NovelToon NovelToon
Elegi Devan

Elegi Devan

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri
Popularitas:257
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Kehidupan kampus Anya yang monoton dan tanpa emosi mendadak runtuh ketika mahasiswa pindahan bernama Devan muncul. Sikap dingin Devan, tatapan penuh kebencian sekaligus kerinduan, dan rahasia kelam tentang kecelakaan masa lalu Anya yang terlupakan, perlahan menyeret gadis itu ke dalam realitas bahwa hidupnya selama ini adalah sebuah kebohongan yang dirancang rapi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24: Suara yang Tak Lagi Terbungkam

​Pagi ini, udara Jakarta tidak beraroma lavender. Ia berbau aspal basah, asap knalpot yang pekat, dan kecemasan yang menggantung di antara gedung-gedung beton. Aku berdiri di depan cermin besar di kamar fasilitas medis Kejaksaan, menatap bayangan seorang wanita yang hampir tidak kukenali.

​Aku tidak lagi mengenakan gaun sutra berwarna pastel yang dipilihkan Ayah untuk membuatku terlihat seperti boneka porselen yang rapuh. Aku memilih kemeja putih polos dengan potongan tegas dan celana bahan berwarna hitam. Rambutku yang biasanya dibiarkan terurai panjang kini kuikat rapi ke belakang, memperlihatkan rahangku yang mengeras dan mata yang—meski masih dikelilingi lingkaran hitam akibat kurang tidur—memancarkan api yang sudah lama padam.

​Tanganku sedikit gemetar saat aku menyentuh pergelangan tangan kiriku. Parut tipis itu masih ada di sana, sebuah tanda permanen dari pengkhianatan Ayah. Namun hari ini, parut itu bukan lagi tanda kelemahan. Ia adalah bukti bahwa aku adalah seorang penyintas.

​"Kau terlihat seperti seseorang yang siap memenangkan perang," suara Devan terdengar dari ambang pintu.

​Aku menoleh. Devan berdiri di sana, mengenakan jaket kulit hitamnya yang sudah dibersihkan dari sisa-sisa pelarian di pesisir. Ia tampak lebih segar, meski perban di lengannya masih terlihat di balik kaos hitamnya. Matanya yang tajam mengunci mataku, memberikan rasa aman yang tidak bisa diberikan oleh tembok beton setebal apa pun.

​"Aku tidak ingin memenangkan perang, Devan," bisikku sambil berjalan mendekatinya. "Aku hanya ingin mengakhiri kebohongan ini. Aku ingin dunia tahu bahwa aku bukan proyek ilmiah, bukan aset bisnis, dan bukan gadis gila yang butuh diselamatkan oleh predator seperti Bima."

​Devan meraih tanganku, jemarinya yang kasar namun hangat menenangkan getaran di nadiku. "Dunia akan mendengarmu, Anya. Dan aku akan berdiri tepat di belakangmu. Jika ada satu pun kamera atau satu pun orang yang mencoba mendekatimu dengan niat buruk, mereka harus melewatiku dulu."

​Aku tersenyum tipis. "Terima kasih, Van. Untuk tetap menjadi variabel yang tidak bisa mereka kontrol."

​Konferensi pers diadakan di aula utama Gedung Kejaksaan Agung. Suasananya kacau. Puluhan jurnalis dari berbagai media nasional dan internasional sudah berdesakan di sana, dipisahkan oleh barikade polisi bersenjata lengkap. Lampu kilat kamera menyambar-nyambar seperti kilat di tengah badai, menciptakan kilauan yang menyakitkan mataku yang sensitif.

​Jaksa Satria berjalan di depan kami, wajahnya tampak sangat serius. Ia membisikkan sesuatu kepada petugas keamanan sebelum membukakan pintu samping menuju podium.

​"Ingat, Anya," Satria menoleh padaku sejenak. "Bicara dengan jujur. Jangan biarkan pertanyaan mereka memancing emosimu. Bima sedang menonton ini dari suatu tempat, dan dia menunggu kau melakukan kesalahan agar dia bisa menyebutmu 'tidak stabil'."

​Aku mengangguk. Aku menarik napas panjang, mengisi paru-paruku dengan keberanian yang baru saja kurakit kembali.

​Saat aku melangkah masuk ke aula, suara riuh rendah seketika berubah menjadi keheningan yang mencekik. Ratusan pasang mata tertuju padaku. Aku bisa merasakan tatapan mereka yang penuh rasa ingin tahu, kecurigaan, dan rasa kasihan. Aku benci rasa kasihan.

​Aku duduk di kursi tengah podium. Devan berdiri tepat di belakangku, kedua tangannya bertumpu di sandaran kursiku—sebuah pernyataan bisu bahwa ia adalah perisaiku. Jaksa Satria berdiri di samping, menyesuaikan mikrofon.

