Aura membuka mata melihat dirinya sudah ada di ruangan putih dengan peralatan medis. Awalnya Aura hanya binggung, hingga dia merasa kalau dia bermimpi panjang." Sebenarnya apa yang sudah terjadi denganku,:guman Aura melihat sekitarnya. Tampak orang tua yang dia rindukan sudah ada didepan matanya. Apa yang terjadi dengan Aura sebenarnya, ingin tahu kisahnya silakan datang membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Bayang-Bayang Identitas
Aula utama makam bawah tanah yang semula hening dan mencekam, kini berubah riuh oleh gema langkah kaki yang terburu-buru. Cahaya dari lampu sorot portabel membedah kegelapan, menyingkap debu-debu kuno yang menari di udara. Beberapa menit setelah ketegangan mereda, rombongan tim peneliti tambahan akhirnya tiba, membawa serta peralatan canggih dan harapan baru.
Di barisan paling depan, seorang pria berjalan dengan langkah tenang namun berwibawa. Ia mengenakan jaket lapangan berwarna khaki yang rapi, kontras dengan kekacauan di sekitarnya.
Kieran dan Falix yang sedang bersandar pada pilar batu besar segera menegakkan tubuh. Mata mereka berbinar saat mengenali sosok yang memimpin rombongan itu.
"Kenzo?" gumam Kieran, nada suaranya mengandung kelegaan yang jarang ia tunjukkan.
Pria itu adalah Kenzo Baki Barir. Di kalangan akademisi dan kolektor benda antik, namanya adalah jaminan mutu. Ia bukan sekadar pengusaha sukses yang memimpin korporasi raksasa di bidang pelestarian budaya dan sejarah; Kenzo dikenal sebagai pria dengan ketelitian luar biasa dan empati yang dalam terhadap warisan masa lalu.
"Kalian berdua tampak berantakan," sapa Kenzo dengan senyum tipis yang hangat saat mendekat. Matanya langsung memindai kondisi Kieran dan Falix, memastikan kedua sahabatnya itu tidak terluka parah. "Aku langsung berangkat begitu menerima koordinat terakhir dari tim pendahulu."
"Untung kau cepat sampai, Ken. Tempat ini lebih rumit dari yang terlihat di peta," balas Falix sambil menjabat tangan Kenzo dengan erat.
Di sudut lain aula yang lebih gelap, Aura berdiri mematung. Tangannya masih menggenggam senjata laras panjang, namun jemarinya tampak bergetar halus. Di sampingnya, beberapa tentara lain sedang merapikan perlengkapan logistik.
Aura menyipitkan mata, memperhatikan interaksi antara Kieran, Falix, dan pria asing yang baru datang itu. Ada sesuatu pada sosok Kenzo cara dia berdiri, caranya berbicara yang memicu alarm di ingatan Aura.
"Siapa mereka, Kak Jack?" tanya Aura tanpa mengalihkan pandangan.
Jack, yang sedang memeriksa magasen peluru, mendongak. Ia berjalan mendekat ke arah Aura, mengikuti arah pandangannya. "Oh, itu tim bantuan. Pria yang di tengah itu namanya Kenzo, dari tim budaya dan sejarah luar negeri. Dia yang mendanai sebagian besar ekspedisi ini."
Dada Aura berdegup kencang. Nama itu terasa familiar, namun terasa seperti mimpi yang jauh. "Siapa nama panjangnya? Kenapa dia tampak begitu akrab dengan Kieran dan Falix?"
Jack sempat terdiam sejenak, mencoba mengingat berkas administrasi yang sempat ia baca di markas. "Kenzo Baki Barir, kalau tidak salah. Nama yang unik, bukan? Seperti ada unsur etnik tertentu." Jack kemudian menyeringai, menyenggol bahu Aura dengan sikunya. "Kenapa kamu ingin tahu sedetail itu? Jangan bilang kamu naksir dia. Dia memang tampan dan kaya, tapi ingat, kita di sini untuk misi, Aura!"
"Mana mungkin!" tukas Aura cepat, wajahnya memanas bukan karena malu, melainkan karena gejolak batin yang luar biasa.
Aura kembali memandang Kenzo dari kejauhan. Kenzo Baki Barir... batinnya berbisik. Marga Baki... dia keturunan mereka. Dia ada di sini, hidup dengan sukses di dunia ini.
Pikiran Aura mendadak kacau. Memori tentang perjalanan panjang saat ia berada dalam kondisi koma dunia yang ia yakini nyata dalam tidurnya kini menghantam kesadarannya.
Tapi kalau keturunan mereka ada di sini, di dunia yang aku pijak sekarang, lalu dunia yang kualami selama koma itu ada di mana? Aura mencengkeram lengan seragamnya. Kenapa di peta dunia ini tidak ada negara bernama Indonesia? Kenapa sejarahnya bergeser? Aku merasa ada yang salah dengan realitas ini... atau ada yang salah denganku?
