NovelToon NovelToon
Cinta Dititik Nol Rupiah

Cinta Dititik Nol Rupiah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:687
Nilai: 5
Nama Author: By Magus

Agus adalah seorang pemuda yang hidup dalam jeratan ekonomi. Di rumahnya yang sederhana, ia harus berbagi beban dengan ayahnya, Marjuki, yang mulai sakit-sakitan, dan ibunya, Asmah, yang hanya bisa pasrah pada keadaan. Di tengah rasa sepi, Agus mengunduh sebuah aplikasi jodoh dan bertemu dengan Nor Rahma.

Bagi Agus, Rahma adalah sosok yang terlalu sempurna. Rahma memiliki pekerjaan tetap, pendidikan yang baik, dan paras yang menawan. Hubungan mereka yang bermula dari layar ponsel berlanjut ke arah yang lebih serius. Namun, tantangan muncul saat Rahma meminta bukti keseriusan berupa komitmen untuk melamar dan membangun masa depan yang stabil.

Agus terjepit. Di satu sisi, ia sangat mencintai Rahma. Di sisi lain, pendapatannya sebagai pekerja serabutan tidak pernah cukup untuk menabung, apalagi membiayai pernikahan yang layak. Keluarga Agus tidak memiliki simpanan sama sekali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 32

Cahaya matahari pagi yang masuk melalui jendela besar di ujung lorong rumah sakit terasa menyilaukan mata Agus yang tidak terpejam hampir sepanjang malam. Suasana rumah sakit mulai berubah; kesunyian malam yang mencekam digantikan oleh derap langkah kaki para perawat yang berganti shift, aroma bubur hambar dari troli makanan yang lewat, dan suara gesekan roda brankar yang dipindahkan. Agus masih duduk di posisi yang sama, memandangi ujung kakinya yang membengkak di dalam sepatu kets yang kusam. Pikirannya tidak di sini. Pikirannya melayang pada kesepakatan gelap yang ia buat dengan Bang Kumis beberapa jam lalu.

Ia harus pergi malam ini. Namun, tantangan terbesarnya saat ini bukan hanya rasa sakit di kakinya, melainkan bagaimana ia harus berbohong pada ibunya. Ibu agus adalah wanita yang memiliki insting tajam. Sedikit saja Agus menunjukkan kegelisahan, rahasianya tentang pemecatan dan rencana nekatnya bisa terbongkar.

"Gus, ini sarapanmu. Dimakan dulu, tadi Lukman titipkan sebelum dia pulang sebentar untuk mandi," ucap ibu agus sambil menyerahkan sebungkus nasi rames yang masih terasa hangat.

Agus menerima nasi itu, namun tangannya terasa berat. "Ibu sudah makan?"

"Ibu nanti saja, nunggu Bapakmu di dalam selesai diperiksa dokter jaga pagi ini," jawab ibu agus. Ia duduk di samping Agus, matanya yang sembab menatap wajah anaknya dengan lekat. "Gus, kamu pucat sekali. Kamu tidak tidur ya semalam?"

Agus memaksakan sebuah anggukan kecil sambil membuka bungkus nasi. Aroma bawang goreng dan sambal biasanya membangkitkan selera makan, namun kali ini kerongkongannya terasa menyempit. "Banyak pikiran, Bu. Agus mikir gimana caranya urusan rumah sakit ini lancar terus."

Ibu agus menghela napas, tangannya yang kasar mengusap pundak Agus. "Sabar, Le. Gusti Allah pasti kasih jalan. Nak Rahma sudah bantu banyak, kita harus syukuri itu."

Mendengar nama Rahma, Agus merasa sebuah batu besar seolah dijatuhkan di atas dadanya. "Bu... soal pekerjaan Agus. Tadi pagi Agus dapat kabar dari teman di gudang. Katanya ada proyek lembur besar-besaran di gudang cabang yang di dekat pelabuhan lama. Bayarannya tunai dan langsung cair malam ini."

Ibu agus mengerutkan kening, raut wajahnya berubah menjadi cemas. "Pelabuhan lama? Bukannya itu jauh sekali dari sini? Lagipula lihat kakimu itu, Gus. Berdiri saja kamu harus pakai kayu. Mana mungkin kamu bisa kerja panggul?"

