"Buang mayatnya! Jangan sampai bau busuk anak angkat ini merusak pesta putri kandungku."
Sepuluh tahun menjadi "boneka" sempurna keluarga Lynn, Nerina Aralynn justru mati dikhianati di gudang lembap demi memberi tempat bagi si putri asli, Elysia. Namun, maut memberinya kesempatan kedua. Nerina terbangun di masa lalu, kali ini dengan duri mawar hitam yang mematikan.
Satu per satu kekayaan keluarga Lynn ia preteli. Namun di balik balas dendamnya, Nerina menemukan satu rahasia: Satu-satunya pria yang menangisi kematiannya adalah Ergino Aldrich Leif—kepala pelayan misterius yang aslinya adalah penguasa dunia bawah.
"Aku adalah pedangmu, Nerina. Katakan, siapa yang ingin kau hancurkan lebih dulu?"
Saat sang putri terbuang mulai berkuasa, mampukah ia menuntaskan dendamnya, atau justru terjerat obsesi gelap sang pelayan yang melindunginya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23: TUAN TANAH YANG SESUNGGUHNYA
Pagi itu, kediaman Lynn terasa lebih dingin dari biasanya. Bukan karena pendingin ruangan yang disetel maksimal, melainkan karena keheningan yang mencekam setelah badai besar semalam. Para pelayan berdiri berjejer di lobi utama dengan kepala tertunduk, tak berani menatap satu sama lain, apalagi menatap sosok wanita yang kini berdiri di tengah ruangan dengan aura yang sanggup membekukan waktu.
Nerina Aralynn.
Ia mengenakan setelan blazer hitam pekat dengan potongan bahu yang tegas. Di belakangnya, Ergino berdiri dengan sebuah koper kulit berisi dokumen-dokumen penting yang akan mengubah sejarah keluarga ini selamanya.
"Nerina! Apa-apaan semua koper ini di lobi?!" teriak Nero yang baru saja turun dari tangga, matanya masih merah dan wajahnya tampak berantakan. "Jangan bilang kamu benar-benar ingin mengusir kami dari rumah kami sendiri!"
Nerina menoleh perlahan, menatap Nero dengan tatapan datar yang membuat kakaknya itu bergidik. "Rumah kalian? Kurasa matamu terlalu buram untuk membaca sertifikat kepemilikan yang baru, Kak Nero."
"Kamu anak pungut yang tidak tahu diuntung!" Nero meludah ke samping, napasnya memburu. "Kamu lupa siapa yang membawamu ke sini? Kamu lupa siapa yang memberimu makan saat kamu hanya seorang pengemis panti asuhan?!"
Mendengar kata 'panti asuhan', ingatan Nerina mendadak tersedot ke belakang, ke masa dua belas tahun yang lalu saat ia pertama kali menginjakkan kaki di lantai marmer ini.
Flashback - 12 Tahun yang Lalu
Nerina kecil, yang saat itu baru berusia sembilan tahun, berdiri dengan cemas sambil memeluk kotak musik kayunya erat-erat. Ia mengenakan gaun putih paling bersih yang ia miliki—meskipun sudah ada beberapa tambalan di bagian bawahnya.
"Ayah, Ibu, ini Nerina," ucap Elyas Lynn saat itu, memperkenalkan Nerina kepada Nero yang saat itu sudah berusia remaja.
Nero muda menatap Nerina dengan pandangan jijik, seolah-olah ada tikus kotor yang masuk ke kamarnya. "Dia? Dia yang akan menjadi pengganti Elysia? Ayah pasti bercanda. Lihat wajahnya, murahan sekali. Dia tidak akan pernah bisa menyamai adikku."
"Nero, jaga bicaramu," tegur Anora, namun ia sendiri tidak mendekat untuk memeluk Nerina. Ia hanya berdiri di kejauhan, menatap Nerina dengan pandangan yang kosong.
Nerina mencoba tersenyum, melangkah maju untuk menyalami Nero. "Halo, Kak Nero. Aku Nerina..."
Plak!
Nero menepis tangan Nerina dengan keras hingga kotak musiknya jatuh ke lantai. "Jangan panggil aku Kakak. Kamu hanya barang pengganti. Jika kamu tidak menurut, aku sendiri yang akan menyeretmu kembali ke gerbang panti asuhan itu. Mengerti?!"
Nerina hanya bisa menunduk, air matanya menetes di atas marmer yang dingin. Sejak hari itu, Nerina bersumpah untuk menjadi yang terbaik. Ia ingin membuktikan bahwa ia layak dicintai.
Selama bertahun-tahun, Nerina menjadi juara kelas. Ia memenangkan berbagai olimpiade sains, ia fasih dalam tiga bahasa asing sebelum lulus SMA, dan ia selalu pulang membawa piala. Ia berlari ke ruang kerja Elyas dengan bangga, namun yang ia terima hanyalah anggukan singkat tanpa tatapan mata.
"Bagus. Sekarang keluar, Ayah sedang sibuk mencari info tentang Elysia," ucap Elyas dingin.
Saat ia menunjukkan nilainya yang sempurna pada Nero, pria itu hanya mendengus. "Nilai bagus tidak mengubah fakta bahwa darahmu itu kotor, Nerina. Ingat posisimu. Sekali saja kamu mengecewakan kami, jalanan panti asuhan sudah menantimu."
