NovelToon NovelToon
Solo Reaper At The End Of The World

Solo Reaper At The End Of The World

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: RyzzNovel

Suatu hari, setiap umat manusia dari bumi diseret secara paksa ke dunia apocalypse dimana monster berada. Mereka menerima Aspek, sistem, dan satu tujuan tunggal yakni bertahan hidup.

Player 991 tidak panik. Dia tidak bergantung pada siapapun. Dia tidak mencari bantuan. Dia hanya mulai membunuh.

Sementara yang lainnya membentuk kelompok untuk memastikan keselamatan mereka, Player 991 mendaki papan peringkat global satu demi satu melalui jumlah kill yang dia kumpulkan sendirian.

Namun bertahan hidup saja tidak cukup. Ketika sistem memilih enam pemain terkuat sebagai Sovereign dan memberi mereka kekuasaan untuk membangun kembali peradaban manusia di dunia yang baru, Nate Leicester menemukan dirinya bukan hanya sebagai pemain terkuat — tapi sebagai salah satu dari enam penguasa yang akan menentukan masa depan seluruh umat manusia.

Papan peringkat tidak pernah berbohong. Dan saat ini, hanya ada satu nama di puncak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RyzzNovel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

[Dungeon Crackers Diselesaikan!]

[Performa: Solo Clear]

[+750 EXP]

[+5.000 Credit]

[+1 Ramuan Penyembuhan Rank E]

[+1 Cetak Biru Acak Rank F]

[+Akses Dungeon Crackers Terbuka Kembali (Cooldown: 24 Jam)]

Nate dikeluarkan secara paksa dari dungeon itu. Sekarang dia berdiri di taman yang kacau, kembali disambut lautan darah dari monster-monster yang dia bunuh sebelum masuk.

Hari sudah sore. Nate benar-benar telah mendorong tubuhnya melewati batasnya hari ini, dan rasa lelah itu menghujaninya sekarang, begitu adrenalin yang selama ini menopangnya akhirnya mulai surut.

Sambil menghela napas, Nate melirik ke arah portal dungeon itu. Rantai hitam kini melilit seluruh bagiannya, dikunci dengan gembok gelap yang besar. Lalu di tangannya, sebuah kunci hitam kecil yang terasa tidak sebanding dengan ukuran gemboknya.

Senyuman muncul di wajahnya.

"Ini akan menjadi tempat farming yang luar biasa untuk situasiku saat ini."

Ribuan monster di dalamnya, ditambah achievement yang meningkatkan perolehan EXP. Nate tidak sabar menantikan keesokan harinya.

Dia mendesah cukup panjang. Tidak pernah terbayangkan olehnya bahwa ini akan menjadi kenyataannya, membunuh ribuan monster pada hari pertama dan merasa itu justru jauh lebih hidup daripada sepanjang hidupnya sebelum ini.

Dia tersenyum kecut, ingatan tertentu terbesit di benaknya.

"Aku penasaran, orang itu, apa yang dia lakukan sekarang?"

Sistem sudah menyinggung bahwa seluruh umat manusia dari dunianya sebelumnya dipindahkan ke dunia ini tanpa terkecuali. Pemikiran itu membawa Nate ke tempat yang lebih gelap sejenak, membayangkan anak-anak kecil yang diseret tanpa daya, bayi-bayi yang tidak punya cara untuk memahami apa yang terjadi, mereka yang cacat, mereka yang lemah dan tidak punya siapa pun untuk berlindung.

Betapa malangnya mereka.

Sayangnya, Nate tidak berniat menjadi pahlawan. Dia akan membantu jika bisa, tapi tidak jika itu berarti mempertaruhkan nyawanya sendiri. Dia cukup egois untuk itu, dan dia tidak malu mengakuinya. Peran pahlawan itu ada, dan seseorang pasti akan mengambilnya. Tapi orang itu bukan Nate.

Sambil menyusuri pinggiran jalan raya yang sepi dengan sabit di tangannya, Nate menatap langit. Monster-monster udara yang sebelumnya tidak pernah ada kini tampak di mana-mana, berputar di antara gedung-gedung yang sudah lama runtuh.

Dia tertawa geli. "Tampaknya banyak hal yang terjadi semenjak aku tidak ada."

***

Tiga hari telah berlalu sejak kemunculan Dungeon Event di setiap server dan setiap wilayah yang ada.

Dalam waktu itu, player-player berbakat yang menyadari keuntungan dari sebuah dungeon tidak membuang kesempatan mereka. Apalagi untuk dungeon yang spesial, hadiahnya pasti luar biasa. Dengan upaya yang tidak sedikit, beberapa player akhirnya berhasil mencapai level sepuluh.

