Alvian Wira. Di panggung internasional, dunia mengenalnya sebagai Hades, Dokter Dewa, karena kemampuan medisnya luar biasa. Tapi setelah kembali ke Indonesia, dia hanya seorang dokter umum biasa yang mendirikan sebuah klinik kecil di pinggir kota.
Konflik kepemilikan tanah membawanya ke sebuah pernikahan dengan anak direktur rumah sakit terkenal, Clarissa Amartya. Dokter SpJP yang hanya ingin fokus dengan karirnya, tapi dipaksa menikah dengan ancaman mencabut izin prakteknya.
Clarissa yang dingin seperti kulkas, Alvian yang pecicilan dan suka menggoda. Dua kepribadian tinggal bersama, perlahan menumbuhkan perasaan.
Namun, ketika perasaan itu mulai tumbuh, masalah datang silih berganti, hingga mengungkap kebenaran tentang masa lalu Alvian. Tentang siapa dia sebenarnya, dan alasan kenapa dia menyembunyikan semuanya.
Apakah Clarissa bersedia menerima Alvian? Terlebih setelah mengetahui jika Alvian yang ia kenal selama ini, hanyalah topeng untuk menutupi identitas dan masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sayap perak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 : Clarissa Demam
Rumah. Jam 03.12 WIB.
UHUK! UHUK! UHUK!!
Alvian terbangun dengan suara batuk. Dia mengambil ponselnya, melihat masih jam tiga pagi, langsung turun dari ranjang keluar kamar.
Setelah cukup lama berhenti, sekali lagi suara batuk terdengar. Lebih keras, dan kering. Kali ini tidak berhenti untuk waktu yang lama, membuat Alvian khawatir.
Alvian hendak naik ke lantai dua. Tetapi langkahnya terhenti melihat lakban hitam, pembatas teritori yang mereka sepakati.
"Clara?"
Alvian berusaha memanggil. Batuk berhenti, tetapi masih tidak ada jawaban.
Pyar!
Suara gelas jatuh. Tanpa banyak berpikir Alvian melewati pembatas itu, naik ke kamar Clarissa. Mengetuk pintu dua kali, "Clara, kamu nggak papa?"
"..."
Tidak ada jawaban. Hal itu membuat Alvian semakin khawatir, dan langsung membuka pintu kamar yang tidak terkunci.
Alvian menyalakan lampu, menemukan Clarissa duduk di lantai, menyandar ke tempat tidur dengan selimut melorot. Mukanya pucat, berkeringat, termometer jatuh di lantai.
Alvian terkejut dan langsung mendekat. Menyentuh keningnya, panas, sekitar 39 derajat.
"Ini pasti karena kehujanan kemarin," Alvian bergumam, hendak menggendong tetapi tangannya dicegat oleh Clarissa.
"Kamu-... Kamu mau ngapain?"
"Yang patuh. Sekarang kamu pasien."
Untuk pertama kalinya Clarissa mendengar nada bicara yang tegas dari Alvian. Seperti anak kucing, dia tak berani bergerak saat Alvian membopongnya ke atas ranjang.
"Aku akan ambil kompres. Jangan ke mana-mana."
Alvian langsung turun, lari ke dapur. Tak sampai lima menit dia kembali dengan membawa ember berisi air hangat, dan sebuah handuk bersih.
Clarissa memejamkan mata. Nafasnya berat dan tidak teratur. Saat Alvian hendak menaruh handuk ke keningnya, Clarissa tahan tangan Alvian.
"Jangan bilang papa."
Alvian mengangguk, menyingkirkan tangan Clarissa dan lanjut mengompres. "Iya. Nggak akan bilang."
Setelah membasahi handuk beberapa kali, Alvian membantu Clarissa minum. Dua teguk, batuk lagi, badan kejang sedikit.
Mata Alvian langsung menyipit, sambil menatap "Bronkitis, atau pneumonia. Jaga 3 hari berturut-turut, tidur kurang. Di tambah kemarin kehujanan, daya tahan runtuh."
Alvian keluarkan HP dari saku, belum juga masuk ke daftar kontak, Clarissa mengulurkan tangan, menahannya.
"Jangan... panggil... siapa-siapa. Aku tak mau orang lain tahu. Malu."
Alvian diam sejenak. "Kenapa? Kamu ini bukan demam biasa. Kamu SpJP. Harusnya tahu, kan?"