Setiap prestasi yang ia raih terasa hampa. Rumah megah ini bukanlah tempat perlindungan, melainkan sangkar emas di mana ia harus menari sesuai keinginan tuannya agar tidak dibuang.
Kembali ke Masa Sekarang
Nerina mengerjapkan matanya, kembali ke kenyataan. Rasa sakit di masa lalu itu kini telah mengkristal menjadi tekad yang dingin.
"Aku tidak pernah lupa, Kak Nero," suara Nerina terdengar rendah namun tajam. "Aku tidak pernah lupa bagaimana kalian memperlakukanku seperti barang sewaan yang bisa dikembalikan kapan saja jika ada cacat sedikit pun."
"Nerina, tolong..." Anora Lynn muncul dari arah ruang makan, wajahnya pucat. "Ayahmu sedang sakit jantung karena berita saham itu. Jangan lakukan ini sekarang."
"Sakit jantung?" Nerina tertawa hambar. "Lalu di mana kalian saat aku hampir mati karena racun yang diberikan Elysia di kehidupan—maksudku, di masa lalu? Kalian bahkan tidak menjengukku karena sedang merayakan ulang tahun Elysia."
Elyas Lynn keluar dari ruang kerja dengan langkah gontai, memegangi dadanya. "Nerina... apa yang kamu inginkan? Uang? Saham? Ambil semuanya, tapi jangan usir kami. Ini rumah keluarga Lynn."
"Bukan lagi, Tuan Lynn," Ergino melangkah maju, menyerahkan dokumen resmi dengan stempel pengadilan dan bank. "Mulai jam delapan pagi tadi, rumah ini, beserta seluruh aset tanah di bawahnya, telah disita oleh Leif Capital karena kegagalan pembayaran hutang yang Anda jaminkan untuk proyek pelabuhan Andrew. Dan seperti yang Anda tahu, pemilik Leif Capital adalah..."
Ergino melirik Nerina dengan hormat.
"...Nona Nerina Aralynn."
"Apa?!" Nero menyambar dokumen itu, membacanya dengan tangan gemetar. "Ini... ini tidak mungkin! Ayah, kenapa Ayah menjaminkan rumah ini untuk Andrew?!"
"Andrew bilang itu hanya prosedur formal! Dia bilang proyek itu pasti untung!" teriak Elyas dengan suara yang hampir habis.
Nerina berjalan mendekati Elysia yang sejak tadi bersembunyi di balik punggung Nero. Wajah Elysia yang biasanya penuh sandiwara kini dipenuhi ketakutan yang nyata.
"Elysia," panggil Nerina.
Elysia gemetar. "K-Kak Nerina... aku minta maaf. Aku tidak tahu Andrew akan melakukan ini..."
"Jangan memanggilku Kakak. Suaramu membuatku mual," Nerina menunjuk ke arah pintu gerbang besar di kejauhan. "Sesuai hukum, kalian punya waktu satu jam untuk mengemasi barang-barang pribadi kalian. Setelah itu, tim keamanan pribadiku akan mengunci rumah ini."
"Kamu keterlaluan!" Nero hendak menerjang Nerina, namun Ergino dengan sigap mencengkeram kerah baju Nero dan mengangkatnya sedikit dari lantai.
"Tuan Nero," suara Ergino terdengar seperti malaikat pencabut nyawa yang berbisik. "Jika Anda menyentuh Nona Nerina, saya tidak menjamin tulang rusuk Anda akan tetap utuh untuk digunakan saat keluar dari gerbang nanti."
Ergino melepaskan Nero dengan sentakan kasar hingga pria itu tersungkur ke lantai.
"Satu jam, Tuan-tuan dan Nyonya," ucap Nerina sambil duduk di kursi utama di lobi, kursi yang biasanya diduduki oleh Elyas Lynn. "Gino, siapkan truk pengangkut untuk barang-barang yang tidak ingin aku lihat di rumah ini. Sisanya, buang ke gudang belakang."
Nerina menyandarkan kepalanya, menatap langit-langit lobi yang dulu ia pandangi dengan tangisan. Kali ini, tidak ada lagi air mata. Hanya ada kepuasan yang dingin.
"Gino," panggil Nerina saat keluarga Lynn mulai berlarian ke kamar mereka dengan panik, mencoba menyelamatkan apa yang bisa mereka bawa.
"Ya, Nona?"
"Bagaimana rasanya?"
Ergino berdiri di sampingnya, menatap lurus ke depan. "Rasanya seperti keadilan yang terlambat dua belas tahun, Nona. Tapi bagi saya, ini baru pemanasan."
Nerina tersenyum tipis. "Ya. Ini baru permulaan. Aku ingin melihat bagaimana sang 'Putri Kandung' bertahan hidup di jalanan yang dulu selalu mereka gunakan untuk mengancamku."
Di tengah kekacauan itu, Nerina melihat kotak musik lamanya yang kini berada di tangan Ergino. Ia sadar, ia tidak lagi membutuhkan prestasi untuk diakui oleh mereka. Sekarang, ia adalah penguasa dari kehancuran mereka sendiri.