Rasa asing itu menyergapnya. Perasaan terisolasi yang mendalam, seolah ia adalah satu-satunya orang yang memegang potongan puzzle dari dunia yang seharusnya ada, namun tidak diakui oleh sejarah tempat ia berdiri sekarang.
"Tim peneliti, segera amankan peti mati! Lakukan pemindaian termal sebelum membuka tutupnya!" perintah Kenzo dengan suara lantang namun terkendali.
Para ahli mulai bergerak lincah di sekitar peti mati kuno yang menjadi pusat ruangan tersebut. Mereka memasang sensor-sensor laser dan kamera makro. Suasana teknis itu seolah mengakhiri babak petualangan fisik dan memulai babak penelitian ilmiah.
Aura merasa sesak. Ia merasa kehadirannya di ruangan itu sudah tidak lagi diperlukan. Tugasnya sebagai pengawal dan pemandu warga lokal telah usai. Tanpa mengucap sepatah kata pun, ia berbalik.
"Ayo bergerak, kita kembali ke permukaan," perintah kapten tim tentara kepada anak buahnya.
Aura berjalan di antara barisan tentara. Ia melewati Kieran dan Falix yang masih sibuk berdiskusi dengan Kenzo. Ada dorongan kuat dalam dirinya untuk berhenti, untuk bertanya pada Kenzo tentang asal-usul namanya, atau sekadar berpamitan pada Kieran yang telah melindunginya berkali-kali. Namun, ego dan kebingungan batinnya jauh lebih besar. Ia terus melangkah, menundukkan kepala, membiarkan kegelapan lorong menelan bayangannya.
Kieran, yang sedang mendengarkan penjelasan Kenzo, tiba-tiba kehilangan fokus. Matanya menangkap gerakan di sudut mata. Ia menoleh dan melihat punggung Aura yang semakin menjauh di pintu keluar aula.
Ada kekosongan yang tiba-tiba muncul di dada Kieran. Ia ingin memanggilnya, namun suaranya tertahan di tenggorokan. Ia hanya berdiri terpaku, menatap sosok wanita itu sampai benar-benar menghilang di balik tikungan lorong berbatu.
Falix, yang selalu peka terhadap perubahan suasana hati sahabatnya, menyadari tatapan kosong Kieran. Ia menyenggol lengan Kieran lalu mendekat ke arah Kenzo yang sedang mengamati ukiran di dinding makam.
"Ken," panggil Falix pelan.
Kenzo menoleh, alisnya terangkat. "Ya?"
"Aku punya tugas tambahan untukmu, jika kau tidak keberatan menggunakan koneksi intelijen pribadimu," kata Falix dengan nada serius namun berbisik. Ia melirik Kieran yang masih tampak termenung. "Bisakah kau mencari tahu identitas asli dari wanita yang baru saja keluar tadi? Namanya Aura. Dia penduduk desa ini, tapi... ada sesuatu yang tidak biasa padanya."
Kenzo menghentikan aktivitasnya. Ia memandang ke arah pintu aula yang kosong, lalu kembali menatap Falix dengan senyum penuh arti.
"Akan kucari tahu. Database perusahaanku memiliki akses ke catatan sipil wilayah ini hingga tiga generasi ke belakang," jawab Kenzo. Ia kemudian melirik Kieran yang masih terdiam. "Tapi, ada apa sebenarnya dengan wanita itu? Dan kenapa dengan Kieran? Jangan bilang si 'Manusia Es' ini diam-diam menaruh hati pada penduduk lokal?"
Falix hanya mengangkat kedua tangannya ke udara, sebuah isyarat bahwa ia pun tidak memiliki jawaban pasti. "Entahlah, Ken. Dia menjadi sangat protektif belakangan ini. Dan Aura... dia melihatmu seolah kau adalah hantu dari masa lalunya."
Kenzo terdiam sejenak, memikirkan kata-kata Falix. "Menarik. Jika dia mengenalku, padahal aku belum pernah menginjakkan kaki di desa terpencil ini sebelumnya, berarti ada misteri yang lebih besar dari sekadar makam kuno ini."
Di tengah kesibukan tim peneliti dan kilatan lampu kamera, ketiga pria itu berdiri dalam keheningan masing-masing. Kieran dengan kerinduannya yang tak terucap, Falix dengan rasa penasarannya, dan Kenzo dengan kunci jawaban yang mungkin akan mengubah segalanya.
Sementara itu, jauh di atas permukaan tanah, di bawah langit malam yang bertabur bintang, Aura menatap ke arah cakrawala. Ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan menemukan kebenaran tentang "Indonesia", tentang Kenzo, dan tentang mengapa takdir membawanya kembali ke dunia yang terasa asing ini.