Di tengah panas Kalimantan yang tak kunjung reda, Budi Santoso-seorang sales biasa di Palangkaraya menemukan kehidupan yang berubah drastis setelah sebuah “sistem” misterius muncul di kepalanya. Awalnya hanya alat untuk naik level dan bertahan hidup, sistem itu kini menjadi satu-satunya harapannya saat alam mulai bermutasi dengan kejam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Budi melaju keluar dari kawasan perumahan pinggiran kota kecil di Kalimantan. Jalan raya yang biasanya ramai kini terasa sepi dan datar, hanya sesekali terlihat mobil-mobil yang lewat dengan jarang.
Baru saja ia mulai mengemudi, tiba-tiba kepalanya terasa pusing. Awalnya Budi mengira itu hanya karena ia kurang tidur semalam. Namun tak lama kemudian, ia merasa ada yang tidak beres.
Suara di sekitarnya tiba-tiba menjadi sangat bising, lalu mendadak hening total. Penglihatannya mulai terdistorsi dan kabur. Budi segera menginjak rem dan menepi ke pinggir jalan.
Ia mengusap wajahnya berkali-kali, berusaha menyadarkan diri, tapi keadaannya malah semakin buruk. Pikirannya berdengung seperti ribuan nyamuk beterbangan di dalam kepala. Ia yakin kepalanya akan pecah kapan saja.
“Ada apa ini? Belum pernah terjadi sebelumnya!” gumamnya panik.
Budi menarik napas dalam-dalam, bersandar di kursi, dan berusaha menenangkan batinnya. Untungnya, seiring berjalannya waktu, semua ilusi aneh itu perlahan memudar.
Kemudian, datanglah perasaan yang luar biasa. Budi memejamkan mata dan menikmatinya. Ia merasa seolah-olah bisa “merasakan” segala sesuatu di sekitarnya. Meski mata tertutup, ia masih bisa mengetahui posisi kasar benda-benda tertentu di dalam mobil.
Tiba-tiba, ia mengulurkan tangan ke sudut mobil dan meraih sesuatu. Begitu membuka mata, ia terkejut. Di tangannya ada boneka Mickey Mouse seukuran telapak tangan yang selama ini terlempar di sudut jok belakang.
Budi yakin ia tidak pernah melihat boneka itu sebelumnya. Apalagi di dalam mobil yang gelap seperti sekarang. Tapi entah bagaimana, ia tahu ada sesuatu di sudut itu dan bahkan bisa memperkirakan ukurannya.
Ia terus mencoba kemampuan baru itu. Satu per satu ia mengambil barang-barang tanpa melihat: perkakas dari kotak tool, majalah lama, gelas sekali pakai, bahkan sekotak kondom yang entah kapan tersimpan. Kotak perkakas itu tertutup rapat, tapi baginya seolah-olah transparan.
Ketika Budi sadar bahwa ini bukan kebetulan, hatinya dipenuhi kejutan sekaligus kegembiraan. Ia tahu betapa berharganya kemampuan seperti ini. Jika ada yang menyerang dari belakang, ia bisa merasakannya tanpa harus menoleh. Kalau kemarin ia memiliki kemampuan ini, ia pasti berani menyerang kelompok tikus raksasa itu sendirian.
Meski kemampuan ini tidak langsung menambah kekuatan fisik, ia seperti pelumas bagi mesin sangat membantu dalam pertarungan maupun bertahan hidup.
Sepuluh menit kemudian, otaknya akhirnya “bangun” sepenuhnya. Tubuhnya terasa semakin bertenaga.
Saat itu, suara notifikasi sistem muncul di benaknya:
[Ding!. Persepsi Sensorik +1.]
“Jadi ini persepsi sensorik..” gumam Budi. “Aku kira aku sudah berevolusi. Ternyata karena jus otak tadi. Reaksinya jauh lebih intens dibandingkan saat sistem menambah satu poin secara lembut. Meningkatkan kualitas batin dengan daging makhluk mutan ternyata jauh lebih kasar dan berbahaya. Lain kali harus lebih hati-hati.”
“Sayangnya stamina dan kekuatan tubuhku tidak berubah sama sekali. Makhluk level biru muda ini hanya efektif sebelum atribut mencapai 11 poin. Di atas itu, efeknya sudah tidak terasa lagi.”
Budi menganalisis dalam hati. Meski sedikit kecewa, ia cepat menyesuaikan pola pikirnya dan mulai membiasakan diri dengan kemampuan persepsi sensorik yang baru ini.
Ia memperkirakan jangkauannya sekitar tiga meter. Apa pun yang memasuki radius itu tidak akan lolos dari indranya. Tapi di luar jangkauan tersebut, ia tetap seperti orang biasa.