Agus menelan suapan nasinya dengan susah payah. Ia sudah menyiapkan skenario ini sejak subuh tadi. "Proyeknya bukan panggul semen, Bu. Cuma bagian penghitungan barang masuk dan keluar. Agus cuma perlu duduk dan mencatat. Katanya mereka butuh orang yang jujur karena barangnya barang elektronik mahal. Karena kakiku sakit, mereka kasih toleransi. Bayarannya lima ratus ribu, Bu. Cuma satu malam."

Angka lima ratus ribu rupiah membuat ibu agus terdiam. Bagi mereka yang hidup dari recehan, angka itu adalah sebuah keajaiban. Agus bisa melihat binar keraguan sekaligus harapan di mata ibunya.

"Lima ratus ribu? Benar segitu, Gus?" tanya ibu agus, suaranya sedikit bergetar.

"Iya, Bu. Teman Agus yang jamin. Makanya, Agus harus pergi malam ini. Kalau Agus tidak ambil, sayang sekali. Uang itu bisa buat bayar hutang Pak RT sama Pak Kumis, sisanya buat pegangan Ibu di sini," Agus terus menenun kebohongannya, meskipun setiap kata yang keluar terasa seperti racun yang ia telan sendiri.

"Tapi Bapakmu... kalau ada apa-apa malam ini, bagaimana? Nak Rahma juga pasti tidak akan setuju kalau tahu kamu kerja jauh-jauh dengan kondisi kaki begitu," ibu agus masih mencoba mencari alasan untuk menahan anaknya.

"Rahma tidak usah tahu dulu, Bu. Biar jadi kejutan kalau Agus sudah pegang uangnya. Soal Bapak, kan ada Lukman yang nanti malam kembali ke sini jaga Ibu. Agus berangkat jam delapan malam, subuh sudah balik lagi ke sini," Agus memohon dengan tatapan mata yang ia buat seyakinkan mungkin.

Ibu agus menunduk, menatap jari-jarinya yang gelisah. "Ibu takut, Gus. Hati Ibu rasanya tidak enak."

"Percaya sama Agus, Bu. Ini demi kita semua. Agus tidak mau kita terus-terusan berhutang nyawa sama Rahma. Agus ingin Bapak bisa dirawat dengan tenang tanpa kita harus pusing cari uang harian," Agus memegang tangan ibunya.

Setelah keheningan yang cukup lama, ibu agus akhirnya mengangguk pelan, meskipun wajahnya tetap diliputi kecemasan. "Ya sudah, kalau memang itu sudah keputusanmu. Tapi janji sama Ibu, jangan dipaksakan kalau kakimu tidak kuat. Dan jangan telat balik ke sini."

Siang harinya, dokter mengizinkan Agus masuk ke dalam ruang ICU selama sepuluh menit untuk melihat kondisi bapaknya. Suasana di dalam ruangan itu jauh lebih dingin dan sunyi dibandingkan di luar. Suara detak monitor jantung beep... beep... beep... menjadi satu-satunya irama kehidupan yang ada.

Agus berdiri di samping ranjang bapaknya. Bapak agus masih memejamkan mata, wajahnya yang tirus dibantu oleh masker oksigen yang menutupi separuh wajahnya. Berbagai kabel terhubung ke tubuh kurus itu. Agus merasakan perih di matanya. Ia menyentuh tangan bapaknya yang terasa dingin dan keras.

"Pak... ini Agus," bisiknya dengan suara yang pecah. "Agus mau pergi sebentar malam ini. Cari bekal buat Bapak. Bapak harus kuat ya. Jangan menyerah. Agus akan lakukan apa saja supaya Bapak bisa sembuh dan kita bisa pulang ke rumah."

Tiba-tiba, Agus merasakan gerakan kecil di jari-jari ayahnya. Lemah sekali, namun itu nyata. Bapak agus tidak membuka mata, tapi seolah-olah ia memberikan restu yang tidak terucap melalui gerakan kecil itu. Agus mencium tangan bapaknya lama, membiarkan air matanya jatuh di atas kulit keriput itu. Ia tahu, apa yang akan ia lakukan malam nanti adalah pertaruhan yang sangat berbahaya, tapi melihat kondisi bapaknya seperti ini, ia tidak punya pilihan lain.

