Ini kisah lanjutan #LuckyDaisy yang bercerita keluarga Buwono setelah kelahiran Kenzie. Bagaimana dokter Lucky dan istrinya dokter Daisy menikmati kehidupan rumah tangganya bersama dengan pebinor nya, Winston. Belum kasus dengan divisi kasus dingin termasuk dokter Lucky masih saja takut dengan tim arwahngers. Kemungkinan sampai kehamilan Elina dan kelahirannya yang penuh warna.
Generasi ke 8 klan Pratomo
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kasus Berhubungan
Iptu Fariz menatap pasangan Buwono yang dikenal sering asbunnya. Dia menoleh ke arah Suster Lia yang tampak panik. Masa suster mungil macam Yakult ini jodohku sih? Iptu Fariz menggelengkan kepalanya.
"Cuma asbunnya Dok Lucky dan Dok Daisy saja ini sih!" batin Iptu Fariz.
"Aku harus pergi Jeng Daisy. Oh, kalau Fariz bukan RM itu macam-macam, hajar saja! Oke?" Dokter Lucky mencium pipi istrinya dan bergegas mengikuti Suster Lia.
"Kok malah hajar aku?" tanya Iptu Fariz bingung.
"Udah yuk. Kita ke Medical Examiner," ajak Daisy sambil menarik jaket Iptu Fariz.
"Ayo Dok." Keduanya keluar dari ruang kerja dokter bedah menuju lift setelah Daisy menutup pintunya.
"Pak Fariz, kasus yang ditangani Bang Victor gimana perkembangannya?" tanya Daisy sambil masuk ke dalam lift.
"Nah itu Dok! Pak Victor lagi sebal sama tim major crimes yang tidak ada membantu kasus pembunuhan di gang. Malas mereka usut kasus itu!" jawab Iptu Fariz.
Keduanya pun masuk dan tanpa menyadari bahwa ada yang merekam mereka. Apalagi saat itu ada orang masuk terburu-buru hingga menabrak Daisy yang terdorong. Secara reflek, Iptu Fariz memeluk Daisy agar tidak jatuh. Pintu lift pun tertutup dan orang yang merekam itu tersenyum licik.
***
Medical Examiner RS Bhayangkara
"Dok Daisy!" seru Mamat saat melihat dokter kesayangannya datang. "Kita kedatangan pasien mutilasi lagi!"
Daisy dan Iptu Fariz yang baru datang itu auto terkejut. "Lagi?" seru keduanya.
"Iya ... tapi ini sudah tinggal kerangka."
"Apa? Ditemukan dimana?" tanya Daisy yang segera ke ruangannya dan melepaskan jaketnya lalu menggantinya dengan sneli yang tergantung di capstock.
"Ditemukan di hutan dekat proyek hutan mini punya PRC Group yang dekat Sentul. Kan disana sedang dibangun hutan hijau mau dibuat macam central park ... Mas Leksi yang cerita," jawab Mamat.
"Kapan kamu ketemu sama Leksi?" tanya Daisy.
"Di warung pecel lele punya Husein. Kan mas Leksi sama mbak Katrina suka makan disana."
Iptu Fariz hanya bisa melongo. Siapapun tahu Aleksei Reeves itu bule banget meskipun ayahnya Jawa campuran tapi ibunya orang Russia. Tapi darah bule lebih kental. Tapi makan pecel lele di warung kaki lima? Dan Leksi salah satu petinggi PRC Group? Seriously?
"Owalah. Disana kan memang banyak pohon yang ditanam dari jaman Opa Hoshi. Tapi kok bisa dibuang disana ya?" Daisy, Mamat dan Iptu Fariz pun masuk ke dalam ruang autopsi dimana dokter Wayan dan beberapa residen serta koas yang mengambil forensik.
"Selamat pagi. Maaf aku terlambat karena harus mengurus sesuatu di Bhayangkara," senyum Daisy.
"Pagi Dok Daisy. Sudah selesai?" tanya dokter Wayan tanpa bertanya lebih lanjut kenapa.
"Alhamdulillah sudah selesai. Mari kita mulai autopsi."
***
RS Bhayangkara Jakarta
Dokter Lucky menghela nafas lega sudah selesai menangani semua pasien yang datang bersamaan sementara para junior masih banyak gugupnya. Dokter Lucky menggerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan pertanda pegal di lehernya.
"Capek Dok?" tanya Suster Lia saat mereka berdua masuk ke dalam lift.
"Capek lah. Gila tuh anak baru belajar apaan sih? Handle gitu aja plonga plongo! Bisa mampus pasiennya!" omel dokter Lucky judes. "Pasti masuknya pakai bantuan orang dalam dan antek-antek asing!"
Suster Lia cekikikan. "Tahu nggak Dok, tadi ada yang nangis kena bentak Dok Lucky gara-gara salah suntik."
"Biarkan saja! Aku sudah bilang, aku tidak perduli dia anaknya siapa! Tapi kalau di IGD, urusannya nyawa!" balas dokter Lucky. "Dia klemak klemek, ga cak cek! Di IGD nggak ada acara jalan macam putri Solo!"
