NovelToon NovelToon
All About Love (Love Story)

All About Love (Love Story)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Terlarang / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: wanudya dahayu

Dari: Renata]
_Malam, Pak. Ini CV calon asisten pengganti saya. Anaknya pinter, cekatan, dan bisa langsung mulai Senin depan. Namanya Harumi Nara. Saya jamin, Bapak nggak akan kecewa.

Devan mengangkat satu alisnya, merasa tidak asing dengan nama yang disebutkan oleh Renata. Tanpa ekspektasi apa pun, ia mengklik lampiran file dan kembali memindahkan pandangannya ke layar laptop.

Detik berikutnya, napasnya tercekat.

Matanya terbelalak, menatap foto 3x4 di pojok kanan CV itu. Jantungnya yang lima tahun ini berdetak datar seperti mesin yang teratur ritmenya, tiba-tiba bergejolak hebat menghantam sampai tulang rusuknya keras-keras.

Tangannya mengepal di atas meja, buku-buku jarinya memutih. Dia mengerjap, sekali, dua kali, mencoba meyakinkan bahwa matanya tidak salah lihat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wanudya dahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

you're mine 5

*Selasa sore. Di sebuah kafe tempat biasa Sandra nongkrong cantik bersama teman-teman modelnya.*

Sandra mengaduk kopi dingin yang terlalu lama dia diamkan sejak ia memesannya setengah jam lalu. Matanya tidak lepas dari pintu kaca kafe, menunggu seseorang yang dia hubungi sejak tadi malam.

"Nathan." Kunci dari semua rasa penasarannya.

_Harumi Nara. Temannya Nathan. Teman SMA._

Tiga kalimat dari Devan itu berputar-putar di kepala Sandra semalaman. Devan tidak pernah segugup itu menyebut nama orang. Tapi kemarin, sewaktu menyebut nama 'Nara', jakun Devan bergerak naik-turun seolah menahan sesuatu yang berat di tenggorokan. Dan tangannya mengepal kencang.

Sandra bukan orang bodoh. Dia model, dia biasa membaca gestur. Itu gestur orang yang sedang menahan luka yang dalam.

Pintu kafe terbuka. Lelaki tinggi berpakaian kasual tapi tetap terlihat santai masuk. Wajahnya mirip Devan, tapi lebih tirus. Kantong matanya dalam. Nathan Ardiansyah. Adik kandung tunangannya.

Sandra langsung berdiri, senyumnya dibentuk semanis mungkin. Senyum seperti buat pemotretan, bukan senyum tulus. "Nathan, lama kita tidak bertemu. Kamu berubah," sapanya.

"Aku anggap itu pujian," sahut Nathan sembari tersenyum, senyum yang tampak sekali dibuat-buat.

"Duduk, Nath," Sandra menarik kursi. "Aku traktir. Juga ada yang mau aku omongin."

"Soal apa?" tanyanya langsung, tanpa basa-basi bahkan terkesan dingin.

Sandra tidak buang waktu. "Soal Nara."

Nama itu jatuh di antara mereka seperti bom kecil.

Nathan kaku. Lima tahun. Dia sudah berusaha mati-matian untuk sembuh dari luka itu. Deretan terapi dan pengobatan ia jalani guna memulihkan mentalnya, dan kini dia sudah mulai berdamai dengan semuanya. Tapi seketika satu nama keramat itu disebut kembali dan seketika membuat dadanya sesak sekali lagi, cuma dalam hitungan dua detik.

"Kenapa kamu tanya dia ke aku?" suara Nathan pelan. Terlalu pelan untuk ukuran lelaki 23 tahun. Reaksinya lebih mirip anak remaja 17 tahun yang ketahuan menyembunyikan sesuatu yang berusaha disembunyikannya.

"Karena dia sekarang menjadi asistennya Devan," jawab Sandra. Matanya tidak lepas dari wajah Nathan, berusaha mencari celah kegelisahan di antaranya. "Dan Devan menjadi aneh sejak kemarin. Dia terus mengelak setiap kali aku menanyakannya. Lalu aku ingat dia bilang Nara itu teman SMA kamu, jadi itulah alasan kenapa aku mengajakmu bertemu. Kalian pernah dekat dulu?"

_Dekat._

Nathan ingin tertawa. Dekat itu kata yang terlalu sederhana untuk menjelaskan bagaimana dia pernah menghabiskan malam di IGD gara-gara nama itu. Dekat itu tidak cukup untuk menjelaskan bagaimana dia pernah mengancam mati cuma agar Nara tidak pergi dari hidupnya.

