NovelToon NovelToon
Idola Kampus Itu Pacarku

Idola Kampus Itu Pacarku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Cintapertama
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Elwa Zetri

​"Woy, lihat! Itu Kak Baskara!"

​Bisikan-bisikan itu menyebar cepat seperti api yang menyambar rumput kering. Lara yang awalnya sibuk merapikan buku catatannya, refleks mendongak ketika suasana mendadak hening selama satu detik, lalu pecah oleh riuh tepuk tangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

tatapan yang berbicara

Randy menghela napas panjang, lalu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Ia menatap ke arah kerumunan mahasiswa seolah sedang mencari kata-kata yang tepat untuk menjelaskan situasi yang sebenarnya sudah menjadi rahasia umum di kalangan pengurus inti organisasi.

​"Sederhana, Ra. Tapi juga rumit," jawab Randy sambil menatap Lara dengan simpati. "Manda itu sudah mengejar Baskara sejak semester satu. Dia ambisius, pintar, dan merasa kalau dia adalah satu-satunya orang yang levelnya setara dengan Baskara di kampus ini."

​Randy menjeda kalimatnya, memastikan tidak ada orang lain yang mendengarkan.

​"Masalahnya, Baskara nggak pernah memberi harapan sedikit pun. Dia selalu profesional, dingin, dan menganggap Manda nggak lebih dari sekadar rekan kerja yang kompeten. Tapi Manda nggak terima. Dia merasa punya 'hak' atas Baskara karena dia yang paling lama mendampingi Baskara di organisasi."

​Lara mendengarkan dengan saksama, mulai memahami posisi Manda yang terjebak dalam obsesinya sendiri.

​"Nah, terus lo datang," lanjut Randy sambil menunjuk ke arah Lara. "Maba yang tiba-tiba ditarik Baskara jadi asisten pribadi, diajak berangkat bareng, bahkan diperhatikan secara khusus di depan umum. Itu memicu rasa iri yang luar biasa di hati Manda. Bagi dia, kehadiran lo adalah ancaman bagi posisinya."

​"Tapi Kak, aku kan nggak berniat merebut apa pun," sela Lara dengan suara pelan.

​"Gue tahu, Ra. Baskara juga tahu. Tapi bagi orang yang sudah terobsesi kayak Manda, logika itu nggak jalan. Dia merasa kalau lo hilang atau celaka, Baskara bakal balik lagi bergantung sama dia. Dia nggak sadar kalau tindakannya itu justru bikin Baskara makin muak."

​Randy memajukan tubuhnya, sedikit berbisik. "Baskara itu paling benci sama orang yang menyentuh 'miliknya'. Dan sejak kemarin, gue bisa pastikan kalau lo sudah masuk ke dalam kategori 'milik' Baskara yang paling berharga. Itulah kenapa Manda sekarang sedang di ujung tanduk."

​Lara terdiam, menatap gelas tehnya yang sudah mulai berembun. Ia merasa ngeri sekaligus sedih mengetahui bahwa kebencian seseorang bisa muncul hanya karena rasa iri yang tak terkendali. Namun, di saat yang sama, ada perasaan hangat saat menyadari betapa kuatnya Baskara melindunginya dari badai yang sebenarnya tidak ia undang.

Langkah tegap Baskara terlihat membelah kerumunan Taman Budaya. Dari kejauhan, auranya yang dominan langsung terasa, membuat beberapa mahasiswa yang menghalangi jalannya refleks memberi ruang. Matanya langsung terkunci pada sosok Lara yang masih duduk bersama Randy di bawah pohon beringin.

​"Sudah selesai urusan bos-bos besarnya, Bas?" tanya Randy dengan nada santai saat Baskara sampai di depan mereka.

​Baskara tidak langsung menjawab Randy. Ia menatap Lara dengan intens, seolah sedang memindai apakah ada sesuatu yang terjadi selama ia pergi. "Ada yang mengganggumu?" tanya Baskara langsung pada Lara, suaranya rendah namun penuh penekanan.

​Lara sedikit tersentak dari lamunannya tentang cerita Randy tadi. Ia mendongak dan mendapati wajah Baskara yang sedikit berkeringat namun tetap terlihat sangat tampan. "Nggak ada, Kak. Cuma ngobrol biasa sama Kak Randy."

​Baskara beralih menatap Randy dengan satu alis terangkat. "Ngobrol apa sampai dia melamun begitu?"

​Randy langsung mengangkat kedua tangannya, tanda menyerah. "Cuma edukasi sedikit soal 'sejarah' organisasi, Bas. Tenang aja, nggak ada rahasia negara yang bocor."

​Baskara mendengus pelan, ia tahu benar bahwa Randy pasti sudah menceritakan banyak hal. Ia lalu mengulurkan tangannya ke arah Lara. "Ayo. Acara di sini sudah semakin ramai, udaranya mulai panas. Saya tahu tempat yang lebih sejuk kalau kamu mau istirahat sebentar sebelum saya antar pulang."

​Lara menyambut uluran tangan Baskara, merasakan kehangatan yang sama seperti saat di rumah sakit kemarin. Saat Lara berdiri, Baskara dengan natural mengambil alih tas Lara dan menyampirkannya di bahunya sendiri.

​"Gue cabut dulu, Ran. Pantau terus si Manda, pastikan dia nggak mendekat ke area ini," pesan Baskara tegas.

​"Siap, laksanakan!" jawab Randy sambil memberikan hormat formal yang dibalas Baskara dengan anggukan singkat.

​Baskara kemudian membimbing Lara berjalan menjauh dari kebisingan Taman Budaya. Sepanjang jalan, tangan Baskara tidak pernah lepas dari punggung Lara, menjaganya dari desakan mahasiswa lain yang berlalu-lalang. Lara merasa bahwa setiap langkah yang ia ambil di samping Baskara bukan lagi sebagai seorang asisten, melainkan sebagai seseorang yang sangat spesial bagi pria itu.

1
ASTRI LIANTI
kok di paragraf atas ga berjilbab kok di sini berjilbab sih
Zet3: mksh kak koreksi nya,aku perbaiki yaa🙏🏻
total 1 replies
Ryuu
semangat terus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!