Novel ini menceritakan seorang gadis bernama BIANCA yang masih kebingungan antara BARRA cinta lamanya yang berakhir karena kesalapahaman yang di buat oleh AZA teman kecil dari BARRA , atau LEO orang baru yang membuat DIA bangkit kembali menjalani hari hari dengan ceria. namun bukan kisah cinta mereka saja yang rumit , Bianca juga menjalani hidup yang tidak mudah di mana dia seorang anak yatim piatu .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yolanda Fitri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#Janji
Ella tersadar dari lamunannya. Dengan nada santai, ia menjawab pertanyaan Dinda sambil berusaha menyembunyikan kegelisahannya, "Gue tadi cuma mikirin... dari mana Gue harus mulai cari petunjuk dan menyelidiki masalah ini," ucap Ella terpaksa berbohong. Ia melakukan itu demi melindungi Dinda. Jika benar dugaan Ella bahwa Aza adalah dalang di balik semua kejadian itu, maka Aza adalah orang yang sangat berbahaya dan kejam. Ella tidak mau mengambil risiko apa pun yang bisa membahayakan keselamatan Dinda seperti yang terjadi pada Bianca.
Agar percakapan tidak terasa aneh dan mengalir begitu saja, Ella pun mulai bertanya tentang sosok Barra. "Ngomong-ngomong, sebenarnya siapa sih Barra buat Bianca? Kenapa dia peduli banget sama Bianca, bahkan dulu sampai mencari gue ke mana-mana dan ke pelosok negeri cuma demi untuk menolong kasus Bianca?" tanya Ella penasaran.
Dinda menceritakan semuanya dengan jujur dan terbuka. Baginya, Ella sekarang sudah menjadi bagian dari keluarga dan sahabat sejati mereka, jadi tidak ada lagi rahasia yang perlu ditutup-tutupi. "Dia itu mantan pacar Bianca waktu mereka masih duduk di bangku SMA dulu," jawab Dinda santai.
Ella mengerutkan keningnya bingung. "Lho, kalau begitu berarti mereka sudah putus lama kan? Terus kenapa sikap Barra masih sangat peduli dan rela berkorban sejauh itu buat Bianca? Gue lihat tatapan dan perlakuannya sama Bianca itu bukan sekadar rasa kasihan biasa," tanya Ella lagi.
"Ya, soalnya sekarang Barra lagi berjuang buat dapetin hati Bianca lagi. Dulu mereka putus cuma gara-gara kesalahpahaman bodoh aja, lho. Sebenarnya mereka sama-sama masih saling sayang dan cinta cuman ada hal yang membuat Bianca menahan hal itu," jelas Dinda panjang lebar.
Semakin penasaran dengan kisah masa lalu mereka, Ella menyuruh Dinda untuk menceritakan semuanya secara rinci dan lengkap tanpa ada yang terlewat. Dinda pun menuruti permintaan itu. Ia mulai bercerita dari awal, bagaimana Barra tiba-tiba pergi meninggalkan Indonesia dan menitipkan sepucuk surat untuk Bianca kepada Aza, bagaimana Bianca merasa sangat marah dan kecewa karena merasa ditinggalkan begitu saja, hingga saat Barra kembali dan mencoba menjelaskan semuanya, barulah terungkap fakta mengejutkan bahwa surat asli dari Barra telah diganti isinya oleh anak pembantu yang bekerja di rumah Aza.
Mendengar nama Aza disebut di dalam kisah cinta mereka, mata Ella membelalak kaget. "Kok bisa ada Aza di antara hubungan mereka? Kenapa harus dia yang terlibat?" tanya Ella dengan nada bingung dan penasaran.
"Ya karena Aza itu teman kecil sekaligus sahabat dekat Barra sejak kecil. Mereka berdua tumbuh bersama dan sangat akrab, bahkan dulu mereka ber 3 satu sekolah waktu SMA," jawab Dinda menjelaskan.
Kening Ella semakin berkerut dalam. Ia semakin terkejut dan yakin dengan dugaannya. Ternyata nama Aza tercatat jelas dalam sejarah hidup dan kisah cinta Bianca. Aza ada di sana, di masa lalu mereka, dan ternyata dialah penyebab keretakan hubungan mereka juga. Hati Ella semakin gelisah dan tekadnya semakin kuat. Ia benar-benar harus bertemu dengan Aza secepatnya.
Tak lama kemudian, suara ponsel Dinda berdering nyaring. Ternyata Leo yang menelepon. Ia menelepon untuk menepati janjinya, memberi kabar bahwa Bianca sudah sadarkan diri dan kondisinya sudah jauh lebih baik. Mendengar kabar itu, Ella dan Dinda sangat bahagia dan lega. Leo juga menyampaikan pesan bahwa Bianca terus-menerus memanggil dan mencari nama mereka berdua. Tanpa menunggu lama, Ella dan Dinda pun segera bergegas pergi ke rumah sakit.
