NovelToon NovelToon
The Price Of Power

The Price Of Power

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Penyelamat
Popularitas:741
Nilai: 5
Nama Author: Kharisa Patasiki

Di balik kemegahan istana presiden, cinta hanyalah sebuah bidak yang dikorbankan demi takhta.

Adrian (Ian) menggunakan Rhea, seorang mahasiswi kedokteran, sebagai tunangan kontrak untuk membalas dendam pada ibu tirinya, Cansu. Namun, di balik kebencian itu tersimpan rahasia kelam tentang pengkhianatan dan pengorbanan yang dipaksakan oleh ambisi politik sang Perdana Menteri.
​Saat rahasia masa lalu terbongkar dan nyawa menjadi taruhan, mereka harus menyadari satu kenyataan pahit: di puncak kekuasaan, setiap kemenangan selalu meminta tumbal.
​Kekuasaan memiliki harga, dan mereka harus membayarnya dengan air mata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kharisa Patasiki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15: OPERASI DAPUR DAN KOMEDI ISTANA

​Ternyata, pensiun dari dunia intrik politik tidak semudah membalikkan telapak tangan. Bagi Adrian Diningrat, ancaman terbesar kini bukan lagi Perdana Menteri yang licik, melainkan sebuah benda logam anti lengket yang disebut teflon.

​Dua minggu setelah badai berlalu, Ian memutuskan untuk menepati syarat yang diajukan Rhea: menjadi pria biasa yang bisa mandiri. Dan pagi itu, di dapur mansion pegunungan yang biasanya hanya boleh disentuh oleh Mbok Yem, pemandangan luar biasa terjadi.

​Ian berdiri di depan kompor dengan apron merah jambu bergambar beruang—pinjaman paksa dari Mbok Yem karena hanya itu apron yang bersih. Di sampingnya, Yusuf berdiri siaga dengan tablet di tangan, bukan untuk mengecek saham, melainkan membaca tutorial "Cara Membalik Telur Mata Sapi Tanpa Merusak Kuningnya".

​"Tuan Muda, menurut algoritma YouTube, Anda harus menunggu minyaknya sedikit berasap sebelum memasukkan telurnya," ucap Yusuf dengan wajah seserius ajudan kepresidenan.

​"Minyaknya sudah berasap, Yusuf. Malah hampir membakar detektor asap," balas Ian dengan nada rendah yang biasanya ia gunakan untuk mengancam musuh bisnisnya. Tangannya yang biasa menandatangani kontrak triliunan rupiah kini gemetar memegang sudit kayu.

​Cesssss!

​"Duh gusti!" teriak Mbok Yem dari ambang pintu sambil memegang dadanya. "Tuan Muda! Itu telurnya kenapa dilempar dari jarak satu meter?"

​"Minyaknya menyerangku, Mbok!" Ian membela diri, mundur selangkah sambil menutupi wajahnya dengan tutup panci.

​Vier, yang baru saja turun dengan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya, langsung tertawa terpingkal-pingkal sampai terduduk di lantai. "Kak! Kalau musuh-musuhmu tahu kamu kalah lawan telur ayam, reputasi Diningrat Grub bakal anjlok ke dasar laut!"

​Rhea muncul beberapa saat kemudian, mengenakan kemeja flanel dan celana jin, siap berangkat ke rumah sakit untuk jadwal koas pagi. Ia terpaku di ruang makan melihat pemandangan konyol di depannya.

​Ian sedang duduk di meja makan dengan wajah yang sedikit tercoreng jelaga hitam di pipinya. Di depannya tersedia sepiring telur yang bentuknya lebih mirip peta buta daripada sarapan.

​"Ini... mahakarya darimu?" tanya Rhea, menahan tawa sekuat tenaga.

​"Jangan tertawa," ucap Ian datar, meski telinganya memerah. "Yusuf bilang ini adalah 'Rustic Style'. Sangat autentik."

