Berlatar di sebuah desa bernama Desa Suka Makmur. Anggap saja salah satu desa di Jawa Barat. Desa dengan beberapa fasilitas yang tersedia, seperti bangunan sekolah dasar, balas desa, puskemas pembantu, posyandu , lapangan sepak bola dan lainnya. Namun dibalik itu desa tersebut menyimpan kisah misteri dan terkenal dengan kemistisan nya. Desa pocong sebutan lain dari nama desa itu. Terdapat pantangan untuk tidak membuka pintu dan jendela di malam hari. Lebih-lebih keluar di waktu malam , apapun alasan nya. Jika melanggar maka siapapun akan terkena musibah. Sebuah teror, celaka , jatuh sakit , bahkan hingga kematian. Namun tak hanya itu , teror lain turut membayangi warga desa. Hingga seorang gadis pendatang baru yang tinggal di salah satu rumah yang terkenal angker berusaha mencari tahu tentang desa itu. Fitri namanya, gadis dengan kemampuan spiritual yang akan membantu warga desa terbebas dari ketakutan nyata teror pocong yang sudah berjalan berpuluh-puluh tahun lamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon qsk sri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sampai di Desa
Maria tak benar-benar pergi, kuntilanak itu berdiam diri di atas pohon nangka dekat rumah Paulina,putri kandung nya. Entah apa yang membuatnya masih tertahan di dunia manusia padahal keinginan terbesarnya hanyalah bertemu putri kandungnya, tetapi setelah bertemu dia tak kunjung pergi dan masih bergentayangan.
Akhirnya kuntilanak itu memutuskan untuk kembali ke rumah Lita untuk bertemu Fitri,karena hanya Fitri yang bisa dijadikan besti. Pikirnya. Sedangkan Paulina, putri kandungnya tidak dapat melihat dan berinteraksi dengannya. Maria pun segera beranjak ,akan tetapi baru saja dia terbang beberapa senti ujung rambut nya yang dikepang itu tersangkut ranting,alhasil Maria gagal terbang dan malah bergelantungan,hingga akhirnya ranting nya patah dan Maria pun seketika jatuh.
Ketika itu muncul sundel bolong yang sengaja datang untuk membeli sate kambing setengah matang kesukaan nya yang biasa mangkal tak jauh dari lokasi kejadian Maria tersangkut. Sundel bolong itu menertawakan Maria seolah Maria adalah sesuatu yang lucu baginya. Puas tertawa sundel bolong itu mengeluarkan gadget dari saku gaun panjang nya. Gadget itu ia dapatkan dari warga yang ketakutan saat melihat penampakan nya, gadgetnya terjatuh dan pemiliknya langsung lari begitu saja.
Sundel bolong itu merekam Maria yang kini rambut kepang nya berantakan.
"Heh sundel ! Bukannya bantuin malah ngetawain mana divideoin lagi ! " Desis Maria merengut kesal.
"Hihihihi....abisnya lucu sih,baru kali ini aku lihat Kunti kepangan gitu "
"Iya dong, biar rapih dan cantik. Ini tuh karya nya Fitri. Gimana baguskan ....?" Maria merasa bangga.
"Tapi aku juga heran baru kali ini lihat setan punya hp " Balas Maria
"Fitri ? Kuntilanak mana tuh ? Eh kamu juga bukan berasal dari sini kan ? Kamu kunti dari mana ?" Tanya Sundel bolong itu menatap lekat wajah Maria.
"Fitri bukan kuntilanak,dia anak manusia" Ujar Maria.
"Hah...? Manusia ? Kok bisa ?" Kejut sundel bolong itu.
Maria mengangkat bahunya,"Entahlah...biasanya juga dia gak pernah bisa melihat ku, tapi sekarang tiba-tiba saja dia bisa melihat dan bahkan bisa mengendalikan ku " Ujar Maria lagi.
"Mengendalikan gimana ?" Tanya sundel bolong sambil memiringkan kepalanya.
