NovelToon NovelToon
PUTRI PEDANG DI AKADEMI SIHIR

PUTRI PEDANG DI AKADEMI SIHIR

Status: tamat
Genre:Romansa Fantasi / Mengubah Takdir / Akademi Sihir / Tamat
Popularitas:780k
Nilai: 5
Nama Author: Archiemorarty

Putri Duke dari Kerajaan Aurelius, Elara Ravens, dikenal sebagai pewaris pedang keluarga. Namun sejak kecil ia selalu kalah dari kembarannya, dan selalu dibandingkan dan dicemooh sebagai kegagalan.

Tanpa menyadari bahwa tubuh Elara menyimpan sihir besar yang pernah meledak saat ia berusia tiga tahun dan kemudian disegel.

Sampai sebuah undangan datang dari Kerajaan sihir, Elara memilih pergi ke akademi sihir dan ingin menaklukkan kekuatan dalam dirinya.

Di sana ia bertemu kembali dengan Aaron Oberyn, Rank 1 akademi dan teman masa kecilnya. Di tengah sistem ranking yang kejam dan tatapan meremehkan, Elara harus membuktikan bahwa ia bukanlah kegagalan atau aib keluarga.

Apakah Elara akan menjadi kesatria pedang atau memilih menjadi penyihir kelak?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33. LUNARIS

Elara Ravens berjalan cepat menyusuri koridor panjang yang menuju gedung Student Council setelah Aaron menyuruhnya ke sana tadi.

Langkah gadis itu ringan, tetapi pikirannya penuh akan ucapan Aaron beberapa waktu lalu yang terus berputar di kepala Elara.

"Luna ingin bertemu denganmu. Dia ingin melihat cara kerja sihirmu. Dia mungkin bisa membantu menekan ledakan sihirmu."

Elara menatap tangannya sendiri sejenak.

Energi sihir dalam dirinya memang selalu terasa seperti lautan yang tidak pernah benar-benar tenang.

Kadang ia bisa mengendalikannya dengan baik seolah energi itu tidak ada.

Namun ada kalanya energi itu seperti badai yang siap menghancurkan tubuhnya sendiri.

Karena itu, ketika Aaron menyebut nama Lunaris Avard, Elara tidak menolak.

Nama itu sangat terkenal di akademi.

Lunaris Avard adalah salah satu murid jenius yang pernah dimiliki Akademi Oberyn dalam beberapa tahun terakhir. Ia dikenal sebagai penyihir yang ahli dalam penelitian sihir, terutama rapalan kompleks dan analisis energi magis.

Singkatnya jika ada orang yang mungkin bisa memahami sihir Elara, maka orang itu mungkin adalah Lunaris.

Elara akhirnya sampai di depan pintu besar bertuliskan Student Council.

Ia berhenti sejenak.

Lalu mengetuk pintu.

Tok tok tok.

Dari dalam terdengar suara seseorang.

"Masuk."

Elara membuka pintu perlahan.

Begitu pintu terbuka ...

"ELARAA!"

Sebuah suara penuh semangat langsung menyambut gadis itu.

Elara berkedip.

Di dalam ruangan itu berdiri seseorang yang sangat ia kenal.

Leonhart Draven.

Pemuda berambut merah itu langsung berjalan mendekatinya dengan senyum lebar.

"Elara! Aku tak menyangka kau akan ke sini," ujar Leonhart.

Elara menghela napas kecil. "Senior Leonhart."

Leonhart menyilangkan tangan. "Ada apa datang ke sini? Mencariku untuk duel?"

Elara mendengus lalu menjawab dengan jujur. "Senior Aaron menyuruhku bertemu dengan Senior Luna."

Leonhart mengangguk mengerti. "Oh. Luna tidak ada di sini."

Elara memiringkan kepala. "Tidak ada?"

Leonhart menunjuk ke arah jendela. "Dia ada di taman belakang milik Student Council. Dia sedang meneliti rapalan di sana."

Elara mengangguk. "Terima kasih, Senior. Aku akan menemuinya di sana."

Gadis itu berbalik hendak pergi.

Namun Leonhart tiba-tiba berseru, "Eh, tunggu!"

