NovelToon NovelToon
Transmigrasi Permaisuri Yang Tidak Dicintai

Transmigrasi Permaisuri Yang Tidak Dicintai

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Romansa Fantasi / Time Travel
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Afrasya Andila

Dahulu, dia hanyalah seorang wanita biasa yang hidup pas-pasan. Namun, takdir berkata lain. Dia terbangun dalam tubuh seorang permaisuri yang tak dicintai, diabaikan oleh suaminya dan tak dianggap oleh rakyat.

Tapi, bukannya bersedih, dia malah kegirangan! Siapa yang peduli dengan cinta jika dia memiliki kekayaan, kekuasaan, dan kehidupan mewah yang tak pernah dia bayangkan sebelumnya? Menjadi permaisuri abal-abal yang kaya raya? Tentu saja dia mau!

Dia akan menikmati setiap momen dalam kemewahan ini, biarpun tanpa cinta. Karena baginya, yang penting adalah menjadi permaisuri kaya, bukan permaisuri yang dicintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Afrasya Andila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

13. Rahasia Dunia Fantasi dan Panggilan Si Kulkas Dua Pintu

Baru saja Melan berhasil menuntun Moli melewati gerbang kecil di sisi belakang istal, sebuah suara teriakan yang melengking memecah keheningan sore itu.

"YANG MULIA PERMAISURI DITEMUKAN! BELIAU DI SINI!"

Melan tersentak, hampir saja ia terjatuh dari punggung Moli yang masih berjalan miring. Ia meringis, melihat puluhan prajurit berbaju zirah lengkap berlarian ke arahnya dengan wajah sepucat kertas. Suasana mendadak kacau seolah-olah baru saja ada serangan naga dari langit.

"Aduh, mampus deh gue. Baru juga mau masuk lewat dapur," gumam Melan masam.

"Segera lapor pada Tuan Baron! Katakan pada Tangan Kanan Raja bahwa Permaisuri sudah kembali dalam keadaan utuh!" teriak salah seorang prajurit dengan nada panik yang sangat berlebihan.

Tak lama kemudian, Pemimpin Prajurit. seorang pria bertubuh raksasa dengan kumis melintang datang menghampiri Melan.

Ia langsung berlutut di tanah, diikuti oleh seluruh bawahannya. Suara benturan zirah mereka dengan lantai batu terdengar sangat keras.

"Ampunkan kelalaian kami, Yang Mulia Permaisuri! Hamba pantas dihukum karena membiarkan Anda menghilang tanpa pengawalan. Keamanan Anda adalah harga mati bagi kami!" ucap si Pemimpin Prajurit dengan suara yang gemetar.

Melan merasa tidak enak hati. Ia turun dari Moli dengan gerakan yang agak kaku karena pinggangnya masih terasa nyeri bekas hantaman sihir tadi. Ia segera mengibaskan tangannya, menyuruh mereka berdiri.

"Aduh, Pak... eh, Jenderal, bangun! Jangan sujud-sujud begitu, nanti encok," ujar Melan kikuk.

"Ini bukan salah kalian. Saya sendiri yang sengaja kabur diam-diam karena bosan di istana terus. Saya cuma mau lihat pemandangan, kok. Lihat nih, saya masih utuh, nggak kurang satu keping emas pun."

Para prajurit itu berdiri, tapi wajah mereka tampak sangat tertekan. Di saat Melan berusaha menenangkan massa, seorang prajurit muda datang berlari dengan napas tersengal-sengal, wajahnya memerah karena kelelahan.

Ia segera membungkukan badan yang kaku di depan Melan. "Salam... hah... salam sejahtera, Yang Mulia Permaisuri! Hah... Ada pesan mendesak dari Yang Mulia Raja."

Melan mengangkat alisnya. "Pesan apa? Dia mau ngajak makan malam lagi? Bilang saya capek."

Prajurit itu menelan ludah dengan susah payah. "Yang Mulia Raja... memerintahkan Anda untuk segera menghadap di ruang kerja beliau. Sekarang juga, Yang Mulia. Beliau... sepertinya sangat tidak senang."

Melan mendesah panjang. "Tuh kan, beneran kena sidak. Ya sudah, pimpin jalan. Tapi jangan lari ya, kaki saya mau copot rasanya."

___________

Sambil berjalan menuju ruang kerja Nolan, Melan didampingi oleh Lin yang sudah menangis sesenggukan karena mengira majikannya diculik monster hutan. Untuk menenangkan diri dan rasa penasarannya. Melan mulai memancing Lin dengan pertanyaan-pertanyaan aneh.