"Ya,...pokonya apapun yang dia katakan aku pasti nurut,kaya gak bisa aja nolak" Jawab Maria jujur
Sundel bolong itu mengangguk," Hmm...menarik. Aku jadi penasaran seperti apa si Fitri itu. Kapan-kapan bawa aku bertemu dengan nya" Ucap sundel bolong yang entah mengapa jadi merasa tertarik dengan Fitri yang diceritakan Maria.
"Oh iya ,kamu belum jawab pertanyaan ku. Kamu bukan kuntilanak daerah sini kan ?" Tanya sundel bolong itu menatap tajam.
" Ya,aku bukan dari sini. Namaku Maria,aku datang untuk menemui anak ku. Tapi....aku kangen Fitri sekarang. Maaf ya,aku harus pergi mau ketemu Fitri buat benerin kepangan ku " Maria segera beranjak namun ranting di rambut nya membuat nya sedikit kerepotan.
"Hihihi....sini aku bantuin " sundel bolong itu pun segera membantu Maria melepas ranting yang masih nyangkut di rambut Maria.
Karena cukup sulit melepaskan nya,akhirnya sundel bolong melepaskan karet gelang yang melingkar di ujung rambut kepang Maria. Dan setelah itu barulah ranting kayu itu bisa dilepaskan,namun rambut nya kini kembali ke settingan awal. Kusut,awut-awutan macam tak disisir setahun.
Setelah itu,Maria pun segera pergi. Sundel bolong lalu segera menuju gerobak sate. Cukup lama Maria berputar-putar mencari jalan ke rumah Lita,dan akhirnya di awal pagi yang cerah ia dapat sampai juga di rumah Lita. Tapi sayang sesampainya di sana,Fitri sudah tidak ada. Bahkan rumah pun kosong tak ada siapapun di sana.
"Kenapa gak ada ?" gumam Maria.
Dengan mengandalkan indera penciumannya,Maria pun mengikuti aroma wangi tubuh Fitri. Setelah menemukan nya dia pun diam-diam mengikuti.
Dan saat ini,di sini lah dia berada. Di sebuah desa yang nampak modern dengan tiang-tiang wifi berjejer di setiap meter di sisi jalan. Dapat dibayangkan bagaimana semrawut nya kabel-kabel di atas sana mengingat banyak nya tiang yang berdiri kokoh.
Namun Maria dapat merasakan ada aura lain di desa. Aura yang begitu kuat intensitas mistisnya.
"Maria ? Kok bisa kamu di sini ? Bukan nya kamu udah pergi ?" Tanya Fitri terkejut.
Maria nyengir lebar sampai menampilkan deretan giginya yang sedikit menghitam karena jarang gosok gigi.
"Bukannya jawan malah nyengir" Dengus Fitri. Dia lalu menoleh pada kakek Mul yang rupanya juga dapat melihat keberadaan Maria.
"Kakek melihat nya ?" Tanya Fitri pelan.
Namun kakek Mul hanya tersenyum,hingga di detik berikutnya kakek Mul berucap ," Pergilah,temui bibi mu yang mungkin saat ini masih meratapi kepergian mu, kuntilanak itu biar kakek yang tangani "
Maria terkesiap, dan Fitri bereaksi cepat. "Gak apa-apa kek,dia baik kok. Biar dia ikut bersama ku " Ucap Fitri cepat.
"Kamu yakin ?" Tanya kakek Mul.
"Iya kek " Jawab Fitri tegas.
"Baiklah kalau gitu" Kakek Mul langsung pergi tanpa berpamitan.
Fitri menghela nafasnya,setelah itu dia pun segera pergi ke rumah nya. Rumah yang sudah menunggu kedatangannya berikut semua penghuni tak kasat matanya. Rencananya dia akan ke rumah Nina setelah beristirahat beberapa menit saja.
Tak biasanya, suasana desa begitu sepi seolah penghuni nya tengah pergi semua, begitu pikir Fitri. Padahal bagi warga di desa itu, hal seperti ini sudah biasa terjadi jika salah satu warga ada yang meninggal. Sebelum 40 hari maka warga desa akan berkabung dengan tidak beraktivitas berlebih di siang hari. Mereka akan keluar seperlunya saja jika ada keperluan mendesak.
