NovelToon NovelToon
The Price Of Power

The Price Of Power

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Penyelamat
Popularitas:741
Nilai: 5
Nama Author: Kharisa Patasiki

Di balik kemegahan istana presiden, cinta hanyalah sebuah bidak yang dikorbankan demi takhta.

Adrian (Ian) menggunakan Rhea, seorang mahasiswi kedokteran, sebagai tunangan kontrak untuk membalas dendam pada ibu tirinya, Cansu. Namun, di balik kebencian itu tersimpan rahasia kelam tentang pengkhianatan dan pengorbanan yang dipaksakan oleh ambisi politik sang Perdana Menteri.
​Saat rahasia masa lalu terbongkar dan nyawa menjadi taruhan, mereka harus menyadari satu kenyataan pahit: di puncak kekuasaan, setiap kemenangan selalu meminta tumbal.
​Kekuasaan memiliki harga, dan mereka harus membayarnya dengan air mata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kharisa Patasiki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13: PERJAMUAN TERAKHIR DI MEJA KEKUASAAN

​Hujan badai mengguyur Jakarta malam itu, seolah langit ikut meratapi konspirasi yang sedang memuncak di dalam kediaman utama Istana Kepresidenan. Lampu-lampu kristal yang menggantung di ruang kerja Presiden Diningrat berpendar redup, memberikan bayangan panjang yang dramatis pada dinding-dinding penuh buku sejarah.

​Di tengah ruangan, suasana terasa mencekam. Presiden Diningrat duduk di balik meja besarnya, wajahnya tampak sepuluh tahun lebih tua. Di hadapannya, Pradikta Kusuma berdiri dengan angkuh, meletakkan sebuah map hitam tebal di atas meja kayu jati tersebut.

​"Tanda tangani dekrit ini, Bapak Presiden," suara Pradikta tenang, namun mengandung racun. "Ini demi stabilitas negara. Jika tidak, bukti penggelapan dana yayasan yang dilakukan putra sulungmu akan tersebar ke media dalam hitungan menit. Kamu tahu apa artinya itu? Kejatuhan dinasti Diningrat."

​Presiden menatap map itu dengan tangan gemetar. "Kamu sudah melampaui batas, Pradikta. Adrian tidak mungkin melakukan itu."

​"Mungkin tidak. Tapi bukti-bukti ini berkata lain," Pradikta menyeringai. "Dan jangan lupa, Nona Rhea, tunangan tersayang Adrian, juga akan terseret sebagai kaki tangan. Apa kamu tega melihat masa depan gadis muda itu hancur hanya karena harga dirimu?"

​Pintu ruangan tiba-tiba terbuka dengan bantingan keras. Ian melangkah masuk, disusul oleh Rhea yang tampak pucat namun tetap tegak. Ian mengenakan setelan hitam pekat yang basah oleh sisa air hujan, memberikan kesan seperti malaikat maut yang baru saja turun dari langit kelam.

​"Jangan tanda tangani apa pun, Ayah," suara Ian menggelegar, memecah keheningan ruangan.

​Pradikta berbalik, matanya berkilat penuh kemenangan yang prematur. "Ah, Adrian. Kamu datang tepat waktu untuk menyaksikan kejatuhanmu sendiri."

​"Atau mungkin menyaksikan kejatuhanmu, Perdana Menteri," balas Ian dingin. Ia berdiri di samping ayahnya, sementara Rhea berdiri sedikit di belakangnya, menggenggam tas tangannya dengan erat—di dalamnya tersimpan sesuatu yang diberikan Yusuf sesaat sebelum masuk.

​Tak lama kemudian, Cansu masuk ke dalam ruangan. Ia mengenakan gaun malam berwarna biru tua, hampir hitam. Wajahnya tenang, sebuah ketenangan yang menakutkan—seperti permukaan laut sebelum tsunami. Ia berjalan melewati Pradikta tanpa menoleh sedikit pun, lalu berdiri di sisi lain ruangan, menjauh dari ayahnya.

​"Cansu, apa yang kamu lakukan di sini? Kembali ke kamarmu!" perintah Pradikta kasar.

​Cansu menatap ayahnya dengan tatapan yang kosong namun tajam. "Aku sudah cukup lama berada di kamar yang kamu siapkan untukku, Ayah. Aku lelah menjadi mawar yang kamu petik dan kamu injak-injak sesukamu."

​Cansu mengeluarkan sebuah flashdisk kecil dari balik jemarinya yang lentik. "Ayah, semua rekaman transaksi gelapmu dengan kartel konstruksi di Milan, dan perintahmu untuk menyandera ibuku... semuanya ada di sini. Dan aku sudah mengirim salinannya ke markas besar kepolisian militer lima menit yang lalu."

​Wajah Pradikta berubah menjadi merah padam. "Kamu... kamu mengkhianatiku? Setelah semua yang kuberi padamu?!"

​"Kamu tidak memberiku apa pun kecuali penjara!" teriak Cansu, suaranya pecah oleh emosi yang tertahan selama bertahun-tahun. "Kamu membunuh jiwaku saat kamu memaksaku meninggalkan Ian! Kamu membuatku menjadi monster agar kamu bisa berkuasa!"

​Pradikta menerjang maju hendak menampar Cansu, namun Ian dengan sigap menghadang langkah pria tua itu. Ian mencengkeram pergelangan tangan Pradikta dengan kekuatan yang sanggup mematahkan tulang.