"Anu, putri Solo sakjane ya nggak klemak klemek Dok," senyum Suster Lia.
"Tapi slow living!" Dokter Lucky melepaskan kacamatanya dan mengambil lap khusus lalu mengelapnya. "Sus Lia, sampai ruangan, pesanin minuman Yakult kekinian deh. Yang segar itu dan kamu pernah pesanin."
"Yang pakai es krim strawberry kan?" tanya Suster Lia.
"Iya." Keduanya keluar dari lift dan terkejut melihat Susana menunggu di depan ruang kerja dokter bedah.
Dokter Lucky dan Suster Lia saling berpandangan. Keduanya merasa ada sesuatu yang hendak terjadi.
"Ada apa mbak Susana?" tanya Suster Lia.
"Ada yang mau aku perlihatkan pada Dokter Lucky," jawab Susana dengan wajah polos.
"Soal apa?" tanya Suster Lia yang auto pasang badan buat dokter kesayangannya.
"Aku tidak ada urusannya sama kamu, Sus! Ini soal istrinya Dokter Lucky!" hardik Susana.
"Jangan pernah membentak asisten aku!" balas dokter Lucky dengan wajah dingin. "Ada apa dengan istriku?"
Susan memberikan ponselnya dan memperlihatkan video soal Daisy yang dipeluk oleh Iptu Fariz. Suster Lia pun ikut melihat dan dia menatap ke arah dokter Lucky.
"Terus?" tanya dokter Lucky cuek sambil mengembalikan ponsel Susana.
"Anda ... Anda tidak marah Dok? Istri anda dipeluk pria lain lho!" seru Susana.
Suster Mini dan Suster Euis yang baru saja selesai visite dengan dokter Rahmat, jadi auto kepo. Ada apalagi ini?
"Posisinya, Jeng Daisy kesenggol dan pria itu memegang agar istriku tidak jatuh. Apa ada yang salah?" balas dokter Lucky.
"Anda ... Ini dipeluk lho!" Susana masih tidak percaya dokter Lucky dan Suster Lia santai saja.
"Aku kenal pria ini, nona Susana. Bahkan, kenal sangat baik dan dia seorang polisi muda. Kami baru saja berbincang sebelumnya. Jadi, kalau kamu mau membuat cerita Jeng Daisy selingkuh, kamu salah besar! Kamu tidak tahu bagaimana solidnya pernikahan kami dan dekatnya hubungan dengan polisi ini! Permisi!" Dokter Lucky lalu masuk ke dalam ruang kerjanya sementara Susana terbengong-bengong karena semuanya tidak berjalan sesuai dengan bayangannya.
Susana mengira bahwa dokter Lucky akan marah dan membuat perhitungan dengan pria yang ada di video. Siapa sangka ternyata mereka saling kenal! Dirinya merasa kesal dengan situasi ini! Gadis itu pun berbalik dengan mendorong kursi rodanya tanpa berkata apapun pada Suster Lia dan tiga orang yang berada disana.
"Ada apa Lia?" tanya dokter Rahmat.
"Susana ternyata merekam saat Dok Daisy bersama pak Fariz masuk ke dalam lift. Ada orang menyenggol Dok Daisy yang langsung dipegangi oleh Pak Fariz. Nah, rekaman itu dipakai Susana biar Dok Lucky dan Dok Daisy ribut," jawab Suster Lia.
"Lha? Mau fitnah Fariz?" tanya dokter Rahmat bingung. "Demi ... Dok Lucky?"
Suster Lia mengangguk.
"Gak beres!" umpat dokter Rahmat.
***
Sementara itu di Medical Examiner RS Bhayangkara
"Kok model sayatannya sama dengan mayat yang di temukan kemarin ya Dok? Bedanya ini sudah bentuk kerangka tapi bekas di tulang sama," ucap Daisy.
"Aku juga merasa begitu. Pelakunya sama dan sama-sama tangan kanan." Dokter Wayan menatap semua orang. "Yang mana, akan mempersulit kita karena sembilan puluh persen tujuh persen orang Indonesia tangan kanan."
"Hasil penelitian, jumlah orang kidal di Indonesia tergolong rendah, dengan estimasi sekitar 3,39 persen dari populasi, menjadikannya salah satu negara dengan persentase penduduk kidal terendah di dunia. Angka ini jauh di bawah rata-rata global yang berada di kisaran 10–12 persen. Apalagi ditunjang dengan budaya harus pakai tangan kanan yang sopan," timpal Daisy.
"Kalau cara memutilasinya sama, sudah pasti alatnya sama!"
***
Yuhuuu up Siang yaaaa gaaeeessss
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu
hikksss.....
kasihan banget flint, padahal dia nggak tau apa-apa
ayahnya itu ampun deh...
ibunya juga kurang aware😓😓😓
lgian,spa jg yg bkln sbar kl ktmu orng ga wrs ky gt....bgus bgt idenya dok gabut yg mau bkin dia gatal2,biar kapok....
yang dikhawatirkan sama kan.... pispot🤣🤣🤣🤣