Dulu aku adalah pria biasa di Bumi, tapi suatu hari aku tewas tersambar petir dan terbangun di dunia lain. Namun, aku tidak memiliki sistem atau kemampuan curang; aku hanyalah manusia biasa. Lalu, aku memutuskan untuk menulis novel yang terinspirasi dari game Honkai Star Rail, dimulai dari High Cloud Quintet
dan saya juga setelah selesai dari dunia anime danmachi saya memutuskan untuk menambahkan alur nya ke berbagai dunia mulai dari anime hingga game
(Pernyataan penolakan: Saya bukan pemilik anime Danmachi; pencipta Danmachi adalah Fujino Omori, dan saya juga bukan pemilik Honkai Star Rail) Ini hanyalah cerita fanfiction yang saya buat
dan saya membuat fanfiction ini dengan bantuan AI, jadi jika Anda tidak ingin membaca cerita ini, itu tidak masalah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon the anonym, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Bara Kehancuran dan Jeritan Kedua Sang Dewi
Di kedalaman ruang mimpi yang hancur, Aiz Wallenstein terdiam. Tangan raksasa yang terbuat dari materi gelap dan magma keemasan itu masih terulur di hadapannya, menawarkan sebuah janji yang sangat sederhana: Akhir dari segala rasa sakit.
Di telinganya, Aiz tidak lagi mendengar tawa teman-temannya di Twilight Manor. Ia tidak mendengar nasihat Riveria atau arahan Finn. Yang bergema di kepalanya hanyalah suara kepakan sayap raksasa, jeritan ibunya di masa lalu, dan raungan naga hitam yang merenggut segalanya dari tangannya saat ia masih kecil.
Monster. Selama mereka masih bernapas, dunia ini adalah neraka.
Aiz mengangkat wajahnya. Mata emasnya yang biasanya tenang dan kosong, kini menyala dengan warna merah yang pekat, mencerminkan lautan bintang yang mati di sekelilingnya.
"Apakah... dengan kekuatan ini... aku bisa menghancurkan dia?" bisik Aiz, suaranya terdengar rapuh namun diwarnai oleh kebencian yang sangat absolut. "Apakah aku bisa menghancurkan segalanya yang berani mengambil wujud monster?"
Nanook tidak mengangguk, juga tidak tersenyum. Sang Aeon Kehancuran hanya menatapnya dengan kekosongan yang membakar.
"Kehancuran adalah satu-satunya kesetaraan mutlak di alam semesta," gema suara kosmis itu merobek nalar Aiz. "Tidak ada monster yang bisa bertahan dari ketiadaan. Tidak ada takdir yang tidak bisa dibakar menjadi abu."
Aiz perlahan mengangkat tangan kanannya. Nalar fana dan sisi manusianya menjerit, memohon agar ia mundur. Namun Skill Avenger di dalam jiwanya—kebencian murni yang selama ini menjadi mesin penggerak hidupnya—menarik lengannya ke depan layaknya magnet.
Ujung jari fana Aiz menyentuh ujung jari raksasa yang terbuat dari magma bintang.
WUSSS!
Seketika, lautan magma keemasan di sekeliling mereka meledak. Energi murni dari Path of The Destruction mengalir deras, membanjiri tubuh mungil Aiz. Rasanya seperti menelan matahari hidup-hidup. Darahnya mendidih, tulang-tulangnya berderak, dipaksa untuk bermutasi agar bisa menampung pecahan energi kosmis tersebut.
Di tengah lautan api emas yang membakar jiwanya, suara Nanook bergema untuk terakhir kalinya, memudar ke dalam kehampaan luar angkasa.
"Ini hanyalah sepercik dari bara apiku, sebuah serpihan kecil dari Kehancuran murni... Gunakanlah sesukamu, Anakku. Jadilah supernova yang membakar habis keputusasaan dunia fana ini."
Visi kosmis itu hancur berkeping-keping.
Di Waktu yang Sama – Kamar Finn Deimne
"Aku tidak akan membiarkan mereka merebut jiwamu!" Loki baru saja meneriakkan kata-kata itu dengan penuh keyakinan, kedua tangannya mencengkeram bahu Finn erat-erat.
Finn menatap sang Dewi, sebuah senyum tipis yang sarat akan kelegaan mulai terbentuk di bibirnya. Riveria yang berdiri di sudut ruangan pun menghela napas lega, ketegangan di pundaknya sedikit mengendur.
Namun, kedamaian itu hanya bertahan selama satu detik.
Deg!
"A-akh...!"
Mata merah Loki membelalak hingga nyaris keluar dari kelopaknya. Cengkeramannya di bahu Finn terlepas dengan kasar. Sang Dewi Penipu terpental ke belakang, menabrak dinding batu kamarnya dengan punggung membentur keras.
"Loki!" Finn langsung berdiri dari ranjangnya.
"Loki, ada apa?!" Riveria bergegas maju, tongkat sihirnya bersinar merespons kepanikan.
Loki tidak bisa menjawab. Ia jatuh berlutut di atas lantai, mencengkeram dadanya dengan kedua tangan hingga kuku-kukunya menembus kulit dan mengeluarkan darah. Mulutnya terbuka lebar, mencoba berteriak, namun tidak ada suara yang keluar. Pita suaranya lumpuh oleh teror yang familiar.
Itu terjadi lagi.
Hanya beberapa jam yang lalu, saat Finn menembakkan Tir na Nog di Lantai 60, Loki merasakan jiwanya ditusuk oleh panah es berwarna cyan yang menimpa Falna-nya secara paksa. Ia mengira itu adalah kejadian langka, sebuah anomali yang hanya bisa dipicu oleh kondisi ekstrem di dasar Dungeon.
