Juni 2026
----
Aktivitas matahari menurun drastis. Zona es meluas dari kutub hingga mencapai Indonesia. Jakarta membeku dalam suhu minus belasan derajat, hukum dan negara runtuh, dan manusia saling berburu untuk bertahan hidup. Di tengah kiamat Es itulah Arka, seorang pemuda jenius tapi pemalas , mati dikhianati tunangannya sendiri. Namun takdir memberinya kesempatan kedua. Ia terbangun satu tahun sebelum bencana, dengan ingatan penuh akan enam bulan neraka yang telah ia lalui. Kini, dengan memanfaatkan pengetahuannya tentang masa depan, bisakah arka bertahan hidup di dunia tanpa hukum, di mana siapa kuat dia berkuasa saat ini ? ...
----
~ Jika waktu bisa mundur 1 tahun dari saat ini, Apa yg akan kamu lakukan? ~
----
@ThinkzIam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thinkziam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Pagi itu, bunker terasa seperti sarang yang baru saja diganggu. Semua orang bergerak dengan energi yang berbeda. Bukan panik, tapi kesadaran bahwa keamanan yang selama ini mereka nikmati ternyata rapuh. Bahwa di luar sana, ada orang-orang yang siap mengambil apa pun yang mereka punya.
Arka berdiri di depan peta Jakarta yang ditempel di dinding ruang kontrol. Peta itu sudah usang, pinggirannya robek, tapi masih cukup jelas. Dengan spidol merah, dia menandai tiga titik: bunker, stasiun MRT Sudirman, dan gedung BNI—markas kelompok pemburu menurut pria yang mereka interogasi.
“Jarak dari stasiun ke bunker hanya seratus meter melalui terowongan,” kata Pratama di sampingnya. “Itu jalur paling pendek. Tapi mereka juga bisa masuk lewat pintu hotel di atas. Atau lewat gedung-gedung sekitar yang mungkin terhubung ke bawah tanah.”
Arka menggambar garis dari stasiun ke bunker. Lalu dari gedung-gedung sekitar. “Kita tutup semua akses. Terowongan utama kita jaga. Pintu hotel kita perkuat. Dan kita pasang perangkap di jalur yang mungkin mereka lewati.”
“Perangkap?”
“Ranjaumu.”
Pratama mengangguk. “Saya bisa buat sederhana. Pakai tali dan granat. Tapi granat tidak punya.”
“Ada bahan peledak lain?”
“Bahan kimia untuk bersih-bersih. Kalau dicampur dengan baterai, bisa ledak. Tapi tidak stabil. Berbahaya untuk kita juga.”
Arka berpikir. “Kita pasang di area yang tidak kita gunakan. Di stasiun. Di gedung-gedung kosong. Kita buat mereka takut masuk.”
“Itu butuh waktu.”
“Kita punya waktu. Mereka belum akan datang. Pria itu bilang bosnya butuh waktu berkumpul.”
Sementara Arka dan Pratama merencanakan strategi, yang lain bekerja di bunker. Umar membantu Wawan memeriksa panel surya dan baterai. Efisiensi sudah turun hingga tiga puluh persen. Genset harus diputar lebih sering.
“Kita butuh lebih banyak bahan bakar,” kata Wawan. “Solar tinggal enam ratus liter. Cukup untuk tiga bulan jika hemat.”
“Nanti kita cari,” kata Umar. “Mungkin di stasiun ada.”
Wawan mengangguk, tapi wajahnya tidak yakin. Mereka berdua tahu bahwa pergi ke stasiun berarti menghadapi kelompok pemburu.
Rina berada di ruang tanam. Lampu grow dinyalakan hanya enam jam sehari untuk menghemat listrik. Tanaman bayam dan kangkung tumbuh lebih lambat, tapi masih cukup untuk memenuhi kebutuhan sayur mereka. Dia memeriksa nutrisi, memastikan tidak ada yang rusak.
Dewi sibuk di ruang medis. Dia merapikan kembali persediaan obat-obatan, membuat daftar yang harus dicari. Antibiotik habis. Penghilang rasa sakit tinggal sedikit. Perban masih cukup, tapi jika ada luka serius, mereka akan kesulitan.
Di tengah semua itu, Arka memanggil semua orang berkumpul.
“Kita tidak bisa hanya menunggu,” katanya. “Kita harus mempersiapkan pertahanan. Pratama akan memasang perangkap di terowongan dan stasiun. Umar, kamu bantu dia. Wawan, kamu urus peringatan dini. Pasang sensor gerak di pintu-pintu masuk. Kalau ada yang bergerak, kita harus tahu.”
“Sensor gerak dari mana?” tanya Wawan.