​"Selamat pagi, rekan-rekan media," suara Satria menggema di aula. "Hari ini, Nona Anya Kusuma hadir untuk memberikan pernyataan resmi terkait dugaan malapraktik medis, korupsi infrastruktur Proyek Sudirman, dan konspirasi penghapusan memori yang melibatkan Hendra Kusuma dan Dirgantara Group."

​Aula seketika meledak dengan suara jepretan kamera. Aku memejamkan mata sejenak, membayangkan melodi piano di Ruang Musik—frekuensi yang menyelamatkanku. Saat aku membuka mata, aku melihat ke arah lensa kamera yang paling depan. Aku membayangkan Bima ada di balik lensa itu, menonton kehancurannya sendiri.

​"Nama saya Anya Kusuma," suaraku keluar, awalnya sedikit bergetar, namun perlahan menjadi jernih dan kuat. "Selama tiga tahun terakhir, banyak dari kalian mengenal saya sebagai putri tunggal Hendra Kusuma yang malang, yang menderita amnesia akibat kecelakaan tragis. Kalian mengenal saya sebagai tunangan Bima Dirgantara, sebuah simbol persatuan dua kekuatan ekonomi besar."

​Aku berhenti sejenak, membasahi bibirku yang kering.

​"Semua itu adalah kebohongan," lanjutku, suaraku kini memenuhi setiap sudut ruangan. "Saya tidak menderita amnesia alami. Memori saya dihapus secara sistematis melalui prosedur medis ilegal yang disebut 'Proyek Elegia'. Saya diberikan zat kimia penstabil saraf untuk memastikan saya lupa bahwa ayah saya sengaja memalsukan laporan audit baja Proyek Sudirman—sebuah proyek yang runtuh dan merenggut nyawa orang-orang tidak bersalah."

​Suara bisik-bisik mulai menjalar di aula. Beberapa jurnalis mulai mengetik dengan cepat di laptop mereka.

​"Ayah saya dan keluarga Dirgantara tidak memperlakukan saya sebagai anak atau manusia," aku melanjutkan, air mata mulai menggenang namun aku menolak untuk membiarkannya jatuh. "Saya adalah jaminan. Saya adalah mahar untuk sebuah kontrak bisnis triliunan rupiah yang didasari di atas darah dan kebohongan. Dan Devan Mahendra..." aku menunjuk ke arah Devan di belakangku, "...dia bukan penculik saya. Dia adalah satu-satunya orang yang mempertaruhkan nyawanya selama seribu hari untuk mengingatkan saya bahwa saya punya hak untuk memiliki hidup saya sendiri."

​Tiba-tiba, seorang pria berpakaian rapi berdiri di barisan tengah. Dia adalah salah satu pengacara senior keluarga Dirgantara.

​"Nona Anya!" serunya dengan nada meremehkan. "Bagaimana kami bisa percaya pada pengakuan seseorang yang rekam medisnya dengan jelas menyatakan adanya gangguan disosiatif berat? Bukankah apa yang Anda katakan sekarang hanyalah hasil cuci otak dari pemuda di belakang Anda yang memiliki catatan kriminal?"

​Devan maju selangkah, rahangnya mengeras, namun aku menahan lengannya. Aku menatap pengacara itu dengan tatapan paling tajam yang pernah kumiliki.

​"Dokumen medis yang Anda maksud ditandatangani oleh Dokter Frans Sugiarto, yang sekarang sedang dalam penahanan karena kejahatan kemanusiaan," balasku dingin. "Jika keberatan Anda didasari pada kondisi mental saya, maka Anda juga harus menjelaskan mengapa Dirgantara Group bersedia menjaminkan saham triliunan rupiah pada seseorang yang Anda sebut 'gila' dalam kontrak pernikahan mereka."

​Pengacara itu terdiam, wajahnya memucat. Skakmat.

​Aula kembali riuh. Aku melanjutkan pernyataanku, membeberkan detail aliran dana yang kutemukan di folder Red-Alpha. Aku menyebutkan nama-nama vendor, tanggal transfer, dan memo rahasia yang melibatkan ayah Bima.

​Di tengah penjelasanku, aku merasakan sebuah getaran aneh di udara. Pandanganku beralih ke layar televisi besar di sudut ruangan yang menyiarkan berita secara langsung. Di sana, muncul sebuah breaking news: Kebakaran besar melanda kantor pusat Dirgantara Group di pusat kota.

​Mereka sedang menghancurkan barang bukti.

​"Mereka takut," bisik Devan di dekat telingaku. "Suaramu baru saja membakar gedung mereka."

​Setelah konferensi pers berakhir, Satria segera mengawal kami kembali ke area aman. Namun, saat kami melewati koridor yang menuju rubanah, seorang petugas keamanan Kejaksaan berlari menghampiri dengan wajah pucat.