Di suatu server yang berbeda, seorang pria berdiri di tengah kekacauan yang sudah mereda. Wajahnya tampan, rambut pirangnya hampir menyentuh bahu, dan pupil matanya berwarna merah menyala di balik cahaya yang redup. Dia menyeka keringatnya yang bercampur darah hitam, lalu seringai kecil muncul di wajahnya.

"Rome, bagaimana? Kurasa penyelesaian dungeon ini sudah cukup."

Suara itu datang dari seorang wanita cantik di belakangnya, menatapnya dengan senyuman yang tidak goyah meski darah hitam masih menetes pelan dari wajahnya.

Rome menghela napas kasar.

"Yah, kurasa aku bisa pergi bergabung dengan permainan itu sekarang. Berapa lama lagi?"

"Tiga jam lagi," wanita itu menjawab, seolah sudah menduga pertanyaan itu sejak tadi. "Harusnya terbuka tepat di dini hari."

Rome mengangguk. Pupil mata merahnya bersinar, memancarkan kilau berbahaya di tengah kegelapan.

Di layar sistemnya, levelnya menunjukkan angka sepuluh.

***

Di server lainnya, seorang pria dengan tubuh tegap dan berotot berdiri di bawah cahaya bulan biru muda. Rambutnya hitam, acak-acakan dan tajam. Pupil matanya segelap rambutnya, dan tingginya hampir dua ratus sentimeter. Di bawah kakinya, seekor monster rank F level 18 tergeletak sebagai pijakan.

Tatapannya sejenak tertuju ke langit, lalu dia membenturkan kedua tinjunya.

Levelnya tepat di angka sepuluh.

"Loen, kami sudah melakukannya sesuai yang kamu katakan. Sekarang ada sangat banyak player lain yang berkumpul dan memilih untuk mengungsi."

Pria itu, Loen, melirik ke arah seorang pria bertubuh kecil yang tampak gugup. Dia menatapnya sejenak, lalu melengkungkan bibirnya menjadi senyuman yang sangat lebar.

"Kerja bagus! Teruskan, kita harus mengumpulkan semua player yang ada. Dengan begitu kita bisa menciptakan kekuatan yang mampu menemukan kedamaian di dunia ini!"

***

Swaaah!!

Di bawah cahaya bulan yang lembut, seorang gadis menari di dalam kegelapan.

Pedangnya memancarkan kilau samar dari energi keemasan, mengalir di antara monster-monster yang ada, memotong leher setiap yang berada di jalurnya dengan presisi yang terasa terlalu indah untuk sesuatu yang sebenarnya adalah pembantaian. Dia mengenakan tunik terusan panjang berwarna putih yang hampir transparan, sedikit mengekspos kulitnya yang seputih susu. Rambutnya yang berwarna obsidian menyatu dengan malam, menyisakan sepasang pupil keemasan yang bersinar di kegelapan.

"...Ah."

Dia mendesah pelan, menemukan tuniknya yang sudah dibasahi oleh cairan hitam. Wajah cantiknya berkerut sedikit.

"Ini menjijikkan."

Lalu sambil melirik notifikasi sistem yang menunjukkan level barunya, dia mengalihkan pandangan ke bulan di langit dan tersenyum.

"Hmm... Aku penasaran, apakah dia baik-baik saja?"

***

Di sisi lainnya, seorang gadis duduk di atas tumpukan mayat monster dengan wajah yang tenang dan dingin. Rambutnya seputih salju, mengalir lembut di punggungnya. Pupil matanya yang gelap berputar-putar dengan kilatan kegilaan yang sangat samar, hampir tidak tampak jika tidak diperhatikan dengan seksama.

Dia diam untuk sesaat, lalu dari langit, seekor monster jatuh dan mati begitu saja di dekatnya.

Notifikasi sistem muncul.

"Kurasa, aku akhirnya berhasil naik ke level sepuluh."

Senyumannya muncul, memikat tapi mengandung sesuatu yang terasa salah di baliknya. Dia memeriksa tuniknya yang bercampur warna obsidian dan ungu gelap.

"...Untungnya tidak terlalu kotor."

Lalu dengan satu pikiran, Global Kill Count muncul di sistemnya:

[Global Kill Count]

Player 991: 5.403 Kill.

Player 12.222: 3.865 Kill.

Player 7.779: 3.121 Kill.

Dan seterusnya.

Dia mendesah.

"Orang ini... Dia akan berpartisipasi di dungeon event kan? Aku tak sabar untuk bertemu dengannya. Player yang merebut peringkat pertama dariku."

