NovelToon NovelToon
Shan Luo

Shan Luo

Status: tamat
Genre:Action / Balas Dendam / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:12.8k
Nilai: 5
Nama Author: Agen one

“Demi ibu, apa pun akan kulakukan!”

Dianggap sampah oleh ayahnya sendiri karena tak memiliki bakat kultivasi, Shan Luo hidup dalam hinaan. Demi melindungi ibunya, ia memilih pergi meninggalkan segalanya.

Takdirnya berubah saat ia menemukan sebuah gua misterius yang menyimpan warisan terlarang: Sabit Jiwa Kegelapan.

Dengan kekuatan itu, Shan Luo bersumpah
“Aku akan membalas semua yang menghina aku dan ibuku!”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17: Nenek-nenek

Pagi itu, hutan purba Federasi Lin tidak memberikan belas kasihan. Di bawah kanopi raksasa yang menutupi langit, Shan Luo terengah-engah.

Keringat membasahi seluruh tubuhnya, sementara ia mencoba menyeimbangkan dirinya di atas sehelai daun lebar yang melayang di atas kolam es.

​Lin Yue berdiri di atas dahan pohon setinggi sepuluh meter di atasnya.

Jubah hijau zamrudnya berkibar pelan, memberikan kesan seolah ia adalah bagian dari hutan itu sendiri.

​"Fokus, Shan Luo. Jika pikiranmu goyah satu inci saja, es di bawahmu akan pecah dan kau akan tenggelam dalam suhu yang bisa membekukan Dantianmu," suara Lin Yue terdengar jernih, bergema di antara pepohonan purba.

​Shan Luo memejamkan mata, mengatur napasnya.

Setelah dua jam latihan keseimbangan Qi yang menyiksa, Lin Yue akhirnya melompat turun.

Gerakannya begitu anggun, mendarat di atas permukaan air tanpa menimbulkan satu pun riak.

​"Cukup untuk pagi ini. Istirahatlah," ucap Lin Yue sambil berjalan menuju tepian kolam yang dipenuhi bunga-bunga bercahaya.

​Shan Luo merangkak keluar dari kolam, menggigil namun merasa aliran Qi-nya jauh lebih padat.

Ia duduk di samping gurunya, mengambil sepotong buah hutan yang sudah disiapkan. Sambil mengunyah, ia menatap wajah Lin Yue dari samping.

​Wajah itu begitu halus. Kulitnya seputih porselen, tanpa satu pun kerutan.

Matanya yang setajam belati perak itu kini tampak tenang menatap riak air.

Shan Luo teringat ibunya, Xue Ling, yang meskipun cantik, sudah memiliki garis-garis halus di sudut matanya, tanda dari beban hidup selama puluhan tahun.

​"Guru ..." gumam Shan Luo tiba-tiba.

​"Hmm?" Lin Yue menoleh sedikit, helaian rambut hitamnya yang diikat tinggi bergoyang pelan.

​"Aku penasaran. Berapa sebenarnya umurmu? Kau tampak sangat muda, bahkan mungkin tidak jauh berbeda dariku jika dilihat sekilas. Tapi pengetahuanmu ... cara kau bicara ... seolah-olah kau sudah melihat dunia berakhir berkali-kali."

​Lin Yue terdiam sejenak. Sebuah senyum tipis, hampir tak terlihat, muncul di bibirnya. "Umur bagi seorang Pendekar tingkat tinggi hanyalah deretan angka yang tidak bermakna, Shan Luo."

​"Tetap saja! Ibuku berumur empat puluh tahun lebih, dan dia bilang dia sudah tua. Apakah kau ... lima puluh? Enam puluh?" tanya Shan Luo dengan polosnya.

​Lin Yue terkekeh pelan, suara yang terdengar seperti lonceng perak yang ditiup angin. "Tambahkan beberapa angka lagi di belakangnya, Nak."

​Shan Luo mengerutkan kening, menghitung dengan jarinya. "Tunggu ... jangan bilang kau sudah seratus tahun?"

​"Tiga ratus empat puluh dua tahun, tepatnya di musim gugur kemarin," jawab Lin Yue santai, seolah ia hanya membicarakan harga sayuran di pasar.

​Hening sejenak.

​Mata Shan Luo membelalak hingga hampir keluar dari kelopak matanya. Ia menelan potongan buah di mulutnya dengan susah payah, lalu tiba-tiba ia meledak dalam tawa.

​"BWAHAHAHA! Tiga ratus tahun lebih?!" Shan Luo memegangi perutnya, berguling di atas rumput hijau yang empuk. "Jadi ... jadi selama ini aku berguru pada seorang nenek-nenek?!"

​Lin Yue mengernyit, alisnya bertaut. "Nenek-nenek? Beraninya kau—"

​"Iya! anda ini nenek buyut dari nenek buyutku!" Shan Luo tertawa semakin kencang, air mata mulai muncul di sudut matanya. "Ibuku saja masih puluhan tahun, dia tampak seperti kakakmu jika kalian berdiri berdampingan. Tapi ternyata anda sudah ... astaga, anda sudah purba seperti pohon-pohon di sini!"

​Shan Luo terus tertawa tanpa menyadari bahwa aura di sekitar Lin Yue mulai mendingin.