​Yusuf hanya bisa mengangguk kaku. "Benar, Nona Rhea. Secara visual memang kurang, tapi secara tekstur... cukup keras."

​Rhea mengambil garpu, memotong sedikit bagian telur yang tidak gosong, dan menyuapkannya ke mulut. Semua orang di ruangan itu menahan napas. Mbok Yem berdoa dalam hati agar Rhea tidak keracunan, sementara Pak Totok yang sedang mengelap kaca di dekat situ sampai berhenti bekerja untuk menonton drama sarapan ini.

​"Enak?" tanya Ian penuh harap.

​Rhea mengunyah lama, lalu tersenyum manis. "Rasanya... seperti perjuangan. Sedikit pahit di luar, tapi ada usaha yang tulus di dalam."

​"Itu bahasa halus untuk 'gosong', kan?" tebak Vier sambil menyambar roti tawar.

​"Diam kamu, Vier," desis Ian, namun matanya tak lepas dari Rhea. "Cepat habiskan, aku akan mengantarmu ke rumah sakit."

​Perjalanan menuju rumah sakit tidak kalah serunya. Ian bersikeras menyetir sendiri mobil SUV-nya tanpa pengawalan ketat, hanya ada Yusuf yang duduk di kursi belakang dengan wajah gelisah karena tidak terbiasa tidak memegang kemudi.

​"Tuan Muda, ada lampu merah di depan," Yusuf mengingatkan untuk yang kelima kalinya.

​"Aku punya mata, Yusuf," balas Ian dingin.

​"Tapi kaki Anda masih di pedal gas, Tuan..."

​Ciiiiiiitttt!

​Mobil berhenti mendadak tepat satu sentimeter di belakang garis putih. Rhea hampir saja mencium dasbor jika ia tidak memakai sabuk pengaman.

​"Ian, kurasa Yusuf benar. Mungkin kamu butuh les menyetir mobil biasa, bukan menyetir limusin antipeluru," goda Rhea.

​Ian mendengus, lalu melirik Rhea. Tiba-tiba ia mengeluarkan sebuah kotak kecil dari dasbor. "Ini. Untukmu."

​Rhea membukanya. Di dalamnya bukan berlian atau perhiasan mahal, melainkan sebuah stetoskop dengan ukiran namanya di bagian gagangnya, dilapisi emas putih.

​"Kamu bilang stetoskop lamamu rusak saat kita lari dari anak buah Pradikta di galeri," ucap Ian pelan, matanya tetap menatap jalanan. "Gunakan itu untuk menyelamatkan orang. Dan ingat, pemilik stetoskop itu adalah milikku."

​Rhea tersipu. "Terima kasih, Ian. Ini jauh lebih berharga dari cincin apa pun."

​Yusuf di belakang berdeham keras. "Maaf mengganggu momen romantis ini, tapi lampu sudah hijau dan mobil di belakang sudah mulai membunyikan klakson seperti sedang konser metal."

​Siang hari di mansion, Mbok Yem dan Pak Totok sedang mengadakan rapat rahasia di gazebo taman.

​"Pak Totok, kita harus bantu Tuan Muda," ucap Mbok Yem serius. "Tuan Muda itu kalau soal bisnis pintar, tapi kalau soal menyenangkan hati perempuan, dia lebih kaku dari kanebo kering."

​"Lha terus mau gimana, Mbok?" tanya Pak Totok sambil menyeruput kopi.

​"Kita ajarkan dia 'Operasi Kejutan'. Besok Nona Rhea ulang tahun, kan? Kita harus buat perayaan yang tidak kaku. Jangan pakai acara makan malam formal yang membosankan itu lagi."

​Rencana pun disusun. Namun, masalahnya adalah Ian tidak tahu cara merahasiakan sesuatu dari Rhea jika itu menyangkut perasaan. Setiap kali Ian mencoba berbohong, hidungnya sedikit berkedut—detail yang hanya disadari oleh Rhea dan Mbok Yem.

