NovelToon NovelToon
Suamiku Dokter Dewa

Suamiku Dokter Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Penyelamat / Epik Petualangan
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Sayap perak

Alvian Wira. Di panggung internasional, dunia mengenalnya sebagai Hades, Dokter Dewa, karena kemampuan medisnya luar biasa. Tapi setelah kembali ke Indonesia, dia hanya seorang dokter umum biasa yang mendirikan sebuah klinik kecil di pinggir kota.

Konflik kepemilikan tanah membawanya ke sebuah pernikahan dengan anak direktur rumah sakit terkenal, Clarissa Amartya. Dokter SpJP yang hanya ingin fokus dengan karirnya, tapi dipaksa menikah dengan ancaman mencabut izin prakteknya.

Clarissa yang dingin seperti kulkas, Alvian yang pecicilan dan suka menggoda. Dua kepribadian tinggal bersama, perlahan menumbuhkan perasaan.

Namun, ketika perasaan itu mulai tumbuh, masalah datang silih berganti, hingga mengungkap kebenaran tentang masa lalu Alvian. Tentang siapa dia sebenarnya, dan alasan kenapa dia menyembunyikan semuanya.

Apakah Clarissa bersedia menerima Alvian? Terlebih setelah mengetahui jika Alvian yang ia kenal selama ini, hanyalah topeng untuk menutupi identitas dan masa lalunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sayap perak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27 : Hole In One!

"Hole in one!"

Kali ini dr. Hendra yang berseru. Dia tertawa begitu puas, sambil mengejek keempat temannya.

"Kalian lihat itu? Satu, kosong, kosong, kosong, kosong. Hahahahahah... "

Sosok pria berwibawa tadi benar-benar hilang entah ke mana. Dia terlalu senang, hingga tak segan mengeluarkan seluruh ekspresinya. Sedangkan empat pria paruh baya kini tampak kusut dan berkacak pinggang. Mata mereka tertuju ke Alvian. Junior yang beberapa menit lalu bilang "cuma bisa sedikit", tapi malah membuat pukulan "hole in one".

Marah, iya. Kesal, sudah pasti. Tapi mereka tidak bisa melakukan apapun, dan berpura-pura tetap tenang.

"Alvian, kamu sungguh keterlaluan. Saya pikir kamu benar-benar pemula, ternyata pura-pura lemah. Menjadi ikan kecil untuk memakan ikan besar." Dokter Heru mengeluh, tapi pada akhirnya tertawa dan menepuk pundak Alvian.

"Beruntung, Om. Cuma beruntung."

Dokter Nurkhozin lewat di depan Alvian dan berdecak. "Dari kemarin di pesta kamu terus bilang beruntung. Apa ada keberuntungan yang datang terus-menerus?"

"Hahahaha... " Dokter Hendra masih tertawa. "Hei, kalian jangan memojokkan menantuku. Pahlawan sejati selalu tahu cara mengakui kekalahan."

"Ini baru hole 1, terlalu cepat untuk tahu siap yang kalah," kata Pak Bambang, diangguki oleh tiga orang lainnya.

Di hole 2, Alvian memulai pukulan yang pertama. Meski bukan hole in one, tetapi itu jelas bukan suatu yang dapat dilakukan pemula.

Wajah Pak Bambang dan yang lain menjadi jelek.

"Bocah ini... Dia benar-benar menipu kita," kata Pak Usman.

Dokter Heru tertawa. "Hendra, di mana kamu mendapatkan menantu seperti ini? Banyak sekali kelebihannya."

"Di mana? Sekalipun cerita kalian juga tidak mungkin percaya." Bukan pesta mewah, bukan acara penghargaan. Tapi pertemuan pertama mereka terjadi di rumah sakit, ketika Alvian antar ibunya kontrol.

"Heru, sekarang giliranmu. Semua sudah memukul."

Dokter Heru kemudian melakukan pukulan. Namun hasilnya di luar kendali. Alih-alih mendarat lurus, bola malah masuk ke bunker.

"Sial! Aku tidak beruntung. Aku menyerah di sesi ini."

Tersisa empat orang. Pak Usman memulai pukulan kedua karena bolanya paling belakang, kemudian dr. Nurkhozin, lalu Pak Bambang.

Bola Pak Bambang sudah sangat dekat dengan hole. Satu pukulan lagi sudah pasti akan berakhir.

Di sisi lain Alvian mengambil ancang-ancang. Jika dilihat posisi bola sedikit tidak menguntungkan karena berada di sisi lapangan yang agak miring. Namun, dengan teknik yang sempurna, tenaga yang pas, bola terangkat dan mendarat tepat masuk ke dalam hole.

"..."

