Pertemuan kembali di koridor universitas seharusnya menjadi momen nostalgia yang manis, namun bagi Wahyu dan Riani, itu adalah awal dari sebuah interaksi yang panjang dan penuh tembok penghalang.
Namun, hubungan mereka tidak berjalan semudah bayangan. Ada penyangkalan yang kuat, kecanggungan yang berlarut-larut, hingga cara berkomunikasi yang sering kali menemui jalan buntu.
Nantikan Perjalanan Kedua nya.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon USR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25
POV: RIANI
Sabtu sore, tiga minggu setelah presentasi Kewirausahaan Sosial, Riani duduk di taman kampus satu dengan novel di tangan yang sama sekali tidak dia baca.
Sudah sepuluh menit dia menatap halaman yang sama.
Pikirannya di tempat lain.
Di seseorang yang, tanpa disengaja, sudah menempati bagian yang cukup besar dari ruang pikirnya.
Riani menutup novel. Meletakkannya di sampingnya. Menatap langit biru yang hari ini sangat bersih—tidak ada awan, matahari bersinar tapi tidak menyengat karena angin bertiup cukup kencang.
Tiga minggu.
Tiga minggu sejak presentasi, dan hubungan antara Riani dan Wahyu sudah bergeser lagi—perlahan, hampir tidak terasa kalau tidak diamati dengan seksama, tapi nyata.
Mereka sekarang bertukar pesan hampir setiap hari. Tidak selalu tentang hal-hal penting—kadang Wahyu mengirim artikel hukum yang menarik tanpa komentar, kadang Riani mengirim foto makanan dari warung baru yang dia coba dengan caption "ini enak, kamu harus coba", kadang mereka berdebat singkat tentang sesuatu yang tidak terlalu penting.
Wahyu juga mulai mengakui kehadiran Riani secara lebih eksplisit. Ketika mereka berpapasan di kampus, dia tidak lagi pura-pura tidak melihat. Ketika Riani menyapa, dia membalas—bukan dengan jawaban satu kata yang dingin, tapi dengan sesuatu yang lebih manusiawi.
Minggu lalu, ada satu kejadian kecil yang masih tinggal di benak Riani.
Mereka sedang berjalan keluar dari perpustakaan bersama—kebetulan, seperti yang semakin sering terjadi belakangan ini—ketika Riani hampir tersandung undakan tangga yang tidak terlalu tinggi. Reflexnya, Wahyu memegang lengan Riani dari samping.
Satu gerakan. Cepat. Instinktif.
Wahyu melepaskan tangannya secepat dia memegang. Tidak berkata apa-apa. Terus berjalan seolah tidak ada yang terjadi.
Tapi Riani merasakan hangat di lengannya selama beberapa menit setelah itu.
Dan sekarang, duduk di taman kampus, dia masih merasakannya.
Riani menekan wajahnya ke telapak tangan.
"Bodohnya kamu, Ri."
Tapi tidak terasa bodoh. Terasa sangat wajar—terlalu wajar—untuk menyukai seseorang yang perlahan-lahan menunjukkan dirinya yang sebenarnya kepada kamu. Yang belajar percaya lagi karena kamu ada. Yang mengirim link jurnal jam tengah malam dan menghitung nilai ujian kamu sebelum hasilnya keluar. Yang ingat kamu takut kucing dan pergi ke minimarket bersamamu tanpa keberatan.
Ponselnya bergetar.
Pesan dari Wahyu.
Riani mengangkat kepala.
Wahyu: "Kamu di mana? Ada di kampus?"
Riani menatap pesan itu.
Riani: "Di taman kampus 1. Kenapa?"
Wahyu: "Aku lagi selesai dari sekretariat BEM. Lewat taman."
Riani langsung melihat ke arah jalan masuk taman dari arah gedung rektorat.
Dan dua menit kemudian, Wahyu muncul—ransel di punggung, earphone menggantung di leher, wajahnya sedikit lelah tapi tidak semurung biasanya.
Matanya menyapu taman, menemukan Riani di bangku di bawah pohon.
Dia berjalan mendekat.