"Pokoknya jangan. Aku hanya butuh istirahat, sama paracetamol, nanti juga baikan."
Alvian tak berdaya. "Oke. Paracetamol dulu. Kalau 6 jam demamnya tidak turun, kita langsung ke UGD. Deal?"
Clarissa mengangguk lemah.
Alvian pergi ke kamarnya. Membuka laci, hanya temukan paracetamol infus. Tidak ada selang, apalagi tiang infus. Pada akhirnya Alvian harus pergi ke klinik, mengambil semua itu. Tak lupa juga stetoskop, dan oximeter.
Sekitar Jam 04.00 Alvian kembali. Dia langsung membawa semua barang ke lantai dua.
"Ngapain... bawa itu?" tanya Clarissa, lemah.
Dia berpikir Alvian turun ke kamarnya untuk mengambil pil paracetamol. Tidak disangka, malah kembali dengan satu set infus, termasuk tiang infus. Pantas saja, perginya sangat lama.
"Ini sungguh berlebihan."
Alvian mengangkat wajahnya, menatap Clarissa sambil menyiapkan infus. Berkata, "Jangan cerewet. Nanti kamu aku gendong ke UGD baru tahu rasa. Mau aku gendong?"
"..."
Tidak ada jawaban. Hanya cemberut, lalu memalingkan wajah sambil menutup selimut.
"Kamu baru minum 2 teguk batuknya 5 menit. Infus seperti ini lebih efisien. Tidak sampai tiga puluh menit, pasti selesai." Alvian menepuk selimut, "Kasih tangan."
Tapi Clarissa tidak langsung memberikan tangannya. "Kamu... dokter umum. Memangnya bisa?"
"Memangnya ada dokter yang tidak bisa menyuntik infus? Itu pelajaran semester 3. Kalau tidak bisa, bagaimana bisa punya STR?"
Shut...
Masuk mulus. Tidak meleset sedikit pun. Tempelkan plester, selesai.
Clarissa bergeming. Tak komentar.
"Sudah, tidur sana. Aku jaga di sini."
Baru berniat memejamkan mata, Clarissa menoleh kepada Alvian. "Kamu... Jaga di sini? Buat apa? Turun sana, kamu lupa dengan batasnya?"
Alvian pura-pura tidak dengar, sudah duduk di sofa, menutup mata.
"Dasar!" keluh Clarissa. Tapi tidak bisa bertindak apapun.
---
Jam 07.00 pagi, Bi Irah datang seperti biasa. Dia naik ke lantai dua, melihat pintu kamar terbuka, spontan berjalan ke sana.
"Lho, Mas Alvian kok di sini?"
Alvian bangun, segera mengingatkan Bi Irah. "Sst... Bi, istri saya masih tidur. Tadi pagi demam tinggi banget, biarkan dia istirahat."
Bi Irah beralih ke ranjang, menemukan Clarissa yang masih tidur terlelap. "Ya ampun, Non Clarissa? Gimana sekarang, Mas? Sudah tidak apa-apa, kan?"
"Sudah mendingan sekarang. Tolong Bi Irah buatkan bubur. Yang encer, jangan pakai cabe. Tehnya juga, tambahin madu sedikit."
"Siap, Mas. Bibi ke dapur sekarang."
___
Jam 10.00. Demam sudah agak turun, 37.5.
Clarissa perlahan membuka mata, bangun. Matanya langsung tertuju ke sofa, di mana Alvian tidur sambil tangannya masih pegang selang infus kosong.
Clarissa mencabut jarum infus sendiri. Pelan, terlihat profesional. Langsung membuangnya ke safety box yang sudah Alvian siapkan.
Meski Clarissa berusaha tidak mengeluarkan suara sekecil apapun, Alvian seolah dapat merasakan pergerakan di sekitarnya, dan terbangun.
"Kok dicabut? Sudah nggak pusing?"
"Sudah habis. Ngapain terus pasang." Suaranya masih serak. Tapi sudah tidak terlalu ketus. "Kamu... Dari semalam di sini?"
"Iya. Takut kamu tiba-tiba hilang."
Clarissa berdecak. "Dasar sinting."
"Ini sudah jam berapa? Kamu tidak pergi ke klinik?"
"Buat apa ke klinik. Di sini saja ada orang sakit," ucap Alvian sambil tertawa.
