⚠️ ***+ | Kisah Cinta segitiga
Valencia kehormatannya direnggut, hatinya terbelah.
Valencia hancur saat kehormatannya direnggut oleh Ansel—pria yang hadir diantara cinta Valencia dan Zyro,. Namun Zyro, kekasihnya yang sangat mencintainya, tetap ingin menerima apa adanya dan ingin menikahinya.
Keduanya mengaku mencintainya, keduanya tak ada mau mengalah. Perkelahian sengit pun terjadi, hingga di batas keputusasaan, Valentina harus melukai dirinya sendiri hanya agar mereka mau berhenti...
Melihat wanita yang mereka cintai terbaring penuh darah, akhirnya kedua pria itu mengambil keputusan berat: mereka berdua akan menikahi Valen dan berjanji menjaganya bersama-sama.
Dua pria, satu wanita.
Akankah cinta bisa menyatukan mereka, atau malah membawa pada kehancuran yang lebih dalam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Wisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Olah raga pagi
Pagi mulai menjelang, cahaya matahari perlahan masuk melewati celah jendela kamar. Valencia mulai sadar dari tidurnya, namun tubuhnya terasa berat dan nyaman. Perlahan namun pasti, ia mulai merasakan sensasi aneh di sekujur tubuhnya. Ada sentuhan hangat dan hisapan lembut namun rakus di bagian dadanya, dan kacang pada lembahnya. Semakin lama sensasi itu terasa semakin nyata, membuatnya merasa geli, panas, dan timbul rasa nikmat yang aneh namun begitu memikat, hingga membuatnya sulit menahan desahan yang mau lolos.
"Shhh... ah..." desisnya pelan, suaranya terdengar serak dan lemah karena masih mengantuk namun sudah terbawa perasaan.
Zyro yang berada di bagian bawah lebih peka mendengar suara lirih itu. Ia sadar bahwa Valencia sudah terbangun. Tanpa berhenti dari kegiatannya, tangannya perlahan dan lembut mulai mengelus dan membelai kaki jenjang Valencia, memberikan tanda secara diam-diam bahwa ia tahu wanita itu sudah sadar dan ia pun sudah terjaga sepenuhnya.
"Shh... apa kalian berdua sebenarnya sudah tidak waras atau bagaimana, hem?" gumam Valencia dengan suara yang masih terdengar berat dan serak sambil mencoba membuka matanya perlahan. Wajahnya bersemu merah menahan rasa malu dan nikmat yang bercampur aduk.
"Hmm... maaf, Sayang. Tapi rasanya ini sudah menjadi candu bagiku, Valen... aku tidak bisa berhenti," jawab suara Ansel samar-samar, mulutnya masih sibuk dan rakus menghisap puncak gunung di dada Valencia seolah itu adalah sumber kehidupan baginya. Gerakannya begitu bernafsu, lembut namun dalam, membuat tubuh Valencia semakin melengkung menikmati setiap sentuhannya.
Dengan sentuhan nikmat yang datang secara bersamaan dari atas dan bawah, tubuh Valencia seolah terangkat tinggi, melayang di atas awan, tenggelam dalam kenikmatan yang begitu dahsyat dan luar biasa. Ia mulai mengigau dan meracau tak karuan, suaranya terdengar berbisik, memanggil nama kedua pria itu sambil tangannya mencengkeram bantal atau rambut mereka dengan kuat sebagai tanda bahwa ia sudah tidak sanggup menahannya lagi.
Melihat keadaan Valencia yang sudah sangat terangsang dan lemas tak berdaya di bawah sentuhan mereka, Zyro perlahan melepas celana pendek yang ia kenakan hingga jatuh ke pergelangan kakinya. Tangannya yang kanan mulai bekerja dengan cekatan dan terampil pada dirinya sendiri, membelai dan menggerus rudalnya yang sudah berdiri tegak dan keras menahan ha*rat yang memuncak. Di atas sana, Ansel pun melakukan hal yang sama. Tangannya sibuk mengurusi dirinya sendiri, menggerus dan mengusap rudalnya yang besar dan keras, menahan agar tidak meledak terlalu cepat sebelum waktunya.
Valencia benar-benar sudah tidak sanggup lagi menahan derasnya rangsangan yang datang dari dua arah sekaligus. Tubuhnya menegang seketika, napasnya tertahan, dan akhirnya ia mencapai puncak kenikmatannya dengan dahsyat, membiarkan gelombang rasa nikmat itu meluluhlantakkan seluruh raganya. Namun kedua pria itu belum berhenti, mereka terus mempermainkan dan memuaskannya hingga kemudian Valencia kembali mencapai puncaknya untuk kedua kalinya.
Dan tepat di saat yang sama, seolah saling memberi sinyal, Zyro dan Ansel pun sama-sama tidak sanggup menahannya lagi. Mereka meledakkan rudalnya serentak, melepaskan seluruh hasrat dan ketegangan , menembak kan semburan hangat dan kental yang keluar deras, tumpah membasahi kulit mereka masing-masing dan bagian tubuh Valencia, seolah menandakan bahwa mereka berdua sama-sama telah mencapai kepuasan dan kenikmatan tertinggi bersama wanita yang mereka cintai.
Setelah beberapa saat terbaring diam menikmati sisa-sisa rasa nikmat itu, Valencia perlahan bangkit dari tempat tidur. Tubuhnya masih terasa sedikit lemas namun hatinya terasa sangat tenang dan bahagia. Ia melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya sepenuhnya.