"Aku sudah lama kehilangan kontak dengannya," akhirnya Nathan menjawab. Bohong. Dia masih hafal nomor Nara di luar kepala. Meski itu adalah nomor lamanya, nomor telepon yang ia tahu pasti sudah tidak aktif lagi, namun sesekali masih dihubunginya.

"Dia siapa?" Sandra menyender, dagu diangkat. Posesifnya keluar. "Aku cuma mau memastikan kalau dia bukan ancaman bagi hubunganku dengan Devan. Jujur aku gelisah, sebab saat itu aku menangkap sorot mata yang berbeda dari Devan ke dia... itu pandangan yang tidak biasa, beda, Nath. Dan aku tidak suka."

Nathan menarik napas dalam-dalam. Kakinya terasa lemas. Pikirannya justru tertuju pada Nara saat ini. Mendengar nama itu telah kembali, bahkan kembali di samping Devan, seolah dejavu. Kenangan masa lalu itu seperti kaset yang sengaja diputar ulang di kepalanya. _Kak Devan. Nara. Takdir macam apa ini?_

Lima tahun dia kira Kakaknya sudah melupakan Nara. Lima tahun dia kira Devan sudah bisa membuka hati karena ada Sandra. Ternyata tidak. Ternyata cuma dia yang minum obat penenang, terapi, menjahit luka. Devan dan Nara nyatanya cuma dipisahkan jarak, bukan perasaan.

"Kamu sayang kan sama Kak Devan?" Nathan bertanya balik. Matanya naik, menatap Sandra tajam. Baru kali ini dia benar-benar memperhatikan dengan jelas calon kakak iparnya itu. Cantik, meski baginya tak secantik Nara. Ah, iya Nara. Apakah dia masih semanis dulu? Tiba-tiba otaknya malah mengingat Nara.

"Pertanyaan aneh. Ya jelas lah aku cinta sama Devan. Kalau tidak, mana mungkin aku bisa bertahan menghadapi orang sedingin kakak kamu selama ini," Sandra tertawa hambar. "Aku sayang banget, Nath. Makanya aku di sini. Aku tidak mau ada yang berusaha merusak semua rencanaku."

_Rencana._

Kata itu menusuk Nathan dalam-dalam. Dulu dia juga pernah punya rencana: Nara menerima dia, Devan mengalah tanpa beban, dan mereka bahagia. Tapi kenyataannya dia malah terbangun di ruang RS yang super dingin, infus menancap di tangan, dan Mama menangis sepanjang waktu di samping ranjang.

"Nara bukan ancaman," dusta Nathan. Tenggorokannya kering saat mengeluarkan kata-kata itu. Nathan tidak ingin membahayakan Nara. Gadis itu baru kembali. Bagaimana kalau dia pergi lagi karena drama cinta segitiga ini? Tidak. Kali ini Nathan ingin menebus kesalahannya. Dia tidak akan menjadi egois lagi seperti dulu.

Sandra menyipitkan mata. "Kamu belain dia banget."

"Aku tidak belain siapa-siapa di sini," potong Nathan cepat. Terlalu cepat. Keringat dingin mulai muncul di pelipisnya. "Aku cuma tidak mau Kak Devan ribut sama kamu karena salah paham. Kalian mau nikah, kan? Ya sudah, fokus saja pada rencana semula."

_Kalau mereka menikah, apakah Nara akan pergi lagi? Atau mungkin Nathan akan punya kesempatan kedua?_

Sandra berdiri. Dia merasa cukup mendapat apa yang dia mau: konfirmasi. Nathan kenal Nara. Nathan gelisah, tidak jauh beda dengan reaksi Devan waktu dengar nama Nara. Berarti ada sejarah yang tidak biasa di antara mereka. Berarti firasatnya benar adanya.

"Oke. Thanks ya, Nath." Sandra mengeluarkan dompet, menaruh beberapa lembar uang seratus ribuan di atas meja. "Kopinya aku yang bayarin. Jangan bilang Devan kalau aku nemuin kamu."

Dia berbalik, heels-nya berbunyi nyaring di lantai kafe.

Nathan masih duduk terpaku. Es kopinya tidak disentuh sama sekali. Tangannya masih gemetar di atas meja.

"Nara... Harumi Nara," gumamnya, "kenapa kamu kembali?"

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!