​"Jangan pernah sentuh dia lagi," desis Ian. "Dan jangan pernah berpikir kamu bisa menang malam ini."

​Di saat ketegangan mencapai puncaknya, pintu ruangan kembali terbuka. Yusuf masuk bersama beberapa petinggi kepolisian militer. Suasana menjadi sunyi senyap saat mereka membacakan surat perintah penangkapan atas nama Pradikta Kusuma atas tuduhan makar dan korupsi tingkat tinggi.

​Pradikta tertawa keras, tawa yang terdengar gila. "Kalian pikir kalian sudah menang? Tanpa aku, pemerintahan ini akan goyah! Rakyat akan tahu bahwa Presiden mereka hanyalah boneka yang lemah!"

​"Rakyat akan tahu kebenarannya, Pradikta," sahut Presiden Diningrat yang akhirnya berdiri. "Dan kebenaran itu adalah bahwa aku memiliki putra yang lebih berani dariku, dan seorang istri yang akhirnya memilih kehormatannya sendiri."

​Saat polisi militer menggiring Pradikta keluar, pria itu sempat berhenti di samping Cansu. Ia membisikkan sesuatu yang membuat Cansu mematung. "Kamu pikir Ian akan kembali padamu setelah semua ini? Kamu tetaplah mawar yang sudah layu, Cansu."

​Setelah Pradikta menghilang dari ruangan, kesunyian yang berat kembali menyelimuti. Ian melepaskan napas panjang yang seolah sudah ia tahan selama sepuluh tahun. Ia menatap Cansu, yang kini berdiri gemetar, air mata mengalir bebas di pipinya.

​Cansu menatap Ian dengan tatapan yang hancur. Ia ingin mendekat, namun ia melihat Rhea berdiri di sana. Ia melihat bagaimana Ian secara tidak sadar menarik Rhea sedikit lebih dekat ke arahnya, seolah ingin melindunginya dari sisa-sisa kegilaan malam itu.

​"Terima kasih, Cansu," ucap Ian pelan.

​Cansu tersenyum pahit, sebuah senyum yang penuh dengan penerimaan atas kekalahannya sendiri—bukan kekalahan politik, melainkan kekalahan hati. "Selamatkan ibuku, Adrian. Itu saja permintaanku. Dan untukmu, Rhea..."

​Cansu menatap Rhea dengan tatapan yang tidak lagi mengandung kebencian, melainkan rasa hormat. "Jadilah dokter yang hebat. Sembuhkan luka di hati pria ini, karena aku... aku hanyalah bagian dari lukanya."

​Cansu berbalik dan berjalan keluar ruangan dengan sisa-sisa keanggunannya. Langkah kakinya terdengar teratur di atas lantai pualam, menjauh menuju bagian istana yang paling sunyi. Ia tahu, setelah malam ini, ia bukan lagi Ibu Negara. Ia hanyalah seorang wanita yang harus memulai hidup dari reruntuhan.

​Ian membawa Rhea ke balkon istana yang menghadap ke arah kota Jakarta yang berkilau di bawah sisa hujan. Langit mulai sedikit terang, menunjukkan fajar yang segera tiba.

​"Kontrak kita," ucap Rhea pelan. "Sepertinya perannya sudah selesai."

​Ian menoleh, menatap Rhea lama. Ia meletakkan tangannya di pagar balkon, tepat di samping tangan Rhea. "Kontrak itu mungkin sudah selesai. Tapi aku menyadari sesuatu malam ini."

​"Apa?"

​Ian menatap lurus ke arah cakrawala. "Bahwa selama ini aku hidup untuk membalas dendam dan mencari jawaban atas masa lalu. Tapi saat melihatmu berdiri di sana tadi, aku menyadari bahwa aku ingin mulai hidup untuk masa depan."

​Ian meraih tangan Rhea, menggenggamnya bukan sebagai tunangan kontrak, melainkan sebagai pria yang benar-benar membutuhkan pegangan. "Jangan pergi dulu, Rhea. Bisakah kita mulai tanpa kontrak?"

​Rhea tidak menjawab dengan kata-kata, melainkan dengan sebuah senyuman tipis yang hangat. Di kejauhan, sirene mobil polisi masih terdengar sayup-sayup, namun di balkon itu, badai akhirnya telah berlalu.

​Namun, di sebuah kamar gelap di sudut istana, Cansu duduk sendirian, menatap foto lamanya yang sudah retak. Ia tahu, meskipun Pradikta telah jatuh, dunia politik tidak akan pernah benar-benar bersih. Dan ia, sang mawar yang pernah berduri tajam, kini perlahan-lahan merontokkan kelopaknya, membiarkan dirinya hilang dalam sejarah yang ia tulis dengan darah dan air matanya sendiri.

​Pagi itu, fajar menyingsing di Jakarta, membawa harapan baru di atas puing-puing pengkhianatan yang akhirnya terungkap. Istana Diningrat tetap berdiri megah, namun orang-orang di dalamnya tidak akan pernah sama lagi.

1
S
seru banget, karakter cansu ini unik sih menarik banget, tapi jujur aku kasihan sama rhea plis lah bikin rhea sama Ian bahagia thor, cansunya biar sana brondong cogil 😭
S
sumpah ga nyangka cansu bakal di kejar berondong😭
S
😭😭😭 lucu banget kalau masalah jamu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!