NovelToon NovelToon
Siksa Kontrak Sang CEO: Air Mata Di Atas Ranjang Madu

Siksa Kontrak Sang CEO: Air Mata Di Atas Ranjang Madu

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Selingkuh / Konflik etika
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

Asha mengira pernikahan kontrak dengan Arlan, sang Titan industri, adalah jalan keluar dari kemiskinan. Namun, ia salah. Di balik kemewahan Kota Neovault, Asha hanyalah "piala" yang dipamerkan di antara deretan wanita simpanan Arlan. Puncaknya, Arlan membiarkan Asha disiksa oleh selingkuhannya sendiri demi menutupi skandal bisnis. Saat tubuhnya hancur dan janinnya terancam, Asha menyadari bahwa ia tidak sedang menikah, melainkan sedang dikuliti hidup-hidup oleh pria yang ia cintai. Ketika cinta berubah menjadi dendam yang dingin, apakah air mata cukup untuk membayar pengkhianatan yang berdarah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kontrak yang Menjerat

​Asha Valeska meringkuk di sudut gudang yang lembap, membiarkan pipinya yang lebam menempel pada semen dingin yang berdebu. Di tengah siksaan rasa sakit yang berdenyut di sekujur tubuhnya, pikirannya melayang kembali ke dua tahun lalu. Saat itu, Neovault Metropolis tampak seperti kota harapan, bukan penjara bawah tanah yang mematikan. Ia mengingat aroma parfum mahal dan ruang kerja Arlan yang megah saat kontrak itu pertama kali diletakkan di hadapannya.

​"Tanda tangani ini, Asha. Kau butuh uang untuk pengobatan ibumu, dan aku butuh istri formalitas untuk menenangkan dewan direksi," ucap Arlan saat itu, suaranya terdengar sangat meyakinkan dan penuh wibawa.

​Asha mengingat betapa gemetar tangannya saat memegang pulpen emas tersebut. Ia hanya seorang gadis dari distrik Rust yang mencoba bertahan hidup. Ia tidak membaca setiap baris dengan teliti. Ia hanya melihat angka-angka yang akan menyelamatkan keluarganya. Namun kini, di tengah kegelapan gudang, memori itu terasa seperti jerat yang perlahan-lahan mencekik lehernya.

​"Aku bodoh. Aku benar-benar bodoh," bisik Asha, suaranya parau dan pecah.

​Ia teringat klausul tersembunyi yang baru ia sadari beberapa bulan setelah pernikahan dimulai. Di sana, di antara istilah hukum yang rumit, terselip poin mengenai penyerahan hak asasi manusia secara mutlak kepada pihak pertama selama masa kontrak. Arlan bukan hanya membeli waktunya, pria itu membeli seluruh keberadaannya. Kontrak itu adalah surat kepemilikan, bukan perjanjian kemitraan.

​"Kau membacanya dengan teliti, Asha?" sebuah suara bayangan dari masa lalu kembali terngiang di telinganya.

​"Aku membacanya, Arlan. Aku percaya padamu," jawab Asha dalam ingatannya sendiri.

​"Kepercayaan adalah mata uang yang paling tidak berharga di Neovault, Sayang," balas Arlan dengan senyum sinis yang kini menjadi kenyataan pahit bagi Asha.

​Rasa sakit di bahunya, bekas luka bakar dari cerutu Elena, menyentak Asha kembali ke realitas. Ia tahu ia tidak bisa mati di sini. Jika ia mati di gudang ini, Arlan akan menghapus jejaknya seolah ia tidak pernah ada. Ia harus pergi. Dengan tenaga yang tersisa, Asha mencoba merangkak menuju pintu besi yang sedikit renggang. Setiap inci pergerakannya membuat tulang rusuknya yang patah seolah menusuk paru-parunya.

​"Aku harus keluar... aku harus mencari bantuan," rintihnya sambil menggigit bibir hingga berdarah untuk menahan jeritan.

​Keringat dingin membasahi punggungnya yang terluka. Ia berhasil mencapai pintu. Di luar sana, lorong gudang tampak sepi, hanya ada lampu neon yang berkedip-kedip tidak stabil. Asha menarik napas panjang, mencoba menstabilkan penglihatannya yang kabur. Ia merangkak di sepanjang dinding, menggunakan sisa kekuatannya untuk berdiri meskipun lututnya gemetar hebat.

​"Siapa di sana?" suara teriakan berat dari ujung koridor membuat jantung Asha nyaris berhenti berdetak.

​Itu adalah penjaga keamanan Arlan. Asha mencoba mempercepat langkahnya yang pincang. Ia melihat sebuah pintu keluar darurat di ujung lorong yang menuju ke area dermaga sungai Rust. Ia harus mencapainya. Namun, suara langkah sepatu bot yang berat semakin mendekat, bergema di lantai beton yang sunyi.

​"Berhenti, Nyonya! Kau tidak diizinkan meninggalkan ruangan!" teriak penjaga itu lagi.

​Asha mengabaikannya. Ia terus menyeret tubuhnya yang hancur, setiap langkah terasa seperti injakan paku panas. Ketika ia nyaris mencapai pintu keluar, sebuah tangan besar mencengkeram bahunya yang terluka.

​"Aaaarrgh!" Asha menjerit kesakitan saat luka bakarnya ditekan tanpa ampun.

​"Kau pikir bisa kabur dari Tuan Arlan? Kau adalah properti perusahaan sekarang," desis penjaga itu sambil memutar tubuh Asha dengan kasar.

​"Lepaskan aku! Aku manusia, bukan barang!" teriak Asha, meskipun suaranya terdengar sangat lemah.

