Nayla Putri tidak menyangka kalau niatnya menolong orang yang pingsan di depan pintu rumahnya harus berahir di pelaminan Bagaimana Nayla menjalani pernikahan dadakannya itu ? apakah Nayla akan bahagia ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidur diatas Marmer dingin
Pukul sebelas malam lewat tiga puluh menit, lift pribadi yang membawa Gibran dan Nayla kembali ke lantai tiga puluh dua bergerak naik dengan keheningan yang pekat.
Begitu pintu lift berdenting halus dan terbuka langsung di dalam griya tawang, Nayla adalah orang pertama yang melangkah keluar.
Dengan gerakan cepat dan tidak sabaran, dia langsung menendang sepasang sandal berhak mini yang menyiksa kakinya sejak sore tadi ke sudut ruangan.
"Bebas!" seru Nayla tertahan, mengembuskan napas panjang seolah-olah dia baru saja keluar dari ruang interogasi bawah tanah.
Dia berjalan pincang menuju sofa marmer, lalu menjatuhkan tubuhnya yang dibalut gaun beludru hijau zamrud itu tanpa memedulikan estetika lagi. Tangan kanannya bergerak lincah mencabuti beberapa jepit rambut yang menahan sanggul modernnya, membiarkan rambut panjangnya yang hitam legam jatuh terurai berantakan di bahunya.
Gibran masuk mengekor di belakangnya. Pria itu melepaskan jas tuksedo hitamnya, menyampirkannya asal di sandaran kursi bar dapur, lalu melonggarkan dasi kupu-kupu serta membuka dua kancing teratas kemeja putihnya. Wajahnya tampak luar biasa lelah, guratan ketegangan dari ruang dansa hotel bintang lima tadi masih membekas jelas di dahinya.
"Lu luar biasa malam ini, Nay," ucap Gibran tulus sambil berjalan menuju konter dapur untuk mengambil sebotol air dingin. "Gue serius. Cara lu membalas sindiran Thalia tadi ... benar-benar di luar ekspektasi gue. Bokap gue bahkan kelihatan terkesan."
Nayla yang sedang memijat pergelangan kakinya yang memerah mendongak, mendengus pelan. "Terkesan dahi lu peyang. Gue terpaksa melakukan itu tahu, Mas! Kalau gue diam saja, cewek pirang itu bakal mengira gue bisa diinjak-injak seperti keset selamat datang di depan toko grosir."
Gibran terkekeh pelan. Dia membawa dua gelas air dingin, lalu duduk di sofa yang berseberangan dengan Nayla, meletakkan satu gelas di meja kopi untuk istrinya. "Tapi setidaknya, untuk sementara waktu, posisi kita aman. Pak Gunawan dan bokap gue tidak punya alasan untuk meragukan kita dalam waktu dekat."
"Aman dari mana?!" Nayla mendadak duduk tegak, matanya melotot menatap Gibran. "Lu lupa kalau nyokap lu masih tidur di kamar sebelah?! Sandiwara di luar gedung mungkin sudah selesai untuk hari ini, tapi sandiwara di dalam rumah ini baru saja dimulai kembali!"
Mendengar ucapan Nayla, Gibran mendadak teringat akan realitas horor domestik mereka.
Dia melirik ke arah pintu kamar tamu yang tertutup rapat. Keadaan apartemen sangat sunyi, menandakan bahwa Renata Mahardika kemungkinan besar sudah terlelap di balik selimut mahalnya setelah seharian lelah berbelanja.
"Mampus," gumam Gibran pelan, menyadari situasi darurat malam ini. "Itu artinya ... malam ini gue harus tidur di lantai kamar utama lagi?"
Nayla melipat kedua tangannya di dada, menatap Gibran dengan senyum penuh kemenangan yang menyebalkan. "Ya iyalah! Memangnya lu mau nekat tidur di sofa ruang tengah ini? Kalau subuh-subuh nyokap lu bangun mau bikin teh dan melihat anak laki-lakinya yang direktur operasional itu meringkuk di sofa pakai celana pendek, tamat riwayat kontrak tiga bulan kita!"
