NovelToon NovelToon
Kriteria Gila, Cinta Nyata

Kriteria Gila, Cinta Nyata

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Duda
Popularitas:277
Nilai: 5
Nama Author: wilight

Rania ditinggal kabur pacarnya, Rangga. keluarganya malak sibuk nyariin jodoh agar Rania bisa melupakan masalalunya.
Muak, Rania ngeluarin kriteria gila duda keren umur 30-an, dan yang paling penting ukuran 18 cm.

Keluarga syok, tapi berhenti ganggu.

Beberapa waktu kemudian, seorang pria bernama Alfino duduk di teras rumahnya. Tinggi, kekar, wangi. Duda 33 tahun tepat sesuai pesanan.

Rania mulai lupa Rangga. Tapi masa lalu kembali. Rangga muncul

Dilema pun terjadi Antara durian 18 cm dan cinta pertama dan Rania harus milih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wilight, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

membuka

Lalu berhenti tepat di depan mereka.

Tidak terlalu dekat. Tidak terlalu jauh pas seolah jarak itu sudah diperhitungkan. Mesin perlahan dimatikan. Suara halusnya menghilang, digantikan oleh keheningan singkat yang terasa aneh di tengah hiruk pikuk sore. Pintu mobil terbuka perlahan tdak tergesa dan dari dalamnya… Alfino turun.

Mila langsung terdiam. Seolah dunia berhenti.

Alfino hari ini memakai kemeja putih polos yang pas di badan. Bahunya bidang, tubuhnya tegap seperti atlet renang.

Celana hitam rapi, sepatu pantofel mengkilap. Rambutnya tertata natural. Wajahnya… seperti pahatan Yunani yang hidup.

“Selamat sore, Mbak Rania. Maaf lama,” ucap Alfino sambil tersenyum.

Rania melirik Mila yang masih membeku, lalu menjawab, “Gapapa, Mas.”

Alfino kemudian menoleh ke Mila. “Selamat sore. Saya Alfino, teman Rania,” ujarnya ramah.

Mila tidak langsung menjawab mulutnya sedikit terbuka. Rania mencolek pinggangnya.

“Mi, ini Mas Alfino,” kata Rania.

Mila tersadar. Ia langsung tersenyum lebar.

“Eh… eh… selamat sore, Mas saya Mila. Teman Rania satu tim satu meja. Sering curhat bareng. Saya tahu banyak soal”

“MILA!” potong Rania cepat.

“Maaf, maaf. Kebanyakan ngomong,” ujar Mila sambil nyengir.

Alfino tertawa kecil. “Senang berkenalan, Mbak Mila. Rania sering cerita soal Mbak,” katanya.

Rania langsung membelalak

“Gue gak pernah cerita banyak! Dia bohong!” protesnya.

Namun Mila tidak peduli, matanya justru semakin berbinar.

“Mas Alfino, Rania sering cerita soal lo,” ujar Mila.

“Cerita kalau lo tinggi, tampan, dan...”

“CUKUP, MILA!” potong Rania lagi.

“Maaf, Ran. Tapi gue cuma jujur,” balas Mila santai.

Mila kemudian mengamati Alfino dari ujung kepala sampai kaki, seperti scanner. Tatapannya pelan tapi detail.

Lalu, tanpa sadar, ia berkata, “Ran, gue jujur ya. Lo gak mau sama om-om ini? Serahin ke gue.”

Rania langsung melongo. “MILA! LO APAAN?!”

“Serius, Ran. Gue lagi nyari jodoh dan ini paket lengkap,” ujar Mila tanpa dosa.

Rania menepuk dahinya. “Mila, tolong jaga omongan!”

Mila hanya nyengir. “Ya kalau lo masih ragu, jangan salahin gue kalau nanti gue yang maju,” katanya santai.

Alfino tetap tersenyum, tampak terhibur.

Mila lalu menatap Alfino lagi, kali ini dengan nada sedikit dramatis. “Mas, tahu gak? Saya iri sama Rania,” ucapnya.

“Kenapa, Mbak?” tanya Alfino.

“Karena dia punya lo dan saya cuma punya gorengan pinggir jalan,” jawab Mila.

Rania langsung menarik lengan Mila. “Mila! Udah! Kita pergi!” katanya panik.

“Lho bentar saya mau foto bareng dulu,” protes Mila.

“GAK BISA!” tegas Rania.

“Pelit amat sih,” gumam Mila.

Rania langsung masuk ke mobil. “Mas, ayo pergi. Cepat!” ujarnya buru-buru.

Alfino sempat membungkuk sedikit ke arah Mila. “Mbak Mila, senang berkenalan. Lain kali kita ngobrol lagi,” ucapnya.

Mila tersenyum lebar. “Siap, Mas saya tunggu di kantor jangan sungkan,” balasnya.

Dari dalam mobil, Rania berteriak, “MILA! DIEM!”

Mobil pun melaju.

Mila masih berdiri di trotoar, melambaikan tangan pelan.

“Gila… Rania, lo punya yang kayak gitu masih ragu,” gumamnya sendiri.

Ia menghela napas dramatis. “Kalau gue jadi lo, gue udah bilang iy sebelum dia sempat nanya,” lanjutnya.

Mila kemudian mengambil ponselnya dan mengetik cepat.

