Cwen Arabelle, seorang anak berusia 7 tahun lelah mendengar mama dan ayahnya bertengkar, akhirnya berusaha menjodohkan mamanya dengan seorang guru di sekolahnya yang terlihat masih sangat muda.
"Paman, paman mau tidak menjadi papa untuk Cwen?" tanya Cwen memamerkan gigi kelincinya kepada guru favoritnya di sekolahan.
"Paman tenang saja, Cwen akan segera meminta mama dan ayah berpisah agar paman bisa menikah dengan mama dan menjadi papa untuk Cwen."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aure Vale, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KUJODOHKAN MAMA DENGAN PAK GURU MUDA : Bagian 28
Ansel menatap canggung Jenia dan Cwen yang sudah bersiap untuk pulang.
“Pak guru, Cwen dan mama pulang dulu ya,” ucap Cwen melambaikan tangannya kearah Ansel.
Ansel mengangguk pelan, membalas lambaian tangan dari Cwen. Begitu sadar apa yang telah di lakukannya, Ansel langsung merutuki dirinya sendiri yang malah diam saja, seharusnya ia mengatakan kepada Jenia jika ia berniat membawa keduanya untuk makan siang di luar, tapi otak dan juga mulutnya sama sekali tidak selaras.
“Cwen,”
Ansel memejamkan matanya malu. Kenapa ia malah memanggil Cwen, seharusnya ia memanggil Jenia bukan Cwen.
Cwen tidak menoleh karena jaraknya dengan Ansel sudah sedikit jauh, ia sendiri malah sibuk bercerita kepada mamanya, seperti biasa akan menceritakan semua yang dialaminya selama ia sekolah.
Ansel berdiri dan melangkah cepat memghampiri Jenia dan Cwen yang sudah semakin jauh.
“Jenia, tunggu!”
Jenia dan Cwen langsung menghentikan langkahnya dan menolah ke belakang,“loh pak guru, mau ikut kita pulang?”tanya Cwen menatap Ansel yang berjalan semakin dekat ke arahnya.
Ansel tersenyum canggung kepada keduanya, rasanya sudah mempermalukan dirinya sendiri, karena ia benar-benar terlihat sangat bodoh di hadapan Jenia juga Cwen.
“Itu, pak guru ingin mengajak Cwen dan mama Cwen makan siang di luar, Cwen mau?”tanya Ansel kepada Cwen.
Kedua mata Cwen langsung berbinar mendengar kata ‘makan di luar’,“mau, Cwen mau makan di luar pak guru,”ucap Cwen dengan antusiasnya.
Jenia langsung menunduk menatap putrinya, “Cwen,”tegur Jenia pelan, tapi masih di dengar oleh Ansel karena jaraknya yang dekat.
“Tidak apa-apa, Kamu mau kan makan di luar?”
Kali ini Ansel bertanya kepada Jenia, Jenia menatap Ansel dengan tatapan ragu, ia menggeleng pelan, menolak untuk makan di luar. Jenia berfikir jika makan di tempat makan semacam restoran akan menghabiskan uang yang sangat banyak, dan Jenia tidak memiliki uang sebanyak itu.
“Loh kenapa mama? Kita makan di luar bareng pak guru loh, memangnya mama tidak mau lebih dekat denga pak guru?”tanya Cwen dengan polosnya ia belum terfikirkan masalah ekonomi, yang ada di benaknya adalah jika mereka bertiga makan bersama di luar, maka mamanya dan juga pak guru akan semakin dekat.
“Cwen, kita makan di rumah saja oke, nanti mama masak nasi goreng kesukaan Cwen, Cwen mau, kan?”tanya Jenia menyentuh lembut kedua bahu putrinya.
“Kamu dan Cwen bisa ikut makan bersamaku, aku juga berniat mengajak kalian makan nasi goreng kesukaan Cwen,”sela Ansel, rupanya ia tidak akan menyerah sampai Jenia dan Cwen ikut makan siang bersamanya.
“Cwen suka nasi goreng pak guru, tapi Cwen bisa makan apa saja kok, Cwen tidak pilih-pilih makanan,”Cwen menatap Ansel dengan antusiasnya. Anak kecil mana yang tidak senang di ajak makan di luar, pasti semua anak kecil akan senang, di tambah lagi di bawa ke tempat makan kesukaannya.
“Jenia,”panggil Ansel yang akan kembali menolak.
“Kita makan bersama di luar ya?”
Jenia menghela napasnya pelan, lalu mengangguk pasrah, walaupun rasanya masih tetap ingin menolak, tapi melihat bagaiman antuasiasnya Cwen, Jenia sendiri pun tidak tega.
“Oke,”
***
Jenia menatap meja makan yang sekarang di penuhi dengan berbagai menu seafood, belum lagi ada beberapa makanan yang Jenia tidak tahu itu jenis seafood apa karena bentuknya yang sangat besar, bahkan hampir memenuhi meja yang sedang mereka tempati.
“Ansel apa ini tidak kebanyakan?”tanya Jenia menatap melas Ansel.