Pas di waktu itu Bi Irah datang. Ini sudah yang ketiga kalinya dia datang untuk mengantarkan bubur. Tapi karena dari pagi Clarissa masih tidur, dia menyimpannya di dapur.
"Sini, Bi Irah. Biar saya saja." Alvian mengambil alih, langsung mendekat ke Clarissa, menyuapinya.
"Aku bisa sendiri."
Tapi setelah itu Clarissa malah batuk, membuat akhirnya pasrah disuapi oleh Alvian. Satu suap, dua suap.
Meski awalnya menolak, tapi dalam sekejap habis satu mangkok.
"Tidur lagi sana. Aku mau bawa mangkok ke bawah."
Clarissa menatap punggung Alvian. Hari ini, dia baru pertama kali merasakan dirawat oleh seorang pria. Ada sesuatu yang berbeda, tetapi secara naluri dia tidak mengakui hal tersebut.
"Pasti karena sakit, jadi mudah tersentuh."
Clarissa tidur lagi. Sepuluh menit kemudian Alvian datang lagi, membawa handuk basah, menyeka tubuh Clarissa.
Tangan, kaki, Clarissa masih tidur dengan tenang. Tapi saat Alvian menyeka bagian leher, matanya langsung terbuka. "Ka-kamu ngapain?"
Alvian tersenyum tanpa rasa bersalah. "Lagi kompres Istri. Turunin panas. Ini juga bagian tindakan medis dan ada jurnalnya."
Clarissa terdiam. Akhirnya membiarkan Alvian melanjutkan, tapi matanya terus mengintai penuh peringatan.
"Jangan cari kesempatan."
"Sama istri sendiri masa tidak boleh."
"Alvian! Berpikir yang tidak-tidak, aku akan menendangmu."
Alvian tertawa kecil. " Sudah galak. Sebentar lagi pasti sembuh."
Clarissa hendak bicara, saat itu ponselnya menerima sebuah pesan. Dari Papa.
"Kamu kenapa? Kok nggak masuk? Papa dengar kamu minta izin. Apa kamu sakit?"
"Clara?"
Clarissa baca tapi bingung bales apa.
Alvian di samping memberi saran, "Bilang aja, sudah mendingan, Pa. Ada suami yang rawat."
Clarissa angkat kepala, menatap Alvian sinis.
"Udah mendingan, Pa. Istirahat di rumah." Isi pesan Clarissa.
Alvian mengintip, langsung protes. "Lho? Kok nggak bilang ada suami?"
"Berisik. Kamu jangan ikut campur."
"..."
Tidak lama setelah pesan terkirim, dr. Hendra langsung melakukan VC.
Clarissa panik. "Matikan. Cepat matikan."
Tetapi Alvian yang berada di samping nakas sudah menjawabnya. "Halo, Pah!"
Muka Alvian, full screen.
Dokter Hendra yang ada di seberang kebingungan. "Lho, kok kamu yang angkat. Mana Clara?"
"Ini, Pa. Di samping. Malu-malu dia."
Mendengar ini mata Clarissa melotot. "Kamu-... Kenapa bilang begitu?! Bilang aja sudah tidur."
Alvian diam sejenak sebelum mengangguk. "Oh! Bukan Pa... Istri... Katanya sudah tidur."
"Katanya? Sudah tidur kok katanya. Kamu ini tidak pandai bohong. Cepat arahkan kameranya ke Clara, saya mau lihat."
Clarissa mendesah kesal. Mengambil HP sambil setengah sewot. "Dasar!"
"Ha-halo, Pa."
"Kamu ini kebanyakan jaga. Kurang istirahat, makan suka telat ...." Dokter Hendra mulai berkata-kata. Petuah demi petuah, satu persatu dikeluarkan, membuat yang dengar sampai bosan.
"Iya Pa. Clara mengerti. Sudah dulu ya, Clara mau istirahat."
_Tut_.
Setelah letakkan HP mata Clarissa tertuju ke Alvian. "Sudah dibilang matikan malah diangkat. Kenapa?"
"Biar Papa tidak khawatir. Lihat? Papa sudah tenang sekarang karena di rumah ada suami yang rawat."
Clarissa diam. Detik berikutnya menyambar bantal, melemparnya.
Buk!
Tidak kencang, tapi tepat kena muka Alvian.
Alvian langsung teriak. "KDRT. Seseorang, tolong hubungi KPAI."