Elara menoleh.

"Kau sudah mau pergi?" Leonhart menyeringai. "Kita sudah lama tidak duel!"

Elara langsung menggeleng. "Kita duel nanti saat senggang!"

Ia bahkan tidak menunggu jawaban. Elara langsung melarikan diri keluar ruangan.

Leonhart hanya bisa tertawa sambil menggeleng. "Anak itu ..."

Taman belakang milik Student Council terletak di sisi akademi yang paling tenang.

Tempat itu jarang digunakan oleh murid biasa.

Biasanya hanya anggota Student Council yang datang ke sana untuk belajar atau melakukan penelitian.

Taman itu luas dan dipenuhi pohon tinggi serta bunga liar.

Di tengah taman terdapat meja batu dan beberapa kursi kayu.

Ketika Elara berjalan masuk ke taman itu ia langsung melihat seseorang.

Seorang gadis berambut perak panjang berdiri di tengah taman. Di sekelilingnya terdapat beberapa lingkaran sihir yang melayang di udara.

Itulah Lunaris Avard.

Gadis itu tampak sangat fokus. Tangannya bergerak perlahan membentuk rapalan.

Simbol-simbol sihir berkilau di udara.

Namun beberapa detik kemudian ...

"Hmm, kurang sesuai juga rupanya," gumam Luna.

Lingkaran sihir itu tiba-tiba goyah.

Energinya tidak stabil.

"Ah-"

Luna tampak menyadari sesuatu terlambat.

Sebuah gelombang sihir tiba-tiba terlepas dari lingkaran itu.

Dan melesat langsung ke arah Elara yang berjalan mendekat.

Luna membelalakkan mata.

"AWAS!" teriak Luna.

Namun Elara sudah bergerak.

Refleks. Tangan kanannya langsung mencabut pedang dari pinggang begitu menyadari ada bahaya.

Satu gerakan.

SWIING!

Pedangnya menebas udara.

Energi sihir yang melesat ke arah Elara langsung terbelah dua. Dua bagian energi itu melewati sisi kiri dan kanan tubuh Elara lalu meledak di belakangnya.

BOOOOM!

Daun-daun pohon beterbangan.

Debu tanah terangkat ke udara.

Luna membeku. Matanya melebar.

Beberapa detik kemudian ia langsung berlari ke arah Elara.

"Elara?! Apa kau baik-baik saja?!" Wajahnya panik. Maaf! Aku tidak sengaja menyerangmu!"

Elara memasukkan kembali pedangnya ke sarungnya dengan santai.

"Aku baik-baik saja, Senior," jawab Elara santai.

Luna menatap Elara dari atas ke bawah.

Setelah memastikan Elara tidak terluka, Luna akhirnya menghela napas lega.

"Syukurlah," ucap senior Elara itu.

Elara tersenyum kecil. "Aku sebenarnya datang untuk menemui Senior."

Luna mengangguk. "Aaron sudah memberitahuku." Ia menunjuk ke meja batu di tengah taman. "Ayo duduk."

Mereka berdua berjalan ke sana.

Di atas meja itu terdapat banyak buku tebal.

Beberapa bahkan tampak sangat tua.

Selain itu ada juga buku catatan yang dipenuhi tulisan dan rumus sihir yang rumit.

Elara menatapnya dengan kagum bahwa seniornya ini benar-benar belajar dengan sangat tekun sekali.

Luna duduk di kursi kayu. Lalu menatap Elara dengan serius.

"Aku sudah mendengar tentangmu, Elara Ravens. Gadis dengan energi sihir yang ... aneh," kata Luna tanpa niat menyindir.

Elara tertawa kecil. "Orang-orang sering menyebutnya begitu."

Luna membuka salah satu buku catatannya. "Aku juga mendengar bahwa energimu pernah beberapa kali meledak. Dan hampir merenggut nyawamu."

Elara mengangguk. "Itu benar. Lebih tepatnya itu alasan aku masuk ke akademi ini, karena ingin mencari tahu tentang energi di tubuhku ini. Bahkan Duke Arram pun tidak bisa melakukan apa-apa."