"Lin, jangan nangis terus dong. Kamu tahu nggak, tadi saya lihat wanita aneh di hutan. Dia bisa gerakin daun-daun pakai tangan. Itu... itu sihir ya?" tanya Melan dengan suara pelan agar tidak didengar prajurit lain.

Lin berhenti menangis sejenak, menatap Melan dengan mata sembap. "Tentu saja itu sihir, Yang Mulia. Tapi... apakah Anda benar-benar bertemu penyihir di hutan kita? Itu sangat jarang terjadi."

"Maksudnya? Memang penyihir itu banyak?"

Lin mengangguk pelan. "Dunia ini luas, Yang Mulia. Kerajaan Valerius memang didominasi oleh manusia biasa seperti kita, tetapi para penyihir memiliki kerajaan mereka sendiri di seberang Pegunungan Es. Mereka tidak tinggal satu wilayah dengan kita karena perjanjian kuno."

Melan melongo. "Sumpah? Jadi beneran ada kerajaan penyihir?"

"Bukan hanya penyihir, Yang Mulia," lanjut Lin dengan suara berbisik, seolah sedang menceritakan rahasia negara.

"Di hutan-hutan terdalam, konon para Peri masih sering menampakkan diri. Dan di wilayah barat, ada kaum Manusia Binatang yang memiliki kekuatan fisik luar biasa. Tapi hubungan kita dengan mereka hanya sebatas perdagangan resmi di perbatasan. Melihat penyihir berkeliaran di dekat istana... itu pertanda yang aneh."

Melan terdiam seribu bahasa. Pikirannya melayang kembali ke wanita di hutan tadi. Penyihir, Peri, Manusia Binatang... ini mah beneran isekai paket komplit! batinnya.

Berarti wanita tadi kemungkinan besar adalah penyusup atau pelarian dari kerajaan penyihir. Tapi kenapa wanita itu terlihat begitu mengenal nama Melan?

_____________

Begitu sampai di depan pintu ruang kerja Raja, suasana berubah menjadi sangat dingin. Pintu terbuka, dan Melan masuk dengan langkah yang dibuat seberani mungkin.

Nolan sudah menunggu, berdiri di balik meja kerjanya yang besar. Ruangan itu hanya diterangi oleh beberapa lampu minyak, menciptakan bayangan yang panjang dan mengancam. Pakaian Nolan masih santai, namun auranya tetap sekeras es kutub.

"Permaisuri," suara Nolan berat dan dingin. "Duduk."

Melan duduk di kursi di depan meja Nolan, mencoba terlihat santai meskipun jantungnya berdegup kencang—bukan karena cinta, tapi karena takut kena omel.

"Jadi, Anda sekarang hobi bermain petak umpet dengan seluruh ksatria saya?" tanya Nolan tanpa basa-basi.

"Anda tahu berapa banyak sumber daya yang saya kerahkan hanya untuk mencari seorang wanita yang ingin 'melihat pemandangan' sendirian?"

Melan memutar bola matanya. "Hanya beberapa jam, Yang Mulia. Lagipula, ksatria Anda itu terlalu berlebihan. Saya cuma jalan-jalan pakai Moli."

"Moli? Siapa itu? Selingkuhan baru Anda?" Nolan menyipitkan mata.

"Moli itu kuda, Yang Mulia! Kuda betina yang jalannya miring-miring!" seru Melan sebal.

"Lagipula, saya bosan di istana. Semua orang menatap saya seperti saya ini porselen pecah. Saya butuh udara segar."

Nolan berjalan memutar meja, lalu berdiri tepat di samping Melan. "Udara segar atau Anda sedang mencoba melarikan diri dari tanggung jawab Anda?"

"Tanggung jawab apa? Jadi pajangan di meja makan sama Nona Bedak Tembok?" sindir Melan telak.

Nolan terdiam sejenak. Ia menghela napas, seolah sedang menahan amarah yang meledak.

"Saya mendapatkan laporan bahwa Anda terlihat di pinggiran hutan terlarang. Tempat itu tidak aman bagi manusia biasa, apalagi untuk seorang Permaisuri yang bahkan tidak bisa membedakan tali kekang kuda dengan tali jemuran."

"Saya baik-baik saja, lihat kan?" Melan berdiri untuk menunjukkan bahwa ia tidak terluka, namun rasa sakit di punggungnya mendadak menyerang kembali.

"Aduh!"

Ia refleks memegangi punggungnya, wajahnya meringis kesakitan.

Nolan dengan sigap menangkap bahu Melan agar tidak jatuh. "Anda terluka."

"Nggak, cuma... cuma pegal sedikit," elak Melan, mencoba melepaskan diri dari pegangan Nolan.