Pesan terkirim ke Rania,

“RAN, LO HARUS TERIMA DIA. GUE BELUM PERNAH LIHAT COWOK SETAMPAN ITU. SERIUS.”

Di dalam mobil, Rania membaca pesan itu dan menahan diri untuk tidak teriak.

Alfino melirik sekilas. “Ada apa, Mbak?” tanyanya.

“Tidak ada teman saya cuma… sedikit kepo,” jawab Rania.

Alfino tersenyum. “Mbak Mila lucu,” ujarnya.

“Lucu… tapi berbahaya,” balas Rania.

Alfino tertawa pelan. Mobil terus melaju menuju restoran.

---

Restoran sederhana meja di area outdoor lampu kuning gantung di atas kayak kunang-kunang. Angin malam berhembus pelan membawa aroma daun pisang dan sedikit bau knalpot dari jalan raya.

Mereka berdua duduk berhadapan. Sesekali bertatapan, sesekali tersenyum, sesekali tertawa pelan. Suasana terasa ringan, tanpa beban.

Rania merasakan sesuatu yang hangat di dadanya. Bukan panas karena malu, melainkan kehangatan yang menenangka seperti pulang ke tempat yang sudah lama ia rindukan.

Rania, ini yang namanya nyaman, batinnya. Bukan drama bukan akting bukan pura-pura.

Tiba-tiba Alfino angkat bicara.

“Mbak Rania, saya senang,” ucapnya pelan.

Rania menoleh, sedikit penasaran.

“Senang karena apa, Mas?” tanyanya.

Alfino tersenyum tipis. “Karena hari ini Mbak bisa menjadi diri sendiri,” jawabnya.

"Tidak ada akting. Tidak ada  tuan putri yang aneh-aneh. Tidak ada permintaan hotel mendadak. Hanya Mbak Rania yang sebenarnya.”

Rania tertawa kecil, sedikit malu.

“Maaf kalau dulu saya aneh,” ujarnya sambil menunduk.

Alfino menggeleng pelan. “Tidak apa-apa,”

katanya lembut. “Justru itu yang membuat Mbak unik.”

Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada yang lebih dalam,

“Dan mungkin… itu juga yang membuat saya tertarik.”

Rania terdiam jantungnya seperti berhenti sesaat dia bilang… tertarik? batinnya.

Dadanya langsung bergemuruh, seperti ada orkestra yang memainkan lagu romantis tanpa aba-aba. Makanan di depannya terasa hambar.

Minuman yang tadi ia pegang seakan kehilangan rasa yang tersisa hanya satu hal degup jantung yang tak mau tenang.

Rania berdiri di depan pagar rumah. Dadanya naik turun, napasnya belum sepenuhnya stabil. Bibirnya ingin bicara, tapi kata-kata seperti tertahan di tenggorokan.

“Mas…” panggilnya akhirnya pelan.

“Ya?” sahut Alfino sambil menoleh.

Rania menatapnya beberapa detik, lalu berkata,

“Makasih… buat malam ini.”

Alfino tersenyum hangat.

“Sama-sama,” ujarnya.

“Saya juga suka ngobrol dengan Mbak. Rasanya… nyaman.”

Rania merasakan bulu kuduknya berdiri. Bukan karena takut, tapi karena sesuatu yang sulit dijelaskan campuran antara gugup dan bahagia.

“Gue juga… suka ngobrol sama Mas,” balas Rania pelan.

Alfino mengangguk ringan. “Semoga kita bisa lebih sering ngobrol,” katanya.

Rania tersenyum kecil.

“Iya… semoga,” jawabnya.

Ia lalu berbalik dan melangkah masuk ke dalam rumah. Begitu pintu tertutup, Rania langsung menyandarkan punggungnya ke pintu. Dadanya kembali naik turun.

Wajahnya memerah dia bilang semoga bisa lebih sering… batinnya. Dia bilang suka ngobrol sama gue. Dia bilang gue unik…

Apakah itu sinyal?

Rania segera mengambil ponselnya.

Belasan pesan dari Mila sudah menunggu.

Mila “Gue gak bisa tidur. Gue masih kebayang Mas Alfino.”

Mila “Ran, lo harus serius sama dia atau gue yang serius.”

Mila “Lo tahu gue lihat dari balik jendela? Lo berdua ngobrol dia pegang tangan lo? Gak keliatan jelas sih, tapi gue curiga.”

Mila “BESOK GUE MAU TANYA LANGSUNG MAS ALFINO! BOLEH?”

Rania langsung mengetik cepat.

Rania "MILA, JANGAN. GUE MOHON.”

Tak lama, balasan masuk.

Mila “Ya udah,” tulisnya.

"Tapi janji satu jangan sia-siakan dia.”

Pesan berikutnya langsung menyusul.

Mila “Karena kalau lo sia-siakan, gue yang akan ambil alih dan gue akan bahagia selamanya. Selesai.”

Rania tertawa kecil membaca itu. Ia lalu mengambil buku catatan yang tadi diberikan Alfino. Dibukanya halaman terakhir, lalu ia menulis pelan.

Hari ini aku jatuh hati sedikit. Tapi sedikit itu terasa besar. Mungkin ini yang disebut awal,

Rania menutup buku itu perlahan. Lampu dimatikan dan malam itu, ia tertidur dengan senyum yang

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!