Feng Yan tidak menyangka kasih persaudaraan berakhir dengan maut. Dibuang, dihina, dan nyaris mati di tangan Feng Yao, ia bersumpah untuk kembali. Bukan sebagai pecundang, melainkan penguasa kegelapan yang siap merebut kembali takhta CEO-nya.
Bersama Rendy si ahli strategi, Reyhan sang pakar IT, dan pengacara tegas Lin Diya, Feng Yan menyusun rencana kehancuran mutlak. Di balik gemerlap dunia korporat, sebuah permainan detektif dimulai untuk membongkar dalang pembantaian keluarganya.
Feng Yao boleh berkuasa sekarang, tapi Feng Yan sudah menyiapkan liang lahat untuknya. Siapakah yang akan bertahan di puncak tertinggi? Balas dendam ini baru dimulai!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Musuh dalam selimut Sutra
Ruang rapat yang tadinya penuh dengan bisikan serakah kini berubah menjadi medan pertempuran tanpa suara. Kedatangan Liu Ruyan dengan gaun merah darahnya seperti percikan api di gudang mesiu. Ia melangkah masuk dengan keanggunan seorang ratu, namun setiap detak tumit sepatunya terdengar seperti lonceng kematian bagi mereka yang paham siapa dia.
Feng Yan tidak bergeming. Ia melepaskan tangannya dari bahu Direktur Han yang sudah lemas, lalu menarik kursi di ujung meja—posisi yang berhadapan langsung dengan pintu masuk.
"Liu Ruyan," ucap Feng Yan datar, namun auranya begitu menekan. "Aku tidak menyangka kau punya nyali untuk menampakkan wajah di kantorku setelah apa yang terjadi di Singapura dua tahun lalu."
Liu Ruyan tertawa kecil, suara tawanya bening namun dingin. "Dunia bisnis itu sempit, Feng Yan. Aku di sini bukan sebagai musuh... setidaknya belum. Aku di sini sebagai pemegang saham baru yang 'menyelamatkan' 5% sahammu yang sempat tercecer di pasar gelap pagi ini."
Mendengar itu, mata Lin Diya menyipit. Sebagai pengacara, ia tahu ini adalah langkah hostile takeover (pengambilalihan paksa) yang sangat halus.
"Secara hukum korporasi," Diya melangkah maju, berdiri di samping Feng Yan, "Kepemilikan saham yang didapat dari aktivitas ilegal atau manipulasi pasar saat pemilik sah dalam keadaan darurat, bisa dibatalkan oleh pengadilan tinggi. Dan aku yakin, Nona Liu, kau tidak ingin catatan kriminalmu bertambah panjang di hari pertamamu di Metropol."
Liu Ruyan menatap Diya dari ujung kaki hingga ujung kepala. "Ah, si Mutiara Hukum. Jadi ini wanita yang membuat CEO hebat kita ini rela mempertaruhkan nyawa di Pulau Nol? Manis sekali. Tapi sayangnya, hukum tidak selalu bisa mengejar bayangan."
"Rendy!" suara Feng Yan menggelegar.
"On it, Bos!" sahut Rendy lewat pengeras suara. Di layar besar, data transaksi saham Liu Ruyan mulai dibongkar satu per satu. "Sial, Bos... dia pakai tujuh perusahaan cangkang di Kepulauan Cayman. Licin banget, kayak belut dikasih oli!"
Feng Yan berdiri, ia berjalan perlahan mendekati Liu Ruyan hingga jarak mereka hanya tersisa beberapa senti. Aroma parfum mawar hitam milik wanita itu sangat kuat, namun tidak mampu menutupi bau amis pengkhianatan yang tercium oleh Feng Yan.
"Kau pikir dengan 5% saham kau bisa mengaturku?" bisik Feng Yan tepat di telinga Liu Ruyan. "Di gedung ini, aku adalah hukumnya. Jika kau datang untuk bermain, pastikan kau siap kehilangan seluruh hartamu... dan mungkin, nyawamu."
Liu Ruyan tidak gentar. Ia justru menyentuh kerah jas Feng Yan dengan ujung jarinya yang lentur. "Kita lihat saja, Sayang. Karena mulai besok, aku akan menjadi tetangga barumu di Distrik Bisnis. Sampai jumpa di pelelangan aset besok malam."
Wanita itu berbalik dan pergi, meninggalkan aroma misteri yang mencekam.
Begitu pintu tertutup, Feng Yan langsung berbalik ke arah timnya. "Reyhan, lacak semua pergerakan Liu Ruyan selama 24 jam terakhir. Aku ingin tahu siapa yang membantunya masuk ke Metropol."
"Siap, Tuan CEO. Mode detektif gila aktif," sahut Reyhan dari alat komunikasi tersembunyi.
Namun, perhatian Feng Yan teralihkan saat ia melihat Rendy di layar tampak gelisah. "Rendy, ada apa?"
"Bos... ada transmisi masuk dari satelit pribadi. Bukan dari Liu Ruyan, tapi dari arah rumah sakit pusat. Ada kode medis darurat yang terhubung dengan database lama kita... database sebelum Kiara..." Rendy terdiam, wajahnya pucat. "Namanya... Dr. Kanaya. Dia baru saja mendarat di Metropol."
Gelas di tangan Feng Yan nyaris retak. Dunia Metropol baru saja menjadi jauh lebih sempit dan berbahaya.