Sementara itu, Ansel dan Zyro pun ikut bangkit dari posisi masing-masing. Mereka meraih tisu di dekat sana, mulai membersihkan sisa cairan dan kotoran yang menempel di tubuh maupun di tempat tidur.
"Kau bereskan ini, Zyro," ucap Ansel sambil melempar tisu bekas ke arah sembarang tempat dengan santai.
Zyro menatapnya dengan tatapan malas dan tak terima. "Kenapa tidak kau saja yang membereskannya, Ansel? Bukannya kau yang paling banyak membuat kekacauan di sini," balasnya ketus.
Ansel hanya tersenyum tipis, lalu berdiri tegak dan mulai merapikan pakaiannya. "Aku tidak sempat, aku akan pergi ke dapur untuk menyiapkan makanan kita. Jadi tugas membereskan kamar ini jatuh padamu," jawabnya santai seolah itu hal yang wajar.
Ansel mengerutkan keningnya, menatap zyro dengan tatapan menantang. "Kau pilih yang mana, hm? Siapkan makanan atau bereskan kamar? Pilihlah salah satu," tantangnya.
zyro diam sejenak, lalu mengangkat bahunya acuh tak acuh. "Hm... Baiklah, aku memilih membereskan kamar, Silakan kau selesaikan urusanmu di didapur," jawabnya ringan, lalu Ansel berjalan santai keluar kamar menuju dapur, meninggalkan Zyro yang mendengus kesal sendirian.
Tak lama kemudian, pintu kamar mandi terbuka. Valencia keluar dalam keadaan sudah bersih dan segar, ia pun sudah mengenakan pakaian kerjanya yang rapi dan sopan. Saat ia memandang ke sekeliling kamar, ia terkejut melihat bahwa kamar yang tadinya tampak berantakan kini sudah tertata rapi dan bersih kembali. Bahkan seprai dan sarung bantal pun sudah diganti dengan yang baru dan bersih.
Valencia tersenyum tipis melihat itu, lalu berjalan mendekati meja riasnya. Ia membuka kotak kosmetiknya, mengoleskan krim pelembut ke wajah dan lehernya dengan lembut. Setelah itu, ia menebarkan bedak tipis di pipinya agar wajahnya terlihat segar dan cerah, lalu mengoleskan sedikit lipstik berwarna lembut di bibirnya agar penampilannya terlihat sempurna namun tetap sederhana.
Zyro yang sejak tadi duduk di pinggir kasur sambil menatap gerak-gerik Valencia, akhirnya membuka suaranya.
"Apakah kau benar-benar akan mulai bekerja hari ini, Valen?" tanyanya lembut, nadanya terdengar sedikit keberatan namun ia sadar ia tidak bisa melarangnya.
Valencia menoleh menatap bayangan Zyro di cermin, lalu mengangguk perlahan. "Ya, aku harus pergi ke kantor, Zyro. Sudah hampir tiga minggu aku meninggalkan pekerjaanku, dan aku khawatir banyak hal yang menumpuk di sana," jawabnya tenang.
Perusahaan arsitek yang dimaksud memang masih terbilang kecil dan baru berkembang, namun itu adalah usaha miliknya sendiri, hasil kerja keras dan keringatnya selama bertahun-tahun. Ia sangat menyayangi dan menganggap perusahaan itu sebagai anak kandungnya sendiri.
"Nanti biar aku yang mengantarmu ke kantor, ya," kata Zyro tegas, tidak memberi kesempatan untuk ditolak.
Valencia tersenyum manis padanya. "Hm... Baiklah, " jawabnya lembut.
Mereka pun berjalan keluar dari kamar bersama-sama menuju ruang makan. Sesampainya di sana, mereka mendapati Ansel yang sedang sibuk di dekat meja makan, tangannya cekatan menyusun piring dan makanan yang sudah disiapkannya.
"Tunggulah sebentar, semuanya hampir selesai," seru Ansel saat melihat kedatangan mereka berdua. Ia lalu menoleh ke arah Zyro. "Zyro, tidak bisakah kau sedikit membantuku? Setidaknya bawalah makanan-makanan ini ke atas meja makan agar semuanya cepat selesai," pintanya sambil menunjuk beberapa mangkuk dan piring yang masih ada di meja samping.
Zyro melipat tangannya di dada, menatap Ansel dengan tatapan mengejek. "Kau sendiri yang memilih untuk menyiapkan sarapan, kan? Jadi selesaikanlah sendiri tugasmu itu. Aku sudah menyelesaikan tugasku membereskan kamar tadi," jawabnya santai dan tidak mau kalah.
"Hais... kau ini susah sekali disuruh," keluh Ansel sambil menggelengkan kepalanya melihat tingkah sahabatnya itu.
Meski begitu, Zyro sebenarnya tidak tega melihat Ansel bekerja sendirian. Ia mendengus pelan, lalu melangkah mendekat dan mulai membantu membawa serta menyusun makanan di atas meja makan dengan cekatan.
Setelah semuanya siap, mereka bertiga duduk mengelilingi meja makan dan menikmati sarapan bersama dalam suasana yang hangat dan menyenangkan. Suasana itu terasa begitu akrab dan penuh kasih sayang, seolah mereka adalah keluarga yang sudah hidup bersama sejak lama.