"Jangan berbohong pada saya," Nolan memutar tubuh Melan dan melihat ada noda tanah dan serpihan daun yang menempel di bagian belakang gaunnya. "Anda bertemu sesuatu di sana, bukan?"

Melan menggigit bibirnya. Ia ragu apakah harus menceritakan soal penyihir itu. Jika ia bilang ada penyihir di dekat istana, Nolan mungkin akan menutup hutan itu dan ia tidak bisa bertemu wanita itu lagi untuk mencari tahu rahasianya.

"Saya cuma jatuh dari kuda," bohong Melan. "Kan saya sudah bilang, Moli jalannya miring-miring. Pas belokan tajam, saya terlempar."

Nolan menatap Melan dalam-dalam. Ada kilatan keraguan di matanya, tapi ia tidak mendesak lebih jauh. Ia melepaskan bahu Melan dan kembali ke belakang mejanya.

"Mulai besok, Anda tidak diizinkan keluar tanpa pengawalan Tuan Baron. Jika saya mendengar Anda kabur lagi, saya akan mengunci paviliun Anda dan membatalkan semua izin pembangunan gedung aneh yang Anda kerjakan itu," ancam Nolan tegas.

Melan membelalakkan matanya. "Itu pemerasan! Anda tidak bisa mencampuradukkan urusan pribadi dengan urusan bisnis!"

"Saya adalah Raja. Saya bisa melakukan apa saja yang saya mau untuk memastikan keselamatan Anda," sahut Nolan datar.

"Sekarang kembali ke kamar Anda. Dan panggil tabib untuk memeriksa punggung Anda itu."

Melan menghentakkan kakinya ke lantai dengan kesal. "Dasar Diktator! Kulkas Dua Pintu! Raja Gorden!"

Ia berbalik dan berjalan keluar ruangan dengan langkah lebar. Nolan hanya menatap punggung Permaisurinya itu sampai menghilang di balik pintu.

"Penyihir, ya?" gumam Nolan pelan. Ia melirik ke arah laporan di mejanya yang menyebutkan adanya aktivitas energi sihir di pinggiran hutan sore tadi.

"Siapa sebenarnya yang kau temui di sana, Melan? Dan kenapa kau menyembunyikannya dariku?"

Sementara itu, di koridor istana, Melan menggerutu tanpa henti. "Gila, ini dunia beneran makin kompleks. Ada sihir, ada peri, ada raja galak yang hobinya ngatur. Gue harus cepet-cepet bikin Mall itu jadi, biar gue punya tempat persembunyian yang aman dari si Nolan."

Tapi di tengah kekesalannya, satu hal mengganggu pikirannya. Kenapa penyihir itu ngebantu gue? Dan kenapa rasanya... sentuhannya tadi sangat familiar?

Melan menggelengkan kepalanya. Ia harus fokus. Besok, ia harus memastikan para pekerjanya tidak kaget kalau tiba-tiba ada "Manusia Binatang" atau "Peri" yang mampir belanja di mall-nya nanti.

"Kalau peri belanja, kira-kira mereka bayar pakai apa ya? Serbuk ajaib? Bisa nggak ya dituker jadi emas?" gumam Melan yang jiwa matrenya mulai bangkit kembali.

Babak baru kehidupannya di dunia fantasi ini baru saja dimulai, dan Melan bertekad untuk menjadi Permaisuri terkaya yang pernah ada, tidak peduli apakah lawannya adalah kutukan cinta atau penyihir daun sekalipun.

1
ilaa
lanjut up thorr, penasaran sama si fek fe
merpati: ga nyangka 🤭
total 1 replies
Ma Em
Melan emang unik sdh diculik tapi msh saja memikirkan bagaimana caranya bisnis untuk mengumpulkan pundi pundi uang masuk ke kantongnya .
merpati: soalnya di kehidupan sebelumnya melan jadi pekerja, di kehidupan kedua dia mau jadi bosnya
total 1 replies
Ma Em
Semoga apa yg akan Melan lakukan segera terlaksana dan benar2 sukses dgn yg Melan bangun agar Raja dan orang2 yg ada di kerajaan Nolan tdk meremehkan Melan lagi .
merpati: melan mah nggak peduli di remehin yg penting kaya dulu 🤭🙏
total 1 replies
Andini Cantik
lanjuttttt up
Firniawati
bagus tidak menye² tapi pemilihan katanya yg campur aduk
merpati: makasih kakaa, nanti aku revisi
total 1 replies
Firniawati
ayo kak kapan updatenya?
Sesarni Andiva
lanjut kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!