Di mata remaja lima belas tahun yang masih sangat lugu ini, fakta bahwa seseorang bisa hidup ratusan tahun namun tetap tampak cantik adalah hal yang sangat lucu dan absurd.

Ia tidak mengerti tentang konsep keabadian atau kultivasi tingkat tinggi yang bisa menghentikan penuaan sel.

​"Oh, jadi aku ini nenek-nenek di matamu, ya?"

​Tanpa peringatan, Lin Yue bergerak. Secepat kilat, ia sudah berada di atas tubuh Shan Luo, menekan bahu pemuda itu ke rumput.

Shan Luo terhenti tertawa, napasnya tertahan saat melihat wajah Lin Yue hanya berjarak beberapa inci dari wajahnya.

​Aroma harum hutan dan dinginnya salju dari tubuh Lin Yue menyeruak masuk ke indra penciuman Shan Luo.

​"Katakan lagi," bisik Lin Yue, suaranya kini rendah dan berbahaya, namun ada kilatan jenaka di matanya. "Katakan sekali lagi bahwa gurumu ini adalah nenek-nenek, dan aku akan memastikan latihanmu besok berlangsung di dasar kolam es tanpa napas."

​Shan Luo menelan ludah. Jantungnya tiba-tiba berdetak sangat kencang, bukan karena takut, tapi karena sensasi aneh yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Ia bisa melihat setiap detail di mata Lin Yue, betapa jernih dan dalamnya tatapan itu.

​"T-tapi ... itu kenyataannya, kan? Nenek Guru ..." bisik Shan Luo dengan nada menantang namun gemetar.

​Lin Yue tidak marah. Ia justru menatap Shan Luo dengan pandangan yang sangat lembut. Ia mengangkat tangannya, perlahan mengusap pipi Shan Luo yang masih kemerahan karena tertawa. Jemarinya yang dingin terasa sangat nyaman di kulit Shan Luo yang hangat.

​"Bocah kecil yang nakal," gumam Lin Yue. Ia membelai rambut dua warna milik Shan Luo, menyisir helai-helai putih perak itu dengan jari-jarinya. "Di dunia kultivasi, kecantikan adalah abadi bagi mereka yang kuat. Umurku mungkin ratusan tahun, tapi jiwaku tetap sama sejak aku pertama kali mencapai ranah ini."

​Ia mendekatkan wajahnya sedikit lagi, membuat ujung hidung mereka hampir bersentuhan.

Shan Luo merasa wajahnya memanas, sebuah perasaan asing yang membuatnya ingin menjauh namun sekaligus ingin tetap di sana selamanya.

​"Apakah nenek-nenek bisa bergerak secepat aku? Apakah nenek-nenek memiliki kulit sehalus ini?" tanya Lin Yue dengan nada menggoda yang jarang ia tunjukkan.

​Shan Luo terdiam, lidahnya kelu. Ia benar-benar tidak mengerti apa yang terjadi pada dirinya.

Ia hanya merasa bahwa gurunya ini, meski sudah berumur ratusan tahun, adalah makhluk paling menakjubkan yang pernah ia lihat.

​"Sudahlah," Lin Yue akhirnya melepaskan tekanannya dan duduk kembali, meski tangannya masih mengusap kepala Shan Luo yang berbaring di rumput. "Kau masih terlalu kecil untuk mengerti hal-hal seperti ini. Lima belas tahun ... kau masih seperti tunas kecil di hutan ini."

​Shan Luo bangkit duduk, mencoba mengatur detak jantungnya yang liar. "Aku akan segera besar, Guru. Dan saat aku besar nanti, aku akan menjadi lebih kuat darimu, jadi aku bisa menjagamu ... meskipun kau sudah sangat tua."

​Lin Yue menatap Shan Luo cukup lama, lalu ia tersenyum, senyum tulus yang membuat seluruh hutan seolah-olah ikut bersinar. Ia menarik kepala Shan Luo dan menyandarkannya di bahunya yang ramping.

​"Aku akan menunggu hari itu, Muridku yang sombong," bisik Lin Yue pelan.

1
Ajipengestu
lanjut thor👍
Iwa Kakap
ribet amat thor
Beni: itu cuma penjelasan naik ranah sama kesulitannya aja. gak perlu di pikirin hehe. /Pray/
total 1 replies
angin kelana
ayooooo jdi juara💪💪💪
Beni
oke... 😐
Beni
😛
Beni
/Hunger//Sweat/
Beni
😐
Beni
oke... 😐
angin kelana
semangat bertarung💪💪💪
angin kelana
anak baik👍
angin kelana
semangaaat menjadi kuat..
angin kelana
ayo buktikan kekuatanmu💪💪💪
angin kelana
ayoooo lebih kuat lg
angin kelana
lanjuuuttt...
angin kelana
kalo untuk pengenalan bole lah pake english tpi ke depannya gak usah ajah ini kan fantasi timur bukan barat..lanjut👍
Beni: nanti di revisi ya, terima kasih/Pray/
total 1 replies
angin kelana
lanjuuuttt..
angin kelana
dunia yg kejam.😬
Beni
😐
Jade Meamoure
bagus 🤣🤣🤣
Jade Meamoure
Yan Bingchen bukankah itu patriarki sekte es ya
Beni: Pendekar es dan api
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!