Ansel melirik Cwen yang sedang sibuk makan cumi asam manis di hadapannya, ia sedikit menggeser tempat duduknya agar lebih dekat dengan Jenia.
“Kenapa? Kamu tidak suka?”tanya Ansel lembut, tangannya terangkat dan mengusap lembut pipi Jenia, membuat Jenia reflek memundurkan wajahnya. Bisa gawat kalau Cwen melihat.
“B-Bukan itu maksudku, aku suka, tapi melihatnya sebanyak ini membuatku tidak yakin apa aku bisa membayarnya,” lirih Jenia menatap semua menu yang ada di atas meja. Perihal nasi goreng, mereka tidak jadi makan nasi goreng, Cwen malah meminta untuk makan seafood karena kebetulan mobil yang mereka naiki melewati restorant seafood.
Ansel tersenyum kecil, “aku yang mengajak kalian makan di sini, itu artinya aku yang akan membayar semua ini, jangan khawatir, kamu makan saja ya,” ucap Ansel seraya mengusap lembut puncak kepala jenia.
“Loh kok mama di usap juga sama pak guru? Mama kan bukan anak kecil lagi, mama sudah besar, kenapa pak guru mengusap kepala mama seperti mama anak kecil?”tanya Cwen yang rupanya melihat aksi gurunya itu mengusap kepala mamanya.
Jenia langsung kembali menjauhkan kepalanya, dan Ansel menatap Cwen dengan tatapan lembut, siap menjelaskan hal-hal yang belum Cwen pahami.
“Usapan di kepala bukan untuk anak kecil saja loh, orang dewasa seperti mama Cwen juga harus mendapatkan usapan di kepalanya, itu sebagai tanda sayang kita kepada yang kita usap kepalanya, Cwen mengerti, kan?”
Cwen mengangguk singkat,“itu artinya pak guru sayang sama mama?" tanya Cwen lagi.
Wajah Jenia langsung memerah mendengar pertanyaan Cwen.
“Loh pak guru kan memang sayang dengan mama Cwen,”
Jenia menutup wajahnya dengan kedua tangannya, ia benar-benar sangat malu. Ia tidak bisa lagi mengkondisikan wajahnya, bahkan warna merah itu merambat sampai telinga, membuat Ansel tersenyum dan kembali mengusap rambut jenia bagian belakang.
“Sudah tidak perlu mendengarkan pertanyaan Cwen, kamu makan saja ya,”
Jenia menggigit bibir bawahnya, masalahnya memang bukan di Cwen, tapi ada pada diri Ansel, apakah pria itu sadar dengan apa yang di ucapkannya?
***
Setelah Ansel membaringkan Cwen yang tertidur saat di mobil tadi, ia langsung ke luar kamar untuk menghampiri Jenia.
“Jenia,”
Jenia yang sedang menuangkan air putih ke dalam gelas sedikit terperanjat ketika Ansel menyentuh pundaknya. Jenia berbalik dan menatap Ansel.
“A-Ansel sepertinya kita terlalu dekat,”ucap Jenia, ia ingin mundur tapi tidak bisa karena di belakangnya terdapat meja yang membuatnya tak bebas untuk menghindar.
Ansel tersenyum, tangannya terangkat untuk menyelipkan helaian rambut Jenia ke belakang telinga, “Maaf jika aku terlalu terang-terangan menunjukkan ketertarikanku kepadamu, tapi aku benar-benar serius ingin membangun rumah tangga denganmu, menjagamu dan juga Cwen, membahagiakan kalian berdua sampai Cwen hidup dengan pilihan hatinya, sampai rambut kita memutih, atau sampai salah satu diantara kita berpisah karena kematian. Jenia, aku benar-benar telah jatuh cinta kepadamu,”
Jenia mematung, ia tidak tahu harus membalas apa, kedua bibirnya mendadak kaku, hanya kedua matanya saja yang menatap Ansel yang juga sedang menatapnya.
“Ansel a-aku, a-aku tidak tahu harus menjawab apa,”
Ansel tersenyum lembut dan membawa Jenia lebih dekat,“Aku ingin menjadi papa untuk anak-anak yang lahir darimu.”
“H-hah?”
Ansel malah tersenyum dan membawa Jenia ke dalam pelukannya, “Jenia, aku benar-benar telah jatuh cinta padamu, terima kasih telah melahirkan Cwen, tanpa kehadiran Cwen, mungkin aku tidak akan bertemu denganmu dan jatuh cinta padamu,”
Jenia semakin mematung, ia, ia benar-benar tidak menyangka jika Ansen akan memeluknya seperti ini.
“Ansel, Ansel aku, aku tidak tahu bagaimana perasaanku padamu, aku janda, umurku lebih tua darimu, aku, aku bukan lagi gadis,” lirih Jenia, ia sedikit ragu, apakah Ansel benar-benar menerima semua kekurangan yang ada padanya.
“Justru itu, aku ingin cintaku kepadamu lebih besar dari rasa sukamu kepadaku, Jenia.”
seru ceritanya