"Kenapa desa ini sepi sekali ? Kemana orang-orang nya ?" Tanya Maria yang melayang cantik di samping Fitri.
"Entahlah ,terakhir gue ke sini gak sesepi ini. Ada apa ya ..." Jawab Fitri,hatinya mengatakan jika telah terjadi sesuatu di desa.
"Aku bisa bantu kamu? Kelihatan nya kamu kerepotan bawa tas nya " Ucap Maria menatap Fitri.
Fitri menghela nafasnya,"Maunya sih. Tapi nanti malah lebih ngerepotin kalau nanti ada orang lihat,nanti disangka nya gue lagi main sulap karena tas nya melayang-layang " Ucap Fitri
"Oh...iya juga ya...."
Tak lama Fitri pun sampai di rumah,begitu dia membuka pintu suasana dingin langsung menyapa tubuhnya. Kondisi rumah itu sekarang sudah tak sekacau dari sebelumnya. Meski masih terlihat beberapa titik yang harus benar-benar dibersihkan dan di renovasi.
"Ini rumah kamu?" Tanya Maria.
"Heem,...selamat datang di istana kecil gue. Kecil tapi lumayan lah dari pada gak ada" Ucap Fitri sambil menatap seisi rumah.
"Gaeess...gue balik nih...ada teman baru buat kalian ....!" Seru Fitri memanggil para hantu penunggu rumah nya.
Namun para hantu itu tak ada yang keluar satupun.
"Kemana mereka ?" Tanya Fitri pada dirinya sendiri.
"Siapa yang kamu panggil ?" Tanya Maria
"Para penunggu rumah ini. Sepertinya mereka sedang pergi ke luar. Ya sudah lah,kalau gitu gue istirahat dulu,capek abis perjalan jauh. Lo bisa istirahat dimanapun Lo mau " Fitri segera membuka pintu kamar yang berada di samping ruang tamu.
"Hmmm....beneran pintar beberes mereka. Bagus deh,gue jadi bisa hemat energi buat ngurus rumah. Ada mereka yang bisa gue jadiin pembantu, hihihi...." Gadis itu lalu merebahkan tubuhnya di tempat tidur kapuk yang lumayan keras karena tidak pernah di jemur.
"Sepertinya gue harus beli kasur baru" Gumam nya,dia juga memikirkan perabotan rumah lain nya.
"Kalau duit nya cukup gue renovasi rumah terus sisa nya gue beliin perabotan. Gue butuh kulkas,rice cooker, galon. Mesin cuci nanti saja lah masih bisa nyuci manual kok " Ucap nya pelan sambil memperhatikan kedua tangan nya.
Dia juga melanjutkan," Tapi sepertinya sih cukup,duit pesangon ditambah duit tabungan bapak dan juga dari Bu Endar sih harusnya cukup ya" Ada jeda sedikit lalu dia mengambil buku catatan dan pulpen dari dalam tas nya.
Fitri mencatat apa-apa saja bahan yang diperlukan untuk merenovasi rumah nya,tak banyak yang hendak direnovasi,hanya beberapa saja yang sudah rusak. Setelah itu gadis itu pun terlelap begitu saja dengan pulpen yang masih digenggam nya.
Sementara itu di area pemakaman,dua kuntilanak,pocong ,dan jerangkong tengah mengelilingi makam yang diyakini sebagai makam Fitri. Sedangkan hantu anak kecil tengah bermain bersama hantu lain ,mereka saling kejar-kejaran.
"Aku kok merasa dia bukan Fitri" Ucap jerangkong.
"Kenapa kamu bilang begitu ?" Tanya kuntilanak
"Gak tahu, feeling aku sih mengatakan jika Fitri masih hidup " Jawab jerangkong.
"Kalau dia masih hidup pasti dia akan kembali ke sini " Ucap pocong
"Kalau begitu ayo kita pulang,siapa tahu Fitri sudah pulang" Ucap kuntilanak satunya.
Tak butuh waktu lama para hantu itu pun sudah sampai di rumah ,akan tetapi mereka seketika terdiam dan saling bertukar pandang saat melihat ada kuntilanak lain yang tengah menyapu lantai di teras depan.
"Siapa tuh ....?"