"Sendiri?" tanyanya sambil berdiri di depan bangku.
"Iya. Duduk?" Riani menggeser sedikit ke samping.
Wahyu duduk. Menaruh ransel di kakinya. Menyandarkan punggung ke sandaran bangku.
Mereka duduk berdua dalam diam selama beberapa detik—diam yang sudah tidak asing lagi, yang sudah menjadi bahasa sendiri di antara mereka.
"BEM meeting tentang apa?" tanya Riani akhirnya.
"Evaluasi semester ini dan planning untuk semester depan. Ada beberapa agenda yang perlu direstrukturisasi."
"Kamu masih mau lanjut di BEM semester depan?"
Wahyu mengangguk. "Ardi minta aku jadi koordinator event untuk keseluruhan program, bukan hanya per event. Lebih besar dari sebelumnya tapi juga lebih sistematis."
Riani menatap Wahyu dari samping. "Kamu bilang iya?"
"Sedang dipertimbangkan. Ada tawaran dari firma hukum tadi juga perlu diperhitungkan waktunya."
"Kamu sudah coba hitung bisa nggak dikerjain bersamaan?"
"Sudah. Bisa, kalau manajemen waktunya ketat." Wahyu berhenti sebentar. "Ardi bilang kalau aku jadi koordinator program, aku punya fleksibilitas untuk delegasi. Jadi tidak harus semua aku yang handle langsung."
"Delegasi." Riani tersenyum. "Itu... perkembangan yang bagus, Wahyu. Kamu mulai mau biarkan orang lain bantu."
Wahyu melirik Riani dengan tatapan yang sulit dibaca. "Kamu selalu punya cara untuk mengubah informasi biasa jadi analisis psikologis."
Riani tertawa kecil. "Maaf. Kebiasaan."
Mereka diam lagi. Di taman, beberapa pasang mahasiswa duduk di bangku-bangku lain—ada yang belajar, ada yang ngobrol, ada yang hanya duduk menikmati sore.
"Riani," Wahyu bersuara tiba-tiba.
"Hmm?"
"Kenapa kamu hari ini duduk di taman sendirian?"
Riani terdiam.
Pertanyaan yang langsung dan tidak terduga dari Wahyu—biasanya dia tidak banyak bertanya tentang kondisi orang lain.
"Lagi... butuh udara segar," jawab Riani.
"Dari apa?"
"Dari pikiran sendiri."
Wahyu menatap Riani dari samping. "Pikiran tentang apa?"
Riani menoleh, menatap Wahyu.
Jarak di antara mereka di bangku ini tidak terlalu jauh—sekitar satu jengkal. Cukup dekat untuk melihat detail di wajahnya: garis halus di sudut matanya yang menunjukkan kelelahan kronis, cara rahangnya tidak setegang biasanya sore ini, satu helai rambut yang jatuh ke dahi karena angin.
"Tentang banyak hal," jawab Riani akhirnya. "Semester ini mau selesai. Tahun depan aku sudah semester empat. Mulai memikirkan skripsi. Karir. Ke mana setelah lulus."
Semua itu benar. Semua itu memang sedang Riani pikirkan.
Tapi bukan itu yang ada di pikirannya sore ini.
"Kamu sudah ada gambaran?" tanya Wahyu.
"Sedikit. Aku tertarik ke bidang marketing dan brand development. Tapi belum tahu mau di industri apa." Riani berpaling ke depan, menatap pohon-pohon di taman. "Kamu sendiri? Selain membantu kasus ayahmu... kamu ada bayangan karir seperti apa nanti?"
Wahyu diam cukup lama sebelum menjawab.
"Bantuan hukum pro bono. Seperti yang ada di proposal kita."
Riani menatap Wahyu.
"Beneran?"
"Beneran." Nada suaranya tidak dramatis, tidak emosional—hanya datar dan jelas. "Masalah akses hukum itu nyata. Tidak akan selesai hanya dengan kasus ayahku menang. Butuh sistemik. Butuh orang yang mau masuk ke dalamnya dari dalam."
"Kamu mau jadi itu."
"Aku sudah memutuskan sejak SMP."
