"Bismillah… percaya sama Mas.”
Kalimat itu membawa Aira pada pernikahan yang tak pernah ia bayangkan. Hamil enam bulan membuatnya harus menikah dengan Dika, pria yang ia cintai selama tiga tahun. Namun bagi Aira, pernikahan itu terasa seperti tanggung jawab, bukan cinta.
Belum sempat bahagia, Aira harus menghadapi penolakan keluarga Dika, ibu mertua yang syok hingga pingsan, dan rahasia besar yang belum diketahui ayahnya.
Di tengah tekanan keluarga dan hadirnya masa lalu Dika, Aira mulai bertanya… apakah ia benar-benar dicintai, atau hanya diperjuangkan demi anak dalam kandungannya?
Satu rahasia, sejuta luka. Dan menjadi istri Dika mungkin adalah luka terbesar bagi Aira.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon biru🩵, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Malam ini, rumah yang biasanya tenang kini berubah menjadi riuh. Suara denting piring yang beradu, gumaman doa dari para tetangga, hingga aroma masakan dari dapur yang menyeruak masuk ke sela-sela pintu kamarku menandakan bahwa sebuah tradisi sedang dijalankan. Meskipun ini adalah pernikahan yang digelar karena aib, Bapak dan Mbah Neni tetap bersikeras menjalankan beberapa ritual sederhana agar hajat ini tidak benar-benar terlihat seperti "pembuangan". Namun bagiku, setiap suara tawa atau percakapan di luar sana justru terasa seperti duri yang menusuk pendengaranku.
Aku masih setia berdiam diri di dalam kamar. Sejak beberapa hari yang lalu, ponselku tergeletak mati di atas meja rias, layarnya gelap gulita seperti masa depanku. Aku sengaja memutus akses dengan dunia luar. Aku tahu, jika aku menyalakan benda itu sekarang, ribuan pertanyaan dari Ali, Alina, atau grup toko akan menyerbu seperti peluru. Mereka pasti bertanya-tanya mengapa aku menghilang secara tiba-tiba tanpa kabar yang jelas. Aku tidak punya kekuatan untuk berbohong lagi, dan aku juga tidak punya nyali untuk mengatakan yang sebenarnya.
Aku duduk bersimpuh di sudut ranjang, menatap bayanganku di cermin kusam dalam temaram lampu kamar. Wajahku tampak begitu asing; pucat, dengan mata yang terus-menerus membengkak. Di luar, aku mendengar suara Mbah Neni yang sedang mengarahkan beberapa bulek untuk menyiapkan perlengkapan. Suasana "ramai" itu justru membuatku merasa semakin terisolasi. Aku merasa seperti orang asing di rumahku sendiri, seorang pesakitan yang sedang menunggu waktu eksekusi.
Tiba-tiba, suara ketukan pelan di pintu kamarku terdengar, diikuti oleh suara langkah kaki yang sangat kukenal. Pintu berderit terbuka perlahan. Ibu masuk membawa sebuah baki berisi makanan, namun wajahnya tetap kaku, tanpa sepatah kata pun. Beliau meletakkan baki itu di meja rias, lalu berdiri mematung menatapku yang masih tertunduk.
"Makan," ucap Ibu singkat. Suaranya dingin, seolah-olah ia sedang bicara dengan tembok.
"Iya, Bu," sahutku hampir tak terdengar.
Ibu tidak langsung keluar. Beliau menatap bungkusan pakaian yang sudah tertumpuk di sudut kamar,pakaian-pakaianku yang nantinya akan kubawa ke rumah Dika. Aku melihat bahu Ibu sedikit bergetar, namun beliau segera memalingkan wajah. Tidak ada pelukan, tidak ada nasihat tentang pernikahan, hanya keheningan yang menyesakkan di antara kami. Ibu kemudian berbalik dan keluar, menutup pintu dengan bunyi klik yang terasa seperti mengunci nasibku selamanya.