Empat paman menepuk jidat bersamaan, sedangkan dr. Hendra kembali berseru seolah dirinya lah yang memasukkan bola.

"Sudah. Ini benar-benar berakhir. Kami menyerah." Pak Usman meletakkan stik golf miliknya dan berjalan ke mobil mengambil air mineral.

Dokter Heru dan Dokter Nurkhozin menyusul, sementara Pak Bambang, meskipun tampak enggan, tetapi juga harus mengakui kemampuan Alvian berada di atasnya.

"Hendra, sekarang aku akan telpon sekretaris ku dan memintanya mengatur kontrak."

Setelah Pak Bambang, tiga lainnya juga menghubungi sekretaris masing-masing. Membuat dr. Hendra tak berhenti sumringah.

"Jika begitu, aku tidak akan sungkan," ucapnya.

Mereka duduk di mobil, menenggak air. Beristirahat sejenak sambil menarik nafas. Berusaha menenangkan diri setelah kehilangan uang puluhan milyar.

"Pa!"

Saat itu, Clarissa datang. Dengan pakaian olahraga, topi putih, membawa tas golf, berjalan mendekat. Di sampingnya seorang gadis seusia dirinya berjalan sambil membawa stik golf. Alvian sempat melihatnya di pesta kemarin, dia adalah salah satu teman Clarissa.

"Oh.. Papa pikir kamu tidak akan datang. Karena sudah di sini, kenapa tidak langsung main, sekalian ajak suami kamu."

"Ya. Bawa dia pergi. Jika tidak, kami akan kehilangan lebih banyak uang." Dokter Nurkhozin menyahut. Tetapi ucapannya itu membuat Clarissa yang baru datang bingung, dan bertanya-tanya.

"Pa, sebenarnya ada apa? Apa Alvian buat masalah?"

"Tidak. Dia tidak buat masalah. Malahan, dia bantu Papa dapatkan investasi dari mereka. Masing-masing 50 milyar."

Dokter Heru bangkit dari kursi, berkata, "Clara, suami kamu ini sungguh jago. Dia bisa menang dua sesi berturut-turut, bahkan melakukan hole in one. Kami berempat tidak bisa mengalahkannya, jadi terpaksa investasi 50 milyar sesuai kesepakatan."

Clarissa menyipitkan mata. Monica, teman Clarissa yang mendengar juga tidak bisa menyembunyikan keterkejutan.

"Clara, bukankah kamu bilang suami kamu tidak bisa main? Tapi kata dr. Heru dia sangat jago."

Clarissa tidak tahu harus berkata apa. Masalahnya, dia bilang ke Monica jika Alvian kemungkinan tidak bisa bermain. Itu hanya tebakan, karena Clarissa tidak pernah mengetahuinya.

"..."

___

Pada akhirnya, Alvian mengikuti Clarissa bermain dengan Monica. Pergi ke hole 15, di mana posisinya berada di dekat danau.

Alvian tidak ikut memukul, dia membawa tas, berperan menjadi caddy.

"Clara, kenapa tidak minta suami kamu ikut bermain? Aku ingin lihat apakah dia benar-benar jago, atau hanya beruntung."

Clarissa menatap Alvian. Sedetik berpikir, detik kemudian memanggil Alvian dan memberikannya stik golf.

"Kamu juga main. Main yang serius, atau... "

Kata terakhir bernada ancaman. Tapi bukannya takut, Alvian tersenyum semakin lembut.

"Siap, istri, laksanakan."

Seperti suami takut istri, Alvian mengikuti perkataan Clarissa. Dia bermain dengan serius, meski tak mengeluarkan seluruh kemampuannya. Meski begitu, tetap hal tersebut membuat Clarissa sulit percaya.

"Dokter, bisa masak, cuci baju sendiri, jago main golf. Ada berapa banyak keahliannya?" batin Clarissa.

Alvian menoleh saat menyadari Clarissa sedang menatapnya. Dia melambaikan tangan, membuat pose, yang membuat Clarissa langsung memalingkan wajahnya.

"Clara, suami kamu benar-benar mencintai ugal-ugalan. Apa kamu sama sekali tidak merasakan sesuatu? Kalian sungguh terlihat seperti pasangan yang cocok."

Clarissa mengambil bola, melakukan pukulan. Dia pura-pura tidak mendengar apa yang dikatakan Monica.

1
Agos Widodo
mulai dapat musuh ini🤣🤣🤣🤣
Joni Walinton Butarbutar
mantap
Joni Walinton Butarbutar
keren
irawan muhdi
lanjut 🙏
Aang Reza
leng shui kapan di novelkan tor?
Teh Gelas: Dre*ame.. tanpa bintang. Judulnya "Kembalinya Sang Legenda" - Berbayar, sudah tamat.
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!