Gibran mengusap wajahnya yang terasa kaku, meratapi nasib tulang punggungnya yang dipastikan akan kembali menderita malam ini di atas lantai marmer yang keras dan dingin. "Oke, oke. Gue bakal ambil selimut tambahan di lemari koridor."
Dua puluh menit kemudian, di dalam kamar tidur utama yang luas dan beraroma lavendel, suasana mendadak berubah menjadi sangat canggung.
Nayla yang sudah mengganti gaun megahnya dengan kaus oblong kebesaran berwarna putih dan celana pendek kain kasual, duduk di atas ranjang king-size yang empuk sambil bersandar pada tumpukan bantal.
Sementara itu, di lantai marmer tepat di samping ranjang, Gibran sudah menggelar sebuah selimut tebal sebagai alas tidur improvisasinya, lengkap dengan satu bantal cadangan.
Lampu utama kamar sudah dimatikan, hanya menyisakan cahaya remang-remang kekuningan dari lampu tidur di atas nakas yang menciptakan siluet panjang di dinding.
Gibran berbaring telentang, menatap langit-langit kamar yang tinggi dengan kedua tangan yang diletakkan di belakang kepala sebagai bantalan tambahan. Pikirannya melayang kembali pada kejadian di pesta malam tadi.
Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya, sebuah retakan kecil di balik topeng kepercayaan diri yang selalu dia tunjukkan di depan publik selama ini.
"Nayla," panggil Gibran memecah keheningan malam, suaranya terdengar lebih rendah dan pelan dari biasanya.
"Hmm? Apa?" sahut Nayla tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponselnya yang sedang menampilkan draf revisi desain kantor yang harus dia periksa untuk besok pagi.
"Lu ... beneran enggak keberatan hidup dalam sandiwara gila ini selama tiga bulan?" tanya Gibran tiba-tiba, sebuah pertanyaan yang terdengar sangat tidak biasa dari mulut seorang pria arogan seperti dia.
Nayla menghentikan gerakan jarinya di atas layar ponsel. Dia menoleh ke bawah, menatap sosok Gibran yang berbaring di lantai melalui celah bibir ranjang. "Kenapa lu mendadak nanya begitu? Kan kita sudah tanda tangan perjanjian hitam di atas putih."
Gibran mengembuskan napas panjang, tatapannya masih terkunci pada langit-langit kamar. "Gue cuma ... ngerasa agak bersalah saja sama lu. Kehidupan lu yang awalnya tenang dan biasa-biasa saja, mendadak harus terseret ke dalam lingkaran keluarga gue yang ... penuh dengan kepalsuan. Lu harus menghadapi bokap gue yang intimidatif, nyokap gue yang heboh, dan cewek manipulatif seperti Thalia tadi."
Nayla terdiam sejenak. Dia mematikan layar ponselnya, meletakkannya di atas nakas, lalu memosisikan tubuhnya miring menghadap ke arah Gibran di bawah sana, menumpu kepalanya dengan satu tangan.
"Kalau ditanya keberatan atau enggak, ya jelas gue sempat syok dan kesal setengah mati, Mas," jawab Nayla jujur, suaranya melunak, kehilangan nada ketus yang biasa dia gunakan. "Gue ini cuma anak perantauan biasa yang tujuan hidupnya sederhana: kerja yang benar, dapat gaji tepat waktu, bisa bayar kontrakan, dan kirim uang buat ibu di kampung. Gue enggak pernah membayangkan bakal masuk ke gedung pencakar langit lu, apalagi sampai memakai gaun mahal dan berhadapan dengan orang-orang yang melihat manusia lain berdasarkan nominal saham."