Luna menatap Elara. Jika seorang Duke Arram sang penyihir jenius di kerajaan saja tidak bisa mengurus energi di tubuh Elara, lalu siapa yang akan mampu.

"Bolehkah aku memeriksamu?" tanya Luna.

Elara tidak ragu. "Silakan."

Luna mengangkat tangannya. Lingkaran sihir kecil muncul di telapak tangannya.

"Ini hanya sihir penilaian. Untuk mengukur kadar energi magismu," jelas Luna.

Elara berdiri diam.

Lingkaran sihir itu bergerak perlahan mengelilingi tubuh Elara.

Cahaya biru lembut menyelimuti Elara.

Beberapa detik berlalu.

Luna menatap hasil sihirnya.

Lalu wajah Luna berubah.

Pucat.

Sangat pucat.

Elara mengerutkan dahi. "Senior?"

Luna menatapnya dengan mata lebar. Ia tiba-tiba berdiri. Lalu memegang pundak Elara.

"Bagaimana bisa?!" seru Luna, suaranya gemetar. "Sihir sebesar ini ... sihir sebesar ini, bagaimana bisa kau masih hidup?!"

Elara berkedip. "Hah?"

Luna terlihat benar-benar panik. Ia memeriksa lingkaran sihirnya lagi.

Namun hasilnya sama.

Energi magis yang terbaca dari tubuh Elara ... tidak masuk akal.

Luna kembali menatap Elara. "Apakah kau yakin tidak ada yang kau rasakan setiap saat?! Kau tidak merasakan sakit?!x

Elara menggeleng santai. "Aku baik-baik saja sekarang. Dulu saat sihirku disegel justru tubuhku lemah. Staminaku sedikit sekali. Aku juga sering pusing. Tapi setelah segelnya dilepas aku justru merasa lebih baik."

Luna menatap Elara seperti melihat makhluk asing.

"Tidak mungkin. Tidak mungkin," Luna berbisik pelan. "Kau ... sebenarnya kau ini siapa? Bagaimana bisa ada manusia yang tetap hidup dengan energi sebesar ini?"

Luna menatap lingkaran sihirnya lagi.

Energi yang terbaca dari tubuh Elara bukan sekadar besar.

Itu seperti ... energi seorang dewa. Dan jelas jika energi sebesar itu ada pada diri manusia, maka tubuh manusia itu tidak akan kuat dan bisa meledak hingga tak tersisa.

Luna menelan ludah.

"Energi sebesar ini seharusnya menghancurkan tubuh manusia. Kau ..."

Elara hanya tersenyum. "Aku benar-benar baik-baik saja. Senior bisa melihatnya sendiri, 'kan? Aku bahkan melawan monster dengan baik saat itu, ingat?"

Luna menatap Elara lama. Ia benar-benar tidak percaya. Namun akhirnya ia menghela napas panjang.

"Maaf, aku berteriak padamu. Aku hanya khawatir," ucap Luna tulus. Ia duduk kembali. "Setiap manusia memiliki batas energi magis. Namun milikmu jauh melampaui batas itu," lanjutnya.

Elara tersenyum lembut. "Terima kasih sudah mengkhawatirkanku, Senior."

Luna menatap gadis itu lagi..Akhirnya ia tersenyum tipis.

"Sepertinya aku tidak bisa membantu sebanyak yang aku kira. Namun setidaknya. Aku bisa mengajarimu sesuatu," kata Luna.

Elara memiringkan kepala. "Apa itu?"

Luna menjawab serius, "Cara menstabilkan energimu sendiri tanpa bantuan orang lain. Jika suatu hari energimu hampir meledak. Dan tidak ada penyihir penyembuh di sekitarmu. Kau harus bisa menenangkannya sendiri."

Elara terdiam. Ia memang sering membutuhkan sihir penyembuhan untuk menstabilkan energinya. Jika tidak tubuhnya bisa benar-benar hancur.

Luna melanjutkan, "Aku dengar kau hampir setiap hari membutuhkan sihir penyembuhan untuk menjaga energimu stabil. Karena itu aku akan mengajarimu dengan cara yang mudah."

Elara sedikit ragu. "Tapi, apakah itu tidak akan mengganggu waktumu, Senior?"