​"Pak Jaksa! Ada kiriman paket untuk Nona Anya. Baru saja ditinggalkan di lobi depan oleh kurir tanpa identitas."

​Paket itu adalah sebuah kotak hitam kecil berhiaskan pita emas—sangat kontras dengan situasi yang mencekam ini. Satria memeriksa kotak itu dengan alat pendeteksi logam sebelum mengizinkanku membukanya.

​Di dalamnya, terdapat sebuah kunci kuno yang sudah berkarat dan selembar kartu bertuliskan:

'Selamat atas pertunjukanmu, Anya. Tapi ingat, kunci ini membuka kotak musik ibumu di gudang lama. Ada satu rahasia yang bahkan Devan tidak tahu. Datanglah ke sana sendirian dalam dua jam, atau Devan tidak akan pernah sampai ke pengadilan besok.'

​Tertanda: B.

​Duniaku seolah berputar. Bima tidak menggunakan media lagi. Dia menggunakan cara-cara yang paling ia sukai: teror personal.

​Aku menatap Devan yang sedang berbicara dengan petugas lain. Aku tidak bisa memberitahunya. Jika Devan tahu, dia akan membakar tempat itu dan mengorbankan nyawanya. Tapi jika aku tidak pergi, Bima memiliki jaringan yang cukup luas untuk menjangkau Devan bahkan di dalam perlindungan Kejaksaan.

​Aku meremas kartu itu di dalam genggamanku hingga telapak tanganku sakit. Aku harus melakukan ini. Ini adalah kaset terakhir yang harus kuperbaiki sendirian.

​[KILAS BALIK SINEMATIK]

​FADE IN:

​INT. GUDANG LAMA RUMAH KUSUMA - MALAM HARI (10 TAHUN LALU)

​Suasana sangat gelap dan berdebu. ANYA kecil (9 tahun) sedang mencari bonekanya yang hilang. Ia merangkak di antara tumpukan furnitur lama yang ditutupi kain putih, mirip seperti hantu di kegelapan.

​Tiba-tiba, ia mendengar suara percakapan dari balik tumpukan kotak besar. Ia melihat AYAHNYA sedang berbicara dengan WIJAYA DIRGANTARA (Ayah Bima).

​WIJAYA DIRGANTARA

"Istrimu sudah tahu terlalu banyak, Hendra. Dia menemukan bukti tentang baja itu. Jika dia tidak diam, proyek kita akan dihentikan sebelum kita sempat mendapatkan keuntungan."

​HENDRA KUSUMA

(Suaranya sangat berat, penuh keraguan yang menyakitkan)

"Dia ibu dari anakku, Wijaya. Aku tidak bisa begitu saja menyingkirkannya."

​WIJAYA DIRGANTARA

"Pilihlah, Hendra. Putrimu tetap memiliki ibu tapi hidup dalam kemiskinan karena kita masuk penjara, atau putrimu kehilangan ibu tapi dia akan menjadi ratu di kota ini? Bima menyukai Anya. Mereka bisa menjadi masa depan kita."

​Hendra terdiam lama. Di kegelapan, Anya kecil melihat ayahnya perlahan mengangguk.

​HENDRA KUSUMA

"Lakukan dengan rapi. Pastikan Anya tidak melihat apa-apa."

​Anya kecil menutup mulutnya, air matanya menetes mengenai kotak musik milik ibunya yang tergeletak di sampingnya. Ia memegang kunci kotak musik itu erat-erat—kunci yang sama yang kini ada di tangan Anya dewasa.

​ANYA (V.O)

(Suaranya bergetar penuh amarah yang terpendam)

"Malam itu, Ayah tidak hanya menjual hidupku. Dia menjual nyawa ibuku demi sebuah kerajaan yang kini runtuh karena kata-kataku. Bima ingin aku kembali ke gudang itu untuk mengingatkanku pada rasa takutku. Tapi dia lupa... aku bukan lagi gadis kecil yang bersembunyi di balik kotak. Aku adalah badai yang akan menyapu bersih sisa-sisa nafas mereka."

​Layar perlahan memudar menjadi warna merah pekat, diiringi suara detak jantung yang sangat keras dan suara kunci yang diputar di dalam lubangnya.

​FADE OUT.

1
Afri
gila bener ayahnya Anya .. sedendam itu sama Devan
apa ayah Devan yg membunuh ibu Anya ??
Afri
ternyata Devan ada d kehidupan Anya sebelum kecelakaan
Misterios_Man: masih revisi kak masih agak bingung, tapi ya nikmatin aja lah😄
total 1 replies
marchang
lanjuttt thorr
Misterios_Man: Siap boss/Ok/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!