun, dia juga mengajar di pesantren milik abahnya namun aleea juga sibuk dengan dunianya sebagai penulis.
Areez seorang ustadz muda yang mengajar di pesantren milik abahnya aleea, tingginya yang semampai dengan badannya yang gagah membuat setiap orang melihat tak berkedip mata. sangat tampan memang tapi areez tidak banyak bicara hanya seperlunya, kecuali abahnya aleea.
Kebanyakan lingkungan pesantren memegang teguh adat dan senioritas, begitupun pesantren milik abahnya aleea. perbedaan umur terkadang seperti jurang yang dalam, rasa sulit untuk mengungkapkan terbatas rasa sopan seringkali menjadi pikiran.yang lebih tua merasa umurnya menghalangi untuk menunjukkan perasaan sedangkan yang lebih muda selalu bersikap sopan, bahkan terasa terlalu sopan hingga sulit di bedakan, entah itu rasa hormat, takdim atau justru menyimpan perasaan lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ainun masruroh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
di jemput
jam 03.45 sentuhan tangan aylin membangunkanku, aku bangun dan melihat aylin sudah lengkap dengan mukenahnya, aku beranjak dan bersiap akan sholat.
" mbak jama'ah ya " ucap aylin seketika saat aku baru selesai masuk ke kamarnya.
" boleh kamu imam tapi ya " ucapku sambil tersenyum, aylin menggangguk setuju, aku segera memakai mukenahku dan berdiri di belakang aylin untuk sholat dengannya.
Saat sudah selesai kami berbincang dari aylin tanya kabar Abah dan ibu, cerita novelku sampai kesulitan aylin disini menimba ilmu, kami berbincang sangat asik sekali, mungkin aylin ingin kita mengobrol semalam tapi aku aku ketiduran jadi kita menghabiskan siang hanya mengobrol santai, sampai tak terasa hari mulai sore, aku berencana menginap semalam lagi, sebenarnya masih rindu dengan aylin dan besoknya aku berencana pergi ke masjid raya Sheikh Zayed yang masih satu kota ini dengan aylin, ini kedua kalinya aku kesana.
Aku menghabiskan waktu hanya dengan mengobrol dan mendengarkan aylin bercerita, entah kenapa waktu berjalan sangat cepat ketika kita bersama orang tersayang dan waktu terasa begitu lambat dengan orang sebaliknya. Ah... Enggan rasanya pergi... aku membawa banyak inspirasi dari aylin dan banyak kebahagiaan untuk aku simpan sampai pertemuan selanjutnya, terdengar sangat berlebihan tapi aylin memang teman mengobrolku satu-satunya dan beruntungnya dia adikku.
tiba saatnya aku pamit pulang kepada aylin, dia sedikit menangis yang membuat aku semakin enggan dan ingin memutuskan tinggal sedikit lebih lama tapi ini bukan rumah aylin dan dia harus belajar setiap harinya. Dia memelukku erat sekali sampai akhirnya dia melepaskan dan mengizinkan aku pergi. waktu menunjukkan jam 09.36 wib, aku melangkah keluar dan mencari mobil travel yang ku pesan, aku memesan travel hanya untuk ke masjid sheik Zayed dan bisa menunggu sampai petang, karna tiket keretaku jam 17.22 nanti.
Perjalanan ke sana terasa sedikit lama mungkin karna aku excited, sampai akhirnya, bangunan masjid yang indah itu menyambut kedatanganku, benar-benar cantik, dulu waktu pertama kali kesini aku ingin menikah disini, tapi pernikahan belum terbayangkan, aku hanya menghayal. Aku melaksanakan sholat dhuhur disini dan merenung panjang, meneruskan ceritaku tanpa sadar aku menulis sesuatu yang entah bagaimana munculnya.
...sepi memang menyimpan nyaman yang tak terganti...
...tapi sepi mana yang benar-benar sunyi...
...bukan tentang langit yang menggelap...
...bukan juga lampu malam yang temaram...
...apalagi tengah malam yang menyampaikan kabar...
...hanya saja... Itu semua tak pernah benar-benar ter-artikan...
...Aku tak pernah tau jalanku mengarah kemana...
...yang ku tau hanya meminta untuk di beri jalan nyaman meski tak pernah benar-benar lurus yang Ia berikan...
... ...
...Tapi........
...Kali ini terbesit rindu di tengah perjalanan, namun bukan pada-NYA...
...tapi rindu milik-NYA yang Ia beri padaku nanti untuk seseorang yang menjadi Rahasia-NYA saat ini......
...Tenang saja... Jika ada......
...aku benar-benar tidak terburu-buru menikmati waktuku...
...cepat atau lambat...
...jauh atau dekat ...
...atur saja bagaimana baiknya ...
...aku tetap milik-NYA dan begitu seterusnya....
...Pada akhirnya.......
...banyak rindu yang harus di lewati...
...banyak sepi yang harus terganti...
...bahkan rasa nyamanpun bukan tentang sepi lagi...