Luna tertawa kecil. "Tentu saja tidak." Ia menunjuk buku-bukunya. "Ini juga bisa menjadi penelitian bagiku. Keluargaku sudah meneliti sihir selama beberapa generasi dan energi seperti milikmu itu adalah harta karun bagi seorang peneliti."

Elara akhirnya mengangguk. "Baik. Terima kasih, Senior."

Namun mereka berdua tidak menyadari sesuatu.

Di balik deretan pohon tinggi di sisi taman seseorang berdiri diam. Bayangan sosok itu hampir menyatu dengan batang pohon.

Sepasang mata tajam mengamati mereka.

Wajahnya serius.

Tanpa senyum.

Tanpa suara.

Orang itu telah mendengar seluruh percakapan mereka.

Edgar Maverick.

1
Erna Masliana
tidak mungkin Elara Astrelia..Elara sihir cahaya sedangkan Astrelia sihir gelap.. ingat waktu berusia 3th dia yang menghancurkan monster bukan menciptakan monster.. Astrelia adalah induk monster
Hariyanti
ceritanya bagus dan menyenangkan 😘😘😘 ada haru,tegang, kesal sekaligus mencengangkan🤗
Nisfu Romadhon
Rowan jadinya emang anak tunggal ya? bagaimana kedua orang tuanya?
Endang Sulistia
keren
Erna Masliana
magnus kakek Elara Evan yang di Utara 🤔
Erna Masliana
lambat kalian
Erna Masliana
aku juga mendukung...kau tidak salah
Erna Masliana
betul... mereka memihak pembullyan.. akademi terlalu bobrok
Jessie Bernadette
Karya yang keren dan luar biasa thor.. Tetap semangat dalam berkarya thor.. Ditunggu next karya nya /Heart/
Sandisalbiah
kann... sedari awal.. dua org yg terlalu mencurigakan.. Evangelista dan Lunaris.. ternyata Lunaris lah pelakunya.. pantas saat ujian kenaikan rank dia begitu menggebu menghajar Elara dan portal sihir hitam itu juga di hutan buatan yg dia jaga...
Sandisalbiah
Edgar sudah jelas identitasnya., ada musuh dlm selimut dan itu bisa jd titisan Aestrelia yg sesungguhnya.. Eva mungkin..
Sandisalbiah
satu pertanyaan yg mengganjal Thor.. jika sihir hitam di tubuh Elara telah di tarik oleh Edgar dan sudah di musnahkan oleh Aether dan sihir Aether sendiri telah di serap oleh Aaron.. jd sekarang Elara sudah tdk memiliki kemampuan sihir lagi kah..?
Sandisalbiah
Harmonia itu anomali baru ya... dr awal yg disebut itu Titania tp disini muncul Harmonia...
Sandisalbiah
Elara berperan sebagai petarung sekaligus pengalih perhatian Aaron.. mereka cerdik... kemampuan jelas di bawah Aaron jauh tp kecerdikan selalu menemukan jalan buat menang bukan. strategi cerdas dan keren
Sandisalbiah
tidak adil si kalau di bilang.. para senior menanti di arena masing² Sedangkan junior yg disini sudah babak belur melewati tiap babak ujian, luka fisik, kelelahan dan mungkin juga mental yg mulai goyah
Sandisalbiah
semakin di buat penasaran.. Elara mengikuti saran Lunara.. melepaskan dan menyeimbangkan kan energi di tubuhnya.. jd galau.. siapa sebenarnya yg jd pembisik menyesatkan itu.. Edgar ka atau Lunara...
Sandisalbiah
jd Kinara perempuan yg di lihat Elara di lapangan latihan kediaman Aaron... Kinara juga terkesan misterius..
Sandisalbiah
jd Edgar beneran sosok yg mencintai Titani..? dan itu artinya Elara adalah tirisan dewi itu bukan Astrelia
Sandisalbiah
Edgar mengenal nama Aestrelia.. mungkinkah Edgar ssama seperti Elara? sama² memiliki sesuatu dr masa lalu,
Sandisalbiah
hemm.. wanita itu titisan Aestrelia atau titisan Titania..?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!