Sore harinya, Nor Rahma datang kembali ke rumah sakit. Kali ini ia membawa tas besar berisi beberapa pakaian ganti untuk Agus dan ibu agus, serta sebuah kantong plastik berisi susu dan roti. Rahma tampak segar, meski wajahnya tetap menunjukkan sisa-sisa kelelahan.

"Mas Agus sudah makan?" tanya Rahma sambil duduk di samping Agus di koridor.

"Sudah, tadi siang," jawab Agus singkat. Ia merasa sangat canggung berada di dekat Rahma setelah ia merencanakan kebohongan besar pada ibunya.

Rahma memperhatikan kaki Agus yang masih terbungkus perban. "Tadi aku sudah tanya ke perawat, katanya dokter ortopedi sudah lewat tapi Mas Agus tidak ada di tempat. Kenapa tadi tidak diperiksa?"

Agus tertegun. Ia lupa bahwa rumah sakit memiliki jadwal visite dokter. "Tadi... tadi aku ke toilet lama, mungkin kelewatan."

Rahma menatap Agus dengan tatapan menyelidik. "Mas, kamu menyembunyikan sesuatu?"

Jantung Agus berdegup kencang. Ia membuang muka, pura-pura memperhatikan petugas kebersihan yang sedang mengepel lantai. "Menyembunyikan apa? Tidak ada. Aku cuma capek saja."

"Aku tidak ingin kamu sakit, Mas. Masalah Bapak biar kita tanggung bersama. Uang yang kemarin jangan dipikirkan dulu, aku tulus kasih itu," Rahma memegang tangan Agus, mencoba memberikan kekuatan.

Agus menarik tangannya perlahan. Rasa hangat dari tangan Rahma justru membuatnya merasa semakin bersalah. "Rahma, terima kasih. Tapi aku tidak bisa diam saja. Aku harus tetap bergerak. Aku ini laki-laki."

"Keras kepalamu itu yang kadang bikin aku takut, Mas," desah Rahma. "Oh iya, besok pagi Ayah mau mampir ke sini sebentar sebelum ke kantor. Beliau ingin bicara langsung soal rencana usahamu itu. Mas sudah siapkan idenya?"

Agus merasa dunianya seolah runtuh sekali lagi. Pak Hadi mau datang besok pagi? Sementara malam ini ia akan berada di pelabuhan lama, melakukan pekerjaan yang mungkin ilegal, dan kondisinya besok pagi pasti akan hancur total.

"Besok pagi? Jam berapa?" tanya Agus dengan suara bergetar.

"Jam sembilan mungkin. Mas Agus ada kan?"

Agus memaksakan sebuah anggukan. "Iya, aku usahakan ada."

Sepanjang sore itu, Agus merasa seperti duduk di atas bara api. Setiap kali Rahma tersenyum padanya, ia merasa seperti seorang pengkhianat. Ia mencintai wanita ini, namun kemiskinan memaksanya untuk membangun tembok kebohongan di antara mereka. Di dalam sakunya, ia meremas surat pemecatannya yang sudah kumal.

Matahari mulai terbenam, memberikan semburat warna merah darah di cakrawala kota. Agus menatap ke arah luar jendela, ke arah pelabuhan lama yang berada jauh di pinggiran kota. Malam ini akan menjadi penentu. Apakah ia akan pulang membawa lima ratus ribu rupiah dan martabat yang sedikit terangkat, atau ia akan kembali dengan kehancuran yang lebih parah?

"Tuhan, lindungi aku malam ini," bisiknya dalam hati, tepat saat Rahma mengajaknya untuk kembali masuk melihat kondisi ayahnya dari kaca pintu ICU. Agus melangkah dengan kayu penyangganya, setiap ketukannya di lantai seolah menjadi pengingat bahwa ia sedang berjalan menuju kegelapan yang ia pilih sendiri demi sebuah napas untuk orang tuanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!