Tiga puluh tahun lalu, kakak perempuan Rakha tewas secara tragis akibat kejahatan konglomerat Hardi Adi Soetomo. Kini, Rakha telah tumbuh menjadi pengacara kelas atas yang penuh kuasa, namun hidupnya hanya didorong oleh satu tujuan: balas dendam.
Rencananya sempurna. Ia akan menghancurkan Hardi melalui titik lemahnya—sang putri semata wayang, Maharani Ayudia Soetomo, bintang muda yang sedang bersinar. Rakha mendekati Maharani, berniat menjadikannya alat penghancur bagi ayahnya sendiri.
Namun, di tengah intrik dan manipulasi, Rakha goyah. Maharani terlalu polos dan tidak tahu apa-apa tentang dosa masa lalu ayahnya. Saat kebenaran mulai terkuak dan perasaan mulai tumbuh, Rakha terjebak dalam pilihan mustahil: Menuntaskan sumpah dendamnya atau melindungi wanita yang seharusnya ia hancurkan?
Sebuah pertaruhan antara kebencian masa lalu dan cinta yang tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mikaelach09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB EMPAT
Coffeestar di Lounge apartemen itu tampak mewah dan elegan. Lantai marmer mengilap, lampu gantung bergaya modern menyinari ruangan dengan cahaya kekuningan lembut. Dari dinding kaca besar, pemandangan kota Jakarta terlihat bagai lautan bintang. Musik jazz mengalun pelan, mengisi ruang tanpa mengganggu percakapan.
Maharani duduk di meja dekat jendela, tubuhnya sedikit condong ke depan, jemari mungilnya berulang kali menyusuri pinggiran cangkir kopi yang sudah separuh dingin. Ia berusaha menampilkan diri seolah santai, seolah tak peduli, namun matanya tak bisa berbohong. Sesekali ia mencuri pandang pada pria di hadapannya, lalu buru-buru menunduk setiap kali tatapan mereka hampir bertemu.
Rakha duduk tegap, bahunya kokoh bak tembok, jas hitam yang membalut tubuhnya tampak begitu rapi seakan dijahit langsung untuk dirinya. Ekspresinya datar, seakan wajah itu diciptakan tanpa sedikitpun kelembutan. Namun justru dari tatapan dingin itulah terpancar sesuatu yang membuat Maharani tercekat—wibawa yang menusuk, keanggunan yang menekan, aura yang membuat seluruh ruang seakan berputar mengitari dirinya.
Di hadapannya, Maharani merasa kecil.
Seperti seorang gadis yang masih belajar bicara, berusaha menyusun kata agar tak terdengar bodoh.
Cangkir di tangannya terasa semakin berat, dan meski ia mencoba menahan senyum tipis, jantungnya berdegup terlalu kencang. Ia tahu, pria di depannya bukan sekadar orang biasa. Ada rahasia di balik ketenangan itu, ada misteri di balik tatapan hitamnya. Dan entah kenapa, semakin ia menahan diri, semakin kuat rasa ingin tahunya.
Maharani memberanikan diri membuka percakapan, suaranya sedikit gemetar meski bibirnya tersenyum.
“Pak Rakha pasti sibuk sekali, ya. Saya sering baca tentang Wiratama Law Firm. Hebat sekali bisa sebesar itu. Menangani artis-artis besar, pengusaha besar… rasanya luar biasa.”
Rakha mengangkat cangkir kopinya dengan gerakan tenang, seolah setiap detik miliknya sudah terukur. “Kebetulan saja,” jawabnya datar. “Kerja keras, waktu panjang, dan sedikit keberuntungan. Tidak ada yang istimewa.”
Maharani tertawa kecil, menutupi gugupnya dengan senyum yang dipaksakan. Jemarinya mengetuk ringan sisi cangkir. “Bapak terlalu merendah. Dunia hukum itu keras. Menurut saya, pencapaian Bapak… luar biasa.”
Rakha menurunkan cangkirnya perlahan, lalu mencondongkan tubuh. Tatapannya menusuk, lurus ke dalam mata Maharani—membuatnya tanpa sadar menahan napas. Suara Rakha rendah, dalam, dan dingin.
“Kalau bicara soal luar biasa… sepertinya gelar itu lebih cocok disematkan pada Anda, Nona Maharani.”
Maharani terperangah, bulu kuduknya meremang. “Saya?” suaranya lirih, terkejut.
Rakha menyilangkan tangan di dada, wajahnya tetap tanpa senyum. “Ya. Usia dua puluh dua tahun, sudah menjadi penyanyi papan atas. Wajah Anda ada di mana-mana—billboard, majalah, televisi. Fans Anda ribuan, mungkin jutaan. Cemerlang. Sempurna. Bahkan… terlalu sempurna.” Rakha berhenti sejenak, matanya masih terkunci pada wajah Maharani. “Mudah sekali bagi seorang Maharani Ayudia Soetomo untuk mendapatkan apa pun yang diinginkan.”
Nada suaranya tidak meninggi, tidak meledak. Justru datar, tenang… tapi dari setiap kata terasa dingin, seperti bilah tipis yang menusuk perlahan.
Senyum Maharani perlahan memudar. Ia menelan ludah, berusaha menahan kegelisahannya, lalu memaksa tawa kecil keluar. “Saya… saya hanya beruntung, Pak. Tapi semua itu butuh kerja keras juga. Latihan, disiplin, pengorbanan…”
Rakha mengangkat alis tipis, ekspresi wajahnya tak berubah. “Kerja keras? Tentu. Tapi… nasib Anda jelas berbeda dengan kebanyakan orang. Jalan Anda sudah dibentangkan sejak awal.”