Senyumannya tidak luntur dari wajahnya, dan dia benar-benar berharap beberapa jam yang tersisa itu bisa berlalu dalam sedetik.

***

"Orang gila......"

Player 397 merasakan lututnya melemas.

Dia berdiri di sana bersama Kathie dan Haron, tatapan ketiganya terpaku pada satu tempat yang sama. Seorang pria dengan rambut hitam basah oleh darah hitam, pupil abu-abu yang memancarkan kilatan kegilaan saat dia tersenyum, menikmati pembantaian yang baru saja dia selesaikan seolah itu bukan hal luar biasa sama sekali.

Inilah yang terjadi setelah Player 397 membuat satu keputusan. Dia mencari pria itu dan menanyakan bagaimana bisa dia menjadi sekuat itu dalam waktu sesingkat ini.

Dan pria itu menjawabnya dengan dua kata.

"Perhatikan sendiri."

Jadi dia mengikutinya masuk ke dalam dungeon, menyaksikan pria itu menyelesaikan perburuan melawan seribu monster sekaligus ditambah satu boss, dan wajahnya sepanjang pertarungan itu menunjukkan bahwa dia belum puas sama sekali, bahkan tampak menuntut lebih.

Pria itu, Nate, melirik ke arah ketiga orang yang mengikutinya.

"Apa kalian sudah belajar sesuatu?"

Player 397, Haron, dan Kathie hanya bisa mengangguk dengan takut.

'Apa yang bisa dipelajari dari orang gila?!'

Ketiganya memikirkan hal yang sama sekaligus. Mereka seharusnya tidak membandingkan diri sendiri dengan seseorang seperti ini.

Tapi di balik pikiran itu, Player 397 menyimpan sesuatu yang lain yang baru saja terbentuk dalam benaknya. Tujuannya telah berubah. Dia masih ingin berkontribusi pada dunia ini, tapi bukan lagi sebagai protagonis terpilih atau semacamnya karena peran itu jelas bukan miliknya. Dia lebih cocok sebagai karakter sampingan yang tidak terlupakan, seseorang yang akan diingat karena kontribusinya.

Kesimpulan itu datang setelah menyaksikan Nate hari ini, dan sekarang dia benar-benar yakin bahwa Nate adalah protagonis yang telah dipilih oleh tuhan itu sendiri. Dengan kekuatan seluar biasa itu, pria itu pasti bisa menyelamatkan umat manusia.

Kilatan fanatik mulai menyala samar di mata Player 397, sesuatu yang tidak dia sadari sama sekali.

Nate, yang jelas tidak menyadari pikiran ambisius itu, menghela napas dan menatap cukup jauh ke depan.

"Nah, waktunya sudah dekat."

Lalu dengan santai dia melirik ke layar sistemnya:

\=\=\= STATUS \=\=\=

Nama: Nate Leicester (991)

Usia: 19 Tahun

Aspek: Purple Reaper [F]

Level: 10

EXP: 13.215/40.960

STR: 6

AGI: 10

MP: 3

STA: 3

VIT: 2

INT: 2

Poin Stat: 0

Credit: 426.380

Senjata: Violet Reaper [E]

Title: Apex Predator

\=\=\= LOKASI: S86 \=\=\=

Tiga hari berburu di beberapa dungeon sekaligus menunjukkan hasilnya. Lima dungeon, masing-masing berada di level sepuluh hingga lima belas, dan Nate menguasai kelimanya.

Hanya saja, setelah naik ke level sepuluh, kesulitan untuk naik ke level berikutnya meningkat secara signifikan. Dengan kecepatannya saat ini, mungkin perlu beberapa hari hanya untuk satu level, dan beberapa bulan untuk benar-benar mencapai level dua puluh.

Tapi malam ini ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang mungkin akan mengubah itu.

Nate melirik bulan biru di langit. Jika tebakannya benar, malam ini dia akan bertemu beberapa player dari server lain untuk pertama kalinya.

Bibirnya melengkung.

"Aku menantikannya."

***

1
Pradama Okta
harusnya udah peringkat D gak sih, kan syarat dari E ke D 5600 kill
Nameless: yang dihitung monster peringkat E keatas, kalau F kebawah gak kehitung
total 1 replies
SETH
cerita nya bagus..mudah2an rajin update dan gak hiatus
blueby
bagus
Nameless: terimakasih!
total 1 replies
KayyLawrence
mampir cuyy,jujur ceritanya bagus,langsung saja terbitkan dan adaptasi jadi manhwa
tintakering
mampir, k
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!