...entah apapun itu aku juga belum tau.... ...
by.aleea
Banyak aku melamun, dinginnya lantai membuatku ingat rumah dan ingin pulang, tapi disini menenangkan, aku memutuskan sedikit lebih lama sampai akhirnya aku memutuskan pulang, aku berdiri dan berjalan sambil sedikit mengabadikan tempat ini dalam handphoneku. Aku Melangkah keluar dan aku melihat lambaian tangan sopir travelku dan segera melaju ke stasiun untuk kembali pulang ke malang yang sejuk itu.
malang....
aku sampai di malam tengah malam... Aku tidak segera pulang, aku takut sekali mau pulang, bukan hantu melainkan begal karna aku bukan petarung, aku rogoh sakuku mengambil handphone dan mencoba menghubungi Abah tapi tidak ada jawaban, aku coba hubungi ibu sama saja tidak di angkat, aku berfikir naik grab saja agar lebih aman, tapi langsung ku urungkan, lama sekali aku berfikir dan tetap mencoba menghubungi Abah dan ibu tapi tak kunjung di angkat, jalan terakhir hanya ustadz areez yang bisa membantu, tapi bagaimana bilangnya.....
aku coba untuk what's up dia, jika tidak ada balasan, aku memutuskan naik grab car saja dan ku ambil besok motonya.
(what's up)...
(aleea) 00.45 : assalamualaikum
Aku menunggu balasannya sambil tetap mencoba telfon Abah dan ibu... Aku tak berharap banyak karna memang sudah tengah malam dan semua orang sedang istirahat
(nomer baru) 00.59 : waalaikumsalam mbak lea, ngapunten ada yang bisa saya bantu?
Sebuah pesan masuk dari areez, ada rasa berat untuk meminta tolong tapi aku benar-benar ingin pulang.
(aleea) 01.00 : maaf apa sedang sibuk?
Tanyaku cepat, aku takut dia sedang sibuk dan mengganggunya tengah malam begini.
(nomer baru) 01.01 : tidak mbak
(aleea) 01.02 : boleh saya meminta tolong, saya tidak berani pulang sendiri?
sedikit deg-degan aku tidak biasa meminta tolong, sebenarnya jam segini malang masih sedikit ramai oleh anak muda tapi justru itu ketakutan, bukan lagi jalan sepi maupun hantu tapi perilaku manusia saat ini.
(nomer baru) 01.02 : baik mbak, saya berangkat sekarang, tunggu sebentar.
Aku sedikit terkejut melihat pesannya, dia langsung berangkat tanpa tapi, mungkin karna aku anak dari gurunya?... Mungkin saja. aku sedikit mengantuk, beberapa kali aku menutup mulut karna menguap, aku ingin membeli sesuatu untuk mengusir kantuk ini, aku enggan beranjak, rasanya aku hanya mau tidur disini saja hahahhaha.
Aku memutuskan untuk ke toilet sebentar, mencuci muka agar mataku sedikit segar, tapi justru sebaliknya, dinginnya air semakin membuat aku ingin sembunyi secepat di dalam selimut hangatku dirumah.
aku memutuskan ke toko samping stasiun, membeli es krim untuk melupakan kantuk yang sudah mendarah daging ini, aku keluar dari toko itu dan kembali ke bangku depan stasiun tadi, tapi suara laki-laki menghentikan langkahku
Areez : mbak leea...
Aku sontak mendongakan kepalaku dan tak sengaja menatap wajah itu
Aku : astaghfirullah...
Seketika aku alihkan pandanganku... Tapi dalam hati ( masyaallah.... Astaghfirullah)
Areez : maaf mbak, saya cari-cari dari tadi, taunya mbak disini, soalnya saya panik, di depan stasiun ada kopernya tapi tidak ada orangnya
Aku : iya saya ngantuk banget hampir tertidur, jadi saya beli es krim biar Ndak ngantuk lagi.
Ucapku sambil terus memakan eskrim
Areez : kalau mbak lea ngantuk, naik grab car saja, saya ikutin dari belakang, biar mbak lea tidak takut.
Mau sih... ( batinku)
Aku : nggak papa... sudah Ndak terlalu mengantuk, jalannya pelan-pelan aja.
Areez mengangguk, dan kembali ke arah motornya dengan menenteng koper imutku, aku tidak sadar kalo koperku ada di tangannya, aku berjalan mengambil motorku dan langsung mengikuti di belakangnya areez.
Malang semakin malam semakin dingin. Aku kembali menutup mulutku karna menguap, sulit sekali memang menahan kantuk di hawa dingin seperti ini, ingin sekali rasanya segera sampai dan langsung berbaring.
Areez melaju pelan, dan menoleh ke spion untuk melihatku apa tetap melaju di belakangnya, mau tidak mau sesekali mataku bertemu dengan matanya.
" emmmmm " gumamku mengalihkan pandanganku ke arah depan.
Tubuhnya terlihat tegap, sangat semampai meskipun saat dia duduk, pantas saja semua orang membicarakan areez, hampir sempurna memang, tapi aku belum menemukan sisinya yang membuat anak santri, guru dan yang lain segan, menurutku dia memang dingin dan terlihat tidak peduli, atau karna di paling tinggi jadi membuat semua orang segan. Entahlah...
" GEDUBRAKKKKKK "......