Tapi rasa sakit kali ini... ini jauh lebih brutal.
Jika energi The Hunt terasa seperti pisau bedah yang memotong dengan presisi absolut dan dingin, maka energi yang menghantam ikatan Falna-nya kali ini terasa seperti godam raksasa yang terbuat dari besi cair. Rasanya seolah-olah sebuah gunung berapi baru saja meletus di dalam jaringan hierarki spiritual Familia-nya.
Loki menutup matanya rapat-rapat. Dengan sisa-sisa kesadaran ilahinya, ia melacak dari mana rasa sakit yang membakar ini berasal. Ia menyusuri benang-benang tak kasatmata yang menghubungkan dirinya dengan setiap anak-anaknya.
Jalur itu tidak mengarah ke Dungeon. Jalur itu mengarah ke sayap barat Twilight Manor. Ke kamar salah satu eksekutif tertingginya.
Aiz.
"T-tidak... jangan Aiz..." rintih Loki, air mata menetes dari sudut matanya, menguap karena suhu tubuhnya yang meningkat drastis akibat resonansi spiritual. "Jangan ambil dia juga... kau bajingan..."
Loki memaksakan diri membuka matanya. Ia menatap Finn dan Riveria yang kini berjongkok di dekatnya dengan wajah pucat pasi.
"Loki, apa yang terjadi? Apakah Evilus menyerang markas?!" tanya Finn, insting bertarungnya kembali mengambil alih. Tombak retaknya sudah berada di genggamannya.
Loki menggelengkan kepalanya lemah, napasnya tersengal-sengal seperti menghirup abu panas. Ia menunjuk ke arah pintu dengan jari yang bergetar hebat.
"Aiz..." bisik Loki parau, matanya menyiratkan keputusasaan murni. "Sesuatu... sesuatu yang jauh lebih buruk dari entitas yang memberimu panah itu... baru saja menyentuh Aiz."
Mendengar nama itu, wajah Riveria berubah seputih kertas. Tanpa menunggu perintah lebih lanjut, sang High Elf berlari keluar kamar, mengabaikan jubah kebesarannya yang tersangkut di ambang pintu. Finn menyusul sedetik kemudian, setengah memapah Loki yang memaksakan diri untuk berdiri.
Lorong Twilight Manor yang tadinya hening kini dipenuhi suara langkah kaki terburu-buru mereka. Semakin mereka mendekati sayap barat, udara di sekitar mereka terasa semakin menekan.
Bukan tekanan Mind atau sihir. Itu adalah udara yang benar-benar memanas. Karpet tebal yang melapisi lantai lorong mulai berasap di beberapa bagian. Lukisan-lukisan yang menggantung di dinding retak, catnya meleleh seolah berada di dekat perapian raksasa.
Saat mereka tiba di depan pintu kamar Aiz, gagang pintu kuningan itu bersinar merah membara.
Riveria tidak membuang waktu. "Rea Laevateinn!"
Alih-alih merapalkan sihir api, ia merapalkan sihir pembalik untuk menciptakan ledakan hampa yang mendobrak pintu kayu ek itu hingga hancur berkeping-keping.
Mereka bertiga terdiam di ambang pintu, membeku oleh pemandangan di dalam.
Kamar Aiz telah berubah menjadi tungku pembakaran. Tempat tidur empuknya telah terbakar habis, menyisakan kerangka besi yang meleleh. Tirai-tirai menghitam, dan lantai kayunya hangus.
Di tengah-tengah kehancuran itu, Aiz Wallenstein berdiri membelakangi mereka.
Rambut emas panjangnya tidak lagi berkilau dengan warna gandum, melainkan memancarkan pendar oranye kemerahan di ujung-ujungnya. Urat-urat bercahaya seperti aliran magma berdenyut lambat di lengan dan lehernya, kontras dengan kulitnya yang seputih pualam.
Di punggungnya, piyama tidurnya telah hangus. Falna Loki masih ada di sana, namun sama seperti kasus Finn, tepat di bawah lambang badut itu, sebuah stigmata baru telah terukir dalam dagingnya. Sebuah lambang lubang hitam yang meledak, menelan bintang-bintang di sekitarnya dengan kobaran api emas—tanda dari Path of The Destruction.
Aiz perlahan menoleh menatap mereka.
Mata emasnya yang biasanya hampa kini menatap dengan intensitas yang membuat langkah Finn terhenti secara naluriah. Tidak ada emosi manusia di matanya. Tidak ada kesedihan, tidak ada kebingungan. Yang ada hanyalah janji akan ketiadaan.
Aiz mengangkat tangan kanannya. Di telapak tangannya, secuil percikan api hitam-keemasan menari-nari dengan tenang. Percikan itu sangat kecil, namun Finn, Riveria, dan Loki bisa merasakan bahwa satu percikan kecil itu memiliki kepadatan energi yang cukup untuk meluluhlantakkan separuh Orario jika dijatuhkan.
"Loki..." suara Aiz terdengar berbeda. Lebih dalam, bergema dengan distorsi yang tidak wajar. "Aku mengerti sekarang. Kita tidak perlu lagi bermain petak umpet dengan monster di dalam labirin itu."
Aiz mengepalkan tangannya, memadamkan api tersebut, lalu menatap lurus ke arah Menara Babel di kejauhan dari jendelanya yang pecah.
"Aku akan membakar labirin itu hingga ke akarnya."