“Kamera keamanan stasiun mungkin masih bisa diambil. Atau sensor lampu otomatis. Apa pun yang bisa mendeteksi gerakan.”
Wawan mengangguk. “Saya coba.”
Arka menatap Dewi. “Kamu di sini. Jaga kesehatan kita. Pastikan semua dalam kondisi fit. Kita tidak tahu kapan mereka datang.”
“Obat-obatan menipis,” kata Dewi. “Kita butuh tambahan.”
“Nanti kita cari. Prioritas sekarang pertahanan.”
Dewi mengangguk.
“Rina,” Arka menoleh ke wanita yang selalu sibuk dengan tanamannya. “Kamu tetap di ruang tanam. Kita butuh makanan. Kalau listrik turun, kita harus punya cadangan.”
“Saya sudah kurangi jam nyala. Tanaman masih tumbuh, tapi lebih lambat.”
“Tidak apa. Yang penting ada.”
Rina mengangguk.
Arka berdiri. “Kita mulai sekarang.”
Di terowongan, Pratama dan Umar bekerja dalam cahaya senter yang redup. Mereka membawa beberapa tabung gas kecil, kabel, dan baterai bekas yang dikumpulkan Wawan.
“Ini tidak akan membunuh,” kata Pratama sambil merangkai perangkat di dinding terowongan. “Tapi cukup untuk melukai. Dan membuat mereka takut.”
Umar mengamati dengan seksama. Tangannya gemetar sedikit, tapi dia berusaha fokus.
“Kita pasang di tiga titik,” lanjut Pratama. “Sepuluh meter dari pintu stasiun, di tikungan, dan di sini, dua puluh meter dari pintu bunker. Kalau mereka masuk, kita akan tahu dari mana mereka datang.”
“Bagaimana kita sendiri? Kalau kita lewat, kita bisa kena.”
“Kita matikan sementara kalau kita lewat. Tapi sebaiknya kita tidak sering keluar.”
Umar mengangguk. Dia membantu Pratama menarik kabel, menyambungkan baterai, mengatur pemicu sederhana dari tali dan klip. Kerja yang teliti dan perlahan. Setiap kesalahan bisa berarti kematian.
Di ujung terowongan, mereka mendengar suara dari stasiun. Langkah kaki. Jauh, tapi jelas.
Pratama mengangkat tangan. Diam.
Mereka menunggu. Suara itu tidak mendekat. Mungkin hanya penjaga yang berpatroli. Atau hewan. Atau angin.
Setelah lima menit, Pratama melanjutkan pekerjaannya.
Sementara itu, Arka dan Wawan pergi ke stasiun melalui jalur lain. Bukan terowongan utama, tapi lorong bawah tanah yang menghubungkan bunker ke gedung parkir di sebelah stasiun. Jalur ini lebih panjang dan berliku, tapi tidak diketahui kelompok pemburu.
Mereka berjalan dalam gelap. Senter hanya satu, cahaya redup agar tidak menarik perhatian. Wawan membawa tas kosong untuk mengambil peralatan.
Di pintu darurat gedung parkir, Arka berhenti. Dia mendengarkan. Sunyi.
Mereka masuk.
Gedung parkir kosong. Mobil-mobil membeku di tempatnya, atap-atap tertutup es. Lampu-lampu mati. Suara langkah mereka bergema di ruang yang luas.
Mereka menyeberangi gedung, menuju stasiun melalui lorong pejalan kaki. Di sini, ada toko-toko kecil yang dulu menjual makanan dan minuman. Kaca-kacanya pecah, barang-barang berserakan. Di salah satu toko, Arka melihat sesuatu.
Sebuah kotak kayu, setengah terbuka. Di dalamnya, granat.
Bukan granat asli. Tapi granat latihan yang digunakan polisi. Masih utuh. Mungkin berisi bahan peledak latihan yang tidak mematikan, tapi cukup untuk membuat ledakan dan asap.
Arka mengambilnya. “Ini bisa kita gunakan.”
Wawan mengangguk. Dia mengosongkan tas, memasukkan granat-granat itu. Ada enam.
Mereka melanjutkan ke ruang polisi yang disebut Pratama. Pintu besi terkunci. Arka mendobrak dengan gagang pintu. Di dalam, lemari senjata kosong. Tapi di laci meja, mereka menemukan amunisi. Dua kotak peluru kaliber sembilan milimeter. Mungkin sisa dari petugas yang sudah pergi.
“Cukup,” kata Arka.
Mereka juga mengambil radio komunikasi yang masih berfungsi, senter cadangan, dan beberapa perlengkapan medis dari kotak P3K.