Aku menatap nasi hangat di baki itu, namun perutku justru terasa mual. Bayangan Bapak yang masih harus bersandiwara di depan para tetangga di ruang tamu membuat dadaku semakin sesak. Bapak pasti sedang mencoba menahan rasa malunya, menjawab setiap pertanyaan "kenapa mendadak" dengan senyum yang dipaksakan. Di malam tradisi ini, aku menyadari bahwa dosaku tidak hanya merusak diriku, tapi juga memaksa orang-orang yang kucintai untuk hidup dalam kebohongan besar demi menutupi noda yang kubuat.
Esok harinya, saat fajar baru saja menyingsing, rumahku sudah tidak lagi menjadi milikku. Suara riuh rendah para tetangga yang berdatangan mulai memenuhi halaman dan dapur. Mereka datang membawa wadah-wadah besar, siap membantu membuat jajanan tradisional seperti lemper dan jadah, sebuah keharusan dalam setiap hajat di kampung kami. Dari balik jendela kamar yang sedikit terbuka, aku bisa mendengar suara tawa yang dipaksakan dan percakapan yang sesekali merendah, berubah menjadi bisikan yang mencurigakan.
Aku masih terpaku di tempat tidur, memeluk perutku yang terasa semakin tegang. Bau santan dan daun pisang yang dikukus biasanya adalah aroma yang menyenangkan, tapi pagi ini, aroma itu membuat mualku semakin menjadi-jadi. Aku tahu, di luar sana, kehadiranku adalah hal yang paling ditunggu—bukan sebagai pengantin yang akan diberi doa restu, melainkan sebagai bahan gunjingan yang menggiurkan.
"Mana si Aira? Kok nggak kelihatan dari tadi?" Suara Bude Ratmi terdengar melengking dari arah dapur, menembus dinding kamarku yang tipis.
"Katanya lagi dipingit, nggak boleh keluar kamar sampai besok akad," sahut suara tetangga lain yang nadanya terdengar penuh selidik. "Tapi ya aneh ya, hajatannya mendadak sekali. Padahal Bapaknya baru saja pulang merantau lho."
Aku memejamkan mata rapat-rapat, meremas bantal untuk meredam suara-suara itu. Setiap kata yang mereka ucapkan terasa seperti siraman air keras pada luka yang masih basah. Aku bisa membayangkan Ibu yang saat ini mungkin sedang sibuk di dapur, mencoba tetap tenang dan melayani mereka semua dengan wajah yang kaku, menelan setiap sindiran halus yang dilontarkan para tetangga.
Tiba-tiba, Mbah Neni masuk ke kamarku tanpa mengetuk. Wajahnya tampak lelah, namun matanya tetap memancarkan kekuatan.
"Ra, ayo keluar sebentar. Bantu bulek-bulekmu menata jajanan di depan. Jangan di dalam kamar terus, nanti orang-orang makin curiga," perintah Mbah Neni sembari menarik tanganku dengan lembut namun tegas.
"Mbah... Aira takut," bisikku dengan suara bergetar.
"Ketakutanmu nggak akan menyelesaikan masalah, Nduk. Kamu harus tunjukkan kalau kamu masih punya muka, meski rasanya hancur sekalipun. Kalau kamu terus sembunyi, mereka akan semakin menguliti harga diri keluargamu di depan rumah," ucap Mbah Neni sembari membantuku mengenakan daster yang paling longgar.
Dengan langkah yang sangat berat, aku mengikuti Mbah Neni keluar kamar. Begitu aku menginjakkan kaki di ruang tengah, suasana mendadak senyap. Puluhan pasang mata tetangga yang tadinya sibuk dengan adonan kue, kini serempak tertuju padaku. Tatapan mereka tajam, menyapu tubuhku dari kepala hingga ke arah perut yang coba kusembunyikan di balik nampan besar.
Aku menunduk dalam, mencoba fokus pada tugas yang diberikan Mbah Neni. Rasanya seolah-olah aku sedang berjalan di atas hamparan duri. Aku bisa merasakan bisikan-bisikan itu kembali dimulai, kali ini lebih dekat, lebih nyata, dan lebih menyakitkan. Di pagi yang penuh dengan aroma jajanan tradisional ini, aku menyadari bahwa hajat ini bukan lagi sebuah perayaan, melainkan sebuah upacara pengadilan terbuka di mana seluruh tetangga bertindak sebagai hakimnya.