Kensington Valerio (22th) adalah seorang "Raja Pesta" yang sinis terhadap cinta, namun terobsesi mengoleksi ribuan novel romansa.
Baginya, cinta hanyalah delusi dengan alur membosankan yang selalu bisa ia tebak ending-nya.
Di tengah kejenuhannya akan kepalsuan dunia, hadir Audrey Hepburn (19th)—mahasiswi hukum tingkat satu yang kaku, ambisius, dan membawa prinsip kesucian yang keras kepala.
Audrey bukan sekadar junior di fakultasnya, ia adalah variabel acak yang mengacaukan prediksi Kensington.
Saat rahasia pengkhianatan mulai mengikis pertahanan Audrey, Kensington justru merasa tertantang untuk menuliskan naskah hidupnya sendiri.
Apakah Audrey akan berakhir menjadi sekadar koleksi di rak bukunya, ataukah ia adalah satu-satunya wanita yang mampu memberikan Kensington sebuah akhir yang tak terduga?
Di arena balap liar dan koridor kampus yang dingin, Kensington mulai mempertanyakan: apakah cintanya juga akan menjadi klise, atau sebuah tragedi yang tak terlukiskan ?
🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#17
Sinar matahari pagi menembus celah gorden otomatis di apartemen mewah itu, membawa realitas yang jauh lebih tajam daripada silet.
Kensington baru saja membuka matanya, merasakan berat yang familiar di lengannya.
Namun, tidak ada adegan manis seperti dalam novel-novel romansa klasik yang memenuhi rak bukunya. Tidak ada bisikan selamat pagi yang lembut atau pelukan hangat di bawah selimut sutra.
PLAK!
Satu tamparan keras mendarat di pipi kiri Kensington, cukup kuat hingga meninggalkan rasa panas yang berdenyut.
Kensington tersentak bangun, matanya membelalak kaget. Di depannya, Audrey berdiri dengan balutan kemeja putih milik Kensington yang kebesaran, rambutnya berantakan, dan matanya merah bukan karena cinta, melainkan karena amarah yang meledak.
"Brengsek! Bajingan! Kau benar-benar manusia paling munafik yang pernah hidup!" teriak Audrey. Suaranya melengking, bergetar karena emosi yang tidak terkendali.
Kensington berusaha mengumpulkan kesadarannya. Kepalanya masih sedikit pening akibat sisa-sisa zat semalam. "Audrey, tenanglah... Bukankah kita semalam sama-sama—"
"Sama-sama apa?!" Audrey memotong dengan teriakan histeris. "Kau membawaku ke apartemen pribadimu, bukan ke rumah sakit! Kau mengambil kesempatan saat aku tidak berdaya! Kau tahu kita dalam pengaruh obat brengsek! Jika kau memang pria baik yang serius seperti katamu, kau bisa membawaku ke dokter. Tapi kau memilih ranjang ini!"
Kensington terdiam, rahangnya mengeras. Ia duduk di tepi ranjang, membiarkan tubuh bagian atasnya yang atletis terekspos. "Aku juga di bawah pengaruh obat itu, Audrey. Kau pikir mudah bagiku untuk menahan diri saat kau sendiri yang—"
DUGH!
Audrey melemparkan ponselnya ke arah Kensington. Ponsel itu mendarat di atas seprai, layarnya menyala menampilkan sebuah video yang sedang diputar.
"Lihat itu! Lihat betapa menjijikannya kau!"
Kensington meraih ponsel itu. Video itu adalah rekaman dari malam pesta Truth or Dare sebulan yang lalu.
Di sana, suasana tampak liar. Vivian sedang berdansa di kejauhan, mengabaikan permainan yang masih berlanjut. Audrey tidak ada di sana—Mungkin ia sedang berada di balkon mencari udara segar.
Dalam video itu, Kensington terlihat tertawa sambil memutar botol. Ia memilih Dare.
"Tantangan untukmu, Ken... tiduri gadis perawan!" seru salah satu teman di video itu.
Kensington dalam video itu menyeringai, "Tidak ada gadis perawan di lingkaran pertemanan kita, Brengsek."
Lalu Marco menyahut, "Ada! Gadis baru Tadi... si Audrey Hepburn. Tadi Dia Mengaku masih murni."
Kensington di video itu kemudian menyesap minumannya dan berkata dengan nada santai yang mematikan: "Beri aku waktu seminggu."
Kensington menegang. Tangannya gemetar memegang ponsel itu. Ia tahu video ini direkam oleh Bianca. Skenario gila ini sudah disusun sedemikian rupa.
"Ini..." Kensington menatap Audrey, mencoba mencari kata-kata. "Ini tidak ada kaitannya dengan malam ini. Sungguh, Audrey. Itu hanya bualan di pesta. Aku benar-benar serius ingin bersamamu."
"Hahaha!" Tawa Audrey menggema, tawa yang terdengar pecah dan menyakitkan.
"Kau dan Bianca sudah bekerja sama, kan? Katakan padaku! Bianca memberiku obat itu agar kau bisa memenangkan taruhan murahanmu! Kau memenangkan taruhan itu semalam, Kensington Valerio! Selamat!"
"Itu tidak benar!" bentak Kensington, ia berdiri dan mendekati Audrey, tidak peduli dengan kondisinya yang hanya mengenakan celana dalam.
"Itu hanya permainan bodoh! Bagaimana mungkin aku melakukan hal sejauh ini hanya karena tantangan dari Mereka? Aku mencarimu setiap hari, apakah itu terlihat seperti taruhan bagimu?"
Audrey mundur selangkah, menatap Kensington dengan kebencian murni.