Riani menatap Wahyu dalam waktu yang cukup lama.
Laki-laki yang duduk di sampingnya ini—yang dua bulan lalu tidak mau membalas sapaan sederhana, yang membangun tembok setinggi langit di sekeliling dirinya—sekarang berbicara tentang tujuan hidupnya dengan keyakinan yang tenang dan dalam.
Dan Riani merasakan sesuatu di dadanya.
Bukan hanya kagum.
Lebih dari itu.
Jauh lebih dari itu.
"Wahyu," Riani berkata pelan.
"Apa?"
Riani membuka mulut. Lalu menutupnya lagi.
Ada banyak hal yang ingin dia katakan. Kata-kata yang sudah berputar di kepalanya berminggu-minggu—aku suka kamu, aku kagum sama kamu, aku nggak tahu sejak kapan kamu jadi orang yang paling ingin aku ceritai tentang hari-hariku.
Tapi dia melihat Wahyu yang sekarang—yang baru saja mulai belajar percaya lagi, yang baru saja mulai membuka sedikit celah—dan Riani tidak yakin apakah ini waktu yang tepat.
"Nggak ada," jawab Riani akhirnya. "Aku cuma... senang kamu punya tujuan yang jelas. Itu jarang."
Wahyu menatapnya beberapa detik.
Riani menoleh, tersenyum—mencoba terlihat natural.
Dan Wahyu—entah karena dia merasakan sesuatu yang tidak terucap, atau karena insting INTJ-nya yang tajam menangkap bahwa ada sesuatu yang Riani simpan—menatapnya dengan tatapan yang lebih dalam dari biasanya.
"Riani."
"Apa?"
"Tadi kamu mau bilang sesuatu."
Bukan pertanyaan.
Riani merasa detak jantungnya tidak normal. "Nggak ada, Wahyu. Serius."
Wahyu menatapnya beberapa detik lagi. Riani tidak berkedip, berusaha mempertahankan senyumnya yang ia harap terlihat meyakinkan.
Lalu Wahyu mengalihkan pandangan ke depan.
"Oke."
Tapi ada sesuatu di nada suaranya—sesuatu yang membuat Riani tidak sepenuhnya yakin bahwa dia percaya.
Mereka duduk sampai matahari mulai turun ke cakrawala, mengubah langit dari biru menjadi oranye kemerahan. Percakapan mengalir ke hal-hal lain—Wahyu bercerita tentang kasus pertama yang menarik perhatiannya di mata kuliah, Riani bercerita tentang proyek kelas yang membuat dia pertama kali serius mempertimbangkan karir di marketing.
Biasa. Ringan. Normal.
Tapi di bawah semua percakapan itu, ada sesuatu yang tidak terucap—sesuatu yang mengapung di antara mereka seperti embun yang belum jatuh.
Ketika akhirnya Wahyu berdiri, mengambil tasnya, dan berkata harus pulang karena ada document review untuk firma hukum besok pagi, Riani mengangguk.
"Hati-hati di jalan."
"Kamu juga." Wahyu melangkah. Tapi di tepi taman, dia berhenti dan menoleh sekali.
Riani masih duduk di bangku, menatapnya.
"Tadi kamu bilang kamu duduk di sini karena butuh udara segar dari pikiran sendiri," ujar Wahyu. "Pikirannya sudah lebih segar?"
Riani tersenyum—sungguhan kali ini, bukan yang dibuat-buat.
"Sudah."
Wahyu mengangguk. Lalu berbalik dan berjalan pergi.
Riani memandangi punggungnya sampai hilang di balik deretan pohon taman.
Lalu dia berbalik menatap langit yang mulai oranye.
Pikirannya memang lebih segar.
Tapi kejelasan yang datang bersamanya justru membuat satu hal semakin sulit disangkal.
Dia suka Wahyu.
Bukan sedikit.
Bukan sekadar peduli.
Tapi suka.
Dan pertanyaannya sekarang bukan lagi apakah perasaan itu ada—karena itu sudah jelas.
Pertanyaannya adalah: apa yang akan dia lakukan dengan perasaan itu?
Bersambung.....