Maharani mengerutkan keningnya, tersentuh tapi juga tersinggung. “Maksud Bapak… karena saya anak dari Soetomo?”
Rakha tidak menjawab seketika. Ia hanya meneguk kopinya lagi, lalu menaruh cangkir itu dengan hati-hati di meja. Senyumnya samar, nyaris tak terlihat.
“Saya hanya mengatakan fakta. Tidak semua orang punya sendik emas yang sudah terbuka sejak lahir. Tidak semua orang lahir dengan nama besar yang bisa jadi jembatan.”
Maharani terdiam, hatinya berdesir aneh—antara marah, malu, sekaligus bingung. Ia menegakkan tubuhnya, menatap Rakha dengan sorot mata yang berusaha kuat. “Kalau memang begitu… apa salah saya lahir di keluarga seperti ini?”
Rakha menatapnya lama, mata hitamnya nyaris tak berkedip. “Tidak salah,” ucapnya tenang. “Tapi ingat, Nona Maharani… sendok emas kadang juga bisa jadi jerat.”
Kata-kata itu membuat Maharani tercekat. Ia menunduk, menggenggam erat cangkir di tangannya, berusaha mengatur napas.
Rakha, di sisi lain, tetap tenang. Tatapan dinginnya tidak pernah bergeser, seolah sedang menikmati setiap kegelisahan yang tercetak jelas di wajah gadis muda itu.
Maharani membeku, hatinya seperti disambar sesuatu yang tak terlihat. Ada nada getir dalam kata-kata itu. Ia tidak mengerti maksud sebenarnya, tapi rasanya seperti dituduh.
Ia meraih cangkirnya, meneguk cepat seolah ingin menelan kegugupan. “Saya tidak tahu harus menjawab apa. Tapi kalau Bapak menganggap semua ini hanya jalan mulus, mungkin Bapak belum melihat sisi lain. Tidak semua yang saya jalani seindah yang terlihat.”
Rakha memiringkan kepalanya sedikit, lalu senyum tipis terukir di bibirnya—senyum dingin, penuh misteri. “Saya percaya. Setiap kesuksesan… selalu ada harga yang dibayar. Pertanyaannya hanya… seberapa besar harga yang Anda siap bayar, Nona Maharani.”
Suasana seketika menjadi berat. Musik jazz yang lembut pun terdengar bagai gema jauh di belakang. Maharani menunduk, menggenggam erat cangkirnya, berusaha menstabilkan napas. Kata-kata pria ini terasa terlalu dalam, seolah ia tahu sesuatu yang tidak seharusnya ia tahu.
Dengan suara pelan, Maharani mencoba membalas, “Dan… menurut Bapak, apa harga yang harus saya bayar?”
Rakha menatapnya lama, sorot matanya dalam, nyaris menghipnotis. Lalu ia kembali menyandarkan tubuh ke kursi, meraih cangkir kopinya, dan menjawab tenang.
“Itu akan terlihat dengan sendirinya… pada waktunya.”
Lounge apartemen itu berbalut suasana elegan. Lampu gantung kristal menjuntai anggun, cahaya kekuningannya memantul di lantai marmer, memberi kesan hangat sekaligus berkelas. Di meja-meja lain, beberapa penghuni apartemen bercengkerama dengan suara rendah, sesekali terdengar tawa samar. Pelayan lalu-lalang, membawa nampan dengan gelas teh dan kopi.
Maharani duduk berhadapan dengan Rakha di meja pojok dekat kaca besar, yang menghadap langsung pada pemandangan Jakarta dengan lampu kotanya yang berkilau bak lautan bintang. Ia baru saja meraih cangkir kopinya ketika ponselnya yang tergeletak di meja bergetar pelan. Layar menyala, menampilkan nama yang membuatnya refleks menggigit bibir bawah.
Rakha sudah lebih dulu memperhatikan. Tatapannya singkat namun tajam, lalu ia mengangkat wajahnya pada Maharani. Bibirnya melengkung tipis—senyum yang terlalu dingin untuk disebut ramah.
“Angkat saja,” ucapnya dengan nada tenang, namun seolah tak memberi pilihan lain.
Maharani tersenyum tipis, mencoba menutupi rasa canggung. “Izin sebentar ya, Pak.” Ia bangkit, meraih ponsel, lalu berjalan keluar lounge dengan langkah tergesa.
Dari tempat duduknya, Rakha masih bisa melihat jelas bagaimana wajah Maharani berubah serius begitu ponsel menempel di telinganya. Gerak bibirnya cepat, ekspresi kesal sesekali muncul. Rakha menyilangkan tangan di dada, lalu mengusap bakal janggutnya perlahan.
“Tuan putri Soetomo tampaknya sedang dirundung masalah…” gumamnya, senyum miring terbentuk di wajahnya.
Beberapa wanita yang duduk tak jauh dari mereka mencuri-curi pandang ke arah Rakha. Ada yang berbisik sambil menahan tawa kecil, ada pula yang pura-pura sibuk dengan ponsel. Tak sulit menebak alasan mereka—Rakha Adiwangsa Wiratama adalah sosok yang memikat. Dengan tinggi 187 cm, tubuh tegap, rahang tegas, dan jas hitam pekat yang terjahit pas, ia tampak seperti pusat gravitasi ruangan. Karismanya tak bisa disembunyikan.