"Kalau itu tidak benar, lalu apa yang benar? Kau bilang kau ingin serius denganku. Sekarang aku tanya padamu, Kensington... apa kau mencintaiku?"
Pertanyaan itu menggantung di udara. Mengheningkan keributan di ruangan itu.
Kensington menatap Audrey. Matanya yang perak berkilat aneh. Perlahan, ia justru terkekeh. Sebuah tawa kering yang membuat bulu kuduk Audrey merinding.
"Hanya karena kita tidur bersama satu malam, kau langsung menuntut kata cinta dariku?" tanya Kensington dengan nada yang tiba-tiba berubah menjadi dingin dan datar.
"Aku sendiri bahkan tidak tahu apa itu cinta, Audrey. Jangan banyak menuntut padaku."
Ia berjalan menuju lantai, menunjuk dengan telunjuknya pada bercak darah di atas seprai putih yang kini terserak di lantai akibat pergulatan semalam.
"Aku hanya mengajakmu untuk serius menjalin hubungan, bukan mengaturku agar aku jatuh cinta padamu. Cinta itu membosankan, itu narasi sampah yang ada di buku-buku yang kubaca," Kensington melanjutkan, suaranya kini menusuk.
"Lagi pula, semalam dalam igauanmu, kau berkata bahwa Sander sudah pernah menyentuhmu, meskipun kalian tidak sampai bercinta. Dan sejujurnya? Aku sangat kecewa mendengar itu. Aku tidak suka barang, atau sesuatu, yang pernah disentuh orang lain."
Deg.
Jantung Audrey seolah berhenti. Ia terkejut dengan kejujuran brutal pria di depannya.
Efek obat semalam memang membuatnya mengoceh tak karuan tentang Sander, tentang bagaimana ia pernah membiarkan Sander menyentuhnya sebagai bentuk rasa terima kasih, meskipun ia tetap mempertahankan benteng terakhirnya.
Ia memang masih per*wan hingga semalam, tapi bagi pria posesif dan egois seperti Kensington, kemurnian bukan hanya soal fisik, tapi soal kepemilikan mutlak.
"Kau..." Audrey tidak sanggup berkata-kata. "Kau menyebutku barang?"
"Aku menyebutnya preferensi," sahut Kensington santai sambil memungut kemejanya di lantai.
"Aku mengajakmu serius karena kau menarik. Kau berbeda. Tapi jangan harap aku akan menjadi pria romantis yang mengemis cinta padamu. Aku sudah memberikan apa yang kau mau—pengakuan. Tapi untuk perasaan? Itu hal bodoh."
Audrey menatap sosok di depannya dengan perasaan hancur. Pria ini bukan pangeran dalam novel. Pria ini adalah antagonis yang ia biarkan masuk ke dalam hidupnya.
"Aku membencimu, Kensington. Sangat membencimu," bisik Audrey dengan suara yang nyaris hilang.
Kensington mengenakan kemejanya, mengancingkannya satu per satu dengan tenang. Ia menatap Audrey dan tersenyum tipis—senyum yang tidak menunjukkan rasa bersalah sedikit pun.
"Kenapa sesulit itu untuk percaya padaku? Aku sungguh serius padamu. Kau akan mendapatkan fasilitas terbaik, kau akan menjadi satu-satunya wanita di sampingku," ucap Kensington. "Tapi bukan berarti kau bisa menuntutku untuk jatuh cinta, kan? Itu hal membosankan yang tidak akan pernah kulakukan. Sekarang, mandilah. Aku akan mengantarmu kembali ke asrama seolah tidak terjadi apa-apa."
Audrey merasa dunianya runtuh. Ia menyadari bahwa semalam ia tidak hanya kehilangan kesuciannya, tapi ia juga telah menjual jiwanya pada seorang pria yang memandang hidup sebagai lembaran buku yang bisa ia manipulasi sesuka hati.
"Kau benar, Kensington," ucap Audrey sambil berjalan menuju kamar mandi dengan langkah gontai. "Cinta itu memang membosankan. Dan mulai hari ini, aku akan memastikan kau juga akan bosan melihatku."
Pintu kamar mandi tertutup dengan dentuman keras.
Kensington berdiri di tengah kamar, menatap bercak darah di seprai itu lagi. Ada rasa kemenangan di dadanya, namun ada lubang kecil yang mulai menganga. Ia baru saja memenangkan tantangan itu, tapi untuk pertama kalinya, sang kolektor novel merasa bahwa bab yang baru saja ia tulis tidak berakhir sesuai dengan prediksinya.
"Aku tidak butuh cinta," gumam Kensington pada dirinya sendiri, mencoba meyakinkan nuraninya yang mulai terusik. "Aku hanya butuh kepemilikan."
Tapi di balik dinding kamar mandi, suara tangis Audrey yang tertahan menjadi musik latar yang menandai dimulainya bab paling gelap dalam hidup mereka berdua. Tidak ada pahlawan di sini. Hanya ada dua jiwa yang saling menghancurkan atas nama keseriusan yang dingin.
terimakasih berkali² double up.
besuk lagi up nya kak,,,
kesehatannya di jaga
semangat 💪
nunggu kejutan dari kakak cantik 💪
dari pemilihan kata kata bagus, mudah di pahami. Alur kata tidak melibet.
Padahal novel e bagus banget tapii kenapa peminat bacanya sedikit ya
Aku doain ya kak,, semoga novel e bisa banyak yang baca, bisa masuk rank
insha Allah setiap baca, aku kasih kopii. biar nulisnya tambah semangat, dan nggak ngantuk 🤭