Di perjalanan pulang, mereka melewati ruang server tempat Pratama dan Arka bersembunyi dulu. Arka berhenti. Di sudut, sesosok tubuh terbungkus selimut, tidak bergerak. Herman. Pria yang menulis catatan itu. Dia tidak pergi. Dia mati di sini, sendirian, di tengah kegelapan.
Arka berdiri di depan tubuh itu sebentar. Dia tidak tahu harus merasa apa. Kasihan? Hormat? Atau sekadar kepastian bahwa dunia ini memang kejam.
Dia mengambil catatan Herman dari meja. Memasukkannya ke saku.
“Ayo,” katanya.
Kembali di bunker, mereka semua berkumpul. Barang-barang yang didapat disortir. Amunisi menambah persediaan. Granat latihan akan menjadi perangkap atau alat pengalih perhatian. Radio komunikasi memberi mereka saluran tambahan untuk mendengar siaran atau percakapan musuh.
Pratama selesai memasang perangkap di terowongan. Tiga titik, masing-masing dengan pemicu tali dan baterai yang akan memicu tabung gas kecil. Ledakannya tidak besar, tapi cukup untuk membuat kebisingan dan melukai kaki.
“Sekarang kita tinggal menunggu,” kata Pratama.
Arka menatap peta di dinding. Markas pemburu di BNI berjarak sekitar dua kilometer dari bunker. Di zaman normal, itu jarak yang dekat. Tapi di dunia yang membeku, dengan salju setinggi lutut dan suhu minus belasan, perjalanan itu akan memakan waktu dan energi.
Mereka punya waktu. Tapi tidak banyak.
Malam itu, Arka duduk di ruang kontrol. Dia membuka catatan Herman. Halaman-halaman yang basah dan lusuh itu berisi tulisan yang semakin kacau di akhir.
*Hari ke-30. Aku dengar mereka. Mereka datang malam. Aku tidak punya senjata. Aku tidak punya apa-apa. Aku lari ke ruang server. Aku tutup pintu. Mereka lewat. Mereka tidak menemukanku. Tapi aku tidak bisa keluar. Mereka masih di sana.*
*Hari ke-31. Perutku sakit. Tidak ada makanan. Tidak ada air. Aku menulis ini untuk siapa pun yang menemukan. Jangan percaya siapa pun. Jangan percaya pada kebaikan. Dunia ini sudah mati.*
*Hari ke-32. Ibu\, maafkan aku. Aku tidak bisa kuat.*
Catatan itu berhenti.
Arka menutup buku. Dia meletakkannya di meja.
Di monitor, kamera pintu belakang hotel masih menampilkan putih yang sunyi. Tidak ada gerakan. Tidak ada bayangan.
Tapi Arka tahu, di suatu tempat di luar sana, di tengah gedung-gedung yang membeku, di antara salju dan es yang tak berujung, ada orang-orang yang sedang merencanakan. Mereka akan datang. Dan mereka tidak akan menyerah.
Arka mematikan monitor. Dia berjalan ke ruang utama, tempat semua orang sudah beristirahat. Suara napas mereka yang teratur bercampur dengan dengungan mesin ventilasi.
Dia berbaring di ranjang, tapi tidak tidur. Matanya terbuka di gelap, mendengarkan. Mendengarkan suara yang mungkin datang.
Dari jauh, di ujung terowongan, ada bunyi. Samar. Seperti sesuatu yang bergerak.
Arka bangkit. Diam-diam, dia meraih pistol di samping ranjang.
Bunyi itu hilang. Mungkin hanya angin. Mungkin hanya es yang retak. Mungkin.
Tapi dia tidak bisa mengabaikannya.
Arka berjalan ke pintu terowongan. Panel kayu masih tertutup. Tidak ada yang bergerak. Dia menempelkan telinga ke kayu.
Diam.
Dia menunggu. Satu menit. Dua menit.
Tidak ada suara.
Mungkin hanya bayangan. Mungkin hanya ketakutan yang membuatnya paranoid.
Tapi Arka tidak akan mengambil risiko. Besok, dia akan minta Pratama menambah perangkap. Besok, dia akan kirim tim ke stasiun untuk memantau. Besok, mereka akan bersiap lebih keras.
Dia kembali ke ranjang, masih memegang pistol. Tidak tidur. Hanya menunggu.
Di luar, di kegelapan terowongan, sesuatu bergerak. Diam-diam. Hati-hati. Kemudian berhenti. Lalu pergi.
Malam itu, bunker masih aman.
Tapi keamanan itu, seperti semua hal di dunia ini, hanya sementara.
Sudahlah... Siapa yang tau jalan pemikiran sang Author??? 😁