Sebenarnya, semua orang memiliki persepsi sensorik, hanya saja sangat lemah dan sering diabaikan. Misalnya, ketika seseorang menatap kita dari belakang, kita tiba-tiba merasa diperhatikan. Atau ketika ada orang berdiri diam di belakang tanpa suara, kita tetap merasa tidak nyaman.
Budi beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan. Begitu sampai di jalan raya pinggiran kota, jumlah kendaraan mulai bertambah. Namun bukan mobil pribadi, melainkan truk-truk tentara berat dengan ban setinggi orang dewasa. Truk-truk besar itu membawa berbagai barang dan bahan, lewat dengan cepat hingga membuat Jeep Pajero-nya sedikit bergoyang setiap kali disalip.
Budi menyalakan radio. Stasiun hiburan sudah tutup semua. Yang tersisa hanya stasiun berita resmi.
“……Pusat telah mengeluarkan panggilan darurat kepada seluruh pasukan mengenai kasus monster laut di wilayah timur. Semua wilayah militer di pesisir tenggara disiagakan pada tingkat perang satu.”
“Panel sementara pemerintah dalam masa perang kembali menaikkan tingkat bahaya. Krisis makhluk hidup ini merupakan tantangan besar bagi kelangsungan umat manusia. Sekali lagi, kami mengimbau masyarakat tetap tenang dan bersatu. Pemerintah Pusat akan memulihkan ketertiban dan produksi masyarakat secepat mungkin…”
“Ibukota ekonomi Brasil, Sao Paulo, telah jatuh sepenuhnya. Lebih dari seratus ribu orang tewas. Kementerian Luar Negeri Brasil meminta bantuan militer dari negara-negara kuat. Dilaporkan bahwa kelompok hewan besar tersebut sebagian besar berasal dari hutan Amazon yang semakin ganas, dan beberapa di antaranya menunjukkan mutasi yang jelas.”
“Pesawat yang membawa Wakil Presiden Uni Eropa, Tuan Eros, diserang oleh kawanan burung. Pesawat jatuh di Swiss. Delapan belas personel di dalamnya tewas.”
Budi mendengarkan dengan tenang sambil sesekali meneguk air mineral. Situasi dunia sudah sangat buruk, jadi ia tidak lagi terkejut mendengar berita-berita yang mustahil sekalipun.
Ia memegang kemudi, berpikir ke mana sebaiknya ia tuju. Ia berangkat terburu-buru tanpa persiapan matang, bahkan belum menentukan tujuan yang jelas.
Tanpa disadari, langit mulai gelap secara perlahan. Awan tebal menutupi langit, dan air mineral di cup holder terus bergetar membentuk riak-riak kecil. Sesekali Budi mendengar dengungan samar yang semakin jelas.
Tiba-tiba, hatinya berdegup kencang. Rasa panik, tidak sabar, dan dingin yang tak terlukiskan menyerangnya seketika.
Lalu, sirene peringatan serangan udara yang memekakkan telinga membelah suasana. Suara itu begitu menusuk hingga sulit digambarkan seolah mampu menembus dada orang kuat sekalipun.
Budi tanpa sadar mendongak ke atas. Seketika bulu kuduknya berdiri.
Sebuah wajah raksasa berwarna hijau gelap muncul di langit.
Karena jaraknya terlalu jauh, Budi tidak bisa memperkirakan ukuran sebenarnya, juga tidak tahu kapan wajah itu muncul. Wajah itu samar dan tidak nyata, tapi jelas wajah seorang pria. Yang membuatnya merinding adalah wajah itu terus berubah ekspresi: marah, tertawa, tersenyum, lalu mengerutkan kening bergantian.
Dengungan dari kejauhan semakin keras, awalnya samar, lalu begitu nyaring hingga menutupi suara sirene.
Gelombang suara itu membuat darah Budi bergetar tak terkendali, kepalanya pusing dan mual.
Semakin dekat wajah di langit itu, semakin jelas bahwa itu bukan makhluk tunggal. Wajah raksasa tersebut terbentuk dari jutaan titik hijau kecil yang bergerak.
Budi langsung mengerti. Alam sering menggunakan trik serupa pada banyak makhluk untuk mengancam musuh. Seperti ikan-ikan kecil yang berkumpul membentuk ilusi ikan besar, atau ngengat yang berkelompok membentuk pola aneh..
Tiba-tiba...
BRAAAKKK!!
Suara keras mengguncang suasana.
Sebuah truk besar kehilangan kendali dan menghantam pagar pembatas di pinggir jalan. Benturannya begitu kuat sampai badan truk itu terguling ke samping.
Logam bergesekan keras dengan beton.
SREEEETTTT—!!
Percikan api memanjang hampir satu meter, menyapu permukaan jalan seperti ular api yang liar