Sesampainya di sana, mereka berdua langsung bertemu dengan Leo yang sudah menunggu di depan pintu ruang rawat Bianca. Sebelum mereka masuk, Leo sempat berpesan dengan nada serius kepada Ella dan Dinda. "Kalian dengar ya, apa pun yang terjadi di dalam, tolong jangan bahas sedikitpun tentang kejadian kemarin malam. Jangan tanya-tanya soal itu atau menyebut tempat itu. Bianca masih sangat trauma dan kondisinya belum stabil. Anggaplah kejadian itu tidak pernah ada dan tidak pernah terjadi. Biarkan Bianca sendiri yang menceritakannya nanti kalau dia sudah siap dan mau," pesan Leo tegas.
Ella dan Dinda mengangguk mengerti dan menyetujui saran itu. Mereka pun masuk ke dalam ruangan. Di sana, mereka melihat Bianca yang terbaring di atas ranjang sambil terus menggenggam erat tangan Barra yang duduk di sampingnya. Tanpa pikir panjang, Dinda langsung berlari kecil dan memeluk erat sahabatnya itu. Air mata Dinda menetes deras dan tidak tertahankan lagi melihat Bianca ada di hadapannya dalam keadaan selamat.
Bianca hanya tersenyum lemah namun bahagia melihat kedatangan kedua sahabatnya itu. Ia menyapa mereka dengan nada bercanda, "Kalian berdua kok nggak kuliah? Apakah kalian bolos lagi, hah?" tanyanya.
"Hari ini kan hari Sabtu, Bi! Libur tau! Capek lho belajar terus tiap hari," jawab Dinda sambil merengek manja namun tetap tidak melepaskan pelukannya pada Bianca.
Mendengar jawaban Dinda yang polos dan lucu itu, Bianca pun tertawa kecil. Barra yang melihat Bianca bisa tertawa dan tersenyum lepas pun ikut tersenyum lega dan bahagia. Benar kata Leo, kehadiran Dinda adalah obat terbaik bagi Bianca di saat-saat seperti ini. Tingkah polos dan cerianya berhasil membuat suasana menjadi lebih cair dan menyenangkan.
Tak lama berselang, dokter masuk kembali ke ruangan untuk memeriksa kondisi kesehatan Bianca secara rutin. Semua orang disuruh untuk menunggu di luar agar pemeriksaan berjalan lancar. Namun, Bianca menolak melepaskan genggamannya pada tangan Barra. Ia takut jika ia melepaskannya, Barra akan menghilang dan pergi meninggalkannya lagi.
"Aku tunggu di luar sebentar saja, ya? Aku akan berdiri tepat di depan kaca besar itu. Kamu bisa melihat aku dengan jelas dari sana, aku tidak akan pergi ke mana-mana," bujuk Barra dengan nada suara yang sangat lembut dan menenangkan hati.
Akhirnya, Bianca mau melepaskan tangan Barra perlahan dengan berat hati. Barra pun keluar ruangan dan berdiri tepat di tempat yang dijanjikannya agar Bianca bisa melihatnya terus dari dalam.
Di luar ruangan, Ella mengajak Dinda menjauh sedikit dari tempat berdiri Barra dan Leo. Ia ingin bicara sebentar. Ella berpamitan kepada Dinda bahwa ia harus keluar sejenak untuk mengurus sebuah urusan penting.
"Mau ke mana sih Lo ? Kita kan baru aja sampai dan baru mau ketemu Bianca, kok kamu malah mau pergi?" tanya Dinda dengan nada sewot dan kecewa.
Ella tersenyum meyakinkan. "Nanti kalau gue sudah kembali, gue janji akan menceritakan semuanya pada Lo secara rinci dan jujur. Semua hal yang gue sembunyikan selama ini akan gue ceritakan," janji Ella.
"Benar ya? Janji nggak bakal diingkari?" tanya Dinda lagi sambil mengajukan jari kelingkingnya ke arah Ella.
Ella mengangguk mantap, lalu menyambungkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Dinda sebagai tanda janji sakti yang tidak boleh dilanggar. "Gue janji," ucap Ella tegas.
Dinda hanya menatap kepergian Ella dengan hati penuh tanda tanya dan rasa penasaran. Ia tidak tahu ke mana sahabatnya itu pergi dan untuk apa.
Sementara itu, di area parkiran rumah sakit, Ella berdiri sendirian. Ia mengeluarkan ponselnya, menatap layar ponsel itu dengan tatapan tajam dan serius, lalu menekan nomor telepon Aza.
Apa tujuan sebenarnya Ella menelepon Aza? Apakah Aza bersedia untuk menjawab telepon dan bertemu dengan Ella setelah kejadian ini?