​Sore harinya, saat Ian pulang, ia melihat Vier sedang asyik bermain game di ruang tengah bersama Yusuf.

​"Vier, Yusuf. Besok ulang tahun Rhea. Aku ingin memberinya kejutan di taman belakang," Ian mengumumkan dengan nada seperti sedang memberikan pengarahan militer.

​"Kejutan apa, Kak? Mau sewa orkestra lagi?" tanya Vier malas.

​"Tidak. Aku ingin... memasak barbekyu. Sendiri," jawab Ian mantap.

​Yusuf langsung menjatuhkan stik game-nya. "Tuan Muda, saya mohon pikirkan kembali. Pemadam kebakaran jaraknya cukup jauh dari sini."

​"Aku sudah belajar, Yusuf! Aku sudah menonton 20 video tentang teknik membakar daging!" bentak Ian, meski dalam hatinya ia juga ragu.

​Malam itu, di kamar masing-masing, kehidupan terasa jauh lebih ringan. Ian menatap foto Rhea yang ia ambil diam-diam saat gadis itu sedang tertidur di perpustakaan. Ada kedamaian yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.

​Namun, kedamaian itu sedikit terganggu saat ia mendengar suara grasak-grusuk dari lantai bawah. Dengan insting waspada, Ian mengambil tongkat golf di dekat pintunya dan turun ke bawah.

​Di dapur, ia menemukan Pak Totok sedang mencoba menyalakan panggangan barbekyu diam-diam, sementara Mbok Yem sedang memotong daging.

​"Apa yang kalian lakukan?" tanya Ian ketus.

​"Aduh, Tuan Muda! Kaget saya!" Pak Totok hampir terjungkal. "Ini... kami sedang latihan, Tuan. Supaya besok kalau Tuan Muda gagal, kami sudah punya cadangan daging yang sudah matang."

​Ian terdiam. Ia melihat kesetiaan yang luar biasa dari orang-orang yang sudah ia anggap keluarga ini. Ia meletakkan tongkat golfnya dan menarik kursi.

​"Duduklah. Ajarkan aku cara memotong daging yang benar," perintah Ian.

​Malam itu, di bawah temaram lampu dapur, sang CEO Diningrat Grub belajar cara memotong iga sapi dari seorang pelayan tua dan seorang tukang kebun. Tidak ada sekat kekuasaan, tidak ada intrik politik. Hanya ada tawa kecil saat Ian salah memegang pisau, dan gerutuan Mbok Yem saat Ian terlalu banyak menaburkan garam.

​Rhea, yang ternyata belum tidur dan melihat kejadian itu dari lantai atas, tersenyum lebar. Ia menyadari bahwa kebahagiaan sejati tidak ditemukan dalam kemegahan istana atau kekuasaan mutlak, melainkan dalam kekacauan kecil di sebuah dapur yang penuh dengan cinta.

​Tapi, sebuah pesan masuk di ponsel Ian saat ia baru saja selesai belajar memotong daging. Sebuah pesan dari nomor internasional yang tidak dikenal.

​"Selamat atas kemenanganmu, Adrian. Tapi jangan lupa, mawar yang paling indah tetap memiliki duri yang tersembunyi di tempat yang tidak pernah kamu duga."

​Ian menatap layar ponselnya, senyumnya perlahan memudar. Bayang-bayang masa lalu belum sepenuhnya pergi, dan drama yang sesungguhnya mungkin baru saja berganti babak.

​"Siapa pun kamu," gumam Ian pelan, "jangan berani-berani merusak hari ulang tahunnya."

1
S
seru banget, karakter cansu ini unik sih menarik banget, tapi jujur aku kasihan sama rhea plis lah bikin rhea sama Ian bahagia thor, cansunya biar sana brondong cogil 😭
S
sumpah ga nyangka cansu bakal di kejar berondong😭
S
😭😭😭 lucu banget kalau masalah jamu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!