​"Di mata hukum Neovault, berdasarkan kontrak yang kau tandatangani, kau telah menyerahkan hak asasimu. Kau tidak punya kuasa atas tubuhmu sendiri, Nyonya," balas penjaga itu dengan senyuman dingin yang memuakkan.

​Penjaga itu menyentakkan tubuh Asha hingga wanita itu terjatuh kembali ke lantai. Rasa pening menghantam kepalanya dengan kekuatan penuh. Ia melihat bayangan sepatu bot di depannya. Harapannya untuk melarikan diri hancur berkeping-keping.

​"Bawa dia kembali ke dalam. Rantai kakinya jika perlu. Tuan Arlan tidak ingin ada gangguan saat pesta nanti malam," instruksi seorang penjaga lain yang baru saja datang.

​"Kenapa? Kenapa kalian melakukan ini?" tanya Asha sambil terisak, wajahnya menempel di semen yang berdebu.

​"Karena itu tugas kami. Dan karena kau tidak cukup pintar untuk membaca apa yang kau jual, Asha Valeska," jawab penjaga pertama sambil menjambak lengannya dan menyeretnya kembali ke dalam kegelapan gudang.

​Asha meronta, namun setiap gerakan hanya memperparah rasa sakit di sekujur tubuhnya. Ia merasa seperti binatang buruan yang telah terperangkap dalam jaring laba-laba raksasa. Kontrak itu bukan sekadar kertas, itu adalah rantai yang tidak terlihat namun sangat kuat. Ia mengingat bagaimana Arlan tersenyum saat menyerahkan pulpen itu padanya dua tahun lalu. Senyum yang kini ia sadari adalah seringai pemangsa yang melihat mangsanya masuk ke dalam jebakan.

​"Kau tidak bisa lari, Asha. Neovault adalah milikku, dan kau adalah salah satu aset di dalamnya," suara Arlan seolah berbisik di udara dingin gudang tersebut.

​Asha kembali dilemparkan ke sudut ruangan yang sama. Pintu besi ditutup dan dikunci dari luar dengan bunyi dentuman yang mematikan harapan. Ia sendirian lagi dalam kegelapan. Ia menyentuh pergelangan tangannya, membayangkan rantai imajiner yang kini mengikatnya secara hukum.

​"Pernikahan ini adalah penjara. Dan aku telah menandatangani surat hukuman matiku sendiri," tangis Asha pecah di tengah keheningan.

​Ia teringat betapa ibunya sempat ragu saat melihat kontrak itu. Namun, Asha meyakinkannya bahwa Arlan adalah pria baik. Ia merasa sangat berdosa telah menyeret kehormatannya ke dalam lumpur hitam Neovault demi uang yang kini pun tidak bisa menyelamatkan nyawanya. Arlan telah merencanakan ini semua sejak awal. Pernikahan kontrak ini hanyalah taktik bisnis untuk mendapatkan citra baik, sementara di balik layar, ia bisa memperlakukan istrinya seperti budak tanpa takut terjerat hukum.

​"Kontrak itu... aku harus menghancurkannya," gumam Asha di tengah kesadarannya yang mulai turun naik.

​Ia tahu Arlan menyimpan salinan aslinya di brankas mansion atau di kantor pusat Neovault. Selama kertas itu ada, ia tidak akan pernah benar-benar bebas. Ia adalah tawanan hukum yang sah. Rasa frustrasi dan putus asa bercampur menjadi satu, menciptakan badai emosi di dalam dadanya yang sesak.

​"Apakah ada jalan keluar? Apakah ada orang yang bisa menolongku?" tanyanya pada dinding gudang yang bisu.

​Namun, ia tahu jawabannya. Di Neovault, semua orang bisa dibeli. Polisi, hakim, bahkan pengacara terbaik sekalipun berada di bawah kendali dompet Arlan. Ia hanyalah seorang wanita dari Rust yang terjebak dalam permainan kelas atas yang kejam. Penghinaan mental ini terasa jauh lebih berat daripada luka fisik di tubuhnya. Ia merasa sangat kecil, tidak berarti, dan habis terpakai.

​"Aku akan bertahan. Aku harus menemukan cara untuk membalikkan kontrak ini," bisik Asha, mencoba menguatkan hatinya yang rapuh.

​Ia memejamkan mata, mencoba menyimpan tenaga. Bayangan Arlan yang sedang bersulang dengan para koleganya, memamerkan kekuasaannya, sementara istrinya sendiri sekarat di gudang tua, terus membakar amarah di dalam diri Asha. Ia menyadari bahwa cinta yang pernah ada hanyalah ilusi yang sengaja diciptakan untuk mempermudah transaksi.

​"Kau salah jika berpikir aku akan menyerah begitu saja, Arlan," ucapnya lirih sebelum kembali jatuh ke dalam tidur yang penuh dengan mimpi buruk tentang kertas-kertas kontrak yang berubah menjadi ular-ular hitam yang melilit tubuhnya hingga sesak napas.

​Gudang itu tetap dingin, tetap sunyi, dan tetap menjadi saksi bisu atas penindasan yang dilegalkan oleh hukum kontrak Neovault. Asha Valeska, sang piala yang kini pecah, harus menghadapi kenyataan bahwa musuh terbesarnya bukanlah senjata, melainkan tanda tangannya sendiri yang telah merenggut kemanusiaannya. Di luar sana, angin malam Neovault bertiup kencang, membawa aroma kemewahan yang dibangun di atas penderitaan jiwa-jiwa yang terjerat kontrak abadi.

1
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
EsKobok: siaaappp kakk 💪💪
total 1 replies
𝐀⃝🥀Weny
ingatlah Arlan, bahwa karma itu ada😁
𝐀⃝🥀Weny: nek kurma enak thor.. lha nek karma🤣🤣
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!