Gibran memalingkan kepalanya, menatap mata jernih Nayla yang berkilau di dalam kegelapan remang-remang kamar. "Lalu ... kenapa lu tetap bertahan dan enggak memilih kabur saja semalam? Lu bisa saja membongkar semuanya ke bokap gue dan membiarkan gue yang menanggung semua akibatnya sendirian."
Nayla tersenyum tipis, sebuah senyuman kecil yang terlihat sangat manis di mata Gibran. "Karena gue tahu, meskipun lu itu sombong, menyebalkan, dan hobi pingsan di teras rumah orang dengan kondisi kancing baju terbuka ... lu sebenarnya bukan orang jahat, Mas Gibran."
Gibran menaikkan sebelah alisnya, sedikit terkejut mendengar penilaian itu. "Oh ya? Tahu dari mana lu kalau gue bukan orang jahat?"
"Dari cara lu memperlakukan nyokap lu semalam," tutur Nayla pelan. "Waktu Mama lu datang dengan heboh membawa koper besar dan merusak semua rencana awal kita, lu memang panik. Tapi lu sama sekali enggak membentak atau mengusirnya. Lu justru buru-buru menyembunyikan kertas draf perjanjian kita agar perasaan Mama lu tidak terluka jika tahu anaknya sedang bersandiwara. Pria yang sangat menjaga perasaan ibunya seperti itu ... tidak mungkin tipe pria yang berniat jahat untuk menghancurkan hidup cewek asing seperti gue."
Kata-kata Nayla yang begitu polos namun menusuk tepat ke lubuk hatinya terdengar bagaikan sebuah simfoni menenangkan di telinga Gibran. Selama bertahun-tahun hidup di dunia bisnis yang keras, dia selalu dinilai berdasarkan performa kerja, angka keuntungan, dan status sosialnya oleh sang ayah. Baru kali ini, ada seseorang seorang cewek asing yang dinikahinya lewat jalur kesalahpahaman yang melihat dirinya dari sisi manusiawi yang paling rapuh.
Gibran terdiam cukup lama, membiarkan keheningan malam kembali menyelimuti kamar mereka. Namun, keheningan kali ini terasa sangat berbeda. Tidak ada lagi kecanggungan yang mencekam, yang ada hanyalah sebuah retakan kecil di balik topeng mereka masing-masing yang perlahan-lahan mulai saling mendekat dan mengisi satu sama lain.
"Nayla," panggil Gibran lagi setelah beberapa menit berlalu.
"Apa lagi, Mas? Gue sudah mau tidur ini," sahut Nayla, suaranya sudah terdengar agak menjauh karena kantuk yang mulai menyerang.
"Lantai marmer apartemen gue ini ... ternyata dingin banget ya kalau malam," keluh Gibran pelan, mencoba memancing simpati.
Nayla membuka satu matanya, menatap ke bawah dengan pandangan malas. "Terus? Lu mau minta tidur di atas kasur ini bersama gue?"
"Ya ... kalau boleh, sepertinya separuh kasur raksasa itu masih cukup luas untuk ... "
"Jangan harap ya, Mas Direktur Pajangan!" potong Nayla cepat, kembali ketus. Dia langsung menarik selimut tebalnya hingga menutupi dada. "Ingat pasal dua surat perjanjian rahasia kita di apartemen: wilayah kekuasaan masing-masing! Lu tidur di lantai marmer mahal itu sampai tiga bulan ke depan, titik tidak pakai koma!"
Gibran mendengus jengkel, meskipun sebuah senyuman geli terukir di bibirnya. Dia menarik selimutnya sendiri untuk menutupi tubuh tegapnya, memosisikan diri senyaman mungkin di atas lantai yang keras.
"Dasar cewek galak," gumam Gibran pelan sebelum memejamkan matanya.
Di atas ranjang, Nayla juga memejamkan matanya dengan senyum tipis yang tersembunyi di balik kegelapan malam, menyadari bahwa di balik semua kerumitan dan kepalsuan sandiwara ini, hari pertamanya sebagai istri kontrak ternyata